Edit

BERANDA

Menelusuri Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Batang

Bagikan :

Pengantar

Menuliskan perjalanan panjang kiprah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Batang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Selain karena keterbatasan waktu, penulisan sejarah semacam ini memerlukan data yang valid serta banyak narasumber agar menghasilkan dokumentasi sejarah yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun karena kemendesakan waktu, tulisan sederhana tentang sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Batang ini harus segera diselesaikan agar bisa disajikan saat pelaksanaan Konfercab ke-15 NU Kabupaten Batang tahun 2008. Oleh sebab itu, tulisan ini sebaiknya tidak dipandang sebagai sebuah tulisan yang sudah selesai. Masih terbuka ruang bagi siapa pun untuk mengoreksi kekurangan dan kesalahan dalam tulisan sederhana ini.

Proses Pendirian

Cikal-bakal keberadaan NU di Batang bermula pada sebuah perkumpulan (organisasi) yang bernama Jam’iyyatun Nasikhin. Perkumpulan tersebut didirikan oleh KH. Shiddiq Ismail untuk mewadahi para kiai/ulama/dai di Batang. Aktivitas perkumpulan ini tidak jauh dari kegiatan-kegiatan dakwah. Diperkirakan perkumpulan ini beraktivitas antara tahun 1930 – 1940-an. Misi perkumpulan Jam’iyyatun Nasikhin sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Nahdlatul Ulama yaitu sebagai sebuah organisasi yang mewadahi para ulama/kyai.

Akses informasi pada masa itu masih sangatlah sulit sehingga dapat dipahami jika baru pada tahun 1949 secara resmi dibentuk kepengurusan NU di Batang. Rois Syuriyah yang pertama adalah KH. Shiddiq Ismail sedangkan jabatan Ketua PCNU yang pertama dipegang oleh KH. Bakir.

Dinamika Organisasi

1950 – 1960

Tidak ada gambaran yang jelas mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan NU Batang pada fase awal pendiriannya. Namun jika dikaitkan dengan sejarah Indonesia yang pada masa itu masih dalam masa mempertahankan kemerdekaan dimungkinkan NU Batang juga terlibat aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut penuturan narasumber, KH. Shidiq Ismail juga bergabung dalam Laskar Hizbullah yang ikut berjuang melawan penjajah. Bahkan karena diburu penjajah, KH. Shidiq Ismail sampai harus mengungsi ke daerah Terban (Warungasem) dan ke salah satu santrinya di Wonosobo .

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, NU yang sebelumnya bergabung dalam Masyumi akhirnya memutuskan keluar dari organisasi tersebut pada tahun 1953. Pernyataan keluar tersebut disampaikan oleh KH. Wahab Hasbullah (Ketua PBNU saat itu), yang juga tokoh pendiri NU selain Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari.

Setelah keluar dari Masyumi, NU berubah menjadi partai politik. Untuk mempersiapkan NU dalam menghadapi Pemilu pertama tahun 1955, KH. Wahab Hasbullah turun langsung ke daerah-daerah untuk menguatkan posisi NU sebagai partai politik dalam menghadapi Pemilu 1955.

Mengetahui bahwa KH. Shiddiq Ismail adalah santri langsung KH. Hasyim Asy’ari sehingga dianggap memiliki peran penting untuk mengembangkan Partai NU di Batang. Beberapa kali, menurut narasumber, KH. Wahab Hasbullah datang kepada KH. Shiddiq Ismail di pesantrennya, Nahdlatut Tholabah Kauman Batang, memberikan arahan untuk menguatkan Partai NU di Batang. Namun sayangnya, tidak ada data mengenai perolehan suara Partai NU di Batang dalam Pemilu 1955 tersebut.

1960 – 1970

Perpolitikan nasional setelah Pemilu 1955 berjalan dinamis hingga memasuki era tahun 1960-an. Seorang narasumber menuturkan bahwa meskipun pada tahun-tahun tersebut, persaingan antarparpol besar (PNI, NU, PKI, dan Masyumi) memang terjadi tetapi persaingan tersebut tidak sampai menimbulkan konflik horizontal.

Narasumber tersebut menceritakan pada masa itu, Partai NU juga sering melakukan ‘show of force’ di Alun-alun Batang melalui kegiatan Lesbumi NU, Ansor, dan IPNU seperti sepakbola api, rebana, dan marching band. Lalu terjadilah Peristiwa G30S di Jakarta yang disusul dengan penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh terlibat PKI.

Beberapa narasumber menceritakan bahwa NU Batang – diakui atau tidak – terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dalam penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh PKI. Hal inilah yang kemudian diakui oleh Gus Dur pada tahun 1999 sehingga Gus Dur selaku Ketua Umum PBNU saat itu meminta maaf kepada para korban Tragedi Kemanusiaan 1965.

Pada tahun 1966, Batang secara resmi menjadi kabupaten sendiri berpisah dari Kabupaten Pekalongan. Pemisahan Batang dari Pekalongan tidak bisa dilepaskan dari peran NU sebagai parpol pada saat itu. Beberapa tokoh NU termasuk orang-orang yang memperjuangkan pembentukan Kabupaten Batang seperti Abutalkhah.

1970 – 1980

Pada masa awal Orde Baru, NU sempat mengalami ‘bulan madu’ dengan pemerintah Orde Baru. Orang-orang NU masih diberi kesempatan untuk menduduki jabatan-jabatan di pemerintahan seperti Departemen Agama. Sekitar tahun 1968 ketika jabatan Menteri Agama masih dipegang oleh orang NU (KH. Dahlan), ada ratusan orang NU di Kabupaten Batang yang diangkat menjadi guru agama berstatus PNS melalui rekomendasi LP. Ma’arif NU saat itu.

Namun setelah rezim Orde Baru memantapkan kekuasaannya, NU dipandang sebagai salah satu kekuatan yang bisa mengancam ‘stabilitas keamanan’ yang diciptakan oleh rezim Orde Baru. Secara sistematis, NU semakin dipinggirkan dari percaturan politik nasional. Hal ini berimbas hingga ke daerah-daerah sehingga menyebabkan NU Batang pernah mengalami konflik internal.

Tekanan yang dilakukan rezim Orde Baru terhadap NU tersebut tidak hanya di bidang politik namun juga merambah ke ranah sosial, budaya, dan pendidikan. Saat itu, semua hal yang berbau NU harus diganti termasuk nama-nama sekolah milik NU seperti Madrasah Nahdlatut Tholabah Kauman Batang yang dipaksa diubah menjadi Darul Ulum.

Sungguh menarik sebenarnya untuk mengungkap lebih jauh kiprah NU pada masalalu karena dari situlah bisa didapat gambaran mengenai latar historis dan arah perjuangan NU Batang. Sehingga kepengurusan NU saat ini dapat menjadikan catatan historis tersebut sebagai pijakan dalam menentukan arah perjuangan NU di masa yang akan datang.

Kepengurusan

Terlalu dini sebenarnya untuk menyajikan data kepengurusan NU Batang di bawah ini. Oleh karena itu perlu ditegaskan kembali bahwa data berikut ini masih bersifat data awal atau sementara.

NoMasa KhidmatRois SyuriyahKetua PCNUKet
11948 – 1952KH. Shiddiq IsmailKH. Bakir
21952 – 1956KH. BakirKH. Busyairi
31956 – 1960KH. AbdurrahmanKH. Busyairi
41960 – 1964KH. MaqshudiSonhaji
51964 – 1968KH. MaqshudiSonhaji
61968 – 1972KH. NasohaSonhaji
71972 – 1976KH. BakirSonhaji
81976 – 1980KH. BusyairiH. Abbas Abrori
91980 – 1984KH. BusyairiH. Asqolani
101984 – 1988KH. Umar HamdanH. Irfani
111988 – 1993KH. Umar HamdanH. Irfani
121993 – 1998KH. A. Damanhuri Ya’qubH. Amin Basna
131998 – 2003KH. A. Damanhuri Ya’qubH. Syamsudin Ahmad
142003 – 2008KH. Abdul Manab Sya’irH. Syamsudin Ahmad
152008 – 2013H. Syamsudin AhmadA. Taufik

Penutup

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menonjolkan peran atau jasa seseorang dalam perkembangan NU di Kabupaten Batang. Masih banyak tokoh lain yang sebenarnya tidak kalah besar jasanya dalam perkembangan NU di Batang namun karena belum ada data yang valid maka belum bisa diungkapkan dalam tulisan ini.

Oleh karena itu, ke depan akan terus diupayakan revisi atau perbaikan terhadap tulisan ini setelah mendapatkan tambahan data dan saran dari narasumber yang lain. Semoga tulisan ini bisa menjadi catatan awal tentang sejarah perjalanan kiprah NU di Kabupaten Batang dalam berkhidmat kepada umat.

Batang, 10 Mei 2008
(Tulisan ini dipersiapkan dalam rangka Konfercab NU Batang)

Penulis : M Arif Rahman Hakim

Dimuat ulang dari: https://hakimbao.wordpress.com/2010/09/04/menelusuri-sejarah-perkembangan-nahdlatul-ulama-di-kabupaten-batang/