Bawang, NU Batang
Perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru bagi dunia pesantren. Di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin bergantung pada media digital, pesantren dituntut mampu menghadirkan informasi yang akurat, edukatif, dan mencerminkan nilai-nilai yang selama ini menjadi identitasnya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan Triwulan Media Pondok Batang yang mengangkat tema “Membangun Citra Pesantren Melalui Pengelolaan Media Pesantren”, Jumat (6/11/2026), di Laboratorium IPA SMP NU 01 Bawang, Kabupaten Batang.
Pertemuan yang diikuti oleh pengelola media pondok pesantren se-Kabupaten Batang ini menghadirkan Ketua Media Pondok Jawa Tengah Plat G, Kang Ali Masykur selaku Divisi Kepesantrenan Media Pondok Jawa Tengah. Kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB dengan dipandu Kang Sholeh sebagai moderator.
Dalam pemaparan materi, pengelolaan media pesantren menjadi pembahasan utama. Hal ini tidak terlepas dari posisi media yang semakin penting dalam menyampaikan informasi sekaligus memperkenalkan kehidupan pesantren kepada masyarakat luas.
Selama ini, pesantren memiliki kekayaan tradisi keilmuan, kegiatan pendidikan, pengabdian masyarakat, dan kehidupan sosial yang menarik untuk diketahui publik. Namun, berbagai aktivitas tersebut membutuhkan pengelolaan informasi yang baik agar tidak sekadar menjadi dokumentasi internal, melainkan dapat dihadirkan sebagai pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Media pesantren dengan demikian memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar memublikasikan kegiatan. Pengelolanya perlu memahami bagaimana menyusun informasi secara akurat, memilih sudut pandang pemberitaan, serta menjaga etika komunikasi agar pesan yang disampaikan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kepesantrenan.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi santai dan berbagi pengalaman antarpengelola media pondok pesantren se-Kabupaten Batang. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai dinamika pengelolaan media serta berbagai pengalaman dalam menyampaikan aktivitas pesantren melalui kanal publikasi masing-masing.
Pertemuan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Agenda triwulan ini menjadi ruang penting untuk menjaga komunikasi dan memperkuat hubungan antarpengelola media pondok pesantren di Kabupaten Batang.
Di tengah perubahan zaman, tantangan media pesantren bukan hanya bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkannya tanpa kehilangan jati diri. Tradisi keilmuan, nilai keislaman, dan karakter pesantren perlu tetap menjadi landasan dalam setiap informasi yang diproduksi.
Pewarta: Ahmad Zida

