Kediri, NU Batang

Dua kader Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Batang mengikuti AI-Multaqa Ad-Dawli li-Dirasah al-Islamiyah wal-Insaniyah (Mu’tamad) 2026 yang diselenggarakan di Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, pada 29–30 Oktober 2026. Keduanya mempresentasikan karya ilmiah yang mengangkat isu aktual terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan keberlanjutan lingkungan pesantren.

Mu’tamad 2026 mengusung tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Studi Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka Hari Santri 2026 sebagai ruang diseminasi gagasan Islam wasathiyah, harmonisasi mutu pesantren, perumusan peta jalan internasionalisasi, serta penguatan jejaring pendidikan global.

Dua kader Ansor Batang yang mengikuti forum tersebut adalah Gus H Zaimuddin Ahya’ (Gus Zaim), Wakil Ketua Bidang SDM dan Pengembangan Kader PC GP Ansor Batang, serta Mahmud Yunus Mustofa, anggota bidang yang sama.

Dalam forum tersebut, Gus Zaim mempresentasikan makalah berjudul “Reaktualisasi Ilmu Mantiq sebagai Filter Informasi Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan Pesantren.”

Melalui makalahnya, Gus Zaim mengangkat pentingnya mengaktualisasikan kembali Ilmu Mantiq sebagai landasan berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan AI. Menurutnya, informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar, meskipun disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.

Karena itu, diperlukan kemampuan untuk memeriksa konsep, pernyataan, premis, hingga kesimpulan yang dihasilkan AI.

“Sejumlah konsep dalam Ilmu Mantiq, seperti tashawwur, tashdiq, qadhiyah, muqaddimat, dan qiyas, dapat digunakan sebagai perangkat untuk mengevaluasi informasi. Namun, pemeriksaan logis tersebut tetap perlu disertai verifikasi fakta dan penelusuran sumber,” ujarnya.

Sementara itu, Mahmud Yunus Mustofa mempresentasikan makalah berjudul “Networking Green Pesantren: Sustainable Pesantren Models and Collective Learning in Digital Spaces (A Case Study of Krapyak Peduli Sampah and Jejaring Pengelolaan Sampah Pesantren Indonesia).”

Makalah tersebut membahas pengembangan jejaring pengelolaan sampah pesantren melalui pembelajaran kolektif di ruang digital. Kajian ini mengambil contoh gerakan Krapyak Peduli Sampah (KPS) dan Jejaring Pengelolaan Sampah Pesantren Indonesia yang telah menghubungkan 118 pesantren.

Melalui pendekatan etnografi digital, Mahmud mengkaji bagaimana jejaring tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik pengelolaan sampah antarpesantren. Interaksi melalui ruang digital maupun kegiatan langsung memungkinkan pesantren saling belajar dan mengembangkan praktik pengelolaan lingkungan secara bersama.

Kajian ini juga menawarkan model Sustainable Pesantren yang mengintegrasikan dimensi pengetahuan, sosial-emosional, dan perilaku dalam pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Model tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi penguatan gerakan lingkungan di pesantren.

Ketua PC GP Ansor Batang, Gus H Muhammad Tolkhah Danial, mengapresiasi keterlibatan kedua kader tersebut dalam forum akademik. Menurutnya, gagasan dan karya intelektual yang lahir dari kader dapat memperkaya gerakan organisasi sekaligus memperluas kontribusi Ansor bagi masyarakat.

Ia berharap pengembangan kapasitas intelektual kader terus menjadi bagian dari proses kaderisasi. Dengan demikian, gagasan yang dihasilkan tidak hanya memperkaya khazanah pemikiran, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Keikutsertaan dua kader Ansor Batang dalam Mu’tamad 2026 ini mengangkat dua isu penting bagi dunia pesantren. Gus Zaim menyoroti perlunya penguatan literasi kritis dalam menghadapi perkembangan AI, sedangkan Mahmud mengkaji pentingnya jejaring dan pembelajaran kolektif untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan pesantren yang berkelanjutan.