Auckland, NU Batang

Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) PCNU Kabupaten Batang, Mahmud Yunus Mustofa, melakukan penelitian lapangan mengenai pendidikan pelestarian lingkungan (sustainability education) di Selandia Baru pada 19–25 Oktober 2026.

Penelitian tersebut merupakan bagian dari program hibah riset LPDP AIR Funds Kementerian Agama (MORA). Melalui penelitian ini, Mahmud bersama tim berupaya menggali praktik pendidikan keberlanjutan yang mengintegrasikan pengetahuan budaya lokal, nilai-nilai agama, dan pelestarian lingkungan.

Yunus menjelaskan, penelitian ini berangkat dari pentingnya membangun pendidikan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Kami ingin melihat bagaimana pendidikan keberlanjutan dibangun melalui integrasi antara pengetahuan, budaya lokal, dan praktik nyata di masyarakat. Pengalaman Selandia Baru ini penting untuk dipelajari, terutama bagaimana nilai-nilai kearifan lokal menjadi bagian dari proses pendidikan lingkungan,” ungkapnya.

Salah satu agenda penelitian dilakukan melalui pertemuan dengan Cate Jessep, Fasilitator Enviroschools sekaligus Auckland Council Sustainable Schools Advisor. Dalam pertemuan tersebut, Cate menjelaskan program Enviroschools, yakni gerakan pendidikan yang mendorong peserta didik di berbagai jenjang untuk merancang hingga melaksanakan aksi nyata pelestarian lingkungan.

Saat ini, program tersebut telah diadopsi oleh 1.161 sekolah atau sekitar 48 persen sekolah di Selandia Baru.

Enviroschools memiliki lima prinsip utama, yaitu Empowered Learners,  Learning for Sustainability, Honouring Local Wisdom (Te Ao Māori), Respect for Diversity, dan Sustainable Communitie.

Menurut Yunus, salah satu aspek menarik dari program tersebut adalah penempatan peserta didik sebagai subjek yang terlibat langsung dalam aksi pelestarian lingkungan.

“Hal yang menarik adalah bagaimana anak-anak tidak hanya diajak memahami persoalan lingkungan, tetapi juga diberi ruang untuk merancang dan melakukan aksi. Dengan begitu, pendidikan lingkungan tidak berhenti sebagai materi pelajaran, melainkan menjadi pengalaman dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Salah satu hal menarik lainnya yang digali dalam penelitian tersebut adalah filosofi Māori yang disebut Ako. Konsep ini menempatkan proses belajar sebagai hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Guru tidak semata-mata menjadi pusat pengetahuan, tetapi juga belajar bersama siswa.

Dalam praktiknya, terdapat relasi tuakana-teina, yakni pola pendampingan ketika peserta didik yang lebih tua membantu dan membimbing peserta didik yang lebih muda, termasuk dalam menjalankan kegiatan pelestarian lingkungan.

Yunus menilai, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keberlanjutan membutuhkan keterlibatan kolektif dan hubungan antargenerasi.

“Filosofi Ako memberikan pelajaran bahwa proses pendidikan tidak harus berlangsung satu arah. Ada hubungan saling belajar dan saling membimbing. Nilai seperti ini menarik untuk dikontekstualisasikan dengan tradisi pendidikan di Indonesia, termasuk pesantren yang memiliki kekuatan pada tradisi pendampingan, keteladanan, dan transfer nilai antargenerasi,” paparnya.

Selain itu, tim peneliti mengunjungi Papatoetoe Intermediate School untuk melihat praktik pendidikan lingkungan di sekolah. Penelitian juga dilakukan melalui pembelajaran berbasis komunitas di Te Ihu o Mataoho, Māngere, serta Museum Waikato guna menggali sejarah dan kearifan ekologis masyarakat Māori atau yang dikenal dengan istilah mātauranga Māori.

Menurut Yunus, penggalian pengetahuan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam memahami pendidikan lingkungan. Sebab, setiap masyarakat memiliki pengalaman historis dan kebudayaan yang dapat menjadi sumber pengetahuan dalam merawat alam.

“Kami tidak hanya mempelajari sistem pendidikan formal, tetapi juga bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan lingkungan melalui sejarah, tradisi, dan pengetahuan lokalnya. Ini menjadi penting karena pendidikan keberlanjutan seharusnya tidak tercerabut dari identitas dan kebudayaan masyarakat setempat,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan penelitian tersebut dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) dan diseminasi hasil riset mengenai Transcultural Ecotheology di University of Auckland dan komunitas Muslim HUMIA (Indonesian Muslim Society in Auckland).

Dalam salah satu agenda di komunitas Muslim HUMIA, Yunus menyampaikan materi bertajuk Islam Ramah Lingkungan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mendiskusikan hubungan antara nilai-nilai Islam, tanggung jawab ekologis, dan pengalaman masyarakat lintas budaya.

Ia berharap, penelitian ini dapat mempertemukan perspektif keagamaan dengan pengalaman masyarakat lintas budaya dalam membangun kesadaran ekologis.

“Islam memiliki landasan nilai yang kuat dalam membangun tanggung jawab manusia terhadap alam. Melalui perspektif Transcultural Ecotheology, kami ingin melihat bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat berdialog dengan kearifan budaya lokal dan pengalaman ekologis masyarakat yang berbeda,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yunus berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pendidikan lingkungan di Indonesia, khususnya pada lembaga pendidikan Islam dan pesantren.

“Kita memiliki kekayaan tradisi keagamaan dan kebudayaan yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi praktik pendidikan yang mampu menjawab persoalan lingkungan hari ini. Pengalaman dari Selandia Baru ini bisa menjadi bahan pembelajaran, tentu dengan penyesuaian terhadap konteks sosial dan budaya Indonesia,” tandasnya.

Kiprah akademik Mahmud juga menjadi bagian dari pengembangan kapasitas kader Nahdlatul Ulama (NU) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Kabupaten Batang. Selain menjabat sebagai Sekretaris LPT PCNU Batang, ia juga tercatat sebagai anggota bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pengembangan Kader Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Batang.

Keterlibatannya dalam penelitian internasional tersebut memperlihatkan salah satu ruang kontribusi kader NU dan Ansor melalui pengembangan pengetahuan serta penelitian akademik. Persoalan lingkungan, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi perhatian gerakan sosial, tetapi juga membutuhkan kajian ilmiah dan pengembangan model pendidikan yang relevan.