Limpung, NU Batang

Menulis tidak selalu harus dimulai dari gagasan yang besar dan sempurna. Hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat menjadi bahan tulisan, sepanjang penulis mampu melihatnya dengan ketertarikan dan sudut pandang yang berbeda. “Tidak ada ide yang tidak menarik, hanya saja kita yang tidak tertarik,” ujar Founder takselesai.id, Gus Zaim Ahya’, dalam acara Ngobrol Tulisan : Dari Gagasan Hingga Tulisan di Kedai Tak Selesai, Limpung, Kabupaten Batang, Ahad (23/8/2026).

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan yang diinisiasi Lembaga Pers dan Penerbitan (LPP) PC IPNU IPPNU Kabupaten Batang. Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bersama untuk menggali gagasan dan mengolahnya menjadi tulisan, terutama bagi calon penulis antologi Riuh yang Tumbuh.

Menurut Gus Zaim, persoalan utama dalam menulis terkadang bukan karena tidak adanya ide, melainkan karena penulis belum tertarik untuk melihat sesuatu lebih dalam. Karena itu, ia mendorong peserta untuk tidak terlalu lama menunggu gagasan yang dianggap sempurna.

“Pokoknya tulis dulu,” katanya.

Ia mengatakan, pengalaman pribadi juga dapat menjadi pintu masuk untuk menghasilkan tulisan yang lebih luas. Pengalaman yang awalnya bersifat personal dapat ditarik menuju persoalan yang lebih umum sehingga memiliki relevansi bagi pembaca. “Saya biasanya menulis pengalaman pribadi, kemudian saya tarik ke hal yang umum,” ujarnya.

Gus Zaim juga mengingatkan bahwa proses menulis tidak harus selalu berjalan secara kaku mengikuti teori. Bagi seorang penulis, teori dapat menjadi bahan untuk diuji melalui pengalaman menulis itu sendiri. “Penulis itu dulu saya menguji teori, tidak selalu tunduk dengan teori,” katanya.

Dalam konteks penulisan esai untuk antologi Riuh yang Tumbuh, ia juga memberikan catatan bagi penulis yang hendak mengambil posisi kritis terhadap suatu persoalan. Menurutnya, kritik tidak semestinya hanya berisi penolakan atau penilaian terhadap suatu keadaan, tetapi juga perlu menghadirkan sisi yang dapat dipahami dan dimaklumi.

“Kalau nantinya tulisan di buku antologi Riuh yang Tumbuh itu adalah tulisan kritikan, maka harus ada sisi memakluminya, tidak mengkritik saja,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur NU Online Batang, M. Autad An Nasher, mengajak peserta lebih jauh memahami bagaimana sebuah ide dapat digali sebelum dituangkan menjadi tulisan.

Menurut Autad, ide tulisan dapat ditemukan dari berbagai hal yang berada di sekitar penulis. Sesuatu yang dilihat, dirasakan, atau menimbulkan pertanyaan dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan gagasan.

Ia kemudian memberikan contoh tulisan esai populer kepada peserta. Tulisan tersebut dibaca dan dianalisis bersama untuk melihat bagaimana gagasan dibangun, bagaimana struktur tulisan disusun, serta bagaimana pesan penulis dapat disampaikan kepada pembaca.

Dalam menulis esai populer, Autad juga menyampaikan bahwa penulis tidak perlu membuat bahasa tulisan terlalu kaku. Bahasa yang komunikatif dan sesuai dengan karakter esai populer dapat digunakan selama gagasan yang disampaikan tetap jelas.

Ia juga mengingatkan pentingnya referensi atau rujukan untuk memperkuat tulisan. Pengalaman dan pendapat pribadi dapat menjadi bagian dari tulisan, tetapi tulisan akan lebih kuat ketika gagasan tersebut didukung oleh sumber yang relevan

Dalam sesi diskusi, salah seorang peserta, Lukman Harish, menanyakan bagaimana menulis esai agar pembahasannya tidak terlalu umum sekaligus pesan yang hendak disampaikan penulis tetap sampai kepada pembaca.

Menanggapi hal tersebut, Autad menyarankan penulis membuat mind map atau subbab sebelum mulai menulis. Pemetaan tersebut dapat membantu penulis menentukan arah pembahasan dan menjaga tulisan agar tidak terlalu melebar.

Menurutnya, proses menulis dan mengedit sebaiknya tidak dilakukan secara bersamaan. Ketika sedang menulis, penulis perlu memberikan ruang bagi gagasannya untuk mengalir terlebih dahulu.

“Jadi, penulis itu hanya menulis, selesaikan saja apa yang dipikiranmu. Jangan langsung jadi editor,” tegas Autad.

Pewarta : Solekha