Sabtu kemarin (8/8), di PKL-Susbalan PW GP Ansor Jawa Tengah di PC GP Ansor Batang, saya mendapat tugas membersamai sahabat senior, Jabir Al-Faruqi. Sebagai moderator, saya tidak terlalu panjang mengenalkannya.

Di Ansor Jawa Tengah, Pak Jabir, begitu saya memanggilnya, tidaklah asing. Ia pernah menjabat sebagai Ketua GP Ansor Jateng periode 2010-2014.

Jika kita membaca NU Online, yang juga ikut merekam perjalanan Ansor Jateng waktu itu, Ansor Jateng yang dinahkodai oleh Pak Jabir pernah mendorong Ansor cabang di Jawa Tengah untuk mendirikan koperasi, sebagai ikhtiar mewujudkan kemandirian organisasi dan meneruskan semangat Nahdlatuttujar.

Selain itu, Pak Jabir, juga merupakan penulis produktif. Dulu opini-opininya sering nangkring di koran, seperti Suara Merdeka dan Jawa Pos. Isu-isu yang dia bahas dalam tulisannya adalah isu-isu aktual yang berkait erat dengan politik dan kehidupan sosial.

Walaupun intensitas menulisnya berkurang, tapi yang masih melekat dari Pak Jabir adalah nalar kritisnya. Dalam beberapa forum diskusi, saya mendapati Pak Jabir melontarkan pandangannya, yang kadang luput dari perhatian yang lain, yang itu merupakan analisnya.

Kemarin, Pak Jabir mengajarkan cara menganalisis tentang berbagai hal yang faktual. Katanya kurang lebih: “Ini bukan terkait cocok dan tidak cocok, mendukung dan tidak mendukung. Tapi bagaimana cara kita melihat masalah sejernih mungkin, dan mencoba mencari solusinya. Persoalan pendapat kita diterima atau tidak itu hal lain. “

Mendengarnya pun saya jadi teringat beberapa tahun lalu, saat menemaninya ke Jakarta menghadiri Muktamar Pemikiran yang digawangi olek Lakpesdam NU.

Ketika Pak Jabir bersua dengan Mas Ulil dan Mas Rumadi, keduanya nyeletuk, yang kira-kira:”Wah, ini kalau sudah ada Jabir, ya berarti muktamar pemikiran beneran ini.”