Memasuki bulan Agustus, suasana selalu terasa berbeda. Di kampung-kampung, bendera merah putih mulai berkibar di depan rumah. Gapura dicat ulang, jalan kampung dihiasi, anak-anak ikut meramaikan, warga mulai mempersiapkan berbagai acara, sementara panitia kampung mulai rapat sana-sini demi menyambut 17 Agustus.
Rasanya memang khas. Ada rasa semangat yang sulit dijelaskan. Setiap kali Agustus datang, ingatan kita seperti ditarik kembali pada cerita panjang perjuangan bangsa ini. Ada harga mahal yang dibayar para pendahulu agar kita bisa berdiri sebagai Indonesia hari ini.
Tapi, Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB suasana itu mendadak berubah. Pagi itu, banyak keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) terbangun bukan karena suara orang tua membangunkan anak sekolah atau lagu-lagu kemerdekaan dari pengeras suara kampung. Mereka terbangun karena bumi yang tiba-tiba berguncang.
Dalam hitungan detik, rasa aman berubah menjadi kepanikan. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung bergoyang. Barang-barang jatuh. Orang-orang berhamburan keluar mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Di saat sebagian besar dari kita sedang sibuk menyiapkan perayaan kemerdekaan, saudara-saudara kita di Flores, NTT, justru terkena guncangan gempa berkekuatan M7,7. Bukan suasana meriah menyambut kemerdekaan, melainkan kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan diri.
Gempa itu membuat sejumlah bangunan rusak. Rumah yang biasanya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber kekhawatiran. Ada yang kehilangan tempat tinggal. Ada yang kehilangan harta benda. Yang paling menyayat hati, ada yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa terus bertambah. Hingga Sabtu (15/8/2026), sebanyak 47 orang meninggal dunia. Mereka berasal dari Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ngada, dan Ende. Selain itu, ratusan rumah dilaporkan mengalami kerusakan.
Membaca kabar itu, saya langsung terdiam.
Di media sosial, linimasa masih dipenuhi foto-foto dan video lomba Agustusan, latihan paskibra, dan persiapan karnaval. Tidak ada yang salah. Semua memang sedang menyambut hari kemerdekaan ke 81 tahun ini. Perayaan itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Kemerdekaan memang layak dirayakan. Tetapi di sudut lain negeri ini, ada saudara kita yang sedang berjuang menghadapi musibah.
Kadang saya berpikir, menjadi Indonesia itu bukan sekadar tinggal di wilayah yang sama atau punya bendera yang sama. Menjadi Indonesia berarti ikut merasa ketika ada saudara kita yang sedang berduka. Saya jadi teringat masa-masa sekolah ketika aktif mengikuti Pramuka. Ada satu nilai yang sampai sekarang masih melekat, yaitu jiwa korsa. Dalam Pramuka, jiwa korsa mengajarkan tentang semangat persaudaraan, rasa satu hati, dan kepedulian terhadap sesama anggota. Ketika ada yang kesulitan, yang lain membantu; ketika ada yang tertinggal, yang lain menunggu. Nilai sederhana itu rasanya sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini.
Orang Jawa punya ungkapan, “yen loro ya diluru, yen seneng ya disengkuyung.” Saat ada yang sakit, kita datangi. Saat ada yang bahagia, kita dukung. Nilai sederhana itu rasanya pas untuk menggambarkan siapa kita sebagai bangsa.
Mungkin kita memang jauh dari NTT. Kita tidak bisa ikut mengevakuasi korban. Tidak bisa mengangkat puing-puing bangunan. Tak bisa memeluk anak-anak yang ketakutan. Tapi paling tidak, kita masih bisa menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Lewat doa, bantuan, atau sekadar tidak menutup mata terhadap musibah yang sedang mereka alami.
Menjelang 17 Agustus, saya jadi bertanya pada diri sendiri, sebenarnya apa makna kemerdekaan?
Apakah cukup dengan memasang bendera, ikut upacara, dan memeriahkan lomba? Atau justru kemerdekaan menemukan maknanya ketika kita masih punya hati untuk peduli kepada sesama?
Para pendiri bangsa dulu mempersatukan Indonesia bukan hanya karena kesamaan wilayah, tetapi karena mereka percaya bahwa kita adalah satu nasib dan satu tujuan. Hari ini, semangat itu masih relevan. Bedanya, perjuangan kita bukan lagi mengangkat bambu runcing, melainkan menjaga rasa kemanusiaan agar tidak luntur.
Ketika NTT menangis, semestinya Indonesia ikut merasa. Ketika ada saudara yang kehilangan rumah, kita ikut mendoakan agar mereka segera memiliki harapan. Ketika ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, kita ikut mengirimkan empati, meski hanya lewat doa.
Sementara itu, dari ujung barat Indonesia, Aceh menghadapi cerita yang berbeda.
Pada hari yang sama, bertepatan dengan peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh, suasana di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sempat memanas.
Momentum yang seharusnya menjadi ruang mengenang perjalanan perdamaian justru diwarnai ketegangan setelah sebagian massa berupaya mengibarkan bendera bulan bintang. Situasi kemudian berkembang menjadi aksi lempar batu, penurunan bendera merah putih, hingga aparat mengeluarkan tembakan peringatan dan gas air mata untuk membubarkan massa. Tampak sebuah video menunjukkan lambang garuda diinjak-injak oleh sekelompok orang.
Peristiwa itu kembali mengingatkan bahwa menjaga Indonesia tidak hanya tugas para pahlawan di masa lalu. Menjaga Indonesia adalah pekerjaan yang terus berlangsung hari ini.
Aceh memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa. Tanah Rencong adalah bagian penting dari Indonesia. Karena itu, setiap persoalan kebangsaan harus diselesaikan dengan kepala dingin, dialog, dan semangat persaudaraan.
Sebab Indonesia dibangun bukan karena semua orang sama, tetapi karena perbedaan itu dipersatukan dalam satu rumah.
Namun, ujian Indonesia hari ini tidak hanya datang dari bencana alam dan persoalan persatuan. Di luar persoalan bencana dan dinamika kebangsaan, Indonesia juga menghadapi ujian lain: menjaga kepercayaan rakyat terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Berbagai program besar pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih masih mengalamai problem di masyarakat-mulai keracunan MBG hingga tata letak dan tata kelola Kopdes.
Guru di Indonesia yang memiliki tugas mencerdaskan kehidupan bangsa pun juga masih banyak yang belum sejahtera. Di sisi lain, persoalan korupsi masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini. Ketika uang rakyat disalahgunakan, yang hilang bukan hanya anggaran negara, tetapi juga kepercayaan.
Bagi masyarakat kecil, ukuran keberhasilan negara sebenarnya sederhana. Mereka ingin tahu: apakah hidup mereka hari ini lebih mudah dibanding kemarin?
Apakah anak mereka bisa makan lebih layak?
Apakah kebutuhan semakin mudah?
Apakah negara benar-benar hadir?
Menjelang merdeka, mari mengingat arti Indonesia
Sebentar lagi merah putih akan berkibar.
Namun kemerdekaan tidak sekedar upacara, lomba, dan perayaan. Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita menjaga rasa sebagai satu bangsa.
Ketika Aceh memanas, jangan sampai persaudaraan ikut terbakar.
Ketika NTT menangis, jangan sampai kepedulian kita ikut hilang.
Ketika bangsa ini menghadapi berbagai persoalan, jangan sampai kita kehilangan harapan.
Dulu para pejuang bersatu karena memiliki cita-cita yang sama yaitu Indonesia merdeka. Hari ini, kita melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang berbeda: menjaga persatuan, merawat kepedulian, dan menguatkan sesama.
Menjelang 17 Agustus, semoga Aceh kembali teduh, NTT segera bangkit, dan kita semua tetap memiliki jiwa korsa sebagai anak bangsa.
Sebab Indonesia tidak hanya berdiri karena luas wilayah dan jumlah penduduknya. Indonesia bertahan karena masih ada orang-orang yang mau peduli, membantu, dan merasa bahwa persoalan saudara sebangsa adalah persoalan kita bersama.
Mari jangan lelah mencintai Indonesia!
Penulis: Muhammad Asrofi

