Tersono, NU Batang

Jum’at siang (28/8) adalah bertepatan dengan pengajian rutin selapan NU Ranting Rejosari Barat. Tepatnya di Mushola Baitussalam Dukuh Gedongan. Berikut ini adalah cuplikan dari pesan-pesan yang terekam oleh redaksi NU Batang.

Meramaikan masjid dan mushola adalah ikhtiar menjaga masyarakat dari musibah dan balak.

Dalam tausiyahnya, Kiai Sobikhin mengingatkan bahwa keberadaan orang-orang yang masih mau datang dan beribadah di masjid maupun mushola merupakan salah satu bentuk keberkahan bagi masyarakat.

“Gusti Allah bakal nurunake musibah lan balak, tetapi dicabut maneh nalikane taseh wonten tiyang-tiyang ingkang purun ngrameaaken omahe Gusti Allah, tegese yoiku masjid lan mushola,” tuturnya.

Menurutnya, pembangunan masjid dan mushola tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan fisik. Lebih dari itu, keberadaan rumah ibadah memiliki tujuan utama sebagai tempat manusia beribadah kepada Allah SWT.

“Dibangunnya masjid lan mushola ora luput saka tujuan utamane, yaiku kanggo ibadah. Kumpul ten mriki diniati ibadah,” katanya.

Ia kemudian mengajak jamaah untuk tidak memandang kegiatan pengajian sebagai sekadar aktivitas berkumpul. Setiap orang yang hadir hendaknya menyadari bahwa ilmu yang diperoleh dari pengajian dapat membentuk cara berpikir dan menentukan kualitas amal seseorang.

Kiai Sobihin memberikan gambaran bahwa jamaah yang hadir dalam sebuah pengajian mungkin tampak sama ketika duduk bersama. Namun, ilmu yang dibawa pulang oleh masing-masing orang dapat berbeda.

“Kados sak niki, lungguhe podo, snack jajane yo podo. Tapi oleh-oleh soko ngaji bedo-bedo,” ungkapnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa kemampuan seseorang dalam memahami hukum dan tanggung jawab agama berkaitan erat dengan kondisi akal. Karena itu, menurutnya, akal perlu terus dikembangkan dengan belajar dan mengaji.

Dalam menjelaskan pentingnya memahami hukum agama, ia mengambil contoh mengenai perbedaan ketentuan bagi orang yang melakukan zina berdasarkan kondisi dan statusnya. Menurutnya, hukum tidak dapat dipahami secara serampangan tanpa mengetahui ketentuan dan perinciannya.

“Orang yang melakukan dosa yang sama belum tentu memiliki ketentuan hukum yang sama. Karena itu, kita perlu ngaji agar memahami bagaimana agama memberikan ketentuan,” jelasnya.

Beliau menambahkan, orang yang kehilangan akal tidak dibebani dengan ketentuan agama sebagaimana orang yang sehat akalnya. Karena itu, menjaga dan mengembangkan akal menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

“Ora shalat, ora poso, syarate siji: wong edan. Oleh sebab itu, akal bisa berkembang sebab ngaji,” katanya.

Kiai Sobihin juga menyoroti masih adanya sebagian masyarakat yang enggan menghadiri pengajian. Menurutnya, rasa malas mengikuti kegiatan keagamaan dapat muncul karena seseorang belum memahami manfaat mencari ilmu.

“Kenapa selapan kok padha aras-arasen? Sebab durung ngerti manfaate ngaji,” ujarnya.

Di pertengahan tausiyah, beliau mengingatkan jamaah agar dalam menjalani kehidupan tidak hanya mengandalkan kemampuan berpikir pribadi. Al-Qur’an, hadis, dan tuntunan para ulama harus menjadi pedoman agar manusia tidak mudah menyimpang dari jalan yang benar.

“Sing iso nglencengaken awak dewe yaiku al-Qur’an, hadis, lan nderek para ulama,” pungkasnya.

Pewarta: Autad