Bawang, NU Batang
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, diwarnai dengan Pagelaran Seni Budaya Nusantara: menghadirkan festival rebana dan musik modern, serta pemutaran film dokumenter Jejak Peradaban Islam di Lereng Gunung Prau, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang digelar PCNU Batang bersama Lesbumi dan Rijalul Ansor ini menjadi upaya merawat tradisi sekaligus menggali sejarah perkembangan Islam di wilayah Bawang.
Acara dibuka dengan iring-iringan seni rebana klasik, duror, dan al-Banjari yang dimainkan kader muda Rijalul Ansor dari berbagai kecamatan di Kabupaten Batang. Antusiasme peserta dan masyarakat terlihat dari ramainya kawasan alun-alun yang menjadi pusat kegiatan.
Ketua Panitia HSN, KH Abdul Haris Hamdan Sulaiman, mengatakan, penelusuran sejarah lokal penting dilakukan untuk memastikan kesinambungan tradisi keilmuan dan perjuangan para pendahulu.
“Supaya kita tahu sebenarnya nyantri di Bawang itu ada runtutan sejarahnya. Jadi jelas sanadnya, jelas tidak sanad sembarangan,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi pesantren agar generasi muda tidak kehilangan akar keilmuan dan identitasnya.
Menggali Sejarah Dakwah Islam di Bawang
Puncak kegiatan ditandai dengan pemutaran film dokumenter Jejak Peradaban Islam di Lereng Gunung Prau. Film tersebut merupakan hasil riset selama dua bulan untuk menelusuri sumber-sumber sejarah yang dapat dipercaya mengenai perkembangan dakwah Islam di Kecamatan Bawang.
Ketua PCNU Kabupaten Batang, KH Ahmad Munir Malik, menegaskan bahwa sejarah perjuangan para pendahulu perlu terus digali dan didokumentasikan agar tidak terputus dari ingatan generasi berikutnya.
“Jangan lupakan sejarah. Jangan sampai kita kepaten obor. Sejarah harus kita gali agar kita sadar siapa sebenarnya diri kita dan agar identitas kita tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Kecamatan Bawang dipilih sebagai objek penelitian karena dikenal sebagai salah satu basis santri di Batang, dengan keberadaan pondok pesantren, madin, TPQ terbanyak dan terbesar di Kabupaten Batang.
Menurut Kiai Munir, perkembangan kehidupan keagamaan di Bawang tidak terlepas dari perjuangan para ulama dan tokoh terdahulu yang mengabdikan hidupnya untuk melanjutkan risalah Nabi Muhammad.
“Semua ini pasti ada orang-orang yang berjasa, berjuang melanjutkan risalah Nabi Muhammad,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masyarakat saat ini perlu mengetahui siapa saja yang telah mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan mempertaruhkan nyawa demi menyebarkan ajaran Islam dan membangun kehidupan masyarakat yang damai.
“Film ini kita harapkan sebagai pemantik, karenanya PCNU Batang menganggap penting agar sejarah perkembangan Islam lokal harus digali, agar generasi hari ini dan mendatang memahami dan bisa terus melanjutkan perjuangan para pendahulu kita,” lanjutnya.
Mengangkat Jejak Para Ulama dan Pejuang
Film dokumenter tersebut menyoroti sejumlah tokoh yang berperan dalam perkembangan dakwah Islam dan pendidikan pesantren di Kecamatan Bawang.
Di antaranya Mbah Hasan Ali dan Mbah Arif, dua tokoh yang merintis tradisi pendidikan agama dan pesantren di wilayah Pabelan, yang kini masuk Desa Candirejo, sekitar 1830. Film ini juga mengangkat Mbah Abdullah dan Mbah Salamun yang memiliki jejak dakwah di kawasan Sawah Bero.
Tokoh lainnya adalah Mbah Hasan Ma’ruf, yang berasal dari Purwokerto, serta putranya, Mbah Jalal, yang menjadi salah satu rujukan keilmuan di Bawang sekitar 1915.
Selain itu, terdapat KH Sulaiman Arif dari Dukuh Klawen, Desa Candigugur, yang dikenal sebagai pengasuh pesantren sekaligus pejuang kemerdekaan pada dekade 1930-an. Ia juga dikenal memiliki kemampuan dalam bidang syair dan pencak silat.
Film tersebut turut menampilkan kiprah KH Maksudi yang mulai berperan di wilayah Pesanggrahan sejak 1936. Ia disebut memiliki garis keturunan pejuang Perang Diponegoro, pernah bergabung dengan gerilyawan Hizbullah, serta menyebarkan dakwah hingga wilayah Kendal dan Gringsing.
Melalui dokumentasi sejarah tersebut, PCNU Batang berharap masyarakat dapat mengenali kembali tokoh-tokoh yang berjasa dalam membangun tradisi keislaman di wilayahnya.

