Kamis, April 9, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 25

LAZISNU Limpung Gelar Program Kesehatan Gratis

0

Limpung, NU Batang.

LAZISNU MWC Limpung bekerjasama dengan LKKNU menyelenggarakan program kesehatan rutin NU CARE-LAZISNU dalam acara Anjangsana Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) dan Fatayat NU di Desa Pungangan, Ahad (27/10).

Program pengobatan gratis ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan, terutama bagi lansia. Setiap bulan, pemeriksaan meliputi cek tekanan darah, gula darah, asam urat, kolesterol, serta pengukuran berat badan.

Setiap peserta melalui tahapan registrasi, penyampaian keluhan, dan menerima pemeriksaan dari petugas NU CARE yang juga menyediakan obat gratis.

dr. Novi Arya, pimpinan program juga menawarkan konsultasi medis dan pemberian obat gratis. Petugas NU CARE-LAZISNU Limpung, Nailis Syahidatul Azimah berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan berkala, sehingga program ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penyediaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai bentuk upaya Nahdlatul Ulama’ dalam memenuhi kemaslahatan warga Nahdliyyin khususnya di Kecamatan Limpung.

Nailis menyatakan “Pasien rata-rata berusia 30-60 tahun rentan mengalami kolesterol tinggi dan asam urat”. Kolesterol tinggi merupakan suatu kondisi kadar kolesterol dalam darah melebihi batas normal yang umumnya disebabkan pola makan, gaya hidup, genetik, dan usia. Sedangkan asam urat merupakan kondisi medis yang menyebabkan nyeri sendi parah akibat penumpukam kristal asam urat di dalam sendi umumnya disebabkan kadar asam urat tinggi dalam darah/hiperurisemia yang dipengaruhi oleh makanan tinggi purin, minuman beralkohol tinggi, penurunan fungsi ginjal, dan penggunaan obat tertentu ( alodokter.com ).

Karenanya upaya menjaga kesehatan lansia sangat penting dengan memperhatikan pola makan dan gaya hidup yang sehat. Pola makan yang seimbang dapat membantu mencegah berbagai masalah kesehatan seperti kolesterol tinggi dan asam urat.

Pewarta : Innarotul Ain

Gigih, Pesantren, dan Coding

0

Kabar wafatnya seorang kawan, apalagi sejawat, itu menyeruak dan membawa kita pada ingatan masa-masa kebersamaan.

Namanya Gigih Arif Eka Rahmawan. Kita, di pondok dulu, biasa memanggilnya dengan namanya depannya: Gigih.

Dulu, ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara, kamar kami sebelahan. Mungkin lantaran kami sama-sama dari Batang, kami jadi akrab.

Gigih termasuk santri yang pintar. Dia tergolong cepat menamatkan kitab Amtsilati, padahal waktu itu ia masih berumur kisaran 12 tahun, baru lulus Madrasah Ibtidaiyah. Gigih juga sering diajak keliling daerah, bahkan luar Jawa, oleh Abah Kiai Taufiqul Hakim untuk mendemonstrasikan kitab Amtsilati ke masyarakat. Lora Muhammad Ismael Al Kholilie adalah teman sejawat yang juga sering diajak Abah Kiai Taufiq bersama Gigih dulu.

Di Darul Falah Gigih sampai menamatkan program Pasca Amtilati, dan termasuk angkatan pertama, lalu mengabdi sebagai guru selama beberapa tahun.

Setelah boyong, tidak seperti kawan-kawan seangkatan pada umumnya, Gigih memilih mengembangkan minatnya di dunia Teknologi Informasi, minat yang sebenarnya sudah ia geluti sejak di pesantren.

Kemampuaan di bidang ini ia asah terus. Saya biasa meminta bantuannya terkait hal-hal yang berhubungan dengan komputer dan dunia digital kepadanya.

Seperti nubatang.or.id, media resmi PCNU Batang, Gigih yang menangani domain dan hostingnya. Dan kalau ada eror, ia langsung gercep memperbaikinya.

Gigih orangnya suka berbagi, apalagi terkait ilmu dan skill. Selain membantu mengajar Amtsilati di MA Takhasus Al Syairiyah Plumbon, Gigih juga mengajari santri IT. Ia ingin santri juga melek IT.

Gigih juga terbuka dengan mereka yang ingin belajar terkait coding, ekonomi digital dan semacamnya. Beberapa kali kita undang di Kedai Tak Selesai dan acara LTN PCNU Batang untuk berbagi dengan kawan-kawan.

Dulu Gigih bersama kawan-kawan, Feri salah satunya, punya keinginan buat marketplace lokal Batang. BatangMall dulu namanya. Setiap seminggu sekali juga mendampingi kawan-kawan yang mau belajar coding.

Mungkin, kurang lebih setahun yang lalu, ia sedang merintis majelis yang mengajarkan Amtsilati. Tapi dilihat dari nama mejelisnya, yakni Majelis Amtsilati Algaritma, tampaknya ia juga akan mengajarkan coding dan berbagai kemampuan digital yang ia kuasai.

###

Bakda lebaran kemarin, Gigih mulai sakit, dan sudah berikhtiyar berobat kurang lebih setengah tahun. Ahad kemarin, kurang lebih pukul tiga pagi, Gigih dipanggil Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk Kanjeng Nabi dan Gigih, Alfatihah…

Program Santri Generasi Keren, ParagonCorp Cetak Pemimpin Masa Depan dan Agen Perubahan di Era Digital

0

Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024, ParagonCorp secara resmi meluncurkan program Santri Generasi Keren, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para santri di Indonesia tentang perubahan positif, kreativitas, serta kepemimpinan. Peluncuran program ini dilakukan di Pesantren Asshodiqiyah, Semarang, Jawa Tengah, dengan dukungan penuh dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah, serta melibatkan beberapa pesantren sebagai peserta utama. (Rabu, 23/10/24)

Program Santri Generasi Keren menitikberatkan pada tiga aspek utama: Generasi Bersih dan Rawat Diri, Generasi Berdampak (terhadap lingkungan), dan Generasi Kreatif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran santri tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, mendorong pemanfaatan media digital secara kreatif, dan mengasah kemampuan kepemimpinan untuk membawa perubahan positif di lingkungan pesantren.

Melalui program ini, santri diharapkan tidak hanya lebih peduli terhadap kebersihan sebagai bagian dari gaya hidup sehat, tetapi juga lebih kreatif dan produktif dalam era digital yang terus berkembang. Salah satu program inti dari inisiatif ini adalah Bootcamp Santri Generasi Keren, yang bertujuan untuk membekali santri dengan keterampilan praktis, mulai dari menjaga kebersihan diri hingga memanfaatkan teknologi digital dan mengembangkan kepemimpinan.

Alfia Wardah, Vice President of Commercial di ParagonCorp, menyampaikan harapannya bahwa program ini dapat menjadikan santri sebagai agen perubahan di pesantren dan masyarakat luas. Ia menekankan bahwa santri memiliki potensi besar untuk memimpin dan menjadi agen perubahan di masa depan. Alfia juga menambahkan bahwa ParagonCorp, melalui brand Wardah, telah lama berkolaborasi dengan pesantren dalam mengembangkan produk kecantikan halal, dan inisiatif ini merupakan upaya berkelanjutan untuk mendukung perkembangan pesantren.

Setelah peluncuran ini, program Santri Generasi Keren akan diikuti oleh beberapa kegiatan lanjutan, seperti Mentoring Santri Generasi Keren dan Awarding Santri Generasi Keren, yang akan memberikan penghargaan kepada santri berprestasi. Alfia berharap program ini dapat melibatkan lebih banyak pesantren di seluruh Indonesia dan menggandeng mitra untuk kolaborasi yang lebih luas.

KH. Ahmad Fadlullah Turmudzi ketua RMI PWNU Jawa Tengah Mengatakan “Program ini tidak hanya menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan berinovasi di era digital, tetapi juga bertujuan membawa dampak positif bagi santri dan masyarakat secara umum. Kolaborasi semacam ini sangat dibutuhkan untuk memastikan pesantren tetap relevan dan terus memberikan kontribusi bagi pembangunan dan kemajuan bangsa”.

Sedangkan Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, atau akrab disapa Gus Rozin, turut mengapresiasi inisiatif ParagonCorp ini. Ia menekankan bahwa program tersebut bukan hanya mengajarkan kebersihan dan kreativitas, tetapi juga mempersiapkan santri menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan positif di masyarakat. Kolaborasi antara pesantren dan dunia usaha seperti ini dinilai sangat penting untuk menjaga relevansi dan kontribusi pesantren ditengah penerkembangan peradaban yang sangat signifikan.

ParagonCorp, melalui brand-brand seperti Wardah, Make Over, Emina, dan lainnya, telah menjadi salah satu perusahaan kosmetik nasional terbesar di Indonesia, dengan komitmen kuat untuk menyediakan produk yang berkualitas dan berharga terjangkau, serta mendukung perkembangan generasi muda, termasuk para santri, untuk menghadapi tantangan zaman. (*)

MWCNU Limpung Peringati Hari Santri Nasional dengan Jalan Sehat

0

Limpung, NU Batang.

Dalam rangka memperingati hari santri nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, ratusan santri dan masyarakat umum tumpah ruah mengikuti jalan sehat yang diadakan oleh Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama’ (NU) pada hari Selasa tanggal (22/10) di Lapangan Cokronegoro Limpung.

Peserta tampak antusias mengikuti jalan sehat dengan start lapangan dan berakhir ke lapangan kembali. Panitia juga menyiapkan beberapa doorpirze perabotan rumah tangga, alat elektronik, hingga hadiah utamanya yaitu berupa tiket paket umroh.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan jalan sehat ini karena kegiatan ini bukan hanya untuk olahraga tetapi momentum juga untuk mempererat ukhuwah antara santri dan masyarakat.” ujar salah satu peserta jalan sehat.

Kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda, terutama santri untuk terus berkontribusi dalam menjaga keutuhan bangsa indonesia.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah doorprize kepada peserta jalan sehat yang beruntung. Suasana dipenuhi dengan kegembiraan yang menandakan suksesnya peringatan hari santri nasional ini.

Dalam Upacara peringatan hari santri ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, diantarannya muspika kecamatan limpung, katua PCNU kabupaten Batang, anggota DPRD Kab. Batang, badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama’ dan para santri se- kecamatan limpung serta tamu undangan lainnya.

Upacara dimulai pada pukul 08.00 WIB yang diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci al-quran dan sholawat, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian lainnya.

Pada amanat upacara Ketua Tanfidziyah Bp. H. Ali Sodikin, M.Pdi menyampaikan, “para santri dan generasi muda harus semangat berjihad, merawat dan mempertahankan kemerdekaan ini, sesuai dengan slogan rawe rawe rantas malang malang putung yang artinya segala sesuatu yang menghalangi tujuan utama harus disingkirkan, maka dari itu mari kita kaum santri untuk belajar mengisi kemerdekaan ini supaya tidak ada lagi penjajahan dengan gaya baru,” tuturnya.

Peringatan hari santri nasional yang diprakarsai oleh MWC NU Limpung ini diharapkan mampu memberi motivasi bagi generasi muda nahdlatul ulama untuk tetap aktif berperan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan memperkuat persatuan umat.

Pewarta: Nabila

 

HSN 2024, Momentum Memompa Semangat Pengurus NU dalam Bergerak Memuliakan Umat

0
Munir malik
Dok. Penulis

Batang, NU Batang.

Perhelatan rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan oleh seluruh Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) dan Pimpinan Ranting (PR NU) se Kabupaten Batang mendapatkan apresiasi Ketua PCNU Batang, Ahmad Munir Malik.

“Kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya serta apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh Pengurus MWC NU, PR NU beserta semua banomnya dan juga keluarga besar Nahdlatul Ulama se-Kabupaten Batang yang telah menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional 2024 di seluruh wilayah Kabupaten Batang,” disampaikan saat ditemui media NU Batang di Kantor PCNU Batang, pada 23 Oktober 2024.

Ia menambahkan, “Peringatan HSN yang diselenggarakan dengan suka rela dan mandiri oleh pengurus NU, banom, beserta warga ini menunjukan betapa besar kecintaan mereka terhadap para ulama muassis NU, para kiai dan santri yang telah berjuang dengan taruhan nyawa demi menjaga tegaknya NKRI demi memelihara dan mengembangkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah an Nahdliyah di bumi pertiwi,” demikian pesan yang disampaikan oleh Ketua PCNU Batang, Ahmad Munir Malik pasca selesainya peringatan HSN 2024 di Kabupaten Batang.

Lebih lanjut Munir menyatakan, Peringatan Hari Santri Nasional 2024 ini harus dijadikan momentum untuk mengambil suri tauladan dari para kiai muasis NU beserta para santri dan rakyat Indonesia saat mereka disatukan dalam satu barisan mengusir dan melawan penjajah demi tegaknya NKRI dan lestarinya ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah an Nahdliyah di bumi pertiwi.

Inilah saatnya kita yang berharap diakui sebagai santri Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menunjukkan komitmen kita kepada beliau, sebagai Pengurus NU di semua tingkatan harus solid dan kompak menjalankan program-program yang telah dirumuskan dan disepakati melalui forum-forum perkumpulan. Yang dianggap sebagai santri oleh Hadratussyaikh adalah siapa saja yang mau mengurusi NU. Mengurusi NU berarti melayani dan memuliakan umat, warga NU dan masyarakat secara umum.

“Sekali lagi saya mengajak kepada seluruh Pengurus NU dan Badan Otonom di semua tingkatan khususnya di wilayah Kabupaten Batang, mari kita buktikan komitmen kita kepada para muassis yang telah memberikan mandat NU untuk bergerak memuliakan umat. Jangan sampai terjadi ada pengurus NU yang malah jadi urusan dan menghambat program perkumpulan”, demikian tegas Munir.

Berkaitan dengan agenda-agenda perkumpulan, Sekretaris PCNU Batang Nur Topan juga mengingatkan bahwa hasil Muskercab I NU Batang agar segera ditindaklanjuti oleh semua Lembaga PCNU dengan segera melakukan koordinasi bersama lembaga-lembaga MWCNU se-Kabupaten Batang yang telah diusulkan dan segera disahkan oleh PCNU Batang.

Harapannya program-program yang telah direncanakan benar-benar dapat terealisasi sampai di tingkat ranting sebagai wujud komitmen pengurus dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

Kontributor : Solekha

Ketua PCNU Batang: Santri Harapan Masa Depan

0
Dok. Solekha

Subah, NU Batang

Ketua PCNU Batang menegaskan bahwa di tengah maraknya kejadian-kejadian yang meresahkan oleh anak-anak remaja usia sekolah saat ini, maka santri adalah generasi yang bisa diharapkan dapat menjaga kehidupan bermasyarakat yang lebih baik di masa depan.

Hal itu disampaikan oleh Ahmad Munir Malik dalam amanatnya selaku inspektur upacara Hari Santri Nasional, pada 22 Oktober 2024 di Lapangan Desa Sengon Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, serta disampaikan dalam kesempatan terpisah sebagai pesan peringatan HSN 2024.

Pada amanat upacara HSN tersebut, Munir juga menyatakan bahwa sejarah telah mencatat peran para kiai dan santri dalam mengusir penjajah serta menjaga keutuhan NKRI sudah tak diragukan lagi. Oleh karenanya semua pihak diminta komitmennya untuk mendukung, mengawal dan membina para santri dengan mendukung dan membantu penguatan lembaga pendidikan keagamaan baik yang formal maupun nonformal.

“Komitmen dukungan ini penting diwujudkan demi menjaga kehidupan masyarakat yang lebih baik di tengah arus deras perkembangan industrialisasi dan digitalisasi yang jika tidak ada ikhtiar sungguh-sungguh dampak negatifnya akan menggerogoti keutuhan dan kedamaian kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Munir juga mengajak semua pihak menjadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum semua pihak untuk peka terhadap perkembangan yang terjadi di masyarakat agar kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan cita-cita para muasis.
“Hari santri nasional bukan hanya milik santri dan pesantren. Hari santri menjadi milik semua elemen masyarakat yang mencintai negara dan tanah airnya,” tandasnya.

Pada kesempatan terpisah, Ketua PCNU Batang juga menyampaikan ucapan terimakasih serta apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pengurus MWCNU dan PRNU se-Kabupaten Batang yang telah dengan suka rela menyelenggarakan rangkaian Hari Santri Nasional secara mandiri bersama seluruh elemen masyarakat. “Dengan harapan momentum ini benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja pengurus NU dan badan otonom di semua tingkatan dalam bergerak memuliakan umat,” pungkasnya.

Upacara yang diselenggarakan oleh keluarga besar Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Subah tersebut diikuti oleh seluruh elemen NU di tingkat MWC dan ranting, serta dihadiri oleh Forkompimcam dan seluruh kepela desa se-Kec. Subah.

Kontributor : Solekha

Sejarah NU (4): Kilas NU dan Politik

0
Ilustrator: Sofyan

Nahdlatul Ulama (NU), adalah organisasi sosial keagamaan (jam’iyah) terbesar di Indonesia. Awal kelahiran NU sendiri tidak dapat dilepaskan dari kehadiran dua faktor utama, yakni realitas ke-Islaman dan realitas ke-Indonesia-an. pada realitas ke-Islaman NU lahir sebagai suatu wadah bergabungnya para ulama dalam memperjuangkan “tradisi pemahaman dan pengalaman ajaran Islam yang sesuai dengan kultur Indonesia”.

NU dilahirkan oleh ulama pesantren sebagai wadah persatuan bagi para ulama serta para pengikutnya, guna mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. Sedangkan, dalam realitas ke-Indonesiaan, kelahiran NU merupakan bagian dari pengaruh politik etis yang diterapkan Belanda dalam konteks perjuangan mewujudkan kemerdekaan.

Dalam perjalanannya, sedikit demi sedikit NU memulai langkahnya berkiprah dalam dunia politik. Berawal dari MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), NU akhirnya terlibat dalam masalah-masalah politik. Namun, eksistensi MIAI tidak berlangsung lama, pada Oktober 1943, MIAI akhirnya membubarkan diri dan digantikan oleh Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Pada awalnya, Masyumi merupakan sebuah organisasi non politik, tetapi, setelah Indonesia merdeka, Masyumi akhirnya ditahbiskan menjadi partai politik, dan memutuskan NU sebagai tulang punggung Masyumi. Pada tahun 1940-1950, Masyumi akhirnya menjadi partai politik terbesar di Indonesia. Masyumi merupakan partai yang heterogen anggotanya, sehingga perbedaan kepentingan politik banyak terjadi didalamnya. Dan hal tersebutlah yang telah menyebabkan NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik yang bernama sama, yaitu NU.

Setelah menjadi partai politik, NU mengukir sejarah yang monumental, NU berhasil mendapatkan suara yang cukup besar dan berhasil memperoleh 45 kursi di parlemen pada pemilu 1955. Perolehan suara NU tidak hanya terjadi pada pemilu 1955, pada pemilu selanjutnya, yaitu pemilu 1971 NU juga berhasil memperoleh suara yang cukup besar. Keberhasilan NU ini dinilai karena kemampuan NU menggalang solidaritas dilingkungan kaum santri, serta adanya dukungan penuh dari basis tradisionalnya.

Melihat sejarah diatas, dapat dikatakan bahwa NU memiliki pengalaman dan basis politik yang kuat. Namun, pada tahun 1983, atas hasil Munas ke-86, telah diputuskan bahwa NU sudah tidak lagi berkecimpung didalam politik dan menjadi organisasi keagamaan yang murni. Tetapi perlu diketahui bahwa hal tersebut tidak menghilangkan status NU sebagai organisasi massa yang besar dan solidaritas massa yang kuat. Hal tersebut terbukti pada pemilu pasca orde baru tahun 1998, dimana pada pemilu 1998, PKB yang merupakan partai baru dan partai yang menjadi wadah berpolitik warga NU, memperoleh suara yang cukup besar.

Kesatuan suara warga NU untuk memilih PKB sebagai wadah berpolitiknya tidak berlangsung lama, karena pada pemilu 2009, PKB mengalami penurunan suara yang cukup signifikan. Hal tersebut dikarenakan adanya konflik internal antar para elite yang ada didalam tubuh PKB, dan kemudian berakibat pada perpecahan di basis masa PKB khususnya warga NU.

Seperti yang telah diketahui bahwa ada tiga pilar utama yang menjadi penyangga kekuatan NU, yaitu Kiai, Pesantren, dan aktor politiknya. Konflik kepentingan sebenarnya tidak hanya terjadi di masa PKB. Pada saat NU masih berkecimpung dalam dunia politik konflik kepentingan juga sering terjadi, seperti pada saat NU masih bergabung dengan Masyumi dan PPP. Dan sebenarnya,  karena hal-hal tersebutlah NU memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926.

NU merasa bahwa dengan terlalu asyik dalam politik, NU telah melalaikan tugas-tugas sosial keagamaan dan pendidikan. Orientasi praktis yang serba politis itu mengakibatkan NU terjerumus kedalam pola yang serba taktis politis untuk memperebutkan keuntungan politik yang sifatnya hanya sementara. Sikap dan tindakan NU selalu dikaitkan dengan orientasi untung rugi dari segi kepentingan politik semata.

Selain itu, dengan terjun ke dalam politik, NU takut akan kehilangan tujuan utamanya, yaitu mempersatukan umat Islam ke dalam suatu wadah yang bernama NU, yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan dalam politik. Oleh karena itu, pada pemilu 2014 NU tidak lagi menjadi alat pencapai kepentingan para elite-elite politik, yang hanya memanfaatkan kekuatan solidaritas massa NU. Dan menjadikan warga NU yang berada dibawah tercerai berai karena kepentingan para aktor politiknya.

Izzato Millati, pengajar di Pondok Pesantren Putri Alkenaniyah, Pulomas, Jakarta Timur. Alumni hubungan internasional UMY dan Pascasarjana Fisip UI. 

Sumber tulisan: NU Online

Sejarah NU (3): Perdebatan Nama “Nahdlatul Ulama”

0
Ilustrator: Sofyan

Sebagaimana nama-nama organisasi besar pada umumnya, nama Nahdlatul Ulama juga lahir dari pemikiran dan proses perdebatan yang intensif. Nama itu bermula dari bertemunya para kiai terkemuka pada 31 Januari 1926 di kampong Kertopaten Surabaya. Mereka berkumpul dalam rangka membahas dan menunjuk delegasi komite Hijaz—utusan yang hendak dikirim untuk menyampaikan pesan kepada Raja Abdul Aziz Ibnu Sa’ud.

Seperti tercatat dalam sejarah, Ibnu Sa’ud yang menjadi penguasa baru Hijaz (Saudi Arabia) waktu itu terkenal dengan kebijakannya yang meresahkan umat Islam di berbagai belahan dunia. Selain memberangus pluralitas madzhab, sang raja juga berniat menggusur situs-situs peradaban Islam, termasuk makam Rasulullah.

Yang beredar di benak para ulama waktu itu adalah organisasi apa dan apa pula namanya yang akan bertindak selaku pemberi mandat kepada delegasi tersebut?

Di sinilah perdebatan sengit seputar nama organisasi berlangsung, seperti diceritakan oleh Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010 (Surabaya: Duta Aksara Mulia). Setidaknya ada dua nama atau usulan. Kedua nama ini secara prinsip sebenarnya sama namun memiliki implikasi yang berbeda.

KH Abdul Hamid dari Sedayu Gresik mengusulkan nama Nuhudlul Ulama disertai penjelasan bahwa para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Pendapat ini disambut oleh KH Mas Alwi bin Abdul Aziz dengan sebuah sanggahan. Menurutnya, kebangkitan bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz itu sendiri. Hanya saja, kata Kiai Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisasi secara rapi.

Lewat argumentasi itu, Kiai Mas Alwi mengajukan usul agar jam’iyyah ulama itu diberi nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih condong pada “gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan bersama-sama yang terorganisasi”.

Forum para kiai secara aklamasi menerima usulan KH Mas Ali bin Abdul Azis. Nama “Nahdlatul Ulama” pun ditetapkan pada hari itu juga, 16 Rajab 1344 H, tanggal bersejarah lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang diperingati setiap tahun hingga kini.

Penjelasan sejarah ini menggambarkan kesan bahwa pendirian NU tak ubahnya seperti mewadahi suatu barang yang sudah ada. NU hanyalah sebagai penegasan formal dari mekanisme informal para ulama yang sepaham, serta pemegang tradisi dan cita-cita yang sehaluan.

Tentang nama “Nahdlatul Ulama”, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga punya pendapat. Dalam sejumlah kesempatan ia mengatakan bahwa nama ini diilhami oleh kalimat Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari, pengarang kitab al-Hikam yang populer di kalangan pesantren itu.

Akar kata “Nahdlatul Ulama” termuat dalam salah satu aforismenya yang berbunyi: “Lâ tashhab man lâ yunhidluka hâluhu wa lâ yadulluka ‘alallâhi maqâluhu (Janganlah engkau jadikan sahabat dari orang yang perilakunya tak membangkitkan dan menunjukkanmu kepada Allah)”. Menurut Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari sering mengutip ungkapan itu. Kata ‘yunhidlu’, artinya membangkitkan, dan ulama termasuk orang yang bisa membangkitkan ke arah jalan Allah.

Penulis: Mahbib Khoiron

Sumber tulisan: NU Online

Sejarah NU (2): NU Berdiri demi Agama dan Negara

0
Ilustrator: Sofyan

Para kiai pesantren Ahlussunah wal-Jama’ah mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926 dipicu situasi yang mereka hadapi pada saat itu. Menurut Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU, titik picu (motivasi) itu pertama, agama (Ahlussunah wal Jamaah) dan kedua, nasionalisme. Motif Agama Sebagaimana diketahui, bangsa penjajah tidak hanya mengeruk kekayaan alam di Nusantara, melainkan menyebarkan agama dan budaya mereka.

Portugis misalnya, menanamkan Kristen Katolik dan Belanda menebar Kristen Protestan. Tidak heran karena tujuan penjajahan itu untuk mendapatkan gold, glory, dan gospel. Mereka ingin kejayaan dan kekayaan, serta misi menyebarkan agamanya. Untuk tujuan itu, penjajahan bangsa Barat menggunakan segala cara untuk menundukkan jajahannya. Di Indonesia, Belanda berupaya melakukan kristenisasi dengan mengirimkan para misionaris. Dalam pandangan mereka, agama Kristen lebih unggul dari agama Islam. Pada saat yang sama mereka juga menganggap Islam Indonesia bersifat sinkretis, yang berbeda dengan tempat asalnya, sehingga lebih mudah dipengaruhi untuk berpindah agama.

Sebagaimana diketahui, pemerintah Belanda pada waktu itu sedang berada dalam tekanan partai-partai agama di parlemen yang menuntut supaya Hindia Belanda dibuka untuk kegiatan misionaris, baik Roma Katolik maupun Protestan untuk sama-sama beroperasi di Indonesia. Pada titik inilah, para kiai pesantren Ahlussunah wal Jamaah mendirikan NU menemukan momentumnya. Semakin matang momentum itu ketika di dalam suasana penjajahan muncul pemahaman keagamaan Wahabi di Arab Saudi yang menyelisihi mayoritas umat Islam yang berhaluan Aswaja.

Semakin lebih matang lagi karena paham itu menanamkan pengaruhnya di Nusantara dalam bentuk organisasi. Meskipun tidak sama persis pergerakannya dengan di Arab Saudi, paham ini sangat merisaukan ulama-ulama pesantren sebagaimana digambarkan Swara Nahdlatoel Oelama: Maka dari itu para ulama harus bersatu untuk menentukan haluannya sebelum terlambat. Jika kita tidak bersatu, tidak lama lagi kelompok anti-mazhab akan bercokol di tanah Jawa.

Saya lihat mereka sangat gencar melakukan tablig mulai dari tanah Dayak sampai Papua Merauke, dan sangat mungkin tidak lama lagi mereka akan muncul dengan masif dan serentak di mana-mana. Tetapi, jika ulama ahli mazhab terlihat solid, dan bersatu padu turabath (menangkal/mencegah) pastilah kelompok-kelompok tadi tidak akan berkembang. (Al-i’maalu bil’uluumi wahayatul ‘uluumi bilmusyawarati wal mudzakarati wayantafil kullu bil munafarati walmudabarati wal mufaraqati). (Swara Nahdlatoel Oelama, edisi Jumadil Tsani 1346, hal. 18)

Motif Negara Tanpa mengecilkan peran kalangan liyan, sejarah perlawanan bangsa Indonesia dilakukan kalangan umat Islam yang terdiri dari kiai, santri, sultan, dan masyarakat. Misalnya selama abad ke-19 saja, penjajah Belanda menghadapi pemberontakan-pemberontakan sebagai “perang sabil” atas nama Islam.   Pada masa ini terjadi perang terlama di Aceh dari tahun 1871-1912, Perang Paderi (1821-1837) di Sumatera Barat, Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa Tengah, dan Perang Banjar-Barito (1859-1905) di Kalimantan tenggara. Semua pemberontakan itu berhasil ditumpas Belanda. Namun tak sedikit kerugian di kedua belah pihak.

Pada Perang Diponegoro misalnya penduduk Jawa yang meninggal sebanyak 200.000 orang, sementara tentara 15.000 orang. Kemudian di terjadi pula perang di Banten pada 1888 yang juga berhasil ditumpas. Namun, perang itu tak benar-benar berhenti sama sekali seperti bara dalam sekam. Para keturunan pejuang selalu menyimpan rencana meneruskan perlawanan pendahulunya meskipun dengan cara yang berbeda dan secara berantai pula turun-temurun.

Para ulama menggerakkan santri dan rakyat rakyat perdesaan. Mungkin tanpa pergerakan mereka sudah lama kebangsaan (nasionalisme) yang sebenarnya lenyap dari Indonesia. Karena keadaan terus berubah, tantangannya pun berbeda, cara ulama bergerak dalam menyebarkan Islam dan merebut kemerdekaan pun berubah juga. Jika sebelumnya hanya melalui pondok pesantren dan bergerak sendiri-sendiri, para kiai kemudian mencoba mendirikan organisasi, Nahdlatul Ulama.

Sebagai bukti para pendiri dan pengurus NU merupakan pelanjut perjuangan mengusir penjajah misalnya dari segi penamaan organisasi. Apabila diperhatikan, nama Nahdlatul Ulama berarti kebangkitan ulama, sejalan dengan kondisi perjuangan umat Islam saat itu, yakni sedang dalam perjuangan membangkitkan kesadaran nasional. Ditilik dari sisi tokoh pendiri, KH Abdul Wahab Chasbullah dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari leluhurnya menyatu pada sosok KH Shihah. Dia merupakan prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke arah timur.

Di Banten, KH Syam’un dan KH Abdul Latif, masing-masing leluhurnya merupakan pelaku pemberontakan petani Banten tahun 1888. Di Cirebon, KH Abbas Buntet merupakan salah seorang yang berperang langsung pada 10 November di Surabaya. Di Tasikmalaya, KH Zainal Musthafa gugur saat melawan Jepang. Selain itu, bisa pula dilihat dari pergerakan para tokohnya, baik sebelum, menjelang, serta setelah kemerdekaan Indonesia.

Pertama, sebelum kemerdekaan, KH Wahab Hasbullah misalnya mendirikan Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, Syubanul Wathan dan mengadakan kursus masail diniyah bagi pemuda pembela mazhab. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, halaman 36) KH Wahab Hasbullah pada masa itu yang menciptakan lagu Ya Lal Wathon, sebuah ekspresi nasionalisme kalangan pesantren, “Pusaka hati wahai tanah airku/Cintamu dalam imanku/Jangan halangkan nasibmu/Bangkitlah, hai bangsaku!/Indonesia negeriku/Engkau panji martabatku/Siapa datang mengancammu/’Kan binasa di bawah dulimu!”

Syahdan, sehari sebelum pertemuan untuk mendirikan NU di Kertopaten, Surabaya, terjadi dialog antara KH Abdul Wahab Chasbullah dengan KH Abdulhalim Leuwimunding. KH Abdul Halim bertanya, apakah organisasi yang akan didirikan para kiai itu memiliki tujuan kemerdekaan? Kiai Wahab menjawab iya, umat Islam menuju ke jalan itu.

Umat Islam tidak leluasa sebelum negara kita merdeka. Kedua, beberapa bulan selepas kemerdekaan, bangsa Indonesia tidak otomatis mendapatkan ketenangan. Penjajah berusaha datang kembali dalam bentuk pasukan Sekutu yang akan diboncengi tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

NU meresponsnya dengan mengundang konsul-konsul di seluruh Jawa dan Madura agar hadir titi mangsa 21 Oktober 1945 di kantor Pengurus Besar Ansor Nahdlatul Ulama (PB ANO atau sekarang disebut Gerakan Pemuda Ansor) di Jalan Bubutan Vl/Z Surabaya.    Kala itu, NU mengeluarkan Fatwa Jihad fi Sabilillah dan Resolusi Jihad fi Sabilillah titi mangsa 22 Oktober 1945.

Perbedaan kedunya adalah yang pertama disampaikan kepada anggota-anggota NU dan umat Islam secara umum, sementara yang kedua disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia yang saat itu baru dua bulan diproklamasikan. Selain itu, bisa dilihat pula peran para tokoh NU yang mendapat pengakuan negara dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Meskipun yang gugur sangat banyak jumlahnya, tapi sampai saat ini hanya 13 tokoh NU yang ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan.

Abdullah Alawi, penulis buku-buku sejarah NU, tinggal di Bandung

Sumber tulisan: NU Online

Sejarah NU (1): Titik Awal Sejarah Perkembangan NU

0
Ilustrator: Sofyan

Nahdlatul Ulama (NU) lahir setidaknya mempunyai tiga motivasi. Pertama, menegakkan nilai-nilai agama dalam setiap lini kehidupan. Kedua, membangun nasionalisme. KH Hasyim Asy’ari mengatakan, agama dan nasionalisme tidak bertentangan, bahkan saling memperkuat untuk mewujudkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin. Motif ketiga, mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam perkembangannya, NU tidak sedikit menghadapi resistensi yang tinggi terutama dari kelompok penjajah dan kelompok yang mengatasnamakan pemurnian akidah (puritan), namun berupaya memberangus tradisi dan budaya Nusantara yang merupakan identitas kebangsaan. Hingga masa orde baru pun, NU masih terdiskriminasi oleh rezim. Walau demikian, NU justru makin besar, berkembang, dan mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat.

Tugas yang diemban NU dari masa ke masa akan terus mengalami tantangan yang tidak mudah. Namun, berkaca pada dinamika internal organisasi, akan lebih baik jika warga NU memahami dan mengetahui titik awal perkembangan NU. Titik awal sejarah perkembangan NU terjadi ketika perhelatan Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, Jawa Timur pada 1934.

Menurut Choirul Anam (1985), setidaknya ada sejumlah alasan kenapa Muktamar di Banyuwangi tersebut dijadikan titik awal perkembangan sejarah NU di Banyuwangi. Pertama, karena di Muktamar Banyuwangi inilah mulai diberlakukan  mekanisme kerja baru, yakni pemisahan sidang antara Syuriyah dan Tanfidziyah di dalam muktamar. Sejak itu Tanfidziyah mengadakan sidang sendiri dengan materi permasalahan sendiri. Juga Syuriyah yang mengurus majelisnya sendiri dengan permasalahan yang tentunya terkait dengan persoalan agama.

Namun, keputusan yang didapat tetap menjadi kesepakatan organisasi NU secara umum. Sebelum itu, sidang-sidang di dalam muktamar dipimpin langsung oleh Syuriyah. Pengurus Tanfidziyah boleh ikut dalam sidang – yang biasanya dibagi dalam tujuh majelis – tetapi tidak berhak bersuara (ikut memutuskan) suatu persoalan, terutama yang berhubungan dengan hukum agama.

Pengurus Tanfidziyah ‘boleh ikut’ memutuskan hanya pada perkara yang tidak memerlukan keterangan hukum agama. Hak dan kekuasaan itu memang sudah diatur dalam Statuen NU 1926 sebagai berikut: “Kekuasaan jang tertinggi dari perkoempoelan ini jaitoe oleh kongres dan oetoesan-oetoesan. Sekalian poetoesan di dalam kongres-kongres jang perloe dengan keterangan hoekoem agama hanja boleh dipoetoes oleh oetoesan-oetoesan dari golongan goeroe agama (oelama). Lain-lain oeroesan jang tiada begitoe perloe dengan keterangan hoekoem agama, oetoesan jang boekan goeroe agama (oelama) boleh turut memoetoesnja.”

Kedua, sejak Muktamar Banyuwangi tatacara persidangan mulai diperbarui. Apabila pada beberapa kali muktamar sebelumnya, sidang-sidang majelis cukup dilakukan dengan duduk melantai di atas tikar atau permadani sambil membawa tumpukan kitab-kitab madzhab, kebiasaan itu tidak lagi dijumpai di Muktamar Banyuwangi. Bentuk persidangan sudah diatur rapi dan agak formal.

Peserta sidang dipersilakan duduk di kursi menghadap pemimpin sidang. Ketiga, dalam muktamar kesembilan ini mulai tampak peran tokoh-tokoh muda NU berpandangan luas seperti Mahfudz Siddiq, Wahid Hasyim, Thohir Bakri, Abdullah Ubaid, dan anak-anak muda lainnya. Mereka ikut menyampaikan pandangannya mengenai berbagai masalah kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dalam masa perkembangan ini, NU mulai bersungguh-sungguh memperhatikan masalah kepemudaan. Berbagai organisai pemuda yang pada dasarnya satu aspirasi dengan NU dikumpulkan dalam satu wadah sebagai benteng pertahanan. Sehingga dalam muktamar kesembilan ini lahirlah sebuah keputusan: “Membentuk wadah pemuda yang diberi nama Anshor Nadhlatoel Oelama (ANO).

Dari uraian di atas, pada prinsipnya, perkembangan NU ada pada visi dan cita-cita mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang berupaya selalu memoderasi Islam dengan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Di titik ini NU, tidak hanya menyikapi perkembangan dunia global, tetapi juga terus berupaya mempertahankan tradisi dan budaya baik yang ditancapkan oleh para ulama terdahulu dan para pendiri bangsa.

Penulis: Fathoni Ahmad

Sumber tulisan: NU Online