Wonotunggal, NU Batang
Pergeseran ekonomi di Kabupaten Batang ke sektor industri manufaktur memunculkan kekhawatiran atas dampak sosial, ketenagakerjaan, dan lingkungan yang menyertainya. Industrialisasi dinilai tak boleh hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus berpihak pada umat dan menjaga keberlanjutan.
Merespons dinamika tersebut, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang mengambil peran mengawal arah pembangunan agar tetap berkeadilan serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia lokal.
Lakpesdam PCNU Batang menggelar sarasehan multipihak bertema “Membangun Sinergi dan Kolaborasi Para Pemangku Kepentingan dalam Membaca Isu Strategis Kabupaten Batang dalam Rangka Memuliakan Umat” di Aula Pondok Pesantren Al Inaaroh, Wonotunggal Batang pada Sabtu (31/1/2026).
Forum ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, legislatif, pengelola kawasan industri, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat sipil untuk mendiskusikan arah industrialisasi Batang agar tetap berkeadilan dan berkelanjutan.
Kehadiran Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Batang Industrial Park (BIP) dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, namun juga memunculkan tantangan serius, mulai dari persoalan sosial, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, tata ruang, hingga perubahan penggunaan lahan yang berpotensi menggerus kawasan pertanian produktif dan ruang hidup masyarakat.
Ketua Lakpesdam PCNU Batang, M. Aminuddin, menegaskan bahwa industrialisasi merupakan keniscayaan yang harus dikawal secara kolektif agar sejalan dengan nilai keadilan sosial dan keberlanjutan.
“Pembangunan tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan ekonomi. Industrialisasi harus diletakkan dalam kerangka maqāṣid syarī‘ah—melindungi jiwa, akal, harta, keturunan, dan agama—agar tidak melahirkan ketimpangan baru serta kerusakan lingkungan. Karena itu, sinergi multipihak menjadi kunci agar industrialisasi benar-benar berpihak pada umat,” ujarnya.
Menurut Wakil Ketua PCNU Batang, Saiful Huda Shodiq pentingnya kesiapan sosial dan kualitas sumber daya manusia lokal dalam menghadapi bonus demografi dan arus industrialisasi.
“Bonus demografi diperkirakan mencapai puncak pada 2035. Ini peluang besar, tapi bisa berubah jadi beban jika kualitas SDM kita tidak disiapkan sejak sekarang. PCNU Batang mendorong agar peningkatan kapasitas masyarakat menjadi agenda bersama lintas sektor mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat. Agar warga Batang tidak hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri,” tegas Saiful Huda.
Dari sisi perencanaan daerah, Kepala Bapperida Kabupaten Batang, Bagus Pambudi, menyampaikan bahwa struktur ekonomi Batang kini telah bergeser ke sektor manufaktur.
“Kontribusi PDRB Batang saat ini sudah didominasi sektor industri manufaktur dan pertumbuhan ekonomi kita melampaui rata-rata provinsi maupun nasional. Namun, industrialisasi ini harus diiringi dengan persiapan yang matang, terutama peningkatan kualitas SDM lokal, perlindungan lingkungan hidup, serta penyediaan infrastruktur yang memadai agar dampak positifnya dapat dirasakan secara merata,” jelas Bagus.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Batang, Su’udi, menegaskan bahwa percepatan ekonomi tidak boleh mengorbankan daya dukung ekologis dan karakter agraris Batang.
“Kita sadar Batang adalah wilayah agraris dengan tanah yang subur. Industrialisasi jangan sampai mematikan basis ekonomi rakyat. Yang harus kita dorong adalah peningkatan kapasitas dan kompetensi masyarakat lokal agar siap masuk ke dunia industri, sekaligus memastikan industri berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan lingkungan,” tegasnya.
Perwakilan manajemen KITB, Mauludi Haqqul Adni, menyampaikan bahwa kawasan industri telah memberikan kontribusi nyata terhadap penyerapan tenaga kerja.
“Hingga saat ini sekitar 10.000 tenaga kerja telah terserap di kawasan KITB. Kami berkomitmen menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) serta mendorong program-program CSR yang lebih terarah pada penguatan kapasitas SDM lokal dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengembangan kawasan industri membuka peluang turunan di sektor logistik dan pariwisata sebagai penopang ekonomi wilayah.
Dalam forum tersebut juga mengemuka persoalan masih rendahnya kapasitas SDM lokal untuk beradaptasi dengan kebutuhan industri. Optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) di Kabupaten Batang serta sinergi program CSR perusahaan dinilai penting untuk mempercepat peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.
Selain itu, berbagai insentif pemerintah terhadap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) perlu dibarengi dengan kebijakan afirmatif bagi wilayah penyangga agar pertumbuhan ekonomi kawasan industri turut menggerakkan ekonomi desa dan UMKM di sekitarnya.
Sarasehan ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi lintas sektor untuk menyamakan arah pembangunan Kabupaten Batang yang berkeadilan dan berkelanjutan. Lakpesdam PCNU Batang menegaskan komitmennya untuk terus mendorong dialog kritis, advokasi kebijakan, serta kerja-kerja kolaboratif agar industrialisasi di Batang benar-benar menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Pewarta: Candra Yudha



