Rabu, April 8, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Infokom Ansor Ibarat Dlomir Mustatir, Tak Terlihat tapi Harus Ada

Pecalungan, NU Batang
“Infokom itu seperti dlomir mustatir, tidak tampak tapi harus ada.” Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua SDM dan Pengembangan Kader GP Ansor Batang, Gus H Zaimuddin Ahya, saat Halal Bihalal dan Kopdar Infokom Ansor se-Kabupaten Batang, Sabtu (4/4/2026) di Gedung MWCNU Pecalungan.

Menurutnya, peran Infokom sering kali tidak terlihat karena bekerja di balik layar, mulai dari membuat desain publikasi, menulis berita, hingga mendokumentasikan kegiatan. Namun tanpa peran tersebut, berbagai aktivitas organisasi tidak akan dikenal luas oleh publik.

“Orang mungkin hanya melihat posternya bagus, beritanya tersebar, lalu dibagikan. Tapi siapa yang membuat itu sering tidak diketahui. Padahal kontribusinya sangat jelas dalam mengabarkan kegiatan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Gus Zaim yang juga pernah menjabat Sekretaris Bidang Infokom PC GP Ansor Batang mengaku memiliki kedekatan tersendiri dengan dunia media. Ia mulai menulis sejak mahasiswa dan sempat terlibat dalam tim redaksi media NU di tingkat wilayah. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bekal penting dalam membangun jejaring hingga ke tingkat nasional.

“Sejak dulu, media menjadi salah satu jalan pengabdian saya di Nahdlatul Ulama. Dari mahasiswa sudah mulai menulis di NU Online, lalu ikut di majalah Suara NU. Sampai sekarang, meskipun di Ansor sudah bergeser ke bidang SDM, jejaring media itu masih terus terjaga,” ujarnya.

Menurutnya, para pegiat Infokom bekerja di balik layar dengan tujuan utama memastikan kegiatan-kegiatan Nahdlatul Ulama dapat diketahui publik secara luas. Orientasi mereka bukan pada pengakuan personal, melainkan pada kebermanfaatan informasi.

“Yang penting bagi teman-teman Infokom itu karyanya tersebar, dibaca banyak orang, dan kegiatan NU terpublikasi. Itu kebanggaan tersendiri,” imbuhnya.

Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa keterlibatan di Infokom tetap memberikan manfaat personal, seperti peningkatan keterampilan desain, kepenulisan, hingga perluasan jejaring hingga tingkat wilayah dan pusat.

“Jejaring ini mahal. Dari aktif di media NU, kita bisa kenal banyak orang, bahkan sampai tingkat PBNU. Itu bonus dari khidmah yang kita jalani,” katanya.

Gus Zaim juga mendorong agar Infokom tidak hanya fokus pada publikasi, tetapi juga mulai mengembangkan literasi digital dan nalar kritis. Menurutnya, ke depan, pegiat Infokom berpotensi menjadi penulis, kreator konten, hingga penggerak opini publik.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kerja tim dalam bidang media. Menurutnya, produksi konten tidak bisa dilakukan sendirian karena membutuhkan kolaborasi antara penulis, desainer, dan fotografer.

“Media itu kerja tim. Ada yang menulis, ada yang desain, ada yang foto. Kalau dikerjakan sendiri, tidak akan kuat lama,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran Infokom dalam mengangkat figur-figur lokal agar dikenal lebih luas. Menurutnya, banyak potensi tokoh di tingkat ranting yang belum terpublikasikan dengan baik.

“Tokoh-tokoh lokal itu perlu diangkat. Dari kegiatan kecil seperti selapanan, kalau diberitakan dengan baik, bisa dikenal luas. Media punya peran besar dalam membangun ketokohan,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, Gus Zaim menyebut adanya tantangan berupa kejenuhan di kalangan pegiat Infokom, terutama karena minimnya imbalan materi. Namun ia mengingatkan bahwa peran tersebut merupakan bentuk pengabdian.

“Kita niatkan ini sebagai khidmah. Narasi yang kita tulis, desain yang kita buat, itu semua bagian dari pengabdian kita di Nahdlatul Ulama. Insyaallah ada nilai dan keberkahan di dalamnya,” pungkasnya.

Muhammad Asrofi
Muhammad Asrofi
Manusia Biasa dari Kota Emping

Related Articles

MEDIA SOSIAL

2,100FansSuka
1,374PengikutMengikuti
128PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles