Obituari: Mengenang Gus Huda yang Banser Itu

Diposting pada

Kang Misbah, begitulah teman-teman di pesantren Nurul Ummah Kotagede, Jogja, memanggil Misbakhul Huda. Denganku, umurnya beberapa bulan saja di atas. Orangnya halus, suka ngeledek dan iseng. jika terdengar agak keras, itu cuma pura-pura saja. Pernah suatu hari selepas Subuh di bulan Ramadan, membangunkanku dari tidur. Dia memakai “gaya bahasa” yang berbeda:

“Kang, pengen ngaji Romo Kiai Mboten?”

Kang Misbah, dengan uslub pertanyaan itu, harapannya semua yg ditanya akan “terpojok”. Tapi saya menjawab “mboten”. Dia kaget lalu tanya lagi, “Loh kok Mboten?”

Saya jawab, “Saya sudah memilih dan mengikuti semua jadwal pengajian tiap waktu, kecuali bakda Subuh.”

“Ooh nggih sampun,” kang Huda yang keamanan pondok itu berlalu.

Kang Huda bertubuh bongsor, besar dan tinggi. Sehingga kalau memakai seragam Banser akan tampak gagah. Iya, di pondok, saat santri dan mahasiswa, dia sudah aktif di GP Ansor, jadi Banser. Dan di Nurul Ummah inilah saya tahu, yg namanya Banser bukanlah pemuda biasa, tapi mahasiswa dan juga ustaz.

Beberapa tahun setelah kami boyongan dari Jogja, saya 3-4 kali main ke rumahnya, di Subah Batang. Karena saya sering mudik ke Batang. Dan dia juga saudaraan dengan Mas Burhan As yang juga sering saya silaturahim. Meski dia kiai muda, mengasuh pesantren, dan dipanggil Gus, dia tetep jadi Banser. Kecintaannya pada Banser menurutku lahir dan batin.

“Kalau ada Banser kok berperilaku militer iku jenengi belum paham ruhnya Banser,” katanya.

“Kalaupun mau diidentikan dengan kegiatan fisik, Banser itu kayak pencak silat, gemulai tapi kokoh,” begitu begitu perumpamaannya.

Tiga tahunan lalu ke rumahnya. Duduk lesehan di lantai. Rumah tuanya yang terbuat dari kayu menciptakan suasana adem ayem. Dia sakit gula, badannya sudah tidak bongsor lagi. Tapi waktu itu sedang pulih, jadi tampak sehat dan sehat. Tentu saja kami bertemu lengkap dengan makan-makan dan canda-canda ala santri.

Pagi tadi, selepas Subuh. Sepupu dia, Mas Nurul H. Maarif via WhatsApp mengabarkan bahwa sahabat Misbakhul Huda ini telah berpulang ke Rahmatullah di usia ke-42 tahun.

Saya hanya bisa berdoa dari jauh. Semoga husnul khotimah. Keluarga, anak dan istri diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan almarhum.

Alfatihah…

Hamzah Sahal, sahabat Gus Huda di Jogja

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *