Edit

BERANDA

Semarak Sepuluh Muharam, Warga Dlisen Gelar Haul Massal

Bagikan :

Limpung, NU Batang
Sebagaimana tradisi umat Islam di Indonesia, khususnya Jawa, setiap tanggal sepuluh bulan Syuro (Muharam), orang-orang giat memperbanyak ibadah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah di hari itu. Mulai dari ibadah seperti puasa sunah hari Asyura’, dan ibadah yang berkait degan sosial seperti santunan anak yatim, pengajian umum, dan lain sebagainya.

Hal itu tentu sudah lazim terjadi di berbagai perkampungan layaknya menjadi tradisi tersendiri. Salah satunya di Desa Dlisen, Limpung, Batang. Di sana, warga giat bergotong royong, menggabungkan persatuan desa dari tiga dukuh untuk memperingati hari yang disebut Syuro itu dengan mengadakan haul massal, kemarin, Kamis malam Jum’at Kliwon (27/7).

“Di era sekarang ini, kita sebagai generasi muda harus bisa menciptakan rasa aman, damai, dan semangat gotong royong. Dan dari pagelaran acara inilah, selain sebagai peringatan Syuronan, bisa juga kita manfaatkan untuk mencapai hal tersebut,” ujar Mundri selaku Ketua Panitia Acara Haul Massal.

Di acara haul massal itu, orang-orang dari dukuh Gunung Tumpeng , dukuh Gunung Sari, dan dukuh Wonodadi berbondong-bondong datang ke pemakaman umum Tumpeng Desa Dlisen yang terletak di dukuh Gunung Tumpeng untuk mengirimkan doa kepada segenap arwah jenazah warga setempat. Dan setelahnya, acara dilanjut juga dengan ikhtitam al-Qur’an tiga puluh juz.

“Selain gotong royong, acara ini juga bagus untuk membangun ukhuwah islamiyah kita, dengan bersama-sama mendoakan para leluhur yang telah wafat,” ungkap Hadi Prayitno dalam sambutannya sebagai Kepala Desa Dlisen.

Disampaikan, acara yang digelar dan diikuti oleh segenap lapisan warga, dari yang muda hingga tua itu merupakan kegiatan yang sangat patut untuk diapresiasi. Harapannya, acara yang digelar dapat terus lestari dan membawa manfaat bagi segenap warga, lebih-lebih bisa menjadi teladan bagi desa lain.

Sebagai puncaknya, acara haul massal itu ditutup dengan pengajian umum yang digelar di malam harinya, diisi oleh Kiai Haji Gigik Kusiaji atau yang akrab disapa Abah Santri, dari Sukorejo, Kendal.

Pewarta: Khaerul Mutakin
Editor: Krisna Hadi