Limpung, NU Batang
Wakil Ketua Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pengembangan Kader Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Gus H Zaimuddin Ahya, menekankan pentingnya pendekatan yang beragam dalam mengembangkan GP Ansor di tingkat ranting atau desa.
“Tentu di desa itu ragam, orangnya itu macam macam. Kita sebagai pengurus Ansor perlu untuk mengklasifikasi cara mengajak di ansor ini menyesuaikan keadaan,” ujar Gus Zaim saat Ngaji Selapanan PR GP Ansor Dlisen, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, keberagaman karakter masyarakat menuntut pengurus GP Ansor untuk lebih adaptif dalam merangkul dan melakukan kaderisasi generasi muda.
Dalam kesempatan itu, Gus Zaim mengajak seluruh kader Ansor di tingkat ranting untuk tetap bersemangat menjalankan khidmah organisasi.
Ia menilai ranting memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi tempat lahir dan tumbuhnya kader-kader GP Ansor.
“Sahabat yang di ranting harus semangat. Khidmah Ansor di ranting lebih ikhlas. Anggota Ansor lahir dari ranting,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan pengembangan Ansor di tingkat desa cukup kompleks. Masyarakat yang menjadi sasaran kaderisasi memiliki latar belakang, minat, dan karakter yang berbeda-beda sehingga tidak bisa didekati dengan satu metode yang sama.
Gus Zaim menjelaskan bahwa tujuan kaderisasi Ansor tetap sama, yakni mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bergabung dan berkhidmah dalam organisasi. Namun, cara atau wasilah yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing kelompok.
“Tujuan kita mengajak ke Ansor, tetapi wasilahnya bisa beda-beda,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia menyebut kegiatan olahraga dapat menjadi salah satu sarana efektif untuk memperkenalkan Ansor kepada kalangan pemuda. Melalui aktivitas yang mereka sukai, kader Ansor dapat membangun kedekatan sekaligus mengenalkan nilai-nilai organisasi.
“Menjaring orang-orang umum agar tertarik bisa melalui sepak bola. Ini salah satu wasilah mengajak pemuda untuk masuk Ansor,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap upaya kaderisasi harus tetap dilakukan melalui cara-cara yang positif dan sesuai dengan nilai-nilai agama.
“Wasilah tetap harus dengan cara yang benar. Jangan sampai menggunakan hal-hal yang tidak baik. Melalui olahraga misalnya, itu bisa menjadi jalan untuk menarik pemuda ke Ansor,” lanjutnya.
Selain melalui kegiatan olahraga, kalangan santri yang sedang menempuh pendidikan di pesantren juga perlu dirangkul dengan pendekatan yang sesuai dengan minat dan lingkungan mereka.
Menurut Gus Zaim, Ansor memiliki banyak ruang pengabdian yang dapat menjadi wadah bagi para santri untuk berkontribusi.
“Sekarang banyak anak-anak yang mondok. Mereka juga bisa diajak ke Ansor dengan cara yang mereka sukai. Di Ansor juga ada ngajinya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Gus Zaim juga mengingatkan pentingnya kemampuan komunikasi dalam proses kaderisasi. Ia menekankan bahwa setiap orang perlu didekati dengan cara yang sesuai dengan karakter dan tingkat pemahamannya.
“Berbicaralah dengan manusia sesuai kadarnya,” pesannya.



