Minggu, Juni 28, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

KH Sulthon Sya’ir Sebut Kitab Kuning sebagai Fondasi Kekuatan NU

Limpung, NU Batang
Pengasuh Pondok Pesantren TPI Al Hidayah Plumbon, KH Sulthon Sya’ir, menegaskan bahwa tradisi penguasaan kitab kuning merupakan fondasi utama yang menjadikan Nahdlatul Ulama (NU) tetap kuat sebagai organisasi keagamaan. Tradisi keilmuan tersebut, menurutnya, menjadi pembeda NU dengan organisasi Islam lainnya.

Hal itu disampaikan saat memberikan tausiyah dalam Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Limpung di Masjid Miftahul Huda, Dukuh Kemuning, Desa Plumbon, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Sabtu (27/6/2026).

“Kekuatan NU berada pada kiai-kiai yang mampu membaca dan mengkaji kitab kuning. Itulah fondasi yang harus terus dijaga. Organisasi lain mungkin unggul dalam manajemen, tetapi NU memiliki tradisi keilmuan pesantren yang diwariskan melalui kitab kuning,” ujarnya.

Menurut KH Sulthon, tradisi pesantren perlu terus dipertahankan, termasuk dalam proses regenerasi kepemimpinan di tubuh NU. Karena itu, ia mengusulkan agar Ketua Tanfidziyah memiliki latar belakang pendidikan pesantren.

“Saya mengusulkan agar Ketua Tanfidziyah memiliki pengalaman mondok minimal tiga tahun. Dengan begitu, ia memahami tradisi pesantren, menguasai dasar-dasar keilmuan Islam, dan mampu menjaga jati diri NU,” katanya.

Selain memperkuat tradisi keilmuan, KH Sulthon juga mengajak kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk membudayakan membaca.

Menurutnya, kader Ansor harus memiliki wawasan yang luas agar mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.

“Ansor harus hobi membaca,” tuturnya.

Ia menambahkan, kader Ansor juga memiliki peran penting dalam dakwah sosial dengan mengajak masyarakat mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada pondok pesantren yang memiliki kredibilitas dan rekam jejak yang baik.

KH Sulthon mengakui bahwa belakangan muncul sejumlah kasus dugaan pelecehan seksual di beberapa pondok pesantren. Namun, menurutnya, kasus tersebut tidak boleh menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pesantren secara keseluruhan.

“Ansor harus mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat agar memilih pesantren yang terpercaya. Jangan karena ulah segelintir oknum, masyarakat kemudian meninggalkan pesantren. Justru kita harus mengarahkan mereka ke pesantren yang benar-benar menjaga akhlak, tradisi keilmuan, dan sistem pendidikan yang baik,” tegasnya.

Kiai Sulthon menilai pesantren yang menjaga tradisi kitab kuning dan pembinaan akhlak tetap menjadi tempat terbaik untuk mencetak generasi yang berilmu, berkarakter, dan berakhlakul karimah.

“Karena NU dan pesantren tidak dapat dipisahkan,” pungkasnya.

Muhammad Asrofi
Muhammad Asrofi
Manusia Biasa dari Kota Emping

Related Articles

MEDIA SOSIAL

2,100FansSuka
1,374PengikutMengikuti
128PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles