Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama, perubahan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kegelisahan. Kegelisahan melihat umat yang tertinggal dalam pendidikan, kegelisahan menyaksikan kemiskinan yang masih membelenggu masyarakat, kegelisahan menghadapi ketimpangan sosial, hingga kegelisahan atas kerusakan lingkungan yang semakin mengancam kehidupan manusia. Dari kegelisahan itulah para ulama dan tokoh NU merumuskan berbagai ikhtiar untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Semangat tersebut terasa dalam Musyawarah Besar (Mubes) Nahdliyin Muda Kabupaten Batang (31/05/26). Melihat dari tema yang diusung, sudah terdengar gaung kritisnya: “Muktamar Kanggo Umat, Dudu Rebutan Jabatan”. Berbagai isu strategis mengemuka dalam forum tersebut, mulai dari krisis lingkungan hidup, kemandirian organisasi, penguatan posisi NU di tengah perubahan sosial, hingga pentingnya menghidupkan kembali tradisi kritis yang diwariskan para ulama. Mubes tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah bagi warga Nahdliyin untuk menyampaikan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Sebagai kader muda, saya melihat bahwa hal yang paling penting dari Mubes tersebut bukanlah siapa yang berbicara atau memberikan rekomendasi dari apa yang dihasilkan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kegelisahan-kegelisahan itu dapat terus hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Sebab kegelisahan yang berhenti di ruang forum hanya akan menjadi catatan sejarah, sedangkan kegelisahan yang diwariskan melalui kaderisasi berpotensi menjadi gerakan perubahan.
Dalam berbagai pandangan mengenai Mubes Nahdliyin Muda Batang, terlihat jelas bahwa para peserta tidak hanya membahas persoalan internal organisasi. Mereka berbicara mengenai krisis lingkungan yang semakin nyata, seperti dampak pembangunan terhadap masyarakat, kemandirian ekonomi organisasi, hingga pentingnya menjaga independensi NU dalam menjalankan fungsi sosial dan keumatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi berpikir kritis di kalangan Nahdliyin masih hidup dan terus berkembang.
Namun pertanyaannya, siapakah yang akan melanjutkan tradisi tersebut?
Pertanyaan inilah yang menurut saya perlu menjadi perhatian bersama. Sebab sebesar apa pun gagasan yang dihasilkan dalam sebuah forum, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak ada generasi yang melanjutkan dan mengembangkannya. Dalam konteks inilah kaderisasi memiliki posisi yang sangat strategis. Sebab, kaderisasi bukan sekadar proses regenerasi untuk mengisi kekosongan, melainkan upaya menyiapkan inovator-inovator masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman dan membawa gagasan besar tersebut melompat lebih jauh.
Sering kali kaderisasi dipahami sebatas proses regenerasi organisasi. Kaderisasi dianggap berhasil ketika mampu mencetak pengurus baru atau menjaga keberlangsungan struktur organisasi. Padahal hakikat kaderisasi jauh lebih luas daripada itu. Kaderisasi adalah proses pewarisan nilai, pemikiran, tradisi, dan bahkan kegelisahan. Melalui kaderisasi, generasi muda diajak memahami persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus didorong untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.
Dalam perspektif ini, kaderisasi bukan hanya tentang menghafal sejarah organisasi atau memahami mekanisme administrasi. Kaderisasi harus menjadi ruang pembelajaran untuk membaca realitas sosial secara kritis. Kader perlu dilatih untuk memahami persoalan lingkungan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan berbagai isu lain yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, kaderisasi tidak hanya melahirkan penggerak organisasi, tetapi juga melahirkan pemikir dan agen perubahan sosial.
Allah SWT., berfirman : “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim dituntut untuk menggunakan akalnya dalam membaca realitas kehidupan. Tradisi berpikir inilah yang selama berabad-abad menjadi fondasi lahirnya peradaban Islam. Para ulama tidak hanya menjadi penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi pembaca zaman yang mampu merespons berbagai persoalan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan pemikiran yang mendalam.
Sayangnya, di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini, tantangan kaderisasi semakin kompleks. Generasi muda hidup dalam situasi di mana informasi sangat mudah diperoleh, tetapi kemampuan untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan dan gagasan justru sering kali kurang berkembang. Tidak sedikit kader yang aktif mengikuti berbagai kegiatan, tetapi belum terbiasa mendokumentasikan pemikirannya dalam bentuk tulisan, penelitian, atau karya intelektual lainnya.
Mubes Nahdliyin Muda Batang telah melahirkan banyak gagasan dan kegelisahan. Namun sejarah menunjukkan bahwa gagasan hanya akan hidup apabila diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, tugas kader muda bukan hanya menghadiri forum dan mendengarkan diskusi, tetapi melanjutkan kegelisahan tersebut melalui kaderisasi, literasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpinnya, tetapi juga oleh kualitas kader yang mewarisi dan memperjuangkan gagasan-gagasan.



