Bawang, NU Batang
Semarak menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW terasa di Pondok Pesantren Darussalam Putra, Bawang, Batang. Jamaah dari berbagai unsur berkumpul dalam Pengajian Akbar yang digelar JPPPM, IHM NU, dan Muslimat NU, Ahad (13/9/2026).
Pengajian tersebut menghadirkan Ketua Umum JPPPM Nusantara, Ibu Nyai Hj. Hanik Maftuhah Afif, sebagai mubaligah. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan dan diiringi lantunan shalawat serta rebana dari grup Dawai Milati.
Mengusung tema “Merajut Cinta Rasul, Mempererat Ukhuwah, Meraih Barokah”, pengajian ini menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus mempererat silaturahmi dan ukhuwah di antara jamaah, khususnya warga Nahdlatul Ulama.

Perempuan dan Perjuangan Syiar Islam
Dalam mauidzah hasanahnya, Nyai Hanik mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Islam yang telah diwariskan melalui perjuangan Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kehadiran Islam telah membawa perubahan besar dari zaman jahiliyah menuju kehidupan yang penuh cahaya dan petunjuk.
Beliau juga menyoroti besarnya peran perempuan dalam perjalanan dan perkembangan syiar Islam. Menurutnya, perempuan memiliki kontribusi penting dalam menjaga, mengajarkan, dan meneruskan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
“Wong wedok seng awale didiskriminasi menjadi diangkat derajatnya. Kaum perempuan pun perjuangannya sungguh luar biasa dalam mensyiarkan ajaran Islam,” tutur Nyai Hanik.
Beliau menyebut berbagai organisasi perempuan di lingkungan Nahdlatul Ulama seperti Muslimat, Fatayat, JPPPM, IHM, dan JMQH. Meski memiliki seragam dan wadah organisasi yang berbeda, menurutnya, seluruhnya memiliki semangat yang sama dalam berkhidmah dan mengajak umat menuju kebaikan.
“Seragame beda-beda, ada Muslimat, Fatayat, JPPPM, IHM, JMQH. Walaupun seragamnya berbeda, semuanya bergerak bersama-sama. Tujuannya adalah nggawe rombongan seng tekan suargo,” ungkapnya.
Karena itu, lanjut Nyai Hanik, perempuan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. “Perempuan itu tiang negara,” tegasnya.
Beliau kemudian mengingatkan bahwa kehidupan di lingkungan pesantren juga memiliki nilai keutamaan tersendiri. Para pengasuh dan santri yang sehari-hari mengisi waktunya dengan salat berjamaah, mengaji, dan berbagai amal kebaikan, menurutnya, berada dalam lingkungan yang dekat dengan keberkahan.
“Seperti pengasuh pesantren yang setiap harinya bersama malaikat, mulai salat jamaah, ngaji dengan para santrinya. Itu kita sama-sama muqoronah bil malaikat,” jelasnya.

Wujud Cinta kepada Rasul
Pada bagian lain tausiyahnya, Nyai Hanik mengajak jamaah untuk membuktikan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak membaca shalawat.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diungkapkan dalam perasaan, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan memperbanyak menyebut dan bershalawat kepada beliau.
“Bukti cinta kepada Nabi SAW adalah dengan memperbanyak menyebutnya, katsuro dzikruhu, yaitu dengan cara membaca shalawat,” pesannya.
Beliau juga mengingatkan jamaah agar tidak berhenti berdoa dan berusaha dalam memohon berbagai hajat kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak membaca shalawat.
“Siapa yang ingin kabul hajatnya, maka perbanyak membaca shalawat,” pungkasnya.

