Usai melanglang buana menuntut ilmu, Ahmad Munawwir kembali ke kampung halamannya, Kranji. Dia mulai berkhidmat kepada masyarakat Kranji. Diawali mengajar di Madrasah Diniyah “Asasiyatul Huda”, juga di Pondok Pesantren Nur Anom. Profesi ini ditekuninya hingga akhir tahun 1940. Lebih lanjut, sepenggal kisah dari beberapa jejak langkah perjuangan K.H. Ahmad Munawwir antara lain tersebut dalam uraian berikut ini.
Menyadarkan Penjahat
Meskipun menjadi guru ngaji, dalam pergaulannya Ahmad Munawwir cukup fleksibel. Tidak membedakan status dan jabatan. Dengan preman pun dia biasa bergaul. Dengan begitu Ahmad Munawwir bisa mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar.
Tidak sedikit para preman akhirnya menjadi santrinya, antara lain Masri di Desa Pakisan, Umar dan Yadi di kampung Kletok, Sirus di kampung Gembengan, Adut di kampung Gembong, Mail di kampung Kletok, Taib di kampung Slompret, dan Talib di kampung Merompang.
Menurut keterangan, dalam dakwahnya K.H. Ahmad Munawwir memang tidak langsung menyuruh para penjahat tersebut berhenti dari pekerjaannya. Para penjahat itu didekati secara perlahan. Selanjutnya mereka dilibatkan dalam beberapa acara keagamaan. Misalnya, disuruh menjaga keamanan waktu pengajian, sehingga mereka kian dekat dengan K.H. Ahmad Munawwir. Dengan kedekatan itu, K.H. Ahmad Munawwir dapat menyadarkan para penjahat.
Mengislamkan Tionghoa Pekalongan
Tentang masuk islamnya orang-orang Tionghoa Pekalongan ini ada beberapa bukti yang menunjukkan kejadian itu. K.H. Zawawi pernah belanja minyak tanah di sebuah toko milik orang Cina. Si pemilik toko itu biasa dipanggil oleh pelanggannya dengan Koh Dillah –berasal dari bahasa Arab, Abdillah-. Pada suatu kesempatan dia cerita kepada K.H. Zawawi, bahwa dirinya memang sudah masuk Islam bersama sejumlah temannya dengan dibimbing mengucapkan dua kalimah syahadat oleh beberapa Kiai di Masjid Kranji. Peristiwa ini terjadi setelah ada gegeran di Kedungwuni pada tahun 1940.
Melawan Penjajah Jepang
K.H. Zawawi dan K.H. Azhar pernah mendapatkan cerita dari Kiai Ahsan, kakek K.H. Ahmad Munawwir dari garis ibu. Ketika tentara Jepang mendarat di pelabuhan Ngebum, Pekalongan, mereka disambut perlawanan sengit para pemuda Pekalongan yang tergabung dalam laskar hizbullah pimpinan Kyai Yusuf Bandengan. Namun karena kekuatan pasukan dan persenjataan tidak seimbang, laskar hizbullah semakin terdesak.
Sedikit tentang laskar hizbullah. Di masa pendudukan militer Jepang, K.H. A. Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim Ays’ari yang saat itu menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, mencermati berdirinya badan “Tiga-A”-sebuah badan untuk menghimpun seluruh tenaga pimpinan Indonesia guna mengarahkan rakyat membantu Jepang dalam Perang Asia Timur Raya-. Badan tersebut kemudian berubah menjadi “PUTERA” (Pusat Tenaga Rakyat). Akhirnya pada tahun 1944 berubah lagi menjadi “Jawa Hokokai”.
Terbentuknya tentara Jawa Hokokai, oleh K.H.A. Wahid Hasyim disebarluaskan kepada seluruh pemimpin Nahdlatul Ulama melalui Saefuddin Zuhri. K.H.A.Wahid Hasyim selalu memberitahukan bahwa Jawa Hokokai itu hanya untuk kepentingan Jepang dalam mempertahankan Perang Asia Timur Raya. Tidak terlintas sedikitpun dalam pikiran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Kemerdekaan menjadi urusan rakyat Indonesia sendiri.
Karena itu, perlu diingat Sabda Nabi, al–harbu khid’ah, peperangan selamanya penuh tipu muslihat. Harus dipergunakan akal cerdik untuk mengelabuhi Jepang guna tercapainya kemenangan akhir bagi bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu, ketika Jepang meminta Jawa Hokokai mengumpulkan pemuda untuk dilatih menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air), KH. A.Wahid Hasyim juga meminta kepada Jepang melalui Abdul Hamid Ono, orang Jepang yang khusus ditugaskan untuk mengawasi K.H. Wahid Hasyim, untuk melatih para santri di pesantren. Tentara santri ini bukan bernama PETA, melainkan Hizbullah dan Sabilillah. Mereka juga tidak boleh dikirim ke medan perang melawan sekutu di Burma atau Kepulauan Pasifik, oleh karena masih belum pengalaman dalam soal perang.
Setelah diplomasi akal cerdik berhasil dan Jepang berjanji akan segera melatih, maka K.H.A. Wahid Hasyim meminta Saefuddin Zuhri untuk meratakan informasi ke beberapa pesantren di Jawa dan Madura. Setiap pesantren diminta mengirimkan 5 orang santrinya untuk dilatih di Cibarusah (dekat Bekasi), Jawa Barat. Latihan berlangsung selama 6 bulan pada pertengahan tahun 1944, di bawah bimbingan seorang opsir Jepang, Kapten Yanagawa, yang sebelumnya juga melatih PETA.
Markas tertinggi Hizbullah berkedudukan di Jakarta dipimpin Zainul Arifin dari NU. Sedangkan para anggotanya diambil dari Muhammadiyah, NU dan organisasi-organisasi Islam lainnya yang bernaung di bawah bendera Masyumi. Melalui markas tertinggi ini, para santri yang telah dididik di Cibarusah diperintahkan melatih para pemuda Islam di daerah masing-masing. Hingga kemudian nama Hizbullah tersebar luas di Jawa dan Madura. Dan di beberapa daerah lain seperti Sumatera dan Kalimantan juga sudah terbentuk tetapi belum merata.
Sedangkan kaum ulamanya memasuki ‘Barisan Sabilillah’ yang dibentuk setelah Hizbullah. Markas yang terkenal ketika itu berada di Malang, Jawa Timur, dipimpin K.H. Masykur, konsul NU Malang.
K.H. A. Wahid Hasyim meminta agar tentara santri ini dijadikan sebagai pasukan cadangan. Tentu saja permintaan itu merupakan diplomasi akal cerdik tadi. Sebab pada akhirnya nanti, tentara cadangan itu justru akan berbalik melawan Jepang dengan pucuk senapan.
Hal itu terbukti dengan perlawanan laskar Hizbullah di daerah-daerah termasuk Pekalongan, yaitu ketika tentara Jepang mendarat di Pekalongan.
Kembali ke laskar Hizbullah Pekalongan. Situasi terdesak tidak menyurutkan pasukan Kyai Yusuf untuk terus mempertahankan kedaulatan tanah tumpah darahnya. Sembari terus mengadakan perlawanan, Kyai Yusuf menyuruh beberapa anak buahnya untuk meminta bantuan laskar Hizbullah Kranji.
Berbekal jiwa nasionalisme yang menggelora, para anggota lskar Hizbullah Kranji yang didominasi pemuda-pemuda santri, termasuk Ahmad Munawwir yang ketika itu kira-kira berusia 32 tahun, menyambut permintaan bantuan itu dengan sigap dan gagah berani. Mereka langsung bersiap untuk bergabung dengan laskar Hizbullah Bandengan.
Kiai Ahsan bercerita, sebelum berangkat ke medan laga, para pemuda laskar Hizbullah Kranji, terlebih dulu digembleng diberi ijazah oleh para Kyai Kranji dan minum air sumur masjid Kranji.
Kedatangan laskar Hizbullah Kranji menambah semangat daya juang pasukan Hizbullah Bandengan. Bombardir persenjataan tentara Dai Nippon mendapat balasan sengit dari para pemuda patriot bangsa. Bukan pangkat dan jabatan yang mendasari perjuangan pemuda-pemuda itu, tapi membela tanah air adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Karena membela tanah air adalah sebagian dari pengamalan keimanan pribadi muslim.
Segala daya dan upaya, jiwa maupun raga telah dipertaruhkan laskar Hizbullah. Namun, usaha mempertahankan kedaulatan wilayah itu tidak berhasil. Dengan imbalan ceceran darah dari sejumlah pasukannya, tentara Jepang akhirnya dapat memasuki kota Pekalongan.
Adapun pasukan laskar Hizbullah masih ada yang sempat mundur dan selamat dari pertempuran itu.
Tetapi tentara Jepang terus mengejar dan menyisir basis-basis pertahanan laskar Hizbullah. Mereka yang tertangkap termasuk Ahmad Munawwir, langsung dibawa ke markas tentara Jepang. Sesampainya di markas, mereka diinterogasi dan disiksa. Tetapi berkat pertolongan Allah SWT., Ahmad Munawwir masih selamat dari tragedi itu.
Ada cerita lucu yang bersumber dari Kyai Abdul Latif Bandar. Selang beberapa waktu setelah mampu merebut kota Pekalongan, tentara Jepang tidak henti-hentinya mengadakan operasi pemulihan keamanan. Mereka terus mengejar para anggota laskar Hizbullah. Ahmad Munawwir tertangkap untuk kedua kalinya. Kali ini tidak langsung dieksekusi, tetapi diinterogasi satu persatu. Setelah diinterogasi, diserahkan algojo untuk dieksekusi.
Giliran Ahmad Munawwir tiba. Setelah diinterogasi, dia diserahkan kepada algojo. Tetapi mendadak, tiba-tiba sang algojo merasakan sakit perut yang amat sangat hingga mengakibatkan tidak bisa melaksanakan tugasnya. Selamatlah Ahmad Munawwir.
Mengasuh Majlis Taklim
Kegiatan keagamaan KH. Ahmad Munawwir tidak sebatas mengajar di Madrasah Diniyah Kranji, namun juga berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Umumnya, pengajian di luar Kranji adalah atas undangan dan permintaan masyarakat setempat. Bila perlu, kegiatan pengajian yang awalnya hanya bersifat insidental atau sewaktu-waktu, pada akhirnya menjadi rutinitas.
Hal itu terjadi bukan atas kehenak K.H. Ahmad Munawwir, tetapi lagi-lagi atas permintaan para santrinya. Kegiatan pengajian yang demikian itu diantaranya terlaksana di Bandar. Sehingga KH. Ahmad Munawwir yang awalnya hanya sebagai dai kemudian menjadi pengasuh.

KH. Ahmad Munawwir mengasuh pengajian Majelis Taklim di Bandar sejak tahun 1942 hingga 1945. Sempat terhenti sebentar dan diteruskan lagi. Statusnya naik lagi, dari sekedar pengasuh menjadi pengelola.
Hijrahnya Ahmad Munawwir dari Kranji, Pekalongan ke Simpar, Batang, menurut beberapa keterangan ada dua versi penyebabnya. Pertama, menyelamatkan diri dari kejaran tentara Jepang. Kedua, dimohon oleh seorang tokoh Simpar untuk memberikan pengajian.
Menurut keterangan KH. Zawawi bin Duraid Kranji (lahir tahun 1942) yang merupakan adik sebapak dari Raden Munadlarah (istri pertama K.H. Ahmad Munawwir), kepindahan KH. Ahmad Munawwir ke Desa Simpar, Bandar mula-mula adalah atas undangan dari seorang tokoh masyarakat Simpar –K.H.Zawawi menyebut tokoh tersebut adalah Lurah– untuk mengajar ilmu agama kepada warga setempat. Tetapi ada keterangan bahwa yang mengundang KH. Ahmad Munawwir mengisi pengajian di Simpar adalah suami Hj. Maimunah saat itu bernama Daroji atau populer dipanggil Haji Abdullah Mukti. Ia bekerja sebagai juru tulis di Kabupaten Pekalongan.
Simpar atau disebut Simpar Jurang merupakan sebuah pedukuhan yang berada di wilayah Simpar Kecamatan Bandar Kabupaten Batang. Dahulu termasuk daerah wilayah Kabupaten Pekalongan. Sampai saat in, Simpar Jurang merupaan pedukuhan yang masih alami. Sejauh mata memandang warna hijau sangat mendominasi. Sepanjang jalan menuju pedukuhan ini, dipenuhi berbagai tanaman palawija. Barangkali karena tempatnya tepat di ujung jalan dan dekat dengan lembah maka dinamakan Simpar Jurang.
Seingat KH. Zawawi yang saat itu masih kanak-kanak, (selisih usianya dengan KH. Ahmad Munawwir adalah 32 tahun). KH. Ahmad Munawwir ketika itu sudah sering diundang oleh warga di luar Desa Kranji untuk mengisi pengajian, diantaranya di Desa Simpar tersebut. Bahkan pengajian di Desa Simpar ini terjadwal dengan rutin, tidak hanya bersifat sewaktu-waktu.
Tampaknya, dengan penyampaian materi pengajian yang sederhana ditambah dengan gayanya yang luwes dan bisa ngemong, santri yang mengikuti pengajiannya semakin betah dan terus bertambah. Melihat santrinya yang serius dan bertambah banyak, KH. Ahmad Munawwir semakin terikat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat Simpar. Hingga pada suatu saat orang yang mula-mula mengundangnya untuk mengisi pengajian itu meninggal dunia.
Di awal-awal kesibukannya mengisi pengajian di Simpar, KH. Ahmad Munawwir masih sering pulang ke Kranji, karena disamping masih punya tanggung jawab mengajar di madrasah diniyah, juga untuk memenuhi kewajiban sebagai kepala keluarga.
Namun seiring bertambahnya santri di Simpar dan keahlian agamanya semakin dibutuhkan, K.H. Ahmad Munawwir sering lebih lama tinggal di Simpar. Keputusan ini bukan berarti melalaikan tugasnya di Kranji. Tugas mengajar di madrasah diniyah pasti bisa digantikan oleh orang lain, karena ahli agama di Kranji saat itu jumlahnya tidak sedikit, sementara di Simpar masih minim, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Kondisi ini menuntut KH. Ahmad Munawwir lebih memilih Simpar sebagai ladang dakwahnya.
Kemantapan hati KH. Ahmad Munawwir berdakwah di Simpar semakin bertambah ketika kemudian ia menikah dengan Maimunah binti H. Abdul Mukti. Maimunah inilah yang mengawal dan menyertai perjuangannya menegakkan panji-panji Islam hingga akhir hayatnya.
Sedikit tentang Abdul Mukti. Ayah Maimunah bernama H. Abdul Mukti, suami pertamanya juga populer dipanggil H. Abdul Mukti. Agaknya, panggilan Abdul Mukti di Simpar adalah sebutan bagi orang-orang yang mempunyai ‘kelebihan’, baik kelebihan kekayaan ataupun kelebihan ilmu. Terbukti, saat ini pun ada orang yang dipanggil H. Mukti.
Masih menurut KH. Zawawi, Maimunah sebelumnya adalah istri seorang tokoh Desa Simpar, H. Abdul Mukti, yang megundang KH. Ahmad Munawwir mengisi pengajian di tempat tersebut. Setelah H. Abdul Mukti wafat, Maimunah diperistri KH. Ahmad Munawwir. Demi keberhasilan dakwahnya, KH. Ahmad Munawwir lebih memilih menetap di Simpar dan semakin gigih menyebarkan ilmu agama di Simpar dan sekitarnya.
Penggerak Nahdlatul Ulama
Aqidah merupakan hal penting bagi manusia. Guna menyelami makna kehidupan, cara berpikir, gaya hidup hingga tata cara ibadah seseorang, sangat dipengaruhi oleh aqidah yang dianutnya. Jelasnya, aqidah merupakan pondasi bagi setiap langkah. Semakin kuat aqidah, makna hidup mudah diraih, demikian sebaliknya. Membumikan aqidah dalam hati sanubari setiap insan adalah pekerjaan yang tidak mudah. Membutuhkan perjuangan panjang untuk mensosialisasikannya. Nabi Muhammad SAW, menghabiskan waktu tidak kurang dari 23 tahun untuk membimbing umat menuju kebenaran dan kesejatian aqidah.
Ahmad Munawwir menjadikan ahlus sunnah wal jamah sebagai aqidah. Melalui jam’iyyah Nahdlatul Ulama dia mengusung panji-panji paham keagamaan yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia. Sejak usia muda beliau telah menjadi pelopor penggerak Nahdlatul Ulama. Bersama KH. Muhammad Ilyas Buaran, Pekalongan, KH. Ahmad Munawwir mempelopori dan mengawal perjalanan Nahdlatul Ulama di Pekalongan. KH. Muhammad Ilyas adalah Menteri Agama Republik Indonesia pada era kabinet Burhanuddin Haraap, Kabinet Ali Sastroamijoyo II (1956), serta pada era Kabinet Karya.
Sedikit tentang KH. Mohammad Ilyas, ia adalah putra pasangan KH. Mohammad Qolyubi dan Siti Mardhiyyah. Lahir pada 23 November 1911 di Kraksan, Probolinggo, Jawa Timur. Ia menikah dengan Zahrah binti KH. Ismail, Pekalongan. Zahrah adalah adik H. Busyairi, teman KH. Mohammad Ilyas saat mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang.
Setelah menikah, KH. Mohammad Ilyas tinggal di Pekalongan. Dalam komunitas baru ini, Mohammad Ilyas cepat melakukan penyesuaian dengan kebiasaan masyarakat sekitar sehingga ia tidak merasa tinggal di kampung orang lain. Bahkan masyarakat sekitar mempercayainya sebagai ahli dalam bidang agama. Dalam kesempatan tertentu, seperti pada peringatan maulid, isra’ mi’roj, dan acara keagmaan lainnya, Muhammad Ilyas menjadi penceramah. Bila masyarakat sudah meminta, ia tidak bisa menolaknya.
KH. Mohammad Ilyas memulai karir politiknya sejak diangkat menjadi anggota perlemen sementara RI pada 1951 mewakili unsur NU dari wilayah Pekalongan. Sejak saat itu, Kyai Ilyas menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tugas-tugas keparlemenan. Karena waktu itu ia masih tinggal di Pekalongan, ia harus bolak-balik Jakarta-Pekalongan tiap minggu.
Selain pernah menjabat Mentri Agama, KH. Mohammad Ilyas juga pernah menjabat duta besar Indonesia untuk Arab Saudi. Saat menjabat sebagai Duta Besar di Arab Saudi ini, seorang mahasiswa asal Indonesia telah menarik perhatiannya. Mahasiswa asal Rembang, Jawa Tengah yang kemudian menjadi menantunya itu adalah Maftuh Basuni yang kini menjabat mentri agama.
Setelah itu, KH. Mohammad Ilyas mendapat tugas baru sebagai Menteri Penghubung Alim Ulama. Ini sekaligus merupakan karir terakhirnya pada masa orde lama. Pada masa orde baru, ia sempat menjabat Wakil Ketua DPA.
Dalam waktu-waktu luangnya, KH. Mohammad Ilyas sering mengutarakan kepada istrinya kalau tiba saatnya dirinya di panggil Tuhan, ia memohon agar bisa dipanggil pada usia nabi meninggal dunia (63). Mohammad Ilyas ingin itba’ (mengikuti) nabinya. Namun, justru ia dianugrahi umur sampai 69 tahun.
Suatu saat ia pergi ke Pekalongan, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan didaerah Losari, Cirebon. Dalam kecelakaan tersebut, ia mengalami cidera tempurung lutut dan pangkal paha. Sejak kecelakaan ini, kondisi kesehatanya terus menurun. Selain menderita penyakit kencing manis sejak lama, pasca kecelakaan tim dokter juga menemukan adanya kanker ditubuhnya. Pada saat itu, presiden Soeharto atas nama pemerintah Indonesia menawarkan untuk berobat ke luar negeri, namun KH. Mohammad Ilyas menolak. Sebagai orang muslim, ia yakin akan takdir. Kalau Allah SWT akan memanggil dengan perantara penyakit yang dideritanya, kemanapun berobat juga akan mendapatkan panggilan tersebut. Akhirnya, ia meninggal dunia pada 5 Desember 1970.
Demikian sedikit keterengan tentang KH. Mohammad Ilyas, teman perjuangan KH. Ahmad Munawwir dalam menegakkan panji-panji NU.
Perjuangan KH. Ahmad Munawwir tidak berhenti di Pekalongan saja, ketika berada di Bandar, Ahmad Munawwir tetap gigih berkhidmah di lingkungan NU. Tercatat KH. Ahmad Munawwir pernah menjabat Rais Syuriyah majlis Wakil cabang NU Kecamatan Bandar. Kemudian mendidik kader-kader militan yang diharapkan dapat meneruskan perjuangannya. Ketika kemudian Ahmad Munawwir Hijrah ke Gringsing, pucuk pimpinan MWC NU Kecamatan Bandar dijabat oleh salah satu kadernya yaitu Kyai Ma’ruf.
Bagi Ahmad Munawwir, NU adalah jiwa raganya, karena sejak muda hingga menutup usia dia tercatat sebagai pengurus NU. Di Gringsing, Ahmad Munawwir menjabat Rais syuriyah MWC NU merangkap A’wan syuriyah NU Cabang Batang hingga akhir hayatnya.
Mengikuti Konferensi Islam Asia-Afrika
Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA) diselenggarakan pada tanggal 6-14 Maret 1965 di gedung Merdeka Bandung. Adapun tujuan dari diselenggarakan konferensi ini adalah untuk menyatukan umat Islam di Asia dan Afrika, untuk melenyapkan penindasan di Asia dan Afrika, dalam rangka memelihara perdamaian internasional. Konferensi Islam Asia Afrika I ini didahului oleh Konferensi Pendahuluan yang diselenggarakan pada tanggal 6-14 Juni 1964 di Markas Besar Ganefo Senayan Jakarta. Adapun Konferensi Pendahuluan Konferensi Islam Asia Afrika ini dihadiri oleh delapan negara, yaitu Indonesia sebagai penyelenggara, Iraq, Nigeria, Pakistan, Philipina, Saudi Arabia, Thailand dan Republik Persatuan Arab. Tujuan dari Konferensi Pendahuluan ini adalah untuk mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika I.
Konferensi Islam Asia Afrika I dihadiri oleh 33 negara peserta dan empat negara peninjau. Konferensi ini membicarakan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam di Asia dan Afrika khususnya dan di dunia pada umumnya, serta untuk menyatukan umat Islam di Asia dan Afrika. Konferensi Islam Asia Afrika I telah berhasil memberikan dasar pemikiran bagi kerja sama antar umat Islam dalam memperjuangkan kehidupan dunia yang penuh kedamaian, yaitu dengan dikeluarkannya Deklarasi Konferensi Islam Asia Afrika.
Dalam peristiwa besar berskala internasional tersebut, KH. Ahmad Munawwir ikut serta menjadi salah seorang peserta pendamping, hal ini menunjukkan betapa lingkup pergaulan KH. Ahmad Munawwir yang cukup luas.
Menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama
Muktamar Nahdlatul Ulama ke-21 diselenggarakan di Medan pada Desember 1956 M/ 1375 H. Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama, diselenggerakan oleh pengurus besar Nahdlatul Ulama, sekali dalam 5 tahun.
Muktamar dihadiri oleh pengurus besar Nahdlatul Ulama, Pengurus Wilayah, serta Pengurus Cabang/ Cabang Istimewa. Pada Muktamar ke 21 di Medan, KH. Ahmad Munawwir merupakan salah seorang utusan dari Cabang Batang.
Perjalanan panjang perjuangan Nahdlatul Ulama dalam melayani ummat, mengalami bongkar pasang strategi, dapat digambarkan sebagai berikut :
- Tahun 1926- Tahun 1942 (Jam’iyyah Murni)
- Tahun 1942 – Tahun 1952 ( Jma’iyyah Semi Partai)
- Tahun 1952 – Tahun 1973 (Partai Politik)
- Tahun1973 – Tahun 1984 (Jam’iyyah Semi Partai)
- Tahun 1984 – Sekarang (kembali sebagai Jam’iyyah Murni)
Nahdlatul Ulama memutuskan diri menjadi organisasi partai politik adalah ketika Muktamar ke-19 Tahun 1952 di Palembang. Pergolakan yang terjadi ditubuh Masyumi saat itu, dibahas dalam Muktamar. Tidak ada jalan lain bagi NU, dan Tanggal 1 Mei 1952 NU menyatakan dirinya menjadi partai politik diluar Masyumi.
Kepeloporan KH. Ahmad Munawwir dalam berkhidmad kepada Nahdlatul Ulama terus berlangsung tiada henti. Bongkar pasang strategi yang diterapakan NU dalam menghadapi situasi yang kondisi dalam negeri Indonesia tidak berpengaruh pada pendiriannya. Mulai NU masih menjadi Jam’iyyah Murni, Semi Politik, Partai Politik, semi Politik lagi, hingga kembali ke Khittah sebagai jam’iyyah murni.
Bagi KH. Ahmad Munawwir yang penting adalah bagaimana tetap dapat menjalankan misinya berdakwah kepada ummat. Tidak hanya terbatas dalam lingkup organisasi atau strateginya. Hal ini pernah disampaikan oleh KH. Ahmad Munawwir suatu hari kepada Ichwan Sam yang saat itu menjadi wakil sekretaris IPNU Anak Cabang Gringsing. Dikemudian hari, Ichwan Sam menjabat Sekretaris Jendral PBNU pada masa KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ichwan Sam menuturkan, sebagaimana petuah KH. Ahmad Munawwri, bahwa orang Islam, khususnya warga NU ada dimana-mana tetapi harus jelas kontribusinya. Kontribusi terhadap NU pada khususnya, serta kepada ummat dan bangsa Indonesia pada umumnya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa pemikiran KH. Ahmad Munawwir dalam berorganisasi sangat luas.
Membina Ukhuwah Islamiyyah
Kegemaran berziarah ke makam auliya yang dilakukan KH. Ahmad Munawwir sejak muda masih terus berlanjut. Dalam setiap kesempatan, KH. Ahmad Munawwir mengajak berziarah murid-muridnya. Hal ini dimaksudkan, selain untuk mendapatkan hikmah, ziarah juga sebagai salah satu upaya membina ukhuwah islamiah.
Dalam membina ukhuwah islamiyah ini KH. Ahmad Munawwir juga sering mengadakan silaturrahim kepada sanak famili, santri, teman dekat, dan kenalan lainya.

