Gringsing, NU Batang
Pondok Pesantren (PP) Al Munawwir Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menggelar rangkaian kegiatan Haul K.H. Ahmad Munawwir bin Miftah XXXVII dan Haflah Khotmil Qur’an XXIV pada 4–6 September 2026. Dua kegiatan utama yang menjadi bagian dari rangkaian tersebut adalah uji coba Piramida Pembakaran Sampah serta Syiar-Syair bersama KH Sastrow Al Ngatawi dan Budi Cilok.
Kedua kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Djarum 76 melalui Program 76 Berbagi Heppiii, sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung berbagai ide dan kreativitas masyarakat yang berorientasi pada penguatan kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan.
Program tersebut tidak hanya menghadirkan kegiatan seni dan kebudayaan, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
Piramida Sampah untuk Pesantren dan Masyarakat
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian dalam rangkaian haul adalah uji coba Piramida Pembakaran Sampah yang dilaksanakan pada Jumat, 4 September 2026, pukul 16.30 WIB hingga selesai.
Piramida sampah tersebut diarahkan sebagai bagian dari upaya membangun pusat pengolahan sampah yang dapat dimanfaatkan untuk menangani persoalan sampah di lingkungan PP Al Munawwir Gringsing maupun masyarakat di sekitar pondok.
Pengadaan fasilitas tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pembangunan sarana, tetapi menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya kesadaran bersama mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan hidup.
Melalui Program 76 Berbagi Heppiii, Djarum 76 bersama PP Al Munawwir Gringsing ingin mengajak lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar untuk melihat persoalan sampah sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.
Syiar-Syair, Musik dan Pesan Lingkungan
Masih pada Jumat malam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Syiar & Syair bersama KH Sastrow Al Ngatawi dan Budi Cilok pada pukul 20.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini menggabungkan pementasan musik dengan syiar keagamaan dan pemaknaan mengenai kehidupan. Pesan-pesan tentang lingkungan menjadi salah satu tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
Kolaborasi KH Sastrow Al Ngatawi dan Budi Cilok diharapkan menghadirkan cara yang lebih dekat dan kreatif dalam menyampaikan pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Musik, syair, humor, dan pesan keagamaan dipadukan menjadi ruang refleksi bersama bagi para santri dan masyarakat.
Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya disampaikan melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga melalui pendekatan kebudayaan dan dakwah yang dapat diterima secara lebih luas.
Djarum 76 melalui Program 76 Berbagi Heppiii memandang dukungan terhadap kreativitas masyarakat sebagai bagian dari upaya menghadirkan kebaikan di ranah kebangsaan dan kemasyarakatan. Dukungan diberikan terhadap ide dan kreativitas yang memiliki manfaat bagi masyarakat serta mendorong pembangunan kehidupan sosial yang lebih baik.
Rangkaian Haul Mbah Munawwir Gringsing
Selain dua kegiatan utama tersebut, Haul K.H. Ahmad Munawwir bin Miftah XXXVII dan Haflah Khotmil Qur’an XXIV PP Al Munawwir Gringsing Tahun 2026 juga diisi dengan sejumlah kegiatan.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 4 September 2026, dengan Kirab Santri Al Munawwir pada pukul 13.00 WIB, dilanjutkan Uji Coba Piramida Pembakaran Sampah pukul 16.30 WIB dan Pertemuan Alumni pukul 17.00 WIB. Pada malam harinya, digelar Syiar & Syair bersama KH Sastrow Al Ngatawi dan Budi Cilok pada pukul 20.00 WIB.
Pada Sabtu, 5 September 2026, kegiatan diawali Pembacaan Dala’ilul Khairat dan Sima’an Al-Qur’an pada pukul 07.00 WIB di Musholla-Musholla Desa Gringsing. Siang hari pukul 13.00 WIB dilanjutkan Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil (Fatayat dan Muslimat) di halaman Ma’had Al Munawwir Gringsing.
Pada malam harinya, pukul 20.00 WIB, digelar Pembacaan Surat Yasin dan Tahlil khusus bapak-bapak di Musholla Ma’had Al Munawwir Gringsing.
Rangkaian kegiatan ditutup pada Minggu, 6 September 2026, dengan Pengajian Umum Maulid Nabi, Haul, dan Haflah Khotmil Qur’an pada pukul 08.00 WIB di halaman Ma’had Al Munawwir Gringsing, dengan menghadirkan K.H. Khozinatul Asror dari Tegal.
Melalui rangkaian tersebut, Haul Mbah Munawwir Gringsing tidak hanya menjadi momentum mengenang dan mendoakan para pendahulu, tetapi juga menjadi ruang memperkuat kebersamaan pesantren dan masyarakat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Program 76 Berbagi Heppiii bersama PP Al Munawwir Gringsing diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi warga pesantren dan masyarakat sekitar untuk bersama-sama mengatasi persoalan sampah serta menjaga lingkungan hidup dengan lebih baik.

Mengenal KH Ahmad Munawwir Gringsing, Ulama Pejuang dan Penggerak NU
Nama K.H. Ahmad Munawwir tidak dapat dipisahkan dari perjalanan dakwah dan perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Pekalongan dan Batang. Sosok yang kemudian dikenal luas sebagai Mbah Munawwir Gringsing ini dikenal sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk agama, masyarakat, dan bangsa.
K.H. Ahmad Munawwir lahir pada bulan Ramadhan, sekitar Mei 1910, di Dukuh Kranji, Desa Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Ia merupakan putra Kyai Miftah dan Nyai Raden Fatimah. Tumbuh di lingkungan Kranji yang dikenal sebagai salah satu basis kehidupan keagamaan, Ahmad Munawwir sejak kecil telah akrab dengan tradisi pesantren, pengajian, dan kehidupan para ulama.
Pendidikan agama diperolehnya sejak kecil dari ayah dan kakeknya. Setelah itu, ia menempuh pendidikan pesantren di berbagai tempat, antara lain Pesantren Buntet Cirebon dan Jamsaren Solo, serta sempat belajar di sejumlah pesantren lain seperti Benda Bumiayu, Tebuireng Jombang, Banten, dan Termas. Selain memperdalam ilmu melalui para guru, Ahmad Munawwir juga dikenal memiliki tradisi ziarah kepada para wali dan ulama. Bahkan, ia rela berjalan kaki menempuh perjalanan jauh untuk berziarah dan bersilaturahmi.
Sepulang dari pengembaraan ilmu, Ahmad Munawwir mengabdikan diri kepada masyarakat Kranji. Ia mengajar di Madrasah Diniyah Asasiyatul Huda dan Pondok Pesantren Nur Anom. Dakwahnya kemudian meluas ke berbagai daerah. Cara berdakwahnya dikenal luwes dan dekat dengan masyarakat. Ia bahkan tidak menjaga jarak dengan kelompok yang saat itu dikenal sebagai preman atau penjahat. Mereka didekati secara perlahan, dilibatkan dalam kegiatan keagamaan, hingga akhirnya sejumlah di antara mereka menjadi santrinya.
Kiprah Ahmad Munawwir juga tidak berhenti pada dakwah keagamaan. Pada masa pendudukan Jepang, ia turut terlibat dalam laskar Hizbullah Kranji. Sekitar usia 32 tahun, ia bersama para pemuda santri Kranji memenuhi permintaan bantuan laskar Hizbullah Bandengan untuk menghadapi tentara Jepang di Pekalongan. Ia bahkan sempat ditangkap dan disiksa tentara Jepang, tetapi berhasil selamat.
Setelah itu, perjalanan dakwahnya membawanya ke Simpar, Bandar, Batang. Pengajian yang semula dilakukan atas undangan masyarakat berkembang menjadi majelis taklim yang rutin. Karena kebutuhan masyarakat terhadap ilmu agama semakin besar, Ahmad Munawwir kemudian lebih banyak menetap di Simpar dan mengabdikan diri di sana. Setelah menikah dengan Hajjah Maimunah, perjuangan dakwahnya di Simpar dan sekitarnya semakin kuat. Dari Simpar inilah perjalanan pengabdiannya kemudian berlanjut hingga Gringsing. Di Gringisng hingga saat ini Majlis Taklim Al-Munawwir masih rutin dilaksanakan setiap hari Rabu dan Ahad. Majlis inilah yang menjadi legacy beliau selain Pondok Pesantren Al-Munawwir.
Bagi Ahmad Munawwir, NU bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pengabdian kepada umat dan bangsa. Sejak muda ia telah menjadi penggerak NU di Pekalongan bersama sejumlah ulama. Ketika berada di Bandar, ia pernah menjabat Rais Syuriyah MWC NU Kecamatan Bandar dan membina kader-kader yang kemudian meneruskan perjuangannya. Setelah hijrah ke Gringsing, ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah MWC NU Kecamatan Gringsing sekaligus A’wan Syuriyah NU Cabang Batang hingga akhir hayatnya.
Jejak pengabdiannya juga menjangkau ruang yang lebih luas. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan tahun 1956, Ahmad Munawwir tercatat sebagai salah seorang utusan dari Cabang Batang. Ia juga menjadi salah seorang peserta pendamping dalam Konferensi Islam Asia-Afrika di Bandung pada 1965.
Warisan terbesar Mbah Munawwir bukan semata nama, keturunan, atau jabatan yang pernah disandangnya, melainkan keteladanan dalam berkhidmah. Ia mengajarkan bahwa ilmu harus dihidupkan melalui pengabdian, dakwah harus dekat dengan masyarakat, dan keberadaan warga NU harus memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Prinsip itulah yang terus dikenang oleh masyarakat Gringsing dan menjadi salah satu alasan mengapa haul Mbah Munawwir tetap dirawat dari generasi ke generasi.

