Batang dalam Sejarah Sultan Agung dan Kitab Aisyul Bahri

Diposting pada

Beberapa hari ini berseliweran di beberapa media sosial status teman-teman perihal hari jadi Kabupaten Batang. “Selamat Hari Jadi Kabupaten Batang ke 54, Batang 1966-2020” begitu kira-kira teman-teman mengekspresikan atas peringatan hari jadi Kabupaten tercintanya ini.

Walaupun begitu, beberapa teman mempertanyakan tahun yang dijadikan sebagai pijakan hari jadi tersebut. Kata salah satu teman dalam status media sosial, Kabupaten Batang berdiri jauh sebelum tahun 1966 yang sekarang dijadikan sebagai hari jadi Batang.

Perdebatan tentang tahun pijakan tersebut sudah penulis lihat di media sosial tahun lalu. Namun sepertinya perdebatan tersebut tidak berkembang, dalam arti masih sekedar status media sosial yang tidak diiringi dengan data atau referensi yang cukup.

Mencari data atau referensi perihal Batang seperti memang cukup sulit. Di hasil pencarian Google, situs atau web yang menyajikan sejarah Batang sangat terbatas. Salah satu situs yang cukup banyak mengulas sejarah Batang adalah Wikipedia, tentu dengan perbandingan situs-situs yang lain yang belum penulis temukan.

Kalau kita mengacu kepada data Wikipedia, tentu ini harus diteliti lebih lanjut, sejarah Batang dibagi menjadi tiga periode.

Dalam situs tersebut dijelaskan, Kabupaten Batang sudah berdiri sejak abad ke 17. Tepatnya pada tahun 1614, jika mengacu pada status Sodikin Rusydi di akun Facebooknya (07/04/2020). Kedudukan Batang sebagai Kabupaten mandiri ini bertahan sampai 31 Desember 1935, dan sejak 1 Januari 1936, Batang fusion atau masuk di bawah pemerintahan Kabupaten Pekalongan. Lalu pada 8 April 1966, setelah melalui proses yang cukup panjang dari mulai berbentuk gagasan sampai diresmikan jika mengacu data di Wikipedia, Batang resmi memisahkan diri dari Pekalongan. Peresmian ini bertepatan dengan Jum’at Kliwon saat itu.

Kalau kita membaca riwayat hidup Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang hidup pada tahun 1593 sampai 1645, ada satu fragmen yang menyatakan bahwa salah satu dari dua istrinya berasal dari Kabupaten Batang. Istrinya yang dipanggil dengan Ratu Wetan Putri tersebut merupakan anak dari Adipati Batang. Dari istrinya, lahir Raden Sayidin yang nantinya menjadi Amangkurat I (Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad dalam Sultan Agung: 2019).

Dengan data ini, pendapat yang menyatakan Kabupaten Batang sudah lahir sejak abad 17 semakin kuat, karena Sultan Agung yang hidup adi akhir abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 17 ini tercatat mempersunting seorang perempuan yang merupakan putri Adipati Batang.

Data yang menyatakan Kabupaten Batang sudah ada sebelum tahun 1966 juga bisa sandarkan kepada kitab Aisyul Bahri karya Kiai Anwar Batang yang selesai ditulis pada tahun 1920. Pada sampul kitab yang menjelaskan tentang klasifikasi hewan yang hidup di laut dan hewan yang hidup di laut dan darat beserta justifikasi hukumnya, tertulis kalimat “Muhammad Anwar al-Batangi al-Kaumani”.

Penyebutan Batang dan Kauman tanpa penyebutan Pekalongan atau daerah lain sebagai identitas daerah Kiai Anwar ini mengindikasikan bahwa saat itu (tahun 1920) Batang sudah berdiri sendiri, dalam arti mandiri sebagai Kabupaten.

Begitu kira-kira sedikit tentang sejarah Kabupaten Batang yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Namun melihat data yang ada, adalah pilihan bagi kita (warga Batang), perihal tahun pijakan hari jadi Batang. Apakah saat Batang resmi memisahkan diri dari Pekalongan atau pada abad ke 17 yang disinyalir menjadi awal lahirnya Kabupaten yang punya slogan “Berkembang” ini, tentu masih perlu kita kaji bersama. Bukankah begitu?

Zaim Ahya, Plumbon 08 April 2020

Sumber Gambar: https://berita.batangkab.go.id/?p=1&id=4629

Bagikan ke :

One thought on “Batang dalam Sejarah Sultan Agung dan Kitab Aisyul Bahri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *