Rabu, Juni 3, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Wisuda 99 Siswa, SMK Al Sya’iriyah Tampilkan Telaah Kitab Kuning dan Tradisi Cuci Kaki Orang Tua

Limpung, NU Batang

SMK Al Sya’iriyah Limpung menggelar wisuda dan pelepasan kelas XII bagi 99 siswanya, Sabtu, 9 Mei 2026. Acara yang berlangsung khidmat ini tidak hanya menjadi ajang perpisahan, tetapi juga momentum penguatan profesionalisme, kerja sama industri, serta keseimbangan antara ilmu vokasi dan nilai-nilai keagamaan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi wisuda 99 siswa. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pengambilan sumpah profesi bagi para lulusan program keahlian kefarmasian sebagai Asisten Penunjang Kefarmasian, serta program keahlian teknologi informasi sebagai Tenaga IT Profesional.

“Dengan sumpah profesi, mereka tidak hanya punya kompetensi teknis, tetapi juga memiliki legitimasi etik untuk bekerja secara profesional dan amanah, berbekal karakter dan mental kuat yang sudah terpupuk didalam lingkungan sekolah dan pesantren” ujarnya.

Kepala SMK Al Sya’iriyah Limpung, Hamam Nasrudin, menyampaikan bahwa sumpah profesi ini menjadi simbol kesiapan moral dan etik para siswa sebelum terjun ke dunia kerja.

Penandatanganan MoU dengan Dieng Cyber

Dalam kesempatan yang sama, SMK Al Sya’iriyah secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Dieng Cyber. Kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU-DI) ini mencakup program magang, pengembangan kurikulum berbasis industri, hingga peluang penyerapan tenaga kerja lulusan di bidang teknologi digital.

Hamam Nasrudin menambahkan, “MoU ini adalah pintu masuk bagi siswa kami untuk belajar langsung dari praktisi industri. Kami ingin lulusan SMK Al Sya’iriyah tidak hanya cakap secara teori, tetapi juga siap pakai di dunia kerja digital yang terus berkembang.”

Demonstrasi baca kitab Metode Amtsilati: Simbol keseimbangan bekal dunia dan akhirat

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah demonstrasi pembacaan dan telaah kitab menggunakan metode Amtsilati. Di hadapan para orang tua, guru, dan undangan, para siswa dengan lancar membaca kitab kuning (kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat) serta menelaah makna dan pesan moral di dalamnya. Metode Amtsilati yang terkenal cepat ini mampu membekali siswa untuk memahami teks-teks keislaman secara mandiri dalam waktu relatif singkat.

Namun, lebih dari sekadar kemampuan teknis membaca kitab, kegiatan ini ditekankan sebagai penguatan pondasi pendidikan akhlak dan karakter bagi para lulusan. Dalam telaah kitab yang didemonstrasikan, para siswa mengupas bab-bab tentang akhlak kepada guru (adab al-mu’allim), bakti kepada orang tua (birru al-walidain), serta kejujuran dan amanah dalam bekerja. Nilai-nilai inilah yang menjadi ruh dari setiap ajaran kitab kuning.

Salah satu pengasuh Pondok pesantren dan pengurus Yayasan Al Sya’iriyah, Gus H. Zaimudin Ahya’ menjelaskan, “Kami tidak ingin lulusan SMK hanya pintar secara teknis tetapi miskin karakter. Demonstrasi Amtsilati ini adalah bukti bahwa mereka mampu mengambil pelajaran akhlak langsung dari sumber klasik. Di era digital yang penuh godaan moral, memiliki filter berupa pemahaman kitab kuning menjadi benteng agar mereka tetap istiqamah dalam kebaikan, baik di tempat kerja maupun di masyarakat.”

Menanggapi hal ini, Ketua Yayasan Al Sya’iriyah, KH. Agus Musyafak Syair, menegaskan pentingnya pendidikan holistik. “SMK bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi mencetak insan kamil, manusia utuh yang cerdas secara vokasi, kuat secara spiritual, dan mulia secara akhlak.

”Metode Amtsilati adalah salah satu instrumen kami untuk membangun karakter luhur. Siswa yang bisa membaca kitab akan mudah menyerap nilai-nilai kejujuran, disiplin, kasih sayang, dan tanggung jawab. Satu fakta yang menarik adalah Banyaknya siswa yang sudah diterima didunia kerja, diterima di perguruan tinggi Negeri melalui jalur SNBP, SNBT maupun UTBK bahkan ada yang sudah berproses untuk melanjutkan ke Universita luar negeri (timur tengah) adalah buah dari komitmen kami membangun pendidikan yang seimbang” tegas beliau menambahkan.  

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren TPI Al Hidayah, KH. Muhamad Sulthon Syair, dalam sambutan pengarahannya memberikan apresiasi mendalam. “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh. Tapi yang lebih penting, ilmu tanpa akhlak akan merusak. Melalui pembacaan kitab kuning ini, kami tanamkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya jabatan atau harta, tetapi juga kemuliaan akhlak. Saya bangga melihat lulusan SMK Al Sya’iriyah memiliki bekal ganda: sertifikat kompetensi dan kemampuan membaca kitab yang membentuk karakter. Ini modal besar untuk hidup di masyarakat. Teruslah belajar, jaga sholat, jujurlah dalam bekerja, dan hormati orang tua,” pesannya. 

Prosesi Cuci Kaki Orang Tua: Haru dan Bakti Seorang Anak

Puncak acara ditutup dengan prosesi haru cuci kaki orang tua. Seluruh siswa wisudawan secara bergantian membasuh kaki ayah dan ibu mereka. Suasana haru menyelimuti ruangan, diiringi tangis haru para orang tua dan siswa. Prosesi ini menjadi simbol bakti, permohonan maaf, dan ungkapan terima kasih atas segala doa serta perjuangan orang tua selama mendidik.

Muhamad Dwi Saptono, Wakil kepala Bidang kesiswaan, mengungkapkan makna mendalam dari prosesi tersebut. “Dengan cuci kaki orang tua, kami ingin menanamkan bahwa anak yang soleh dan solehah adalah anak yang berbakti. Kesuksesan seorang anak tidak lepas dari doa dan perjuangan orang tua di rumah. Ini adalah pelajaran hidup yang tidak akan pernah mereka lupakan,” tuturnya.

Prosesi cuci kaki orang tua ini juga menyisakan haru yang mendalam tidak hanya bagi para siswa tetapi juga bagi para orang tua. Di sela-sela acara, salah satu wali siswa, Bapak Ali Mansur orang tua dari salah satu wisudawan dari Pekalongan, menyampaikan kesan dan pesannya dengan penuh haru. “Ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Anak saya membasuh kaki saya sendiri. Saya sangat terharu dan bangga. Selama ini saya bekerja keras, tetapi hari ini rasanya semua lelah itu seolah terbayar lunas. Terima kasih kepada SMK Al Sya’iriyah yang tidak hanya mengajarkan anak saya ilmu kejuruan/ketrampilan, tetapi juga mengajarkannya untuk menjadi anak yang berbakti,” ujar Ali Mansur.

Dengan berakhirnya acara, 99 siswa SMK Al Sya’iriyah Limpung resmi dilepas sebagai lulusan yang siap bekerja, siap melanjutkan studi, dan siap mengabdi dengan landasan agama serta bakti kepada orang tua.

Pewarta: Ibrahim Basyar

Muhammad Asrofi
Muhammad Asrofi
Manusia Biasa dari Kota Emping

Related Articles

MEDIA SOSIAL

2,100FansSuka
1,374PengikutMengikuti
128PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles