Edit

BERANDA

Pesantren Ramadhan Kaji Keutamaan Nuzulul Qur’an dan Berpuasa

Kiai Muhmmad Akhlis Zamroni saat bertausiyah

Bagikan :

Limpung, NU Batang
Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) SMK Ma’arif NU 01 Limpung mengundang Kiai Muhammad Akhlis Zamroni untuk mengisi tausyiah dalam rangka Pesantren Kilat Ramadhan pada Kamis (13/4) di Lapangan Sport Nusa SMK Ma’arif NU 01 Limpung.

Kiai Akhlis Zamroni atau biasa dikenal dengan Kiai Mluis sebuah do’a yang ia singkat dari Moga Loe Untuk Islam Selalu itu menerangkan tentang keutamaan turunnya Al-Qur’an dan menjalankan puasa.

Beliau mengawali ceramahnya dengan membaca Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 185 yaitu syahru romadhon allazi unzila fihil quran.

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkannya Al Qur’an yaitu tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan,” ucap pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhibbin Limpung, Batang itu.

Disampaikan, Al-Qur’an diturunkan di dunia sebagai hudallinnas atau petunjuk bagi manusia. “Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia tetapi tidak semua manusia akan mendapatkannya karena ada sebagian manusia secara fisik berupa manusia namun perilakunya seperti hewan,” kata Abah Akhlis sapaan santrinya.

Alumni santri Ponpes Ma’hadul Ilmi As-Syar’ie (MIS) Sarang, Rembang itu meneruskan bahwa Al Qur’an diturunkan ke dunia untuk orang yang bertakwa kepada Allah atau hudallil muttaqin.

“Karena Allah memberikan hidayah atau petunjuk hanya kepada orang yang bertakwa saja,” ujar teman seangkatan Gus Baha atau KH Bahauddin Nursalim Al Hafidz di pondok itu.

Dirinya menyebut, apabila ingin mendapatkan hidayah oleh Allah melalui Al-Qur’an harus juga mengimani empat kitab suci Allah yaitu Al Qur’an dengan bahasa Arab, Kitab Injil berbahasa Suryani, Taurat berbahasa Tarbani, dan Zabur menggunakan bahasa Qibthi.

Kiai Mluis yang juga Dosen di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dan Sekolah Tinggi Islam (STI) Kendal itu mengatakan bahwa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya itu memang berat, terlebih lagi melaksanakan puasa.

“Memang menjalankan perintah Allah itu berat, apalagi berpuasa dengan menahan haus, lapar dan sesuatu yang membatalkannya,” ujarnya.

Ia juga memberikan cara agar puasa yang dijalankan menjadi mudah. “Sebenarnya berpuasa itu mudah, dengan catatan kalian harus benar dalam berniatnya, karena banyak orang yang berniat hanya lisannya saja, tidak diterapkan dalam hatinya,” ucapnya.

Menurutnya, salah satu kesalahan sebagian orang itu ketika melaksanakan niat bersama setelah salat tarawih, mereka banyak yang hanya diucapkan secara lisan namun tidak diucapkan dalam hatinya.

Guru Agama Islam di SMK Ma’arif NU 01 Limpung itu mengatakan bahwa puasa merupakan kenikmatan yang luar biasa sesuai sabda nabi, lishoimi farhatani farhatun inda ifthor wa farhatun indal liqo’ robbihi ilal qiyamah.

“Kebahagiaan orang yang berpuasa itu ada dua yaitu ketika berbuka puasa bagi orang-orang yang serius dalam menjalankannya dengan meninggalkan empat perkara yaitu ghibah (mengunjing), khidzbun (berbohong), namimah (beradu domba), dan hasud (iri dengki),” katanya.

Ia melanjutkan, bahwa kebahagiaan orang yang berpuasa kedua adalah bisa berhadapan langsung dengan Allah.

“Orang yang berpuasa dengan bersungguh-sungguh, nantinya ketika masuk surga akan dibertemu langsung dengan Allah karena tidak semua orang yang masuk kedalam surga bisa bertemu langsung dengan Allah Subhanahu wa ta’ala,” jelasnya.

Sebelum selesai pengajian tersebut, beliau mengatakan, “Jika kamu ingin diberikan kebahagiaan dunia akhirat, maka Istiqomahkanlah dalam menjalankan kebaikan yang Allah perintahkan,” pungkasnya.

Pewarta : Bagas Adiakso
Editor : Muhammad Asrofi