KH. Ahmad Munawwir merupakan putra Kyai Miftah dan Nyai Raden F Ahmad. Munawwir berarti orang terpuji yang menerangi. Bisa jadi harapan itu disandarkan oleh orangtuanya agar kelak di kemudian hari Ahmad Munawwir kecil menjadi seorang pemimpin yang dapat memberikan penerangan dan pencerahan bagi umat.

Dilahirkan pada bulan Ramadan bertepatan dengan Mei tahun 1910 M di Dukuh Kranji, Desa Kedungwuni, yang secara administratif saat ini masuk wilayah Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Lingkungan Kranji, yang saat ini berkembang menjadi pedukuhan padat penduduk,  ikut menempa jiwa Ahmad Munawwir kecil. Betapa tidak, Kranji merupakan wilayah yang menjadi basis kegiatan keagamaan, karena di sinilah banyak lahir para kiai. Kondisi seperti itu terjadi begitu saja secara turun temurun sejak Waliyullah Nurul Anam membuka wilayah yang dahulu konon terdapat banyak pohon asem kranjinya itu, menjadi tempat bermukim dan menyebarkan ilmu agama.

Masjid di desa itu menjadi pusat kegiatan keagamaan. Tempat ibadah yang didirikan oleh mendiang Waliyullah Nurul Anam itu tidak pernah sepi dari pengajian, mulai subuh hingga subuh lagi. Kini, selain masjid, terdapat madrasah diniyah, pondok pesantren, dan majlis ta’lim untuk kegiatan belajar mengaji.

Foto Masjid Kranji

 

Kegiatan pengajian di Kranji seolah tidak ada hentinya. Begitu usai sekolah, anak-anak langsung belajar di madrasah diniyah hingga malam. Para remaja membuka pengajian dengan metode sendiri. Sementara itu pengajian kaum ibu, tiap harinya bergilir dari rumah satu ke rumah lain. Tivi ngono wis ora kober ketonton kae si (tidak ada waktu untuk menonton televisi), kata Khairudin, keponakan KH. Ahmad Munawwir, menggambarkan suasana keberagaman di Kranji saat iyu.

Di lingkungan religius seperti itulah Ahmad Munawwir kecil tumbuh dan berkembang. Bila sebutan keturunan darah biru alias ningrat itu masih berlaku, maka KH. Ahmad Munawwir adalah termasuk di dalamnya. Ia merupakan generasi ketujuh dari Haji Hafidz (Pangeran Bahurekso), seorang senopati dari kerajaan Islam Mataram Yogyakarta yang kemudian menjadi Bupati Kendal. Ketika itu Senopati Bahurekso mendapat tugas besar dari Sri Sultan, yaitu untuk membuka hutan gambiran atau lebih dikenal dengan alas roban, sehingga menjadi daerah pemukiman yang kemudian menjadi pemerintahan tersendiri setingkat kabupaten. Ini bila ditarik garis lurus ke atas dari nasab sang ayah.

Begitupun jika diurutkan nasabnya dari garis ibu, KH. Ahmad Munawwir adalah generasi ke dua belas dari Raden Mas Karebet (Joko Tingkir), seorang pahlawan legendaris  di Tanah Jawa.

Namun, bahwa ketika KH. Ahmad Munawwir akan dimasukkan ke liang lahat dielu-elukan dengan iringan derai air mata umat serta lantunan doa adalah bukan karena garis keturunannya itu. Tetapi lebih kepada pengorbanan dan perjuangan selama hidupnya yang dihabiskan penuh untuk kepentingan agama dan umat.

Silsilah dari Garis Ayah

Ahmad Munawwir bin Miftah bin Dzul Yazan bin Masyrof bin Ma’arif bin Nurul Anam (Nur Anom) bin Muhammad Nur bin Haji Hafidh (Bahurekso) bin Haji Nom (Pangeran Cempaluk) bin Pangeran Abu Nawa bin Pangeran Aryo Mangir bin Pangeran Pahesan bin Waliyullah Abdul Muhyi Pamijahan bin Raden Tenganjeh (pangeran Trawulan II) bin Raden Wiracandra ( Pangeran Trawulan I) bin Sultan Abdurrohman Campa bin Sultan Raden Rahmat Sunan Ampel bin Maulana Malik Ibrohim bin Sayyid Jumadil Kubra sampai Sayyidina Husain bin Fatimah binti Rasulillah SAW.

Makam Waliyullah Nur Anom dan keluarga di Kranji, Kedungwuni, Pekalongan.

 

Berdasarkan silsilah dari garis ayah ini, KH. Ahmad Munawwir merupakan keturunan ke-7 dari Haji Hafidh alias Pangeran Bahurekso. Sebagaimana diketahui, Pangeran Bahurekso sangat lekat dengan cerita rakyat tentang asal mula Batang atau babad Batang. Dalam buku Sejarah Batang Suatu Studi Pandahuluan diceritakan bahwa Pangeran Bahurekso atau Ki Ageng Bahurekso adalalh seorang pahlawan yang membuka hutan Roban yang kini merupakan kawasan pertanian dan hutan jati di Kecamatan Gringsing, Limpung dan Subah.

Dikisahkan, pada waktu Kerajaan Mataram yang berpusat di Yogyakarta mempersiapkan daerah pertanian untuk mencukupi persediaan beras bagi para prajuritnya yang akan mengadakan penyerangan ke Batavia, Bahurekso mendapat tugas membuka roban untuk  dijadikan daerah persawahan.

Hambatan untuk melaksanakan tugas ternyata cukup berat. Para pekerja penebang hutan banyak yang sakit dan mati karena diganggu oleh jin, pri-prayangan atau siluman yang dipimpin oleh Dadung Awuk. Namun, berkat kesaktian Bahurekso, akhirnya para siluman roban dapat dikalahkan dan berakhirlah gangguan tersebut.

Demikianlah hutan roban sebelah barat dapat ditebang seluruhnya. Tugasnya kini tinggal mengusahakan pengairan untuk lahan yang telah dibuka. Tetapi pelaksanaan sisa pekerjaan ini pun tidak luput dari gangguan dan halangan.

Gangguan utama adalah dari Raja Siluman Uling yang bernama Kolo Dubrikso. Bendungan yang selesai dibuat untuk menaikkan air sungai lijahan (sekarang bernama sungai keramat) selalu jebol karena dirusak oleh anak buah raja uling. Mengetahui hal itu, Bahurekso terpaksa turun tangan. Semua anak buah Kolo Dubrikso yang berada di sebuah kedung sungai tersebut diserang. Korban berjatuhan dari pihak anak buah uling. Merahnya semburan darah membuat air kedung menjadi merah darah kehitaman (jawa = gawok), maka kedung tersebut dikemudian hari dinamakan kedung si gowok. Raja uling marah melihat anak buahnya banyak yang mati. Dengan pedang swedang terhunus ia menyerang Bahurekso. Karena kesaktian pedang tersebut, Bahurekso dapat dikalahkan.

Akhirnya Bahurekso pergi menghadap ayahnya, Ki Ageng Cempaluk) untuk meminta pendapat. Oleh ayahnya, Bahurekso disuruh masuk ke kaputren kerajaan uling, untuk merayu adik sang adik raja uling yang bernama Dubriksowati, seorang putri siluman yang sangat cantik.     Dengan rayuannya akhirnya Dubriksowati bersedia mencuri pedang milik kakaknya. Dengan pedang swedang di tangan Bahurekso, raja siluman uling akhirnya dapat dikalahkan.

Setelah kerajaan uling dapat ditaklukkan, ternyata air bendungan tidak selalu lancar. Kadang airnya besar, di lain waktu aliran air mengecil. Setelah dilihat ternyata ada kayu batang besar (watang) yang melintang menghalangi aliran air. Berpuluh puluh orang disuruh mengangkat untuk memindahkan watang tersebut, tetapi sama sekali tidak berhasil. Bahurekso pun harus turun tangan lagi. Dengan kesaktiannya batang tersebut dapat dipatahkan dan diangkat, sehingga aliran air lancar. Demikianlah dari peristiwa ngembat watang, yaitu mengangkat batang kayu dan menjatuhkannya, tersebutlah nama batang, berasal dari kata ngembat watang.

Silsilah dari Garis Ibu

Ahmad Munawwir bin Raden Fatumah binti KH. Ahsan bin H. Asy’ari bin Muhammad Arif bin Kyai Ma’arif bin Raden Maryam (istri Nur Anom) binti Waliyullah Talabuddin bin Raden Khathib Nuri bin Raden Abdussalam II bin Raden Abdurrahman Ma’unah bin Raden Abdussalam I bin Raden Tarub bin Raden Wanabaya II bin Raden Ayu Wulan Ratnawati (istri Sunan Jati Kusuma Cirebon) binti Raden Ainul Yakin (Raden Paku Sunan Giri) bin Maulana Ishak bin Sayyid Jumadil Kubro hingga Sayyid Husain bin Fatimah binti Rasulillah SAW.

Riwayat Pendidikan

Pendidikan awal Ahmad Munawwir didapat dari orang-orang terdekatnya. Ayah, Kyai Miftah dan kakeknya, Kyai Ahsan adalah guru pertamanya. Di bawah bimbingan kedua orang tokoh agama itu Munawwir belajar ilmu tauhid, fiqih dan qiraat (ilmu baca al-Qur’an). Masih dimasa kanak-kanak, Munawwir pernah belajar ilmu agama kepada KH. Ahmad Munawwir Kewageyan Wonopringgo. Pengetahuan agama yang didapatnya sejak usia dini sangat mempengaruhi jiwa dan pilihan hidupnya.

Ahmad Munawwir mengenyam pendidikan formal atau sekolah umum hanya sampai kelas dua Sekolah Dasar yang ketika itu dikenal sebagai “Sekolah Ongko Loro”. Sebuah prestasi yang cukup luar biasa dizamannya. Betapa tidak, doktrin keharaman orang Islam belajar di sekolah umum atau sekolah yang didirikan penjajah Belanda, sangat kental menancap dibenak kaum santri saat itu. Bisa dibayangkan, Kranji merupakan basis kaum santri yang terus menggelorakan semangat perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Semangat perlawanan itu tidak hanya sebatas pertarungan fisik alias adu senjata, tetapi sudah mencapai  perlawanan tradisi atau kebiasaan para penjajah. Ini terbukti dengan pernah munculnya larangan memakai celana panjang dikalangan kaum santri. Karena dianggap menyerupai kebiasaan orang Belanda, sang penjajah. Larangan itu berdasarkan hadits “man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum”, barang siapa menyerupai dengan kebiasaan suatu kaum maka dia adalah termasuk bagian dari kaum itu.

Sebenarnya doktrin seperti itu adalah sebuah cara untuk menanamkan jiwa nasionalisme kepada umat. Dengan benci kepada kebiasaan orang Belanda berarti tidak senang dengan keberadaannya di Indonesia. Kalau sudah demikian maka semangat untuk mengusir penjajah dapat meningkat berlipat-lipat.

Kondisi seperti itulah yang melatar belakangi  Munawwir kecil. Memakai celana panjang saja haram, apalagi bealajar di sekolah yang didirikan orang Belanda. Bisa tamat hingga kelas dua “ongko loro” adalah prestasi tersendiri.

Meski pendidikan formalnya terbatas, Ahmad Munawwir dapat menguasai Bahasa Belanda serta menguasai Bibel (kitab suci agama Kristen), baik Bibel Perjanjian Lama maupun Bibel Perjanjian Baru.

Menginjak usia remaja, Ahmad Munawwir dikirim orang tuanya ke pondok pesantren Buntet, Cirebon hingga lima tahun. Di Cirebon, Ahmad Munawwir menjadi santri Kiai Zen, seorang ulama ahli Ulumul Qur’an. Kemudian di pondok pesantren Jamsaren Solo selama dua tahun. Tetapi masih diteruskan ikut pengajian di pesantren tersebut setiap bulan Ramadhan. Salah satu teman seangkatannya di Jamsaren adalah KH. Idham Kholid, yang pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Wakil Perdana Menteri, dan Ketua DPR/MPR RI.

Disamping belajar di Buntet dan Jamsaren, Ahmad Munawwir juga sempat belajar di beberapa pondok pesanrtren kendati dalam jangka waktu yag tidak lama. Diantaranya di Benda, Bumiayu, Brebes, kemudian di Tebu Ireng, Jombang, pernah di Banten, juga Termas serta pondok-pondok pesantren lainnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan selain memperdalam ilmu agama juga tabarukan kepada para ulama.

Menuntut ilmu pengetahuan secara lahiriyah dengan berguru ke beberapa pesantren telah dijalani oleh Ahmad Munawwir. Guna memantapkan pondasi jiwa sebagai bekal mensyiarkan agama ke masyarakat, dia melakukan penyucian jiwa atau dalam bahasa pesantrennya disebut ”riyadlah” sebagai upaya mencari ilmu secara batiniyah dengan melakukan ziarah ke makam-makam para auliya.

Sebagaimana dituturkan Imam Ghozali, ibarat danau airnya berasal dari dua sumber, yaitu sungai dan mata air yang ada di danau tersebut. Sungai-sungai mengalirkan air dari hulu dan bermuara di danau. Sementara, mata air senantiasa mengeluarkan air tanpa henti memenuhi danau tersebut. Aliran sungai bisa jadi airnya tidak hanya bermuara di danau, bisa menyimpang kemana-mana. Tetapi mata air yang ada di danau, tetap akan mengeluarkan air untuk  danau itu.

Perumpamaan diatas adalah tamsil bagi orang-orang yang mencari ilmu. Mereka akan mendapatkannya dari dua jalur, yaitu dari orang lain alias guru dan dari dirinya sendiri. Ilmu diibaratkan sebagai air danau. Aliran air sungai adalah perumpamaan ilmu yang didapat dari para guru. Sedangkan mata air menjadi pengibaratan ilmu yang digali dari kekuatan jiwa.

Begitupun Ahmad Munawwir, setelah mendapatkan ilmu dari para guru di beberapa tempat, dia juga menggali sumber daya jiwanya dengan melakukan ziarah. Hal ini dituturkan oleh Kiai Anwar Amir Kranji, teman masa muda Ahmad Munawwir. Diceritakannya bahwa Ahmad Munawwir punya kebiasaan berziarah ke makam para wali. Sering kali Kyai Anwar diajak menyertai kebiasaan Ahmad Munawwir itu. makam-makam auliya di wilayah Pekalongan dan sekitarnya sudah merata di iarahi. Bahkan makam auliya di daerah Cirebon, Banten, Jakarta, Surabaya, Madura pun tidak ada yang terlewatkan.

Meskipun dengan berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilo meter, Ahmad Munawwir rela menjalaninya  demi untuk sowan atau ziarah kepada para ulama. Bahkan, tidak jarang Ahmad Munawwir bermalam di pesarean atau makam tersebut. Sempat beberapa kali Kyai Anwar ditinggal sendirian di makam itu karena ketiduran.

Dengan melakukan ziarah dan silaturrahim kepada para ulama, Ahmad Munawwir berharap dapat menemukan ketenangan jiwa dan kejernihan berfikir serta mempunyai kedekatan batin dengan mereka. Selain berziarah, Ahmad Munawwir juga punya kebiasaaan berdzikir, baik lewat wirid-wirid maupun thariqat. Misalnya, melanggengkan dalail khairat, manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani, thariqat sathariyyah serta thariqat Naqsabandiyah Khalidiyah.

Begitulah cara yang digunakan Ahmad Munawwir untuk mendapatkan ilmu, sehingga bisa bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan dan masyarakat.

Rangkaian perjalanan panjang pencarian ilmu, baik secara lahiriyah maupun batiniyah usai sudah. Masa berikutnya adalah mengamalkan ilmu yang telah didapat. Ahmad Munawwir mengajar di madrasah diniyah yang dirintis oleh para kyai sebelumnya. Sambil terus mengajar, dia juga menjadi mubaligh. Memberikan mauidlah hasanah di berbagai majlis. Kecakapan dan kelanggengannya berdakwah mendapat perhatian dari masyarakat. Sebagai penghargaan atas keikhlasan menjalankan misi dakwahnya itu, Ahmad Munawwir dipanggil dengan “Mas Kiai” oleh masyarakat.

Jangkauan dakwahnya tidak hanya sebatas masyarakat Kranji, tetapi telah merata ke seantero Pekalongan dan sekitarnya. Bahkan diantara orang Belanda pun berhasil diislamkan. Tercatat, Meester Moris, salah sorang sinder pabrik kopi di Bandar-Batang. Dan seorang berkebangsaan Belanda yang saat itu menjabat direktur pabrik gula Sragi, Comal, Pemalang.

Masa Perkawinan

Ahmad Munawwir menikah dengan Raden Munadloroh, putri Raden Duraid. Dari pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak, namun yang hidup sampai saat ini hanya satu, yaitu Hajah Rofiqoh.

Pernikahan keduanya dengan Hajah Maimunah di Desa Simpar, Bandar, yang kemudian diajak hijrah ke Gringsing. Dari pernikahan ini tidak  dikaruniai anak. Hanya mengambil anak angkat, Mazizah yang disusui oleh adik perempuan KH. Ahmad Munawwir, Hayuni. Sehingga mazizah resmi menjadi muhrim.

Hajah Rofiqoh menikah dengan H. Muhammad Darto Wahab, SH., putera KH. Abdul Wahab Magelang. Mereka menurunkan Muhammad Fatih Habanto, Mudzahibah Andapidar, dan Muhammad Harik.

Adapun Mazizah diperistri oleh Suhermansyah bin Umar Markani, Pangkalan Bun-Kalimantan Tengah. Berputrikan Nur Jannah dan Nur Hikmah.