
Pecalungan, NU Batang
Lembaga Konseling Pelajar Putri (LKPP) PC IPPNU Kabupaten Batang menyelenggarakan Seminar Konseling dengan mengusung tema “Pelajar Hebat, Mental Sehat” pada Sabtu (14/02/2026) di Aula Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang.
Kegiatan ini menghadirkan Sabrina Durrah sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Sabrina menekankan pentingnya pemahaman diri sebagai fondasi kesehatan mental pelajar, khususnya bagi kader organisasi. “Ada satu perkara yang susahnya melebihi matematika, yaitu memahami diri sendiri. Ketika kita tidak mengenal diri, kita mudah lelah, mudah overthinking, bahkan kehilangan motivasi,” ujar Sabrina dalam sesi materi.
Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah kondisi ketika seseorang mampu mengelola emosi, berpikir jernih, menjalin hubungan sosial yang sehat, serta menghadapi tekanan hidup dengan seimbang. “Remaja adalah masa pencarian jati diri. Banyak yang aktif di sekolah dan organisasi, tetapi lupa menjaga keseimbangan mentalnya. Padahal menjaga diri itu bagian dari menjaga amanah,” tambahnya.
Dalam paparannya yang bersumber dari materi presentasi (PPT), Sabrina juga memaparkan tanda-tanda mental health terganggu pada remaja, seperti mudah marah atau sedih berlebihan, menarik diri dari lingkungan sosial, overthinking, hingga merasa tidak berharga. Ia menegaskan pentingnya manajemen waktu, komunikasi terbuka, serta self-care seperti istirahat cukup dan membatasi penggunaan media sosial.
Direktur LKPP PC IPPNU Kabupaten Batang, Lutfiyah Azizah, dalam sesi wawancaranya menyampaikan bahwa tidak semua remaja telah selesai dengan dirinya sendiri. “Tidak semua anak sudah selesai dengan dirinya, apalagi yang masih berusia 15 tahunan. Bahkan tidak semuanya paham apa itu kesehatan mental,” kata Lutfiyah.
Ia menjelaskan, pemahaman tentang diri dan kesehatan mental penting agar pelajar mampu bertanggung jawab atas keputusan, ucapan, dan tindakan mereka. “Harapannya ketika mereka paham tentang dirinya, mereka bisa lebih sadar dalam bersikap. Dampaknya, mereka lebih bertanggung jawab di organisasi, mampu memanusiakan manusia, serta memahami etika dan sopan santun,” lanjutnya.
Menurutnya, kesempurnaan bukanlah target utama dalam proses ini, melainkan perbaikan diri secara bertahap. “Kita tidak bisa menuntut 100 persen sempurna karena kita manusia biasa. Tapi paling tidak, setiap individu paham dan mampu melakukan yang terbaik, minimal untuk dirinya sendiri,” ujarnya.
Lutfiyah juga menekankan pentingnya edukasi kesehatan mental sejak usia sekolah. “Kalau bisa sejak dini, bahkan dari pola asuh orang tua. Namun dengan berbagai keterbatasan komunikasi dan pemahaman, setidaknya usia SMA sudah cukup untuk mulai memahami dasar-dasar psikologi manusia dan melakukan introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik,” tutupnya.
Pewarta : Solekha



