Tahun 1947 Belanda kembali ingin menjajah Indonesia. Dengan membonceng tentara sekutu, Belanda melakukan agresi militernya. Suara mortir, meriam dan bom bendentum bersahut-sahutan merupakan suasana yang mewarnai agresi militer ini. Sudah dapat dipastikan jalanya pengajian di majlis ta’lim dan pondok pesantren tidak layaknya hari-hari biasa. Bahkan yang tampak adalah suasana ketakutan dan kesiapsiagaan. KH. Ahmad Munawwir sebagai pengasuh majlis ta’lim dan pondok pesantren menghadapi situasi yang tidak menentu ini.

Menghadapi suasana yang genting ini. KH. Ahmad Munawwir beserta keluarga hijrah ke Gringsing, dimana banyak kerabat yang telah terlebih dahulu sudah tinggal di sana.

Di Tanah Perbatasan

Allah SWT menyediakan buminya sebagai tempat tinggal manusia. Tampaknya bumi Gringsing telah ditakdirkan oleh-Nya sebagai tempat bernaung dan perjuangan terakhir bagi KH. Ahmad Munawwir. Meskipun harus melalui tahapan yang tidak menyenangkan, akhirnya KH. Ahmad Munawwir sampai ke Desa Gringsing, sebuah desa yang terletak di pinggir Kali (sungai) Kuto, perbatasan Kabupaten Batang dengan Kabupaten Kendal.

Sedikit tentang Gringsing. Daerah Gringsing atau umumnya Kecamatan Gringsing sebagian besar wilayahnya merupakan dataran rendah. Dan berkat aliran Kali Kuto, sepanjang daerah itu merupakan persawahan yang subur.

Ada keterangan, Gringsing merupakan nama sebuah motif kain batik yang dipakai Raden Wijaya dan pengikutnya yang setia (Dharmaputra) pada saat-saat runtuhnya Kerajaan Singosari dan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Dataran Gringsing-Weleri adalah dataran yang subur. Berhulu dari sungai Lampir yang telah menjadi satu dengan anak-anak sungainya dan telah menerobos gunung, sekarang disebut Kali Kuto. Rupanya daerah ini dulu sangat terkenal akan kerajinan batiknya dengan motif yang khas. Tak jauh dari Gringsing, di wilayah Kecamatan Bawang Kabupaten Batang, pada daerah hulu sungan Bela-Lampir dekat situs percandian juga terdapat desa bernama Jlamprang, Candi Rejo, Bawang yang juga merupakan nama motif batik yang khas. Maka tak heran bila kawasan Pekalongan-Batang akhirnya tumbuh sebagai kawasan industri batik yang terkemuka.

Ada dua alasan yang menjadi sebab kepindahan KH. Ahmad Munawwir ke Gringsing. Yang pertama adalah untuk menghindari pengejaran Belanda terhadap para aktifis Masyumi. Pada tahun-tahun itu Belanda rajin memburu dan menangkap para tokoh dan aktivis Masyumi. KH. Ahmad Munawwir adalah aktifis NU, di mana NU saat itu adalah bagian dari Masyumi. Alasan kedua, Ibu Nyai Siti Maemunah diminta oleh keluarganya untuk ngopeni (Jawa=memelihara) sejumlah tanah sawah milik ayahnya yang ada di Kecamatan Gringsing.

Tempat tinggal pertama KH. Ahmad Munawwir di Desa Gringsing berada di pekarangan tanah milik H. Rustamaji, Lurah Desa Gringsing yang masih kerabat Ibu Nyai Siti Maemunah.

Di desa ini KH. Ahmad Munawwir menyelenggarakan majlis ta’lim rutin dua kali dalam seminggu, yaitu pada hari Ahad dan Rabu. Santri-santri beliau sewaktu di Simpar, Bandar, diantaranya H. Ridwan, H. Mas’ud, Rustamaji (Lurah Gringsing) dan Kyai Hasan (Imam masjid Gringsing), Ngamin, dan Yusuf adalah santri-santri senior pertama yang mengaji di majlis ta’lim tersebut.

Ditanah perbatasan ini, kehadiran KH. Ahmad Munawwir mendapat sambutan cukup hangat. Hal ini bisa dimaklumi karena banyak santrinya yang mengikuti pengajian di Bandar juga berasal dari Gringsing. Di desa ini KH. Ahmad Munawwir memutuskan tinggal di rumah salah seorang kerabatnya. Namun karena situasi dan kondisi keamanan kurang baik, pengajian majelis taklim sempat berhenti sementara.

Setelah situasi membaik, KH. Ahmad Munawwir kembali membuka majlis ta’lim sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya. Semakin hari pesertanya bertambah banyak, maka dibangunlah rumah yang dikhususkan untuk menggelar pengajian tersebut. Kemantapan perjuangan menyebarkan syari’at Islam dan panji-panji Nahdlatul Ulama semakin kuat setelah Ahmad Munawwir menunaikan  ibadah haji pada tahun 1952.

Kesibukannya kian bertambah, disamping mengasuh majlis ta’lim KH. Ahmad Munawwir juga tetap aktif berdakwah ke berbagai daerah. Terlebih setelah menjabat Rais Syuriah NU Cabang Batang merangkap Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang NU Gringsing. Saat aktif sebagai pimpinan NU ini, KH. Ahmad Munawwir sempat mewakili delegasi NU Cabang Batang pada muktamar NU tahun 1956 di Medan, Sumatera Utara. Tidak hanya itu, dalam skala nasional KH. Ahmad Munawwir juga pernah mengikuti Konferensi Islam Asia Afrika yang diselenggarakan pada tanggal 6-14 Maret 1965 di gedung Merdeka Bandung.

Isu Penculikan

Menjelang meletusnya pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, kondisi politik dan keamanan Negara Indonesia tidak stabil. Banyak terjadi aksi-aksi kerusuhan, sabotase, penculikan dan lain-lain yang diindikasikan dilakukan oleh organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI). Kondisi seperti ini juga terjadi di Kecamatan Gringsing dan sekitarnya yang meliputi pula wilayah perkebunan Siluwok-Sawangan dimana para karyawannya saat itu terindikasi terlibat sebagai anggota atau simpatisan PKI.

Diceritakan, suatu saat selepas mahgrib Umar Jasman Mentosari, seorang veteran aktivis NU menyambangi Sobirin yang ketika itu menjabat sebagai Ketua GP. Ansor Anak Cabang Gringsing sambil membawa bodem (alat pemecah batu kali). Dia mengajak Sobirin untuk menghadap KH. Ahmad Munawwir. Umar Jasman menyatakan bahwa KH. Ahmad Munawwir termasuk dalam daftar orang-orang yang akan menjadi target pembunuhan para kaki tangan PKI.

Maka berangkatlah kedua orang tersebut menghadap KH. Ahmad Munawwir. Sesampainya di rumah KH. Ahmad Munawwir keduanya dipersilakan masuk. Oleh Umar Jasman, bodem yang ia bawa ditaruh di samping pintu masuk.

Sobirin, yang kini dikenal sebagai Kyai Sobirin Mentosari, kemudian menjelaskan maksud kedatangannya. Bahwa menurut Umar Jasman, KH. Ahmad Munawwir akan menjadi sasaran pembunuhan oleh organisasi tertentu. Di samping menyampaikan informasi tersebut, Umar Jasman juga memohon kepada KH. Ahmad Munawwir agar diperbolehkan untuk bertindak lebih dulu, yakni menghabisi nyawa orang-orang PKI yang hendak membunuh KH. Ahmad Munawwir dengan bodem yang sudah ia siapkan.

Namun KH. Ahmad Munawwir hanya tersenyum dan meminta keduanya menenangkan diri dan bersabar. Beliau mengajak kedua orang tersebut agar berdoa, mohon keselamatan kepada Allah SWT agar terhindar dari marabahaya. KH. Ahmad Munawwir menuliskan sebuah doa yang dituliskan di atas secarik kertas. Faidah doa ini menurut KH. Ahmad munawwir adalah agar kita diselamatkan dari orang-orang yang akan memusuhi kita. Doa ini dibaca ketika kita akan dihampiri orang yang akan mendholimi kita.

“Khoirukum Baina A’yunikum Wa Syarrukum Tahta Arjulikum”

Sebelum keduanya pulang, KH. Ahmad Munawwir berpesan agar keduanya tetap tenang di rumah kalau ada kabar penting KH. Ahmad Munawwir akan menyuruh seseoang untuk memberitahu kedua orang tersebut. Beberapa waktu berlalu.

Suatu ketika KH. Ahmad Munawwir menerima undangan manaqib di Bendosari, Sidorejo, Gringsing. Meskipun pada saat kondisi keamanan tidak stabil ditambah adanya isu bahwa KH. Ahmad Munawwir menjadi target pembunuhan PKI, namun beliau tetap setia melayani umat.

Untuk sampai ke Bendosari beliau berangkat selepas maghrib. Seperti biasa, KH. Ahmad Munawwir beserta rombongan naik andong milik Mbah Buchori. Rombongan sampai di rumah shohibul hajat ba’da Isya. Seusai Sholat Isya KH. Ahmad Munawwir beserta rombongan masuk ke rumah dan menunggu undangan lain yang belum hadir.

Setelah ditunggu beberapa waktu ternyata undangan yang hadir jumlahnya tidak begitu banyak, dan yang membikin suasana semakin mencekam adalah banyaknya orang-orang yang bercelana komprang dan bercaping mondar-mandir di luar rumah. Mereka hanya mondar-mandir di luar tidak masuk mengikuti acara pembacaan manaqib.

Melihat suasana yang tidak nyaman itu, KH. Ahmad Munawwir mempercepat bacaan manaqibnya, setelah selesai langsung berpamitan kepada tuan rumah tanpa menikmati hidangan makanan yang sudah disajikan. Akhirnya, rombongan KH. Ahmad Munawwir langsung pulang dan selamat sampai di Gringsing.

Menurut penuturan Kyai Sobirin, orang-orang yang mondar-mandir di luar rumah tadi adalah anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) sebuah organisasi dibawah PKI yang diduga akan menghabisi KH. Ahmad Munawwir.

Masa Orde Baru

Penggalan kisah KH. Ahmad Munawwir semasa Orde Baru tak lepas dari nuansa politik yang terjadi saat itu. Pada era Orde Baru, sewaktu NU masih tergabung dalam salah satu partai politik peserta pemilu yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), KH. Ahmad Munawwir sempat menjadi tahanan politik di Dracik, Batang. Ini disebabkan karena ia dicurigai mengadakan kampanye di kediamannya. Padahal hanya menerima tamu rombongan ziarah Wali Songo dari Jawa Timur. Dan sepanjang perjalanan sejarah, KH. Ahmad Munawwir tidak pernah menjadi anggota organisasi selain Nahdlatul Ulama.

Cerita tentang  keberadaan KH. Ahmad Munawwir semasa menjadi penghuni rumah tangga polres Batang di Dracik, dituturkan oleh Kyai Sobirin.

Saat itu mendekati pemilu 1977 yang merupakan pemilu kedua dari rezim orde baru. Golongan Karya sebagai sebuah organisasi yang didominasi oleh kalangan militer, birokrat dan pegawai negeri serta didukung pemerintah, merupakan kontestan pemilu yang berusaha keras untuk memenangkan pesta demokrasi rakyat. Salah satu cara untuk memenangkan pemilu adalah mengajak bergabung para tokoh masyarakat untuk mendukungnya.

Sementara itu, guna memperoleh suara dari kaum santri atau umat Islam, mereka senantiasa melakukan upaya agar para kyai masuk ke dalam organisasi tersebut. Karena kunci untuk memperoleh dukungan dari kaum santri adalah melalui para kyai. Karena hanya kepada para kyailah para santri dan masyarakat muslim umumnya tunduk dan patuh.

Kepatuhan tersebut tidak hanya dalam masalah agama. Dalam bidang kehidupan yang lainpun tidak segan-segan para santri meminta petunjuk kyai. Bahkan ketika mau memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu, santri biasanya minta saran dan petunjuk dari kyai.

Begitu juga dengan keberadan KH. Ahmad Munawwir saat itu. Ia menjadi kyai yang cukup berpengaruh di daerah Gringsing dan sekitarnya. Maka menjelang Pemilu 1977 KH. Ahmad Munawwri sempat menghuni tahanan Reskrim Polres Batang, Kurang lebih selama 15 hari. Penahanan diduga kuat sarat dengan muatan politik prakstis dan salah alamat.

Ada beberapa pendapat mengenai penyebab ditahananya KH. Ahmad Munawwir. Pertama, penahanan itu bertujuan untuk mengisolasi KH. Ahmad Munawwir agar tidak dapat berhubungan dengan para santrinya. Karena penguasa setempat memahami bahwa fatwa KH. Ahmad Munawwir tentang pemilu pasti sudah ditunggu umatnya. Apalagi beliau adalah aktivis Nahdlatul Ulama yang pada waktu itu Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang berafiliasi kepada salah satu partai peserta pemilu, yakni PPP.

Kedua, dengan menahan KH. Ahmad Munawwir, aparat berharap saat pemilu masyarakat tidak akan berseberangan pilihan dengan pemerintahnya.

Sewaktu KH. Ahmad Munawwir ditahan di Polres Batang, santri-santrinya sangat gelisah, dan suasana sangat menegangkan. Lingkungan tempat tinggalnya selalu dijaga dan diawasi ketat oleh aparat keamanan sipil maupun militer, sehingga tidak ada santri yang berani masuk ke rumahnya. Kediamannya saat itu benar-benar diisolasi.

Kyai Sobirin Mentosari merupakan salah seorang yang pertama kali mengetahui keberadaan KH. Ahmad Munawwir di Polres Batang. Ia kemudian langsung menjenguk di tahanan. Di dalam tahanan KH. Ahmad Munawwir sedang duduk di lantai tanpa selembar alas. Melihat kyainya dalam kondisi mengnaskan, Sobirin segera bergegas ke rumah KH. Busyairi Demangan, Batang, yang saat itu sebagai ketua Tanfidyah Nahdlatul Ulama Cabang Batang. Di sana ia meminjam selimut dan bantal untuk dibawa dan dikirim ke tempat tahanan.

Menurut penuturan KH. Sholichin Syihab, pada suatu kesempatan di pengajian KH. Ahmad Munawwir pernah bercerita tentang keberadaanya sewaktu menjadi tahanan. KH. Ahmad Munawwir bercerita hampir tiap hari puluhan santri, sahabat, keluarga dan orang dekatnya secara bergiliran datang menjenguk. Sehingga KH. Ahmad Munawwir merasa seolah-olah tidak sedang berada di tahanan. Apalagi setiap pengunjung membawa oleh-oleh.

Ketika KH. Ahmad Munawwir hendak dibebaskan dari tahanan, para polisi yang menjaga merasa kehilangan. Betapa tidak, rumah tahanan yang biasanya sepi, begitu ada KH. Ahmad Munawwir menjadi ramai. Sepeninggal KH. Ahmad Munawwir, rumah tahanan tersebut menjadi sepi.

Suasana sebaliknya terjadi di kediaman beliau Gringsing. Kepulanganya dari tahanan disambut oleh keluarga serta jama’ah pengajian dengan sukacita. Hampir berminggu-minggu setelah kepulangan KH. Ahmad Munawwir, masyarakat dan para santri masih berdatangan ke kediaman beliau. Umat hanya ingin memastikan, pemimpinnya selamat.

Muktamar NU

Muktamar NU yang gegap gempita diselenggarakan tahun1984 di Situbondo, Jawa Timur, NU menyatakan kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan. NU bukan lagi sebagai organisasi partai politik atau bagian dari partai politik tertentu. Perjuangannya kembali dikonsentrasikan pada masalah sosial, pendidikan dan keagamaan.

Sebelum berlangsungnya Muktamar di Situbondo, sosialisasi tentang perlunya NU kembali ke Khittah 1926 telah mulai bergulir dan mencapai puncaknya saat berlangsungnya Munas Alim Ulama NU di Kaliurang, Yogyakarta tahun 1983.

Menurut penuturan HM. Ichwan Sam, anggota DPR-RI yang berasal dari desa Sawangan Gringsing, Batang, menjelang berlangsungnya Munas Alim Ulama NU di Kaliurang itu dirinya menjabat Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Anshor yang ikut terlibat dalam Tim Sosialisasi Khittah NU 1926 yang telah bertemu dengan sejumlah kyai di wilayah Pekalongan, Batang dan Kendal. Antara lain adalah KH. Habib Lutfhi bin Yahya (Pekalongan), KH. Mudlo’af (Batang), KH. Ahmad Munawwir (Gringsing), dan KH. Achmad Abdul Hamid (Kendal).

Di luar dugaan, saat ditemui ternyata KH. Ahmad Munawwir telah memperoleh banyak informasi tentang perkembangan NU saat itu. Ia mendukung sepenunya kembalinya NU ke Khittah perjuangannya di bidang keagamaan, sosial dan pendidikan. KH. Ahmad Munawwir juga berharap agar Munas Alim Ulama NU mengembalikan peran ulama sebagai nakhoda NU, sehingga NU benar-benar lembaga ulama, bukan institusi yang berpolitik praktis.

Salah satu hal yang secara khusus diingatkan oleh KH. Ahmad Munawwir saat itu adalah jangan mendlalimi Kyai Idham Cholid, Ketua Umum PBNU, harus dihargai jasanya yang besar terhadap perkembangan NU.  Hanya saja, KH. Ahmad Munawwir berpendapat bahwa KH. Idahm Cholid sudah lama memimpin NU, maka perlu diganti yang lebih muda.

Munas Alim Ulama NU berjalan sukses, demikian pula Muktamar NU di Situbondo yang telah memilih pasangan KH. Achmad Siddiq sebagai Rois Am dan KH. Abdurrahman Wahid yang cucu Hadlatusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. KH. Ahmad Munawwir menyambut gembira hasil ini, melalui pesan yang ia kirim kepada HM. Ichwan Sam.

Berangkat dari sini, KH. Ahmad Munawwir semakin mantap berjuang di jalur pendidikan agama dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur salafush shaleh, sejalan dengan khittah NU.

Melayani Umat

Sebagaimana keterangan sebelumnya, bahwa KH. Ahmad Munawwir istiqamah membina ummat melalui majlis ta’lim yang diselenggerakan secara rutin setiap Ahad dan Rabu. Diluar jadwal majelis ta’lim, KH. Ahmad Munawwir juga membuka pengajian Ulumul Quran pada malam Senin dan Kamis. Di Gringsing, KH. Ahmad Munawwir tidak mendirikan pondok pesantren. Karena di tempat-tempat sekitarnya sudah terdapat beberapa pondok pesantren, yaitu di Desa Lebo, Mentosari, Krengseng, dan desa-desa lainya. Baru pada tahun 1984 M beliau mengijinkan para santri untuk menetap.

Didukung para santri dan masyarakat Gringsing dan sekitarnya, KH. Ahmad Munawwir mendirikan Madrasah Diniyyah “Miftakhul Anam”. Sebelumnya KH. Ahmad Munawwir telah membidani lahirnya Madrasah Tsanawiyyah “Nur Anom”. Semua lembaga tersebut awalnya di bawah asuhannya.

Perjuangan KH. Ahmad Munawwir didasari oleh firman Allah SWT.

“Infiruu Khifaafan Wa Tsiqoolan Wa Jaahiduu Fii Sabilillahi Bi Amwalikum Wa Anfusikum”.

Sehingga KH. Ahmad Munawwir siap menyiarkan agama Islam selama dua puluh empat jam. Tidak  jarang dalam semalam, KH. Ahmad Munawwir menghadiri undangan pengajian di beberapa tempat.

Pernah pada suatu malam KH. Ahmad Munawwir memberikan pengajian di salah satu desa di wilayah Limpung. Pulangnya ditandu di atas kursi sebab jalanya tidak dapat dilalui kendaraan. Hal yang sama juga terjadi di sebuah kampung di Kecamatan Sukorejo, Kendal. Sepulang dari pengajian, mobil yang ditumpangi tidak dapat berjalan karena jalanan berlumpur. Terpaksa mobil diangkat beramai-ramai oleh warga. Saat itu KH. Ahmad Munawwir disertai santrinya yaitu, KH. Sholichin Syihab.

Perjuangan tidak mengenal tempat dan waktu. Manis pahitnya kehidupan telah dirasakan KH. Ahmad Munawwir. Perjalanan panjang anak manusia memang ada batasnya, dia akan meninggalkan amal dan perbuatan untuk dikenang oleh generasi sesudahnya.

Menjelang Malaikat Maut Menjemput

Selama masa sakit, KH. Ahmad Munawwir pernah dibawa ke sebuah rumah sakit pemerintah di Semarang. Tetapi ia merasa sudah tidak nyaman. Ini dapat diketahui dengan pernyataannya, sebagaimana diceritakan KH. Sholichin Syihab. “aku ora seneng neng kene. Doktere ngandaake tekanan darahe jare kurang”, (= saya tidak suka di sini, sebab dokter mengatakan tekanan darahku kurang).

Pernyataan itu sebenarnya bukan ungkapan kekecewaan KH. Ahmad Munawwir terhadap situasi dan kondisi rumah sakit. Tetapi lebih pada ungkapan kepasrahannya kepada Allah SWT. Betapa sakit-sehat, hidup-mati semua berada dalam genggaman-Nya. Sebagai seorang pengamal tarekat, ia tahu benar tentang hakekat hidup dan mati.

KH. Ahmad Munawwir kembali dirawat di rumah. Ditemani santri setianya, Marsudi. Bersama santri asal Kendayaan, Penyangkringan, Weleri ini, KH. Ahmad Munawwir melewati hari-hari yang melelahkan itu dengan penuh kepasrahan. Bukankah ketika sakit diterima dengan ikhlas akan melebur dosa dan menambah pahala? Marsudi melayani KH. Ahmad Munawwir selama sakit hingga hampir dua tahun.

Berikutnya, yang melayani KH. Ahmad Munawwir waktu sakit adalah Ahmad Hadi, santri asal Sendang Kacangan, Kangkung, Kendal. Kadang-kadang ia ditemani KH. Sholichin Syihab.

Menjelang dipanggil Allah SWT, ketika itu sekitar pukul 01.00 WIB pagi dini hari, KH. Ahmad Munawwir ditemani santrinya, Marsudi. Saat itu KH. Ahmad Munawwir minta kehadiran KH. Sholichin Syihab untuk menemaninya. Ketika datang KH. Sholichin Syihab diminta menyediakan minuman berupa wedang kopi, susu, the, jahe, air putih, dan jamu wejah atau jamu gendong. Semuanya dipenuhi oleh KH. Sholichin Syihab, kecuali jamu wejah.

Setelah permintaannya dipenuhi, KH. Ahmad Munawwir tersenyum dan istirahat lagi. Tidak seberapa lama, KH. Ahmad Munawwir bangun dan berbicara kepada orang yang di dekatnya. Saat itu kebetulan yang ada didekat KH. Ahmad Munawwir adalah KH. Sholichin Syihab.

“Khin ayo Bali” (=Khin-Sholichin, ayo pulang), kata KH. Ahmad Munawwir, mengajak. “Wangsul dateng pundi. Tiyang meniko sampun wonten ndalem, kok,” (= pulang kemana. Orang sekarang ada di rumah, kok), jawab KH. Sholichin Syihab. “Oh ha a ndek,” (=oh ,ya), timpal KH. Ahmad Munawwir sambil tersenyum. Setelah percakapan itu, kembali KH. Ahmad Munawwir memejamkan mata untuk tidur, beristirahat.

Percakapan tersebut rupanya menjadi firasat akan kepergiannya ke alam baka. Beristrirahat selamanya dari tugas perjuangan menyiarkan syariat Islam. Tepat pada hari Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1411 H bertepatan dengan 10 Oktober 1990 M, pukul 13.30 WIB atau jam setengah dua siang, KH. Ahmad Munawwir menghadap Sang Khaliq, Allah SWT. Inna Lillah Wa Inna Ilaihi Raji’un.

Prosesi Pemakaman

Tidak seberapa lama, kabar tentang meninggalnya KH. Ahmad Munawwir segera tersebar luas. Ribuan orang mengalir menuju kediamannya untuk berta’ziyah.

KH. Ahmad Munawwir dimakamkan sehari setelah meninggal, yaitu pada hari Kamis, 22 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan 11 Oktober 1990 M. Para peziarah berdatangan dari penjuru daerah. Mereka menshalati KH. Ahmad Munawwir di rumah secara bergantian hingga 84 kali. Dapat dibayangkan berapa pelayat jika setiap sholat diikuti tidak kurang dari 200 orang.

Hadir dalam upacara penghormatan terakhir itu para ulama dari wilayah Batang, Kendal, Pekalongan dan sekitarnya. Diantara mereka tampak KH. Wildan Abdul Hamid Kendal, Habib Ahmad Ali bin Ahmad Al-Aththas Pekalongan, dan KH. Damanhuri Ya’kub Subah, Batang. Jajaran pemerintah Daerah Kabupaten Batang juga banyak yang hadir.

Tempat untuk menguburkan KH. Ahmad Munawwir sempat dibuatkan dua liang lahat. Pertama, di dalam rumah. Ini atas permintaan Hj. Siti Maemunah, istrinya. Kedua, di luar rumah, dekat pintu samping. Akhirnya di liang lahat yang kedua ini menjadi tempat peristirahatan terakhir KH. Ahmad Munawwir. Keputusan memakamkan di luar rumah tersebut, diantaranya atas saran KH. Wildan Abdul Hamid.

Tentang tempat pemakaman terakhir ini, Hj. Muniroturriyadloh pernah menceritakan. Suatu saat KH. Ahmad Munawwir menunjuk satu tempat di pekarangannya untuk dijadikan makam. “ Neng kene bakale panggonane zairin,” (=pada suatu saat di sini akan dikunjungi para peziarah), kata Hj. Muniroturriyadloh menirukan perkataan KH. Ahmad Munawwir.

Perkataan KH. Ahmad Munawwir itu sekarang menjadi kenyataan. Makamnya tidak pernah sepi dari peziarah. Bisa jadi ini adalah balasan kebiasaan semasa hidupnya, suka berziarah ke makam para auliya. Wallahu A’lam.

Sikap Tawadhu dan Ikhlas

Kharisma seseorang merupakan pancaran dari sikap tawadhu dan ikhlasnya. Tawadhu dan ikhlas memang sulit dipisahkan. Akibat dari sikap ikhlas ini, akan menimbulkan sikap tawadhu, sebuah sikap rendah hati. Ikhlas memang amat penting, terutama dalam kajian ilmu-ilmu tasawuf. Ikhlas merupakan suatu maqam yang harus dilalui oleh seorang salik dalam perjalanan menuju Allah. Bahkan ikhlas ini adalah maqam yang paling dekat untuk mencapai makrifat kepada Allah.

Begitu pula dalam melakukan aktifitas dakwah, ikhlas ini amat penting. Mengapa? Sebab ikhlas merupakan landasan diterimanya suatu amal, menjamin keberhasilan, aktifitas akan semakin kokoh, jalan kian membentang, dapat menyingkirkan segala rintangan, serta menjadi penyebab turunnya taufik dan pertolongan Allah.

Para sahabat pernah menanyakan makna ikhlas kepada Nabi Muhmmad SAW. Beliau menjawab, ”saya (pernah) bertanya kepada malaikat jibril, apakah ikhlas itu? Malaikat jibril menjawab; ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku, yang aku titipkan pada hati orang yang Aku cintai di antara hamba-hamba-Ku”.

Ikhlas merupakan suatu perbuatan membersihkan dan memurnikan hati dari sesuatu selain Allah. Jangan heran bila ikhlas tergolong rahasia dari beberapa rahasia Allah. Karena itu, menurut Nabi, apabila seseorang selama empat puluh hari mampu berbuat ikhlas, maka hatinya akan memancarkan sumber-sumber hikmah melalui lidahnya.

Lalu apa hikmah itu? Hikmah adalah kemampuan menanamkan rahasia dan faidah-faidah tiap-tiap sesuatu. Begitu pula, hakim merupakan seseorang yang paham dan mahir benar tentang seluk beluk teknik mengerjakan sesuatu.

KH. Ahmad Munawwir dalam kehidupannya selalu bersikap tawadhu dan ikhlas. Misalnya, bisa kita lihat pada beberapa tindakannya yang sering tampil di balik layar, bahkan terkesan ditutupi. Ucapan-ucapanya pun sering merendah.

Hal yang sering nampak dalam diri KH. Ahmad Munawwir dalam sikap tawadhu dan ikhlas ini ialah ketika didesak oleh para santri majlis ta’lim agar segera mendirikan pesantren. Dengan enteng KH. Ahmad Munawwir menjawab bahwa dakwahnya dikhususkan untuk ngopeni orang tua, agar dapat beribadah dengan benar. Ditakutkan kalau mendirikan pesantren, konsentrasi mengajar orang tua berkurang. Di samping itu juga di sekitar wilayah Gringsing sudah banyak pondok pesantren.

Mendahulukan Kepentingan Umat

Kharisma seseorang, bisa pula terbentuk karena orang tersebut selalu memperhatikan kebutuhan orang lain. Masalah mementingkan umat ini, tidak boleh diremehkan oleh para juru dakwah. Kalau para dai memikirkan dan membantu orang lain, sebagai hasil timbal baliknya, pesan-pesan dakwahnya akan didengar dan diperhatikan umat.

Setelah itu, seorang dai bisa menyampaikan petuah dan membuka dialog, sehingga terjadi komunikasi dua arah. Dari sinilah, akan terjadi himpitan kepentingan dan saling ketergantungan, sebagai kunci sukses suatu komunikasi dakwah.

Dalam masalah mementingkan umat ini, amat menarik kalau kita simak sikap KH. Ahmad Munawwir ketika melihat perbedaan pilihan umat dalam pemilu pada awal-awal Orde Baru.

HM. Ichwan Sam pernah menuturkan, bahwa dalam sebuah pertemuan dengan KH. Ahmad Munawwir pada tahun 1982, beliau pernah menyampaikan bahwa perbedaan diantara umat adalah rahmat. KH. Ahmad Munawwir tidak melarang atau menyuruh orang untuk memilih atau fanatik terhadap organisasi atau partai politik tertentu. Yang penting adalah berusaha agar perbedaan itu mendatangkan rahmat dan manfaat bagi umat. Bukan mendatangkan perpecahan dan perselisihan.

Setelah KH. Ahmad Munawwir wafat, semua lembaga pendidikan diasuh oleh adiknya, Kiai Muslih Bin Kiai Miftah selama dua tahun. Dilanjutkan KH. Abdullah Muhlisin, suami keponakan KH. Ahmad Muawwir. Tidak lama berselang , KH. Abdullah Muhlisin wafat. Selanjutnya, sebagai pengasuh lembaga peninggalan KH. Ahmad Munawwir diteruskan santrinya, KH. Sholichin Syihab, Istri Hj. Muniroh binti Hayuni, juga salah seorang keponakan KH. Ahmad Munawwir.

KH. Sholichin Syihab telah membukukan sejumlah wirid yang biasa diamalkan KH. Ahmad Munawwir yaitu kitab Al Ad’iyyah Wal Aurad Lisy Syekh Ahmad Munawwir Al Haj. Wirid-wirid tersebut sampai sekarang selalu dibaca setiap hari Ahad dan Rabu sebelum pengajian majlis ta’lim dimulai.