Ujian Akhir, Santri TPI Al-Hidayah Plumbon Praktik Mengurus Jenazah dan Menyembelih Ayam

Diposting pada

Pesantren TPI Al-Hidayah Plumbon, Limpung, Batang gelar ujian madrasah rutin dalam bentuk praktik menyembelih hewan dan pemulasaraan jenazah dari syarat dan kaifiyahnya (tata cara) yang diselenggarakan berbeda dari biasanya terutama pada waktu pelaksanaan ujian. 

Jika biasanya dilaksanakan pada akhir semester genap tepatnya sebelum acara Haflah Akhirussanah, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan ujian pada saat itu, maka ujian baru bisa dilaksanakan saat ini untuk pengambilan nilai ujian praktik dan penentu kelulusan para santri.

Salah satu pengajar di Pesantren TPI Al-Hidayah Plumbon Kiai M Rozi mengatakan, teori dan praktik ujian seperti ini sangatlah langka dan belum tentu setiap lembaga pendidikan menggelar kegiatan serupa.

“Peserta ujian praktik harus bisa melaksanakan dengan baik menyembelih hewan maupun pemulasaraan jenazah. Khususnya untuk jenazah mulai dari persiapan hingga penguburannya,” ujarnya.

Disampaikan, peserta ujian harus bersungguh-sungguh dan senantiasa memperhatikan teori dan praktik yang telah dicontohkan oleh para gurunya.

“Ujian praktik ini selain mendapatkan nilai yang baik juga mendapatkan pengalaman baru yang jarang orang lain bisa. Bahkan ini masih begitu mudah dibandingkan nanti pada saat praktek secara langsung mengurusi jenazah sungguhan,” tegasnya.

Salah satu siswa ujian praktik Syauqi mengaku senang mendapat kesempatan bisa mengikuti ujian praktik menyembelih hewan dan perawatan jenazah. Baginya ini pengalaman baru yang jarang didapatkan oleh orang lain.

“Saya merasa bangga dan beruntung melihat bentuk ujian seperti ini sangat mengesankan, di samping sudah mumpuni dalam materi untuk mengejar target nilai yang baik, juga mendapatkan wawasan dan pengalaman baru yang jarang didapatkan oleh lainnya terutama pada kalangan remaja,” ucapnya Senin (2/11). 

Kiai Rozi berpesan, dalam praktik yang sesungguhnya kelak ketika terjun ke masyarakat, jangan sampai santri tidak bisa melakukan kedua pekerjaan tersebut. 

“Pantang bagi santri menolak permintaan masyarakat untuk melakukan kedua hal yakni menyembelih hewan dan merawat jenazah. Harus bisa dan benar,” tandasnya.

Pewarta: Krisna dan Anam
Editor: M Ngisom Al-Barony

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di laman jateng.nu.or.id

Bagikan ke :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *