Kamis, April 9, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 26

Gotong Royong Mematoki Tanah NU

0

Pagi itu sekumpulan anak muda dengan berbagai macam corak pakaian (ada seragam Banser, pakaian kerja di sawah, kaos oblong dll ) berkumpul, duduk duduk dibawah spanduk bertuliskan “ KERJA BHAKTI (GOTONG ROYONG) PENGURUS DAN WARGA NU UNTUK PEMASANGAN PATOK TANAH  MILIK PCNU BATANG DI SELOPAJANG TIMUR, BLADO  KABUPATEN BATANG”. Wajah mereka terlihat sempringah. Sambil menunggu Tim pengarah dari PCNU Batang , mereka sudah siap menunggu perintah. Segala oeralatan yang dibutuhkan telah disiapkan.

Tidak terlalu lama, sekitar pukul delapan pagi, tim dari PCNU Batang sudah datang. Mereka diminta untuk kumpul diberi pengarahan mulai dari penjelasan status tanah, sistem kerja yang akan dilakukan, batas batas mana yang harus dipasang patok, siapa yang akan menunjukan titik- titik  harus dipasang patok. Sebelum melakukan kerja bhakti semua diminta berdoa Bersama, dan setelah itu ada tumpengan untuk selamatan dan sekaligus konsumsi untuk para peserta kerja bhakti atau  gotong royong.

“Alhamdulillah, pematokan hari ini bisa selesai. Patok keliling yang berjumlah 80 an  bisa terpasang semua. Semua titik- titik sudah bisa dilihat. “ demikian kata Purwo Sugiyanto sebagai Koordinator kerja bhakti dari PCNU. Dengan selesainya pematokan itu, luasan tanah Selopajang Timur, Kecamatan Blado , Kebupaten Batang yang kini dalam proses menjadi hak milik perkumpulan NU itu sudah  terlihat jelas. Apalagi dengan patok yang bertuliskan warna hijau PCNU Batang  semakin menjadi jelas bahwa tanah itu milik NU. Jadi patok batas sawah yang biasanya bertuliskan BPN untuk sementara dirubah menjadi PCNU.

“Tanah ini milik PCNU Batang”, demikian kata Ketua Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP) PCNU Batang, Nur fatoni saat memberikan pengarahan.” Setelah patok- patok terpasang, maka kalian semua , Banser dan Warga NU harus menjaga dan mengamankan setiap patok. Jangan sampai berubah posisi atau dirusak orang”, tegasnya.

Mereka yang ikut kerja bhakti terlihat bersemangat. Yang terbersit dipikirannya, NU sekarang punya tanah di wilayahnya se- luasnya 5,6 hektar. Bila dimanfaatkan secara baik dan benar akan menjadi pemasukan bagi NU. “Kalian semua tidak perlu susah payah berpikir bagaimana memanfaatkan tanah ini. Di PCNU sekarang ada Menteri pertanian”, demikian kata Wakil Ketua Jabir Alfaruqi yang membawahi LWP. Sambil melirik ke sebelah kaanan arah dimana Bapak Turjangun sang  professor pertanian itu berada.  Beliau ini keahliaannya dalam mengolah tanah terutama bidang pemupukan dan pembuatn pupuk organic telah menasional. Bahkan selevel Asia. Beliau nanti yang akan memandu pada saat penggarapan.

Usai sudah kerja bhakti. Mereka mengakhiri kerja Bhakti dengan  menyantap 3 tumpung yang disediakan pengurus PCNU. Secara bersamaan, mereka pulang dengan perasaan bangga dan Bahagia. Semoga NU ke depan semakin sejahtera.

Pewarta : Jabir Alfaruqi

Mengenal Tradisi Dibaan

0
maulid diba
Foto: Kitab Maulid Diba

Tradisi dibaan adalah tradisi pembacaan kitab maulid Diba’ yang dikarang oleh Imam Ibn Diba’. Tradisi dibaan biasanya diisi dengan membaca kitab maulid diba’ dan dipadukan dengan beberapa materi dari kitab maulid lain, kemudian disusul acara latihan khitobah untuk kalangan remaja, atau ceramah keagamaan untuk kalangan dewasa. Tradisi dibaan tidak lepas dari kitab maulid diba’ yang diakui atau tidak, jarang dikenal oleh para pembacanya sendiri.

Asal usul kitab Maulid Diba’ dapat ditelusuri dari penelitian Al-‘Idrus Dalam Kitab an-Nur as-Safir. Al-‘Idrus mengungkapkan bahwa beliau melihat dalam tulisan Syaikh Abi as-Sa’adat al-Fikihiy al-Makiy ada keterangan bahwa dalam salah satu tulisannya, ibn Diba’ menyatakan bahwa kitab maulid yang berawal:

الحمد لله الذي شرف الأنام بصاحب المقام الأعلى

merupakan cuplikan dari kitab karangan Syaikh Syihabuddin Ahmad ibn ‘Ali ibn Qasim al-Malikiy al-Bukhariy al-Andalusiy al-Mursiy al-Lakhmiy atau yang lebih mashur dengan al-Haririy. Kitab maulid ini dikenal dengan maulid Syaraful Anam yang terdapat dalam kumpulan kitab maulid yang biasa beredar.

Kitab maulid ini merupakan fasal ke-9 dari karangan Syihabuddin Ahmad tentang nasihat dan penyucian diri. Setelah mempelajari dan meneliti kitab itu, Ibn Diba’ lantas meringkasnya dalam dua puluh lima fasal yang  kemudian lebih dikenal dengan Maulid Diba’. Al-‘Idrus kemudian memberi komentar bahwa dari keterangan ini, bisa disimpulkan akan ketidak benaran kabar bahwa maulid Syaraful Anam sebenarnya milik Ibn al-Jauziy.

Namun Syekh ‘Abdul Hayyiy al-Kattaniy dalam Taalif al-Maulidiyyah menambahkan, bahwa Syaikh Muhammad ibn ‘Umar al-Jawiy; seorang ulama’ Indonesia asal banten, mengarang kitab syarah berjudul Fath ash-Shamad al-Alim fi syarhi maulid Ibn Qasim. Dan dalam kitab itu menyebutkan tentang dua versi mengenai siapa pengarang maulid Syaraful Anam yang kemudian di ringkas oleh Ibn Diba’.

Kerancuan ini kemungkinan muncul akibat ada dua ulama’ yang mengarang dua kitab maulid berbeda namun hampir mirip, atau salah satunya mengarang dalam bentuk Natsr (prosa) dan salah satunya dalam bentuk syair. Kesimpulan ini dibuktikan dengan adanya beberapa nusah yang berbeda. Ini seperti yang terjadi pada maulid al-Barzanjiy.

Maulid Diba’ merupakan satu dari tiga kitab maulid yang sering disenandungkan di Indonesia. Yang lainnya adalah Maulid al-Barzanjiy dan Maulid Burdah. Maulid Diba’ mempunyai keunggulan akan ringkasnya isi bila dibanding dengan Maulid Barzanjiy, dan isinya lebih tertuju pada maulid Nabi dibanding Burdah yang banyak menyisipkan tema selain sejarah Nabi.

Maulid Diba’ terdiri dari 4 qasidah, 21 natsr (prosa), dan dua ayat al-Qur’an yang terletak usai qasidah kedua. Sebagian pembaca maulid biasanya menyisipkan satu qasidah lagi usai prosa ke-11. Qasidah yang disisipkan ini mirip dengan qasidah yang ada dalam Barzanjiy yang berbentuk syair (bukan natsr).

Meskipun Maulid Diba’ cukup mashur, sayangnya amat sulit ditemukan kitab syarah (penjelasan) akan maulid ini. Berbeda dengan maulid Barzanjiy maupun Burdah yang mempunyai cukup banyak syarah. Namun para pembaca bisa mendapatkan syarah maulid Syaraful Anam yang merupakan cikal bakal Maulid Diba’, dari sebuah kitab yang mempunyai dua judul salah satunya Fath ash-Shamad al-Alim fi syarhi maulid Ibn Qasim, dan al-Bulugh al-Fauziy libayani Alfad maulid Ibn al-Jauziy, karangan Syaikh Muhammad ibn ‘Umar al-Jawiy.

Penulis: Mohammad-Nasif

Sumber: Alif.id

 

 

Sambung Sanad, PCNU Batang Sowan Cucu Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari Tebuireng

0

Jombang, NU Batang

Sejumlah pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang bersilaturahim ke kediaman Gus Mirza, dzurriyah Hadrotussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu (14/09/2024).

Gus Mirza, menyambut dengan tangan terbuka kedatangan rombongan pengurus PCNU Batang. Dirinya berpesan agar dalam berkhidmah di NU diniatkan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.

“Khidmah di NU niatkan beribadah kepada Allah SWT,” tutur Pengasuh Pesantren Putri Tebuireng yang juga menjabat sebagai Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU Jombang) ini dan Pengurus RMI PWNU Jawa Timur.

Gus Mirza tengah memberikan sambutan.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Batang, Kiai Abdul Hakim mengatakan, agenda silaturahim dengan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari ini bertujuan untuk menyambung sanad keilmuan. Menurutnya, banyak kisah Mbah Hasyim patut menjadi rujukan dan teladan bagi umat di seluruh penjuru dunia.

“Saya mengagumi banyak dari kesederhanaan beliau diantaranya ketika berbaur dengan masyarakat, cara beliau mengajar santri dan kesabaran beliau dalam mengurus jam’iyyah Nahdlatul Ulama, bahkan beberapa ormas yang menjadikan beliau sebagai rujukan.

Kiai Abdul Hakim menegaskan, bahwa corak keilmuan jam’iyyah NU adalah sanad keilmuan yang muttashil (bersambung) sampai dengan Rasulullah Saw. Oleh karenanya, pertemuan ini menjadi momentum penting sehingga kami dapat bertemu langsung dengan cucu Hadrotussyekh K.H. Hasyim Asy’ari yang dalam kesempatan ini beliau Gus Mirza telah duduk di tengah-tengah kita, dan mengisahkan sedikit dari keteladanan, kesederhanaan, dan kesabaran Hadrotussyekh.

Di sisi lain, Sekretaris PCNU Batang, Nur Tofan mengungkapkan pentingnya menyambung sanad keilmuan, karena ilmu merupakan bekal dalam kehidupan, serta keberkahan ilmu merupakan lentera dalam kegelapan kehidupan.

“Seiring perkembangan zaman, ilmu sangatlah mudah untuk diakses melalui media online yang berkembang. Namun, menghadirkan keberkahan ilmu hanya bisa melalui seorang guru yang dengan segala perkembangannya bisa disebut ustaz, kiai, syaikh, dan lainnya,” ungkapnya

“Hari ini kami bersama jajaran pengurus PCNU Batang bersama perwakilan Banom sowan ke ndalem dengan tujuan ngalap berkah sanad. Harapannya, keberkahan bisa sumrambah (meluap) kepada seluruh kader Nahdlatul Ulama serta kepada seluruh nahdliyyin di Kabupaten Batang,” tegasnya.

Anisatul Azifah menyerahkan buku karya almarhum M. Arif Rahman Hakim kepada Gus Mirza.

Diketahui, acara silaturahim tersebut diikuti oleh PCNU Batang dan perwakilan Banom NU kabupaten Batang. Seusai acara silaturahim, PCNU Batang menyerahkan buku Humor Ala Gusdur kepada Gus Mirza. Buku tersebut merupakan tulisan Alm M. Arif Rahman Hakim (wakil sekretaris) PCNU Batang 2018-2023. Buku tersebut diserahkan oleh Anisatul Azifah (Fatayat NU Batang) istri alm penulis.

Kamu Sedang Bangun Rumah? Amalkan Ijazah Ini Semoga Diberi Kelancaran

0
rumah
Ilustrasi.

Memiliki rumah idaman tentu menjadi cita-cita setiap individu. Terlebih bagi mayoritas pasangan yang baru saja menikah, mempunyai rumah sendiri adalah cita-cita bersama. Baik dengan cara membangun dari awal ataupun dengan cara membelinya secara langsung, lantaran sekarang tersedia banyak perumahan yang dapat dipilih sesuai selera dan budget.

Membangun ataupun dengan cara membeli, kadang butuh proses panjang, seperti kerja lebih optimal agar bisa menyisihkan uang lebih untuk kemudian ditabung. Di samping itu, ikhtiar batin juga tak kalah pentingnya. Dalam hal ini, Pengasuh Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, KH Achmad Chalwani Nawawi memberikan ijazah agar saat membangun rumah dimudahkan hingga selesai.

Ijazah itu diambil dari Al-Qur’an dua ayat terakhir dalam surat Yasin. Yakni ayat 82-83 yang berbunyi sebagai berikut:

QS. Yasin: Ayat 82 (Juz 23) اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Innamâ amruhû idzâ arâda syai’an ay yaqûla lahû kun fa yakûn

Artinya, “Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu”.

QS. Yasin: Ayat 83 (Juz 23) فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Fa sub-ḫânalladzî biyadihî malakûtu kulli syai’iw wa ilaihi turja‘ûn

Artinya, “Maka, Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan”.

Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah ini melanjutkan, dua ayat di atas dibaca setelah shalat subuh sebanyak tujuh kali dengan rutin. Atas kuasa Allah swt, ayat ini menurutnya sangat bermanfaat dalam rangka memudahkan seseorang yang hendak membangun rumah.

“Jadi ayat ayat Al-Qur’an itu ada manfaatnya. Yang fokus bacanya. Umpama surat Yasin, itu ayat yang terakhir, njenengan baca setelah subuh tujuh kali. Sewaktu-waktu Njenengan mbangun (Anda membangun rumah), lancar (proses) pembangunannya,” katanya

Sebagaimana dalam video tayagan video Youtube NU Online: Ijazah Wirid Akhir Surat Yasin untuk Melancarkan Pembangunan Rumah. Pendiri Institut Agama Islam An-Nawawi (IAIAN) Purworejo itu pun menyampaikan bahwa santri-santrinya sampai sekarang masih terus dibiasakan membaca wirid tersebut.

“Di Pesantren Berjan ini, termasuk santri-santrinya juga membaca ini,” tutur alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur ini. Punya rumah idaman yang nyaman dan penuh dengan keberkahan adalah kesempurnaan tersendiri. Kenyamanan rumah bukan hanya dari sisi fisik bangunan yang megah dan penuh dengan fasilitas.

Namun yang juga penting adalah suasana rumah yang damai, berkah dan memberkahi. Dalam artikel NU Online berjudul Ijazah Amalan agar Punya Rumah Penuh Berkah disebutkan terdapat sebuah ijazah amalan berupa doa diambil dari Al-Qur’an yang bisa dilakukan.

Doa ini, dijelaskan Muhammad Faizin penulis artikel tersebut, termaktub dalam Al-Qur’an surat al-Mukminun ayat 29 yang merupakan doa Nabi Nuh saat umatnya turun dari bahtera yang telah menghanyutkan mereka ke sebuah tempat asing.

Nabi Nuh dan umatnya kemudian berdoa: رَّبِّ اَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبٰرَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ Artinya, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”

Doa ini menurut Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu Lampung KH Sujadi memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah mampu menjadikan rumah yang ditinggali penuh dengan keberkahan dan mampu memberi keberkahan.

Ia mendapat ijazah doa ini dari gurunya saat menjadi santri di Pesantren Al-Asy’ariyah Kalibeber Wonosobo, Jawa Tengah. Sebelum mengamalkan ayat ini, ia diimbau oleh gurunya untuk berpuasa terlebih dahulu. Setelah itu, dibacakan ayat ini sambil menyiramkan air ke berbagai penjuru rumah dengan diniati berharap perlindungan Allah swt.

Penulis: A. Syamsul Arifin

Sumber: NU Online.

Supaya Pidato Kita Didengarkan, Ini Ijazah dari Kiai Chalwani Purworejo

0
KH Chalwani Nawawi
Foto: IG @kh.achmad_chalwani)

 

Berbicara di depan umum bukanlah hal yang mudah bagi semua orang. Meskipun sebagian masyarakat mampu melakukannya, tidak sedikit yang merasa gugup dan canggung.

Menanggapi hal ini, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo, Jawa Tengah, KH Chalwani Nawawi memberikan ijazah kepada muda-mudi Nahdlatul Ulama untuk membantu mengatasi kesulitan berbicara di hadapan khalayak.

Kiai Chalwani menceritakan bahwa suatu ketika ia ditunjuk oleh teman-temannya di pondok pesantren untuk mengikuti festival pidato. Ia mengikuti perlombaan tersebut mewakili Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Sebelum mengikuti perlombaan, Kiai Chalwani sowan ke kediaman salah satu mubaligh dan orator besar, Kiai Haji Yasin Yusuf di Blitar.

“Beliau ulama besar, mubaligh nasional. Selama hidup menjadi ketua MWC NU Kademangan Blitar,” tutur Kiai Chalwani ketika ditemui di Kantor PWNU Jawa Tengah, Rabu (24/7/2024).

Kiai Chalwani kemudian menyampaikan permintaannya untuk diberikan ijazah oleh Kiai Yasin agar diberikan kelancaran saat mengikuti lomba pidato.

“Saya minta ijazah, kiai saya besok malam Jumat ditunjuk teman-teman untuk mengikuti festival pidato. Tolong Kiai, saya dikasih doa biar bisa menang di festival,” ucap Kiai Chalwani kepada Kiai Yasin.

Lantas Kiai Yasin menjawab, “Sampeyan dari mana?”

“Saya dari Lirboyo,” jawab Kiai Chalwani.

“Asale mana?” tanya Kiai Yasin lagi.

“Asale Purworejo,” ujar Kiai Chalwani.

“Purworejone mana?” tanya Kiai Yasin.

“Berjan,” jawab Kiai Chalwani.

“Sama Kiai Nawawi?” tanya Kiai Yasin kembali.

“Saya bin Nawawi,” jawab Kiai Chalwani.

“Gimana Gus?” tiba-tiba Kiai Yasin bertanya kepada Kiai Chalwani dengan sapaan Gus.

Mengetahui bahwa Kiai Chalwani merupakan putra dari Kiai Nawawi, Kiai Yasin lantas memanggilnya dengan sapaan Gus, yang biasa digunakan untuk menyapa putra dari kiai di kalangan masyarakat Jawa, terkhusus di lingkungan NU.

“Pak Kiai nyebut saya Gus,” kata Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah itu.

Pada saat itu juga, Kiai Yasin memberikan ijazah kepada Kiai Chalwani untuk diamalkan. Adapun bacaannya adalah Al-Qur’an surat Thaha ayat 25-28 sebagai berikut:

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْۖ

qâla rabbisyraḫ lî shadrî wa yassir lî amrî waḫlul ‘uqdatam mil lisânî yafqahû qaulî

Artinya, “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.”

Kiai Chalwani diberikan ijazah tersebut untuk diamalkan dengan membacanya sebanyak tiga kali sebelum mengikuti festival, serta membacanya minimal tiga kali pula setelah menunaikan ibadah shalat fardhu.

“Kata pak Kiai (Yasin), insyaAllah orang-orang mau mendengarkan,” tutur Kiai Chalwani.

Setelah tampil dengan percaya diri, Kiai Chalwani berhasil menjadi juara dalam perlombaan festival pidato itu.

“Ternyata saya ikut festival itu kemudian menang sepondok. Kemudian laris sampai sekarang, artinya orang-orang mau mendengarkan. Padahal bicaranya saya biasa saja, ternyata lebih,” tuturnya.

Dengan kisahnya itu, Kiai Chalwani kemudian memberikan ijazah ini kepada para pemuda-pemudi NU agar bisa diamalkan ketika hendak menyampaikan pesan di depan umum.

“Ini berkah dari Pak Yasin dan ini saya ijazahkan kepada anak-anak muda NU, Ansor, Banser, IPNU-IPPNU, dan sebagainya.

“Tolong doa dari Mbah Yasin diamalkan, insyaAllah bisa, pertama kalau bicara bisa didengar orang lain, kedua kalau ada urusan dimudahkan oleh Allah,” tuturnya.

Penulis:

Sumber: NU Jateng

 

 

PCNU Batang dan Transformasi NU Digdaya

0

Gerakan menuju Nahdlatul Ulama (NU) Digitalisasi Data  dan Pelayanan (DIGDAYA) yang digelorakan oleh  Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), kini  disambut dengan gegap gempita oleh PCNU Batang.  PCNU Batang dengan semangat “Bergerak Memuliakan Umat” , menggelar pelatihan  “Digdaya”. Kegiatan yang mayoritass diikuti oleh kader kader muda NU dari utusan Lembaga Lembaga di level PCNU dan MWC NU yang melek informasi teknologi itu terlihat penuh antusias.

“ Selama ini kita lemah dalam hal data. Begitu juga kita masih manual dalam mengelola organisasi”, demikian kata sambutan Ahmad Munir Malik sebagai ketua PCNU Batang saat membuka Latihan Digdaya. Kita mau tidak mau harus berubah cara kerja dan mengelola organisasi dengan Prinsip Digdaya, imbuhnya.

Kegiatan yang sangat menunjang dan mempermudah kerja kerja organisasi ini  diberi nama “Kelompok Belajar Bersama(KBB)”.  Semua Lembaga di tingkat PCNU , MWC NU se kabupaten Batang diwajibkan mengirimkan peserta tanpa terkecuali. Hal ini mengingat pentingnya semua level di PCNU Batang harus  memiliki tenaga yang bisa bekerja dengan IT.

“Kelompok Belajar Bersama yang iintinya menindaklanjuti anjuran PBNU itu juga bagian dari mandat Muskercab I PCNU Batang”,   demikian rilis yang dikeluarkan Saiful HS salah satu Wakil Ketua PCNU Batang. Harapannya, ke depan program program NU harus dikerjakan dengan sistem IT terutama dalam hal pendataan dan perencanaan program NU.

Pelatihan ini dilaksanakan  oleh  Lembaga Pengembangan Sumbredaya Manusia ( Lakpesdam) PCNU. Mengingat pesertanya cukup banyak maka KBB dibagi dua zona yakni zona Barat dan Zona Timur.

Zona Timur  dilaksanakan pada hari Jum’at/13/9, diikuti oleh 8 MWC di daerah timur. Kegiatan mulai pukul 15.30-20.30 WIB  Bertempat di Limpung. Sedangkan Zona Barat dilaksanakan pada hari Ahad, 15/9, mulai pukul 15.30-20.30 wib

Materi yang diberikan mulai dari melakukan kompilasi data dalam excel-pivot, gfrom-spreedsheet dan lookerstudio. KKB dimulai dari pengenalan excel selanjutnya peserta yang sudah dibagi kelompok kelompok diminta mengoleksi data kelompoknya di dalam excel dan mengolahnya sesuai kebutuhan. Dalam bagian akhir, data excel kelompok dikompilasi untuk diolah ke dalam vipot table.

Menurut pengakuan Dawam, salah satu peserta utusan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PerguNU) mengatakan bahwa KKB ini memberi warna baru dalam berorganisasi. Ternyata banyak potensi yang mestinya bisa dikelola tetapi selama ini terabaikan. Selama ini kita belum menyadari potensi potensi itu. Dan sekarang saatnya membangun kesadaran itu.

Pewarta  : Jabir Alfaruqi

 

Amalan Khusus Para Pejabat: Ijazah Gus Dur untuk Mahfud MD

0
gusdur mahfud
Foto: NU Online.

Konten perdana dari podcast “Blaka Suta/Blak-blakan” yang saya nikmati beberapa hari lalu di kanal Youtube Mojokdotco mengunggah tayangan persamuhan ilmiah yang langsung dipandu oleh Puthut EA dan Buthet Kartaredjasa dengan narasumber sungguh-sungguh ciamik Pak Mahfud MD (korban supranatural Gus Dur).

Siapa yang tak kenal Mahfud MD? Pejabat yang iklim kehidupannya berada dalam pusaran-pusaran kasus berbobot serba mencekam. Setelah berhasil mengawal pengusutan silang selimpat kasus pembunuhan berencana Ferdy Sambo. 8 Maret yang lalu, Ia kembali blusukan mengusut kemelut Dirjen Pajak yang kadarnya lebih dahsyat lagi. Gempa bumi skala 300 triliun. Penggelapan dana tersistem sejak 2009 yang lalu yang sialnya lagi sejak pak Menkeu Agus Martowardojo, Chatib Basri, Bambang Brodjonegoro bahkan Sri Mulyani tidak tahu menahu soal itu. Dan ajaibnya, Mahfud MD baik-baik saja. Tidak ternodai sama sekali.

Orang ini kok enak banget, gak ada slintat-slintutnya (gak ada yag ditutup-tutupi), komentar Buthet. Ditegaskan lagi oleh Puthut EA, kok gede banget nyalinya. Ya. Bagi mereka berdua, Mahfud MD adalah sosok pejabat yang tak kenal rasa takut mengafirmasi kebenaran sekalipun ragam bahaya ancaman bertumpuk dibaliknya.

Pertanyaannya adalah apa amalan jitu yang dibaca Mahfud MD? Ternyata ijazah dari Gus Dur. Apa alasan Gus Dur memberikan ijazah? Tentu hal itu sebagai rasa tanggung jawab konstitusional Gus Dur yang sempat ‘usil’ menobatkan Mahfud MD sebagai menteri pertahanan sekaligus bentuk perhatian khusus Gus Dur terhadap jabatan strategis Mahfud MD (pemayung hukum tata negara) yang lazimnya dimusuhi, dibenci, dipecundangi. Sebab hidup dikubangan kejahatan hanya akan menyita banyak darah dan luka. Berikut redaksi doa sederhana yang istiqomah dirapalkan Mahfud MD sehari-hari:

رَّبِّ أَدۡخِلۡنِي مُدۡخَلَ صِدۡقٖ وَأَخۡرِجۡنِي مُخۡرَجَ صِدۡقٖ وَٱجۡعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلۡطَٰنٗا نَّصِيرٗا

Mahfud MD mengartikan: “Ya allah, tolong bimbing saya masuk di satu pekerjaan dengan benar, bukan dengan karena menyuap. Dan bimbing juga saya keluar —selesai dari pekerjaan itu dengan benar pula, tidak membebani orang yang ditinggal dan tidak membawa beban, dan beri saya kekuasaan yang menolong bukan yang mencelakakan” (QS. Al-Isra: 80)

Kalau diteliti lebih jauh, ijazah yang diperoleh Mahfud MD ternyata sesuai dengan keterangan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib {Tafsir Al-Kabir} menyadur tafsiran ayat ini dari para ulama’:

وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: وَهُوَ أَكْمَلُ مِمَّا سَبَقَ أَنِ الْمُرَادَ: وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي- فِي الْقِيَامِ بِمُهِمَّاتِ أَدَاءِ دَيْنِكَ وَشَرِيعَتِكَ- وَأَخْرِجْنِي مِنْهَا بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهَا إِخْرَاجًا لَا يَبْقَى عَلَيَّ مِنْهَا تَبِعَةً رِبْقِيَّةً.

perspektif ulama’ ketiga mengatakan: bahwa penafsiran (ketiga) ini lebih akurat dari tafsiran sebelumnya. Maksud dari doa itu adalah ya allah bimbing saya masuk mengatasi segala polemik dengan tetap berpedoman pada aturan-aturan agama dan syariat-Mu dan bimbing saya pula keluar —selesai dari polemik itu dengan tanpa beban yang berketerusan”

Imam Thahir ibn Asyur dalam Tafsir Tahrir wa Tanwir. Mengartikan diksi ‘As-Sulthon’ sebagai berikut:

فَالسُّلْطَانُ: اسْمُ مَصْدَرٍ يُطْلَقُ عَلَى السُّلْطَةِ وَعَلَى الْحُجَّةِ وَعَلَى الْمُلْكِ. وَهُوَ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ عَلَى طَرِيقَةِ اسْتِعْمَالِ الْمُشْتَرَكِ فِي مَعَانِيهِ أَوْ هُوَ مِنْ عُمُومِ الْمُشْتَرَكِ، تَشْمَلُ أَنْ يَجْعَلَ لَهُ اللَّهُ تَأْيِيدًا وَحُجَّةً وَغَلَبَةً وَمُلْكًا عَظِيمًا، وَقَدْ آتَاهُ اللَّهُ ذَلِكَ كُلَّهُ، فَنَصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ، وَسَخَّرَ لَهُ مَنْ لَمْ يُنَوِّهْ بِنُهُوضِ الْحُجَّةِ وَظُهُورِ دَلَائِلِ الصِّدْقِ، وَنَصْرِهِ بِالرُّعْبِ.

“Diksi As-Sulthon dalam ayat diatas termasuk isim masdar (hasil fleksi nomina yang diadopsi dari bentuk verbanya) yang artinya ditujukan terhadap orang-orang yang mempunyai otoritas, wewenang, kekuasaan, dan pengusut kebenaran. Al-Quran menggunakan diksi yang bermakna homonim ini sebagai representasi dari kekuasaan dan kemenangan tuhan yang maha menaklukkan dan merajai segala hal. Allah menurunkan ayat ini untuk menolong hamba-hambanya mengalahkan segenap musuh, membela hamba-hambanya yang sedang membongkar kebenaran”.

Dari sini tampak bahwa doa Gus Dur teruji benar-benar ampuh dan sudah seharusnya diamalkan setiap siapapun yang berkuasa terlebih para pejabat entah eksekutif, legislatif, yudikatif bahkan bagi para relawan yang sedang membongkar kebenaran publik walau segenggam. Dan inilah wirid langka yang jarang diketahui para penguasa. Wallahu ‘A’lam.

Penulis: Mohammad Iqbal Imami (Mahasantri di Mahad Aly An-Nur II. Ia Menulis Esai, prosa dan puisi).

Sumber tulisan: Alif.id

Supaya Tidak Kemalingan dan Gangguan Jin Saat Tidur, Lakukan Amalan Ini

0
Supaya Tidak Kemalingan dan Gangguan Jin Saat Tidur, Lakukan Amalan Ini
Foto: rumah123.com

Saat tidur, orang kerap kali waswas akan keamanan barang-barang berharga miliknya. Hal itu wajar mengingat orang tersebut tidak dalam keadaan terjaga. Pun, terkadang ada pula kekhawatiran akan gangguan dari makhluk halus.

Ustadz Tatam Wijaya menulis suatu amalan agar umat Islam terhindar dari gangguan jin dan sebangsanya, serta hartanya tercegah dari kemalingan. Amalan tersebut bersumber dari Syekh Ahmad al-Shawi yang dikutipnya dari kitab Kasyifatus Saja karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Adapun amalan yang dianjurkan adalah membaca lafal basmalah 21 kali sebelum tidur. Hal ini sebagaimana dikutip NU Online pada Selasa (20/8/2024). “Di antara khasiat atau keistimewaan basmalah adalah, jika dibaca seseorang sewaktu akan tidur sebanyak 21 kali, maka pada malam itu ia akan aman dari gangguan setan, rumahnya akan aman dari kemalingan, aman dari kematian mendadak, dan aman dari berbagai petaka lainnya,” tulis Ustadz Tatam menerjemahkan teks kitab Kasyifatus Saja.

Adapun lafal basmalah yang dimaksud adalah sebagai berikut. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

(Bismillâhirrahmânirrahîm​​​​​​​) Artinya: “Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Amalan itu, lanjut Ustadz Tatam, sebaiknya diakhiri dengan doa lanjutan sebagai berikut.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  (Allâhumma innâ nastahfidhuka wa nastaudi‘uka dînanâ wa anfusanâ wa ahlanâ wa aulâdanâ wa amwâlanâ wa kulla syai’in a‘thaitanâ. Allahummâj ‘alnâ fî kanfika wa amânika wa jiwârika wa ‘iyâdzika min kulli syaithânim marîd wa jabbârin ‘anîd wa dzi ‘ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka ‘alâ kulli syai’in qadîr).

Artinya, “Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikanlah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu.”  Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat itu juga mengingatkan agar saat membaca doa tersebut memperhatikan adab atau etikanya.

“Seperti berdoa dengan kerendahan hati, ikhlas, khusyu‘, tawakal, pasrah, bersuci terlebih dahulu, dawam atau terus-menerus (suci dari hadats/punya wudhu), dan sebagainya,” tulisnya. “Semoga Allah mengabulkan permohonan kita semua. Amîn yâ mujîbas sâ’ilîn,” pungkasnya.

Sumber tulisan: NU Online

Bunga Kamboja, Kembang Kuburan: Apa Filosofinya?

0
bubfa kamboja
Foto: watyutink.com

Mendengar kata bunga pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah sesuatu yang mewakili hal-hal romantis atau sesuatu yang indah namun akan berbeda cerita bila kata bunga tersebut disandingkan dengan sesuatu yang menyeramkan seperti kuburan pertanda makhluk halus dan hal-hal yang berbau klenik pasti akan berbalik  dan berbeda ceritanya

Seiring berjalannya waktu kepercayaan akan hal tersebut masih dapat ditemui di tengah masyarakat walaupun tak sedikit pula sebagian orang yang menyangkal Dan menganggap bahwa hal itu hanyalah takhayul Semata yang selama ini hidup ditengah masyarakat, dengan dalih hal tersebut tidak dapat dibuktikan secara logika dan sains.

Salah satu bunga yang sering dianggap bersinggungan dengan dunia mistis adalah bunga kamboja. Tumbuhan bernama latin Plumiera acuminata ini pada awalnya adalah spesies tumbuhan yang berasal dari  benua Amerika tropik yang kini persebarannya hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Bunga Kamboja asli Indonesia memiliki ciri khas berupa dominasi warna putih dengan sedikit warna kuning didalamnya dan kelopaknya yang tertutup, bunga seperti ini sering digunakan oleh masyarakat Bali sebagai perlengkapan ibadah. Selain itu bunga Kamboja di pulau jawa sering ditemukan di area pekuburan.sehingga bunga ini mendapatkan julukan sebagai kembang kuburan.

Penanaman bunga ini di pekuburan ternyata bagi orang Jawa adalah simbol yang memiliki makna tersendiri, simbol merupakan suatu bentuk komunikasi yang tidak langsung. Artinya komunikasi tersebut terdapat pesan-pesan tersembunyi, sehingga makna simbol sangat bergantung pada interpretasi individu titik. Selain itu dapat juga berfungsi sebagai pedoman sosial dan sebagai alat untuk melakukan hegemoni budaya.

Mayoritas orang jawa memiliki kecenderungan sifat semu atau terselubung, penuh simbol, dan suka menyampaikan sesuatu secara tersirat dengan menggunakan benda-benda tertentu atau memadatkan kata suatu benda yang pada awalnya adalah nama benda menjadi sebuah petuah atau nasehat, sebagaimana ungkapan jawa yang berbunyi “Wong Jowo panggone semu, sinamun ing samudana, sasodone ingadu manis”. Hal ini merupakan hasil olah krida, cipta, rasa, dan karsa masyarakat Jawa.

Penanaman bunga Kamboja di pemakaman ternyata memiliki maksud yang bermuatan petuah yang sangat luhur, dan fakta sebenarnya sangat bertolak belakang dan jauh dari kesan-kesan takhayul seperti anggapan yang mengatakan bahwa bunga Kamboja adalah tanaman yang disukai oleh makhluk halus dan pohonnya adalah tempat tinggal bagi lelembut.

Anggapan itu sangat bertolak belakang dengan fakta sebenarnya. Keberadaan pohon Kamboja yang ditempatkan di pemakaman ternyata memberikan pesan kepada siapapun agar tidak lupa mendoakan kebaikan dan memohonkan ampun untuk si mayat yang telah meninggal dunia, karena yang mereka nanti nantikan tidak lain hanyalah doa dari mereka yang masih hidup yang disimbolkan dengan indahnya bunga Kamboja.

Penggunaan pohon Kamboja sebagai simbol perintah untuk berdoa dikarenakan bentuk dahannya mirip dengan posisi tangan menengadah ketika seseorang tengah memanjatkan doa kepada tuhan. Maksudnya siapapun yang singgah di tempat pohon tersebut tumbuh diharapkan ia akan meluangkan waktunya sejenak untuk mendoakan kebaikan dan memohonkan ampun untuk si mayat.

Dalam islam mendoakan dan memintakan ampun untuk orang yang sudah meninggal dunia adalah hal yang sangat dianjurkan. Bahkan merupakan salah satu rukun dalam khutbah sholat jum’at. Sehingga kurang tepat jika pohon Kamboja yang biasa ditemukan di pemakaman dihubung-hubungkan dengan hal-hal takhayul karena penanamannya memiliki maksud yang bermuatan petuah luhur.

Sumber referensi

Haryanto, sidung .2013. Dunia simbol orang jawa. Kepel Press

Sholikin, Mohammad. 2013. Ritual dan Tradisi islam jawa. Yogyakarta. Penerbit Narasi

Penulis: Muhammad Yasir Arafat

(Mahasiswa Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Negeri Salatiga (UIN Salatiga), tinggal di kota Susu New Zealand van Java, Boyolali).

Sumber tulisan: Alif.id

Ibu Dasmi Penderita Stroke Kini Merasa Lega atas Bantuan Kursi Roda dari LPBI PCNU Batang

0

Batang (10/9/2024), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PCNU BATANG menerima laporan dari desa Wonomerto kecamatan Bandar, terkait adanya masyarakat Desa Wonomerto, tepatnya di dukuh Talunpari Karangtengan yang membutuhkan bantuan kursi roda, setelah dilakukan pengecekan oleh Tim Lapangan, LPBI berkoordinasi dengan PCNU Batang dan bantuan tersebut disalurkan pada Senin (9/9/202) kepada warga yang membutuhkan, yakni Ibu Dasmi.

Ibu Dasmi, seorang ibu rumah tangga yang mengalami cobaan berat akibat stroke, kini merasa lega. Kursi roda yang diserahkan secara resmi oleh As Burhan selaku Wakil Ketua PCNU Batang di dampingi Wiyarto selaku Ketua LPBI PCNU Batang diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam penyalurannya, perwakilan PCNU Batang menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan kehadiran PCNU Batang di masyarakat, dan salah satu program gerakan NU peduli ummat.

“Kami merasa terpanggil untuk memberikan bantuan kepada Ibu Dasmi sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan kita. Semoga kursi roda ini dapat membantu Ibu Dasmi dalam proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidupnya,” ujar Bapak AS Burhan.

Wieyarto selaku ketua LPBI PCNU menambahkan bahwa LPBI mengajak masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam program-program kemanusiaan. Dengan demikian, diharapkan kepedulian terhadap sesama dapat menjadi bagian integral dari budaya masyarakat setempat.
“Kegiatan ini semoga menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Kecilnya upaya seseorang dapat memiliki dampak besar dalam membentuk masyarakat yang lebih peduli dan inklusif,” ujarnya.

Ibu Dasmi, yang masih dalam proses rehabilitasi, tampak bersyukur dan terharu atas bantuan yang diterimanya. “Terima kasih kepada PCNU Batang dan semua orang yang telah membantu. Kursi roda ini akan sangat membantu saya dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Semoga kebaikan ini mendapatkan balasan yang berlipat ganda,” ungkap Ibu Dasmi dengan mata penuh haru.

Pewarta: Slamet Nurchamid