Batang, NU Batang
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang menjadikan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 sebagai momentum untuk merawat warisan sejarah dan kebudayaan, memperkuat kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan kemanusiaan, serta membangun kader yang kritis dan berorientasi pada pengabdian masyarakat.
Ketua PCNU Kabupaten Batang, KH Ahmad Munir Malik, menegaskan bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengakuan atas sejarah perjuangan para kiai dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Sejarah tersebut, menurutnya, harus dipahami oleh generasi sekarang dan mendatang sebagai sumber energi untuk melanjutkan perjuangan dalam konteks perubahan zaman.
“Generasi saat ini dan mendatang harus memahami sejarah perjuangan para pendahulu dan menjadikannya sebagai energi positif untuk meneruskan perjuangan dalam konteks kekinian, sesuai dinamika perubahan zaman,” ujarnya.
Semangat tersebut tercermin dalam beragam agenda yang diselenggarakan PCNU Batang dalam rangkaian Hari Santri 2026. Kegiatan yang dirancang tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga kebudayaan, kebencanaan, ekologi, kaderisasi, hingga penguatan media.
Merawat Tradisi, Terbuka terhadap Perubahan
Salah satu agenda yang mengangkat dimensi sejarah dan kebudayaan ialah Pagelaran Seni Budaya Nusantara yang dirangkaikan dengan pemutaran film Jejak Peradaban Islam di Lereng Gunung Prau.
Menurut KH Ahmad Munir Malik, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan pentingnya merawat warisan sejarah dan kebudayaan para pendahulu, sekaligus tetap terbuka terhadap perkembangan baru yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Prinsip itu sejalan dengan kaidah fikih yang menjadi pegangan dalam tradisi pemikiran NU, yakni al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
Melalui pendekatan tersebut, peringatan Hari Santri diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan masa lalu, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menjadikan warisan sejarah dan kebudayaan sebagai pijakan dalam menghadapi tantangan masa kini.
Kepedulian Ekologi dan Kemanusiaan
Selain kebudayaan, PCNU Batang juga memberikan perhatian terhadap persoalan lingkungan dan kebencanaan. Agenda Pesantren Ekologi, Ngaji Fikih Lingkungan, serta Jambore Relawan Pelajar dan Santri Siaga Bencana menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian warga NU terhadap persoalan kemanusiaan dan ancaman kerusakan alam.
KH Ahmad Munir Malik menjelaskan bahwa pelibatan kader relawan senior hingga kalangan pelajar merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menghadapi persoalan yang mengancam kehidupan manusia, baik saat ini maupun pada masa mendatang.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut juga menunjukkan pentingnya menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan bagian dari pengabdian sosial.
Namun, agar agenda-agenda tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan, penguatan kaderisasi dan tata kelola organisasi perlu mendapatkan perhatian serius. Keduanya menjadi fondasi agar berbagai inisiatif sosial tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi gerakan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Kaderisasi untuk Menjawab Persoalan Masyarakat
Dalam rangkaian Hari Santri tahun ini, PCNU Batang melalui Lakpesdam juga menyelenggarakan Workshop Kaderisasi Nahdliyin Muda. Kegiatan tersebut melibatkan pengurus IPNU, IPPNU, dan PMII Kabupaten Batang.
PIC Workshop Kaderisasi, Candra Yudha Satria, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk membentuk barisan penggerak organisasi yang kritis dalam membaca realitas sekaligus memiliki fondasi ideologis yang kuat.
Menurut Candra, salah satu persoalan yang hendak dijawab melalui workshop tersebut ialah melemahnya daya kritis serta munculnya kecenderungan pragmatisme dan apatisme dalam kehidupan organisasi.
Karena itu, kaderisasi perlu diarahkan agar mampu melahirkan program kerja yang berorientasi pada advokasi, pendampingan, dan pengorganisasian masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Workshop kaderisasi ini merupakan langkah strategis untuk mencetak barisan penggerak organisasi yang tidak hanya kritis membaca realitas, tetapi juga berakar kuat secara ideologis,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tindak lanjut kegiatan direncanakan melalui pertemuan multipihak yang melibatkan pemangku kebijakan dan warga terdampak. Langkah ini diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan, mengidentifikasi persoalan di tingkat akar rumput, serta mencari jalan penyelesaian bersama.
Dalam konteks tersebut, Lakpesdam diharapkan dapat mengambil peran sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan para pemangku kebijakan, sekaligus mendorong kader muda agar terlibat langsung dalam upaya penyelesaian persoalan sosial.
Menguatkan Kabar Baik melalui Media
Di tengah beragam agenda sosial dan pengabdian yang dijalankan warga NU, KH Ahmad Munir Malik juga menekankan pentingnya penguatan peran media dalam menyebarluaskan informasi yang positif dan mencerahkan.
Menurutnya, berbagai kegiatan baik yang berlangsung di lingkungan NU perlu dikabarkan kepada masyarakat agar ruang publik, termasuk media sosial, tidak hanya dipenuhi hoaks dan informasi negatif yang merusak.
Ia menilai pelatihan jurnalistik menjadi salah satu kebutuhan penting agar warga NU memiliki kemampuan untuk mendokumentasikan, mengolah, dan menyebarkan informasi secara tepat.
“Hal yang baik tak kalah dengan yang buruk, dan yang benar tak kalah dengan yang salah,” pesannya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerja jurnalistik bukan sekadar mendokumentasikan kegiatan organisasi, melainkan juga bagian dari ikhtiar membangun ruang informasi yang sehat dan bertanggung jawab.
Melalui rangkaian Hari Santri 2026, PCNU Batang berupaya mempertemukan penghormatan terhadap sejarah dengan kebutuhan menjawab persoalan masa kini. Kebudayaan menjadi ruang merawat ingatan, ekologi dan kebencanaan menjadi wujud kepedulian terhadap kehidupan, kaderisasi menjadi jalan menyiapkan penggerak perubahan, sedangkan media menjadi sarana menyebarluaskan nilai-nilai kebaikan.
Seluruh agenda tersebut berpijak pada semangat yang sama: meneruskan perjuangan para pendahulu melalui kerja nyata yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman.
Berikut Rangkaian Kegiatan Hari Santri Nasional PCNU Kabupaten Batang 2026
1. Rabu, 21 Oktober 2026
Kegiatan: Pagelaran Seni Budaya Nusantara
Festival 1026 Rebana & Musik Modern
Nonton bareng film “Jejak Peradaban Islam Lereng G. Prau”
Tempat: Alun-alun Kecamatan Bawang
2. Kamis, 22 Oktober 2026
Kegiatan: Apel Resolusi Jihad HSN 2026
Tempat: Di masing-masing MWCNU se-Kabupaten Batang
3. Sabtu–Minggu, 24–25 Oktober 2026
Kegiatan: Jambore Relawan Pelajar & Santri Siaga Bencana
Tempat: Kompleks Masjid Darul Falah, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing
4. Sabtu, 24 Oktober 2026
Kegiatan: Workshop Kaderisasi Nahdliyin Muda
Tempat: Gedung MWCNU Banyuputih
5. Sabtu–Selasa, 24–27 Oktober 2026
Kegiatan: Pesantren Ekologi
Tempat: Ponpes Jurang, Kecamatan Kandeman
6. Minggu, 25 Oktober 2026
Kegiatan: Ngaji Fiqih Lingkungan (Pemikiran KH. Ali Yafie)
Tempat: Masjid Darul Falah, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing
November 2026
7. Kamis, 5 November 2026
Kegiatan: Bimtek Peningkatan SDM Opt. Madin dan TPQ
Tempat: Ponpes Al Hasani, Limpung
8. Minggu, 8 November 2026
Kegiatan: Kelas Jurnalis Media NU Batang
Tempat: Zieda Garden, Limpung, Batang

