Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan organisasi keagamaan lain. Tantangannya bukan hanya soal dakwah dan kaderisasi, tetapi juga menyangkut transformasi sosial-ekonomi jutaan warga nahdliyin yang tersebar dari desa hingga kota. Di bawah ini adalah beberapa tantangan NU di bidang sosial-ekonomi, yang saya rangkum dari berbagai percakapan mulai dari warung kopi, ruang akademik, maupun di sosial media.
Pertama, tantangan terbesar dan utama, mayoritas basis massa NU berada di kelompok ekonomi menengah bawah. Secara historis, basis NU berasal dari petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, dan sektor informal. Sementara kelas menengah muslim modern lebih banyak berkembang di kawasan perkotaan dan sektor profesional.
Konsekuensinya, tingkat kerentanan ekonomi warga NU relatif tinggi. Banyak warga masih bergantung pada ekonomi subsisten. Daya saing NU dalam menghadapi ekonomi digital juga masih terbatas. Sementara ketimpangan antara elite organisasi dan basis jamaah cukup lebar. Paradoksnya, NU memiliki massa besar tetapi kekuatan ekonomi kolektifnya belum sebanding dengan jumlah anggotanya.
Kedua, fragmentasi kelembagaan ekonomi. NU memiliki ribuan pesantren, ribuan lembaga pendidikan, koperasi, BMT, badan usaha, jaringan alumni. Namun sebagian besar berjalan sendiri-sendiri. Masalahnya adalah tidak ada integrasi rantai nilai ekonomi, tidak ada data ekonomi warga yang terintegrasi, dan belum terbentuknya ekosistem ekonomi NU yang kuat. Akibatnya, muncul apa yang disebut “economic leakage“, yakni perputaran ekonomi warga NU justru banyak mengalir ke luar ekosistem NU.
Ketiga, krisis regenerasi kelas menengah Nahdliyin. Generasi muda NU semakin banyak memperoleh pendidikan tinggi dan bekerja di sektor modern. Namun tidak semuanya memiliki ikatan kuat dengan NU. Banyak yang lebih terhubung dengan identitas profesional dibanding identitas organisasi. Sehingga partisipasi organisasi cenderung menurun. Ini berpotensi menciptakan jarak antara NU kultural dan NU generasi digital.
Keempat, disrupsi digital dan AI. Ekonomi masa depan akan didorong oleh artificial Intelligence, automasi, platform digital, dan ekonomi kreatif. Sementara sebagian besar pesantren dan lembaga pendidikan NU masih berorientasi pada model pendidikan abad ke-20. Ke depan, NU harus mengatasi tantangan kesenjangan keterampilan digital, minimnya talenta teknologi, dan keterbatasan investasi inovasi. Jika tidak bertransformasi, warga NU berisiko menjadi konsumen teknologi, bukan produsen.
Kelima, menyusutnya basis agraria tradisional. Mayoritas warga NU masih berada di pedesaan. Dalam ranah agraria, masalah yang muncul antara lain adanya alih fungsi lahan, fragmentasi kepemilikan tanah, krisis regenerasi petani, fenomena perubahan iklim dan kerusakan ekologi. Padahal, sektor pertanian dan perikanan masih menjadi sumber hidup jutaan warga nahdliyin.
Keenam, oligarkisasi politik. NU memiliki pengaruh politik yang besar. Namun sering muncul persoalan, bahwa mobilisasi suara warga lebih besar daripada manfaat ekonomi yang diterima warga. Posisi elite politik tidak selalu menghasilkan penguatan ekonomi jamaah. Keterlibatan politik sering tidak diikuti agenda pemberdayaan ekonomi jangka panjang. Ini menciptakan kesenjangan antara kekuatan politik dan kesejahteraan warga.
Ketujuh, tantangan bonus demografi. Sebagian besar warga NU berusia muda. Bonus demografi bisa menjadi peluang besar atau beban sosial. Jika lapangan kerja berkualitas tidak tersedia, akan muncul pengangguran terdidik, pekerja informal, migrasi tenaga kerja, dan radikalisasi di dunia digital.
Tawaran Bidang Sosial Ekonomi
Tawaran bidang sosial ekonomi yang akan dijabarkan di bawah ini bukanlah hal baru untuk dibicarakan. Namun, selagi belum terealisasi, saya rasa tetap relevan. Terdengar “ngayawara” tapi ini setara pentingnya dengan agenda dakwah dan pendidikan.
Pertama, satu data Nahdliyin nasional. Basis data terintegrasi terkait profil ekonomi warga, pendidikan, pekerjaan, UMKM, pesantren, dan lahan pertanian. Tanpa data, pembangunan ekonomi warga sulit dilakukan secara sistematis.
Kedua, pesantren sebagai pusat ekonomi nasional. Agenda ini mendorong transformasi pesantren menjadi pusat kewirausahaan, inkubator bisnis, pusat pelatihan digital, dan pusat pemberdayaan masyarakat. Modelnya bukan sekadar koperasi pesantren, tetapi “pesantren economic hub“.
Ketiga, dana abadi kemandirian NU. Konkretnya, kita membangun endowment fund (wakaf produktif) berskala nasional. Tujuannya untuk mendanai pendidikan, riset, pemberdayaan ekonomi, dan inovasi sosial. Banyak organisasi global besar bisa bertahan karena dana abadi, bukan karena donasi tahunan.
Keempat, program 100.000 wirausaha muda nahdliyin. Program ini akan difokuskan pada ekonomi digital, industri kreatif, agritech, green economy, dan UMKM berbasis teknologi. Target utamanya adalah menciptakan kelas menengah baru nahdliyin.
Kelima, konsolidasi ekonomi pesantren. Upaya ini bertujuan untuk menghubungkan koperasi, BMT, UMKM, petani, nelayan dalam satu rantai nilai nasional. Contohnya, dari petani NU ke Gudang NU, lalu ke marketplace NU, kemudian ke konsumen NU.
Keenam, gerakan ekologi nahdliyin. NU memiliki modal sosial besar untuk memimpin rehabilitasi hutan, konservasi mangrove, pertanian berkelanjutan, dan energi terbarukan. Isu lingkungan berpotensi menjadi medan dakwah sekaligus pemberdayaan ekonomi masa depan.
Ketujuh, universitas dan pesantren teknologi. NU perlu melahirkan insinyur AI, data scientist, ahli keamanan siber, dan entrepreneur teknologi. Sebagaimana pesantren dahulu melahirkan ulama, NU perlu melahirkan generasi “ulama-teknolog” dan “teknolog-beretika”.
Kedelapan, gerakan filantropi produktif. Agenda ini mengembangkan semangat filantropi yang sudah mendarahdaging di warga NU dengan tujuan yang lebih produktif. Caranya, mengintegrasikan zakat, infak, sedekah, dan wakaf ke dalam instrumen pembangunan ekonomi jangka panjang. Bukan hanya berfokus pada bantuan sosial, tetapi penciptaan aset produktif.
‘Ala kulli haal, program besar bidang sosial-ekonomi NU ke depan adalah mendorong transformasi dari organisasi massa ke ekosistem peradaban. Tantangan utama NU bukan lagi sekadar menjaga jumlah anggota atau mempertahankan pengaruh politik. Tantangan terbesarnya adalah mengubah modal sosial yang sangat besar menjadi modal ekonomi, modal pengetahuan, dan modal inovasi.
NU telah berhasil menjadi kekuatan kultural dan keagamaan. Tantangan 20 tahun ke depan adalah bagaimana NU berkembang menjadi ecosystem builder yang mampu menghubungkan pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan filantropi dalam satu ekosistem peradaban yang meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus menjaga nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam.
SURAJI
(Santri Pengelana Tinggal di Jakarta)



