Tulis, NU Batang

Lailatul Ijtima’ Putaran VI dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar di Masjid Baitussalam, Kebumen, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga Nahdlatul Ulama untuk memperkuat kepedulian terhadap persoalan umat sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan generasi Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketua PCNU Batang, KH Ahmad Munir Malik, dalam sambutannya mengajak warga NU tidak menghabiskan energi dengan perdebatan mengenai dinamika Muktamar NU yang baru berlangsung. Menurutnya, energi warga NU seharusnya diarahkan untuk mengurus berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Kita semua sudah tahu kondisi Muktamar kemarin. Kita tidak usah menghabiskan energi berdebat terkait kondisi Muktamar,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena di sejumlah grup WhatsApp warga NU. Menurutnya, informasi mengenai program-program NU sering kali tidak mendapatkan perhatian yang cukup, sementara isu-isu yang memicu perdebatan justru ramai mendapatkan respons.

“Coba kita cek di grup WA. Kalau ngeshare program sepi, tapi kalau yang di-share isu-isu panas seperti kemarin malah rebutan komentar,” katanya.

Ia mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, program-program seperti Lazisnu maupun kegiatan Lailatul Ijtima’ seharusnya mendapatkan perhatian dan dukungan dari warga NU.

“Jane dewek neng NU arep ngopo? Padahal pesan Mbah Hasyim, sopo seng gelem ngurusi NU tak catet muridku. Ketika ada rame-rame di NU pada banyak komen. Apakah itu ngurusi NU? Coba kita saling ngoreksi diri,” tuturnya.

Menurut KH Ahmad Munir, pesan para pendiri NU, khususnya KH Hasyim Asy’ari, tentang pentingnya mengurus NU harus dimaknai sebagai kepedulian terhadap persoalan warga Nahdlatul Ulama. Karena itu, mengurus NU bukan sekadar aktif dalam organisasi, tetapi hadir untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Apa yang sebenarnya dikehendaki santrine Mbah Hasyim adalah siapa yang mau ngurusi NU. Ngurusi NU itu adalah ngurusi masalah-masalah warga Nahdlatul Ulama,” jelasnya.

Ia kemudian mencontohkan persoalan pendidikan anak yang saat ini dihadapi banyak orang tua. Menurutnya, mendidik anak agar mau mengaji bukan perkara mudah. Banyak orang tua akhirnya menitipkan pendidikan agama anaknya kepada ustaz dan ustazah di Madrasah Diniyah (Madin) maupun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ).

Namun, di sisi lain, pengelola Madin dan TPQ juga menghadapi persoalan administrasi dan pendataan yang tidak ringan.

“Anak zaman sekarang diminta untuk ngaji sangat sulit. Orang tua tidak bisa mulang anaknya. Kebanyakan dititipkan kepada ustaz-ustazah Madin TPQ. Namun masalahnya, betapa banyak kepala Madin dan TPQ mikir dewekan,” ungkapnya.

Ia menyebut terdapat 136 lembaga Madin dan TPQ di Kabupaten Batang yang terancam kehilangan izin operasional karena persoalan EMIS dan belum melakukan BAP.

“Perlu diketahui ada 136 yang terancam dicabut izinnya, karena EMIS tidak BAP. Gimana kalau ini dicabut? Ini urusan kita. Kenapa ada Nahdlatul Ulama, yang tiada lain untuk menyelamatkan generasi Ahlussunnah wal Jamaah,” tegasnya.

Memasuki tahun ketiga kepengurusan PCNU Batang, pihaknya akan memperkuat sejumlah program untuk menjawab persoalan tersebut. Salah satunya melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU.

PCNU Batang, kata beliau, akan membentuk 15 operator yang tersebar di 15 kecamatan. Para operator tersebut nantinya bertugas membantu Madin dan TPQ dalam menyelesaikan persoalan administrasi dan pendataan, khususnya lembaga yang izinnya terancam dicabut.

Selain bidang pendidikan, PCNU Batang juga tengah menyiapkan penguatan layanan ibadah melalui pembentukan KBIH NU yang akan melayani program umrah bagi warga.

“Piye carane umroh ora ngasih Rp30 juta, murah tapi layanan memuaskan. Kami sudah mencari beberapa PT, kita survei layanan bagus,” ungkapnya.

Menurutnya, upaya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar PCNU Batang untuk membangun kemandirian organisasi sekaligus memberikan pelayanan nyata kepada warga NU.

“NU kudu bisa mandiri, untuk melayani program-program keumatan,” tegasnya.

Pewarta: Autad