Ndi hasile wekmu?” tanya seorang di seberang sana melalui pesan singkat. Sebelumnya ia menyuguhkan apa yang dihasilkan dari Musyawarah Besar NU di Jogja, Bumi Cendekia. Beliau mengirimkan berupa draft yang siap diwartakan.
Lha nggonku kan intine nyate, haha.” Timpalku guyon. Memang, di Mubes NU Batang selentingannya adalah Mubes (baca: Muwaddang Besar). Bahkan, Mas Savic, saat pembukaan acara mengungkapkan sendiri, saat dihubungi pertama kali oleh panitia adalah ajakan pesta sate (nyate), mengingat pasca lebaran Iduladha. “Lha ngejak nyate kok malah dikirimi ToR, baru pertama kali ini makan-makan ada Tornya.”, ujarnya sambil tertawa.
Ya, begitulah suasana dhahir-batin Mubes NU Batang. Full guyon, yang serius cuma Pak Amin, karena beliau yang menyiapkan draft ToRnya—dan termasuk orang yang serius-serius lainnya. Orang-orang gila NU.
Suasana Kultural
Acara kemarin adalah wajah NU sebenarnya. Acara dihelat dengan patungan, dan juga sumbangan dari masing-masing MWC, mulai dari kacang, jagung, talas, pisang rebus, risoles, semangka, melon, dan lainnya. Hal ini benar-benar wujud kemandirian umat.
Mas Roy, saat di ruangan transit bercerita kepada saya. “Dulu waktu Muktamar NU itu ya begini. Iurannya full dari warga, dari jama’ah, bahkan dulu ada tagihan hutang dari warung-warung di area Muktamar itu kepada panitia. Muktamirin banyak yang makan dan belum bayar,” terangnya.
Memang, acara kemarin adalah bagian dari respons atas kegelisahan yang terjadi di tingkat elit. Ontran-ontran hingga meletus ke ruang publik. Namun hikmahnya adalah di level PCNU—dan bisa jadi acara serupa akan dihelat di kota-kota lainnya, mbuh Mubes, Halaqoh, atau apa pun itu, yang menunjukkan kecintaannya kepada NU.
Peserta di Batang kebanyakan adalah anak-anak muda. Mereka ternyata sangat haus dengan kajian-kajian yang ‘ngajak mikir’, karena dalam ToR sudah dibagi ke dalam tiga komisi. Komisi A: NU, Civil Society, dan Demokrasi. Komisi B: Dinamika Internal NU: Kaderisasi, dan Organisasi. Komisi C: Pengembangan Masyarakat: Kemandirian Ekonomi, Ekologi, dan Kebudayaan.
Saya sebagai salah satu fasilitator di Komisi C bersama Gus Zaim, menemukan banyak hal yang bisa didiskusikan kembali, tentu dengan persiapan langkah konkrit dalam menyambut NU abad kedua.
Kalau saya petakan, ada lima besar isu yang saya tangkap. Pertama, kaderisasi dan kepemimpinan. Pertanyaan yang muncul: anak zaman sekarang susah diajak berorganisasi. Cukup di NU kultural saja, gak melok-melok urusan duwuran. Nah, bagaimana kita menghadapi pertanyaan begini?
Kedua, Digitalisasi dan Perubahan. Siapa tokoh yang sering dibicarakan di media sosial. Kebanyakan yang viral-viral itu—yang kebetulan mendapat imej negatif, dianggap berafiliasi dengan NU. Sebut saja model dakwah Mamah Gufron. Belum lagi kasus KS di pesantren yang belakangan ramai menjadi buah bibir publik.
Ketiga, Ekonomi dan Kemandirian Umat. Apa kabar koin NU? Bahkan muncul pemeo di tengah-tengah kita NU (Narik Urunan), tulis seseorang di kertas metaplan. Keempat, Industrialiasi dan Masyarakat Desa. Dengan adanya KITB, anak-anak muda sekarang pola hidupnya mengikuti arus industri. Lemburan dan lain sebagainya, yang berdampak juga dengan kegiatan di kampung, misalnya tahlilan, sering tidak hadir. Belum lagi dampak lingkungan, hawa panas sangat terasa hidup di Batang. KITB yang dulunya hutan sekarang dibabat menjadi pabrik-pabrik.
Kelima, Relasi NU dan Kepercayaan Publik. Kedekatan PBNU dengan elit penguasa adalah kekhawatiran yang dirasakan oleh warga akar rumput. Hilangnya independensi. Nah, puncaknya adalah kasus tambang, yang akhirnya tampak di wajah kita, Muktamar NU jadi ajang rebutan jabatan, dudu kanggo umat. Mengapa tema besar Mubes Batang mengangkat itu.
Lima hal inilah yang saya tangkap dalam komisi ini. Belum lagi di komisi-komisi yang lain. “Jebul awak dewe iki okeh banget ya masalahe,” gumamku, sembari melihat wajah Mbah Yai Ubed yang teduh dan menyejukkan.
Mubes NU Batang corak warnanya mungkin berbeda dengan di lain tempat. Di sini kami sedang merumuskan langkah untuk diteruskan ke PBNU dan PWNU, tapi juga melihat kembali kedalaman dalam diri sendiri. Bahasa jawanya: nggragapi awake dewe. Karena di level PCNU, dengan melihat hasil rekapan atau rumusan dalam diskusi—PR-nya juga banyak.
Jadi ketika ada peserta yang bertanya: “Mas, kenapa acaranya tidak dimulai dari pagi? Padahal kita butuh asupan yang banyak dari para narasumber”. Di sinilah cahaya semangat itu ingin terus menyala. Ngurip-ngurip NU. Semoga saja.



