Ber-IPNU & IPPNU Jaminan Terbaik bagi Masa Depan NU

Ilustrasi (Foto : Dok.Google)

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang mengedepankan politik kebangsaan, politik kerakyatan dan etika berpolitik. Artinya, NU senantiasa terus berkomitmen menjaga keutuhan bangsa, senantiasa berperan aktif dalam percaturan poltik nasional dalam Pemilu maupun Pilkada.

Karena itu, kader NU harus proakif dan istiqomah mempertahankan NKRI sebagai wujud final bagi bangsa Indonesia, harus berperan aktif memberikan hak-hak dan kewajiban rakyat dan membela mereka dari perlakuan sewenang-sewenang dari pihak mana pun, serta harus menanamkan warga NU secara khusus dan masyarakat secara umum untuk menjalankan kehidupan berpolitik yang santun dan bermoral yang tidak menghalalkan segala cara.

Di dalam tubuh NU, terdapat badan otonom (Banom) yang berfungsi menggerakkan kebijakan NU di berbagai tingkatan. Di antaranya adalah organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPNU), sebuah organisasi yang bersifatat keterpelajaran, kekaderan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. IPNU sebagai pondasi awal dan pusat embrio memahami ke-NU-an, sudah semestinya belajar menerapkan komitmen politik yang dikedepankan NU semenjak dini mungkin.

Kaderisasi, Ruh Organisasi IPNU & IPPNU

Sebagai organisasi pengkaderan, tentunya IPNU dan IPPNU mempunyai jenjang atau fase pengkaderan bagi anggota-anggotanya. Fase pertama adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta adalah rekruitmen awal orang-orang akan dibaiat menjadi anggota IPNU. Orang-orang ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pesantren, pemuda desa, Ikatan Remaja Masjid (Irmas) dan mahasiswa. Pada fase ini, anggota mulai belajar memahami akidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah NU dan lain-lainnya.

Fase kedua adalah Latihan Kader Muda (Lakmud). Fase ini merupakan tahap pengkaderan seorang anggota IPNU yang telah mengikuti Makesta. Apabila di Makesta calon anggota belajar mengenal Aqidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah NU dan lain-lainnya, maka di Lakmud seorang calon kader mempunyai tugas untuk mengejawentahkannya dalam kehidupan sehari-hari, menopang tanggung jawab dalam roda organisasi, serta menjadi bandul penentu dari maju mundurnya suatu pimpinan di berbagai tingkatan.

Fase ketiga adalah Latihan Kader Utama (Lakut). Fase ini merupakan tahap pengkaderan setelah Lakmud. Pada fase ini seorang kader menuju seorang pemimpin. Seorang calon pemimpin yang mengikuti proses pengkaderan Lakut dituntut untuk membentuk idealisme dirinya dan anggotanya sehingga mampu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan skill organisatoris secara maksimal. Tujuannya adalah agar calon pemimpin yang telah mengikuti Lakmud mampu mengelola organisasi secara profesional, memecahkan permasalahan keorganisasian dan permasalahan-permasalahan sosial kemasyarakatan.

Oleh karena itu, ber-IPNU-IPPNU ialah membentuk segala macam kerangka NU itu dengan mematangkan Aqidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah ala Nahdlatul Ulama.

Memasuki gelanggang NU semenjak dini tidak lain kita beranjak dari kesadaran kuktural menjadi kesadaran sturtural, dari jamaah ke jamiyah, dari individu menjadi kolektif.

Intinya ber-IPNU-IPPNU itu mengidentitaskan diri semenjak dini, memperluas jejaring kekuatan sesama warga NU, menempa kedewasaan dalam mengembangkan talenta, belajar mengorganisir potensi, memetakan jejaring warga NU, membiasakan dalam melakukan khidmah bagi masyarakat sampai pada menentukan keberpihakan pada nasib dan keadaan yang dialami oleh warga NU.

Apa yang dialami kita dalam traktat tradisionalime, turast, khazanah keilmuan dan amaliah, tidaklah cukup tanpa bisa diorganisir dengan baik. Selain menakar integritas, akhlak dan kepribadian, kader itu personality branding atas organisasi, apabila kader itu baik, maka citra organisasi juga baik begitu pun sebaliknya.

Personalitas kader akan menetukan maju-mundurnya, progresif tidaknya, konsisten inkonsistenya, dinamis-statisnya, berkembang atau jumudnya suatu Ikatan. Personalitas ini tidak hanya didasari oleh basis pengetahuan yang matang, penguasaan atas kitab kuning atau kajian kontemporer, senantiasa memantik semangat literasi, atau memiliki kecakapan dalam memenejemen pembagian peran dan distribusi potensi, mengikat emosional sebagai penggalangan solidaritas dan kebersamaan.

Kader juga mesti bisa memetakan jejaring, menguasi medan dan teritorial, agar mampu berkomunikasi baik dengan beragam karakter serta mengatur ritme kepentingan. Sehingga potensi unsur produktif itu bisa mengarah dari kepentingan personal menjadi komunal.

Setiap kader dituntut bisa menghadapi situasi apapun, agar tidak terjadi dinamika yang mengarah pada pembusukan dari dalam atau membenturkan dengan unsur lain yang arahnya melemahkan komponen inti dari organisasi atau suatu kepempinan.

Pengalaman dalam mengatasi dan mengelola konflik serta kedalaman dalam membaca situasi dan reaksi yang berkembang inilah yang nantinya akan menentukan suatu keputusan yang arahnya berakibat pada dua hal, apakah maju dan berkembang atau malah terpelosok munduk dan terbelakang.

Kiranya jelas, bahwa kaderisasi adalah ruh dari IPNU-IPPNU. Apabila kita tidak berada dalam ruang-ruang pengkaderan, mengawal dan mempersiapkan tentu kita tidak bisa memastikan apakah organisasi ini akan lebih baik kedepanya. Sebab, di dalam pedoman pengkaderan kita, tidak bisa memperlakukan secara instans atau bergaya parlente dan elit. Semisal, kaderisasi kita sebatas manggung, menyampaikan materi tidak ada pengawal, pengawasan, perawatan.

Menjadi wajar kalau kualitas kader kita tidak terdidik-terorganisir-terpimpin. Sekali kita menanggalkan kaderisasi sebagai ikhwal seremonial, seketika itu juga kita memutus unsur-unsur maju dan produktif didalam organisasi. Apabila ini terjadi, akan sangat memungkinkan kalau sistem dan keberhasilan pengkaderan kita hanya menghasilkan kader-kader reaksioner tanpa prespektif, melakukan kerja-kerja pengorganisiran secara serampangan, senang mengklaim dan sebatas menjadi kepanjangan tangan dari suatu kepentingan. Mereka terbentuk karena siklus yang rapuh serta tidak ditempa dengan baik, sedikit pendekatan keilmuan sebagai dasar, minim pandangan maju yang mengkreasikan potensi produktif menjadi suatu kekuatan.

NU boleh dikatakan sebagai kegiatan yang berkahi lagi penuh lapisan manfaat. NU juga boleh dikatakan sebagai penjaga gawang Aswaja Annahdliyah yang mengantar kemaslahatan dunia dan akhirat. Tetapi, unsur-unsur doktrinasi tidak begitu saja menjadikan seseorang yang bergerak di dalamnya menjadi sosok yang militan dan progresif tanpa pergolakan dan benturan yang dialami dalam beragam dinamika selama berproses yang dijalaninya.

Membentuk seseorang yang punya loyalitas dan keterampilan dalam memimpin serta kedewasaan ketika dipimpin tidak turun begitu saja dari langit, tapi butuh ikhtiar, ketelatenan kedispilinan yang mesti dilaluinya dalam satu tarikan nafas yang panjang. Mau apa kalangan muda NU yang notabane-nya palajar, pemuda desa, mahasiswa maupun santri jika ber-NU hanya karna kebesaran, glorifikasi tanpa mau membesarkan tanpa mau menggelorakan?

Kita pantas menengok ke belakang, bahwa Buya Said Aqil (KH Said Aqil Siroj, kini Ketu PBNU) dulunya aktif di IPNU. Demikian juga dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hampir semua tokoh besar NU pernah aktif, menghidupi dan berkontribusi bagi organisasi pengkaderan NU paling bawah ini.

Tidak ber-IPNU-IPPNU oleh gengsi karena putra kiai; minder karena IPNU isinya kalangan bawah, apalagi karna IPNU tidak punya daya Jual? Atau karena alasan yang ditumpuk sebab ber-IPNU itu buang-buang waktu? Bahkan yang lebih parahnya, malas ber-IPNU karena minim relasi elit yang bisa menopang karir?

Yaa ayyuhal muddatstsir—Qum fa andzir. Hai Orang-orang yang berselimut, ayo bangunlah, beri peringatan. Hai kaum muda NU yang bermalas-malasan, segera bangkit menggerakan persatuan.

Sebab jika putera kiai, semestinya lebih giat lagi. Kenikmatan punya nasab itu mesti sepunggung dengan tanggung jawab. Zaman sudah banyak berubah, yang ngaristokrat dan tak mau bergumul, malah memilih berleha-leha di kerajaan kecil. Perlu diingat, NU besar karena menjaga sanad, menjaga silsilah perjuangan. Apabila leluhur kita berjuang dengan darah, kita berjuang mesti melebihi dengan daging pula.

Atau tidak ber-IPNU-IPPNU karena minder? Karena watak kita sudah terbentuk eksklusif Zaman Now yang katanya mesti trendy, mengikuti pasar model, sehingga kalau berkawan orang desa seolah menurunkan muru’ah, tak sederajat? Justru dengan kita terus berdekatan dengan pemuda desa, kita akan tahu akar permasalahan yang sebenarnya, kita akan ditempa kesabaran dan ketelatenan bagaimana bisa kaum muda NU itu terdidik, terpimpin dan terorganisir.

Ber-IPNU itu akan memberi kepahaman bahwa banyak kompleksnya persoalan warga NU. Dari yang berada di bawah garis kemiskinan yang ‘wong NU’, keterbelakangan yang banyak ‘wong NU’, sampai krisis aqidah dan ideologi juga banyak dari kalangan NU.

Ber-IPNU itu mendekatkan kita pada ulama, menyelaraskan khidmah kita semenjak dini. Kita ditempa dengan pengetahuan, membangun akses dan jaringan sesama orang NU dari berbagai latar belakang. Kita mengetahui akar dan identitas, mana yang kita perjuangkan dan untuk apa kita memperjuangkanya.

Mari Ber-IPNU dengan riang gembira, menjaga tradisi Ahlussunnah waljamaah (Aswaja) Annahdliyah.

Penulis Hasan Malawi Wakil Ketua II Kaderisasi PW IPNU Jawa Barat 2018. (Tulisan ini di ambil dari NU Online untuk kebutuhan isi postingan dalam masa pembuatan website baru pelajarmetro.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga