Jumat, April 10, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 39

Menuju Pemilu 2024, Berikut Pedoman Politik Warga NU

0
Ilustrasi Pemilu. sumber: Merdeka.com

NU Batang
Masyarakat Indonesia akan melaksanakan Pemilu pada tahun 2024 mendatang. Berbicara tentang Indonesia tak bisa terlepas dari warga Nahdlatul Ulama (NU). NU memang sulit dipisahkan dari dunia politik, karena organisasi ini sudah puluhan tahun berkutat di dalamnya. Namun berpolitik menurut NU memiliki kriteria dan tujuan sendiri, bukan dilakukan dengan segala cara hanya sekedar untuk meraih kekuasaan.

Dalam Muktamar ke-28 yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1989) dirumuskan Sembilan Pedoman Politik Warga NU, yaitu garis-garis Pedoman untuk melangkah bagi kaum Nahdliyin yang menerjuni dunia politik.

Pertama, Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur lahir dan batin dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan kehidupan di akhirat.

Ketiga, Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama.

Keempat, Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika dan budaya yang berketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijakasanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama. 

Keenam, Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlakul karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Ketujuh, Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan.

Kedelapan. Perbedan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadlu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga dalam berpolitik itu tetap dijaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Kesembilan, Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal balik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisiasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan.

Sumber: – https://www.nu.or.id/fragmen/pedoman-berpolitik-warga-nu-3MqAg
– Buku I Antologi NU

Mengenal KH Fakhruddin Banjarwaru, Sosok Kiai Kampung Kharismatik yang Sederhana

0
Foto: Ilustrasi Sang Kiai

NU Batang
KH Fakhruddin adalah sosok kiai kampung yang sangat sederhana dan cukup kharismatik di mata masyarakat sekitar. Beliau adalah pendiri Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Banjarwaru yang kala itu adalah madin terbesar di Kecamatan Bawang. Saat itu santri di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Banjarwaru mencapai 600 (enam ratus)an. Sekarang, hampir setiap kampung sudah terdapat madrasah diniyah, dan semua itu merupakan buah hasil dari didikan KH Fakhruddin alias mutakhorrijin atau alumni Madin Miftahul Ulum Banjarwaru.

Beliau sangat aktif di bidang sosial keagamaan NU (Nahdlatul Ulama). Disamping itu, beliau juga sangat dekat dengan dunia pesantren. Hal itu dikarenakan beliau merupakan alumni Pondok Pesantren Annur Kersan Pegandon yang diasuh oleh KH Ahmad Nur Fatoni. KH Fakhruddin kurang lebih nyantri di pondok tersebut selama 13 tahun sehingga beliau sangat dekat dengan keluarga ndalem (keluarga kiai). Sewaktu beliau di pondok, beliaulah yang mengasuh putra kiai yaitu KH Subkhan Nur yang konon adalah penerus pengasuh Pondok Pesantren Kersan Pegandon Kendal dan saat ini sudah dilanjutkan oleh cucunya. Hingga saat ini keluarga besar KH Fakhruddin masih sangat dekat dengan keluarga Pondok Kersan. Maka dari itu, sosok Kiai Fakhruddin menjadi sangat menarik untuk di kaji dalam penulisan ini.

Riwayat hidup KH Fakhruddin

KH Fakhruddin lahir di Batang, 17 Mei 1931 M dari pasangan KH Hasan dan Hj Aisyah. Beliau wafat pada 19 September 2003 M atau 22 Rajab 1424 H. Beliau di makamkan di TPU Banjarwaru. KH Fakhrudin adalah anak ke tiga dari sembilan bersaudara yang mayoritas adalah petani kecuali satu saudaranya yang berprofesi pedagang yakni KH Rohmat adik kandung ke delapan.

KH Fakhruddin menikah dengan Hj Khomsatun dan dikaruniai 12 orang anak dan yang masih hidup sampai saat ini adalah 7 anak, yaitu: 1) Hj Badriyah, 2) KH Masrur Fakhruddin (ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Bawang), 3) Kiai Masrokhan, 4) Mutiah, 5) Mustofiyah, 6) Ky Nikmarofik, 7) Siti Aisyah.

Riwayat pendidikan

KH Fakhrudin mengawali pendidikannya di Madrasah non formal/Pondok Pesantren di Desa Pabelan Kecamatan Bawang (sekarang desa tersebut sudah tidak ada penghuninya dan sudah berubah menjadi persawahan) kurang lebih sekitar tahun 1938-1940. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) zaman penjajahan Jepang, namun beliau hanya 2 (Dua) tahun di sekolah rakyat 1940-1942 di Desa Jlamprang. Setelah itu, KH Fakhruddin melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Annur Kersan Pegandon Kendal 1942-1952.

Pengalaman organisasi

KH Fakhruddin merupakan sosok kiai kampung yang pada saat itu hanya berkutat di daerah setempat, sehingga untuk pengalaman organisasinnya beliau hanya sampai pada tingkat kecamatan saja. Walaupun seperti itu, sosoknya yang sangat kharismatik tetap menjadi panutan bagi banyak orang. Saat KH Fakhruddin berada di pondok pesantren, beliau aktif di organisasi yang berhubungan dengan NU, salah satunya adalah GP Ansor (saat itu belum ada IPNU-IPPNU).

Setelah pulang dari pondok pesantren tahun 1952, beliau tetap aktif melanjutkan di organisasi sayap NU yakni GP Ansor. Kemudian berlanjut sampai beliau sepuh tetap selalu berhidmat terhadap organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Beliau menjabat sebagai Mustasyar MWC NU Bawang tahun 2003 sampai wafat.
Beliau juga pernah menjadi pengurus KBIH NU Kecamatan Bawang tahun 2002, beliau juga aktif di organisasi perkumpulan ustadz/ustadzah Madrasah Diniyah se kecamatan Bawang yang saat itu diketuai oleh Drs KH Muh Hasyim Asy’ari, BA.

Selain itu, beliau juga aktif di organisasi NU Ranting Wonosari Bawang. Beliau juga merupakan salah satu pencetus kegiatan selapanan NU Ranting Wonosari Bawang yang hingga saat ini kegiatan tersebut masih dilestarikan dan dilanjutkan oleh Jam’iyyah NU Ranting Wonosari Bawang. Selapanan Kamis Wage yang awalnya diadakan setiap malam kamis wage ini, seiring berjalannya waktu, sekarang kegiatan tersebut dirubah menjadi sore hari setiap kamis wage.

Pengalaman pekerjaan

Setelah pulang dari pondok pesantren tahun 1952 KH Fakhruddin bekerja sebagai petani utun (mligi). Disamping pekerjaan utamanya itu, beliau adalah petani yang kesehariannya tidak pernah lepas dari urusan sosial keagamaan.
Setiap hari sehabis subuh beliau mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak di masjid kecuali setiap hari Jumat. Beliau juga memimpin kuliah subuh kajian Tafsir Al-Qur’an Jalalain (umum).

Setelah selesai dari masjid, beliau lantas pulang untuk sarapan lalu melanjutkan pekerjaan utama beliau yaitu ke sawah untuk bertani/bercocok tanam sampai menjelang waktu dzuhur. Setelah dzuhur, beliau melanjutkan aktivitas untuk mengajar di Madin Miftahul Ulum Banjarwaru sampai waktu asar. Setelah jama’ah shalat asar, beliau kembali ke sawah. Beliau juga tidak lupa mutholaah kitab sampai maghrib tiba. Sehabis maghrib, beliau mengajar anak-anak lagi sampai waktu isya’ tiba, sehabis jama’ah isya’ beliau kembali mengajar anak-anak sampai jam sembilan malam.

Disamping kegiatan beliau sehari-hari seperti di atas, beliau juga aktif dibidang organisasi sosial keagamaan, baik di Ranting NU, MWC NU, IPHI, juga Jam’iyyah Thoriqoh Almu’tabaroh dan lain sebagainya. Karena jiwa dan raga beliau sudah diinfakkan untuk kegiatan sosial keagamaan, terkadang istrinya sampai protes karena merasa bahwa sang suami kurang perhatian terhadap keluarga, sampai-sampai urusan keuangan pun dipegang oleh istrinya (Hj Khomsatun).

Suatu ketika, istrinya (Hj Khomsatun) jatuh sakit dan kritis sehingga tetangga ramai berduyun-duyun menjenguk ke rumah. Namun, pada saat itu KH Fakhruddin tetap istiqomah mengajar anak-anak di masjid karena menjalankan tugas sehari-harinya. Pada saat acara selapanan kamis wage kondisi cuaca sedang sangat buruk, angin ribut, atap rumah banyak yang jatuh, pohon-pohon banyak yang tumbang. Akan tetapi, beliau tetap berangkat menghadiri acara selapanan tersebut. Ketika beliau berangkat, beliau harus melewati jalur kebun yang sepi dan sangat gelap, sehingga istrinya menangis karena khawatir jika terjadi sesuatu dengan KH Fakhruddin.

Peninggalan dan karya KH Fakhruddin

  1. Pendiri Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Banjarwaru Bawang 1952.
  2. Salah satu perintis selapanan Kamis Wagean NU Ranting Wonosari + 1977 yang sampai saat ini masih berjalan lancar.
  3. Salah satu pendiri MTs Hasyim Asy’ari Bawang Batang yang berlanjut berdirinya Pondok Pesantren Khusnul Anwar Banjarwaru dan MA Hasyim Asy’ari Bawang Batang oleh putranya yakni KH Masrur Fakhruddin.

Sikap dan watak KH Fakhruddin yang menjadi kebanggaan keluarga

Istiqomah
KH Fakhruddin salah satu kiai yang punya sikap istiqomah dalam hal mengabdikan dirinya untuk sosial dan agama. Tidak peduli cuaca buruk, keadaan sibuk ataupun juga ada keluarga yang sakit beliau tetap mengutamakan kepentingan yang lain. Suatu ketika ada orang yang mengancam akan membunuh beliau karena setiap Jumat selalu mengaji pakai pengeras suara sehingga orang tersebut merasa terganggu dan tersinggung tetapi beliau tetap mengaji dan tidak pernah gentar/mundur untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan motto beliau “Qulil haqqa walau kaana murro”;

Tanggung jawab
Beliau ketika diberi amanah oleh warga selalu berusaha untuk selalu bertanggung jawab melaksanakan amanah tersebut. Suatu ketika beliau dan tetangga-tetangga lain diundang untuk menghadiri acara syukuran di desa sebelah, ternyata semua tetangga yang lain tidak ada yang menghadiri undangannya bahkan tetangga desa yang berketempatan pun tidak ada yang hadir kecuali dari pihak keluarga, sampai-sampai orang bertanya “kok mau-maunya pak KH Fakhruddin berangkat, wong yang dekat saja tidak berangkat”.

Tidak pernah marah apalagi dendam
Tugas beliau adalah berdakwah dan melayani umat. Sindiran, cacian dan lain sebagainya sudah menjadi makanan kesehariannya, namun hal yang menjadikan keluarga bangga adalah karena bapak tidak pernah marah dan putus asa, seperti mengurusi zakat fitrah yang katanya sisa berasnya dimakan sendiri, yang mengurusi akhirussanah madin katanya keuntungannya untuk sendiri.

Penulis : Rizal Maarif
Editor : Muhammad Asrofi

Sumber Referensi :

  1. Hasil wawancara dengan Bapak Masrokhan (salah satu dari tujuh putranya yang masih hidup). Kamis, 18 November 2022
  2. Hasil wawancara dengan Bapak Nikmarofik (salah satu dari tujuh putranya yang masih hidup). Kamis, 18 November 2022

Jelang Pelantikan PAC GP Ansor Limpung, Pembina: Kaderisasi Harus Tetap Berjalan

0
Rapat koordinasi jelang pelantikan pengurus PAC GP Ansor Limpung. (foto: Roni)

Limpung, NU Batang
Menjelang pelantikan pengurus periode 2022 – 2024, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Limpung mengadakan rapat koordinasi pengurus di Gedung Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdhatul Ulama Kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah pada Senin (16/1/2023) malam.

Pada pertemuan itu pembina PAC GP Ansor Limpung Hamam Nasrudin turut hadir. Ia mendorong kepada pengurus baru yang akan dilantik agar program kaderisasi harus tetap berjalan. Karena kaderisasi diibaratkan seperti jantungnya sebuah organisasi. Tanpa adanya kaderisasi akan sulit organisasi dapat bergerak maju.

“Kaderisasi harus tetap berjalan. Dalam organisasi tidak ada ketergantungan dengan satu tokoh saja, tidak ada Ansor H Indi, tidak ada Ansor Hamam. Ansor ya kita semua. Mari kita kawal kepemimpinan sahabat Romli ini supaya Ansor Limpung lebih baik dari sebelumnya,” ujar Hamam demisioner ketua PAC GP Ansor Limpung yang pernah menjabat dua periode itu.

Lebih lanjut, maka kaderisasi harus tetap kita kawal bersama-sama, kita benar-benar mendorong agar kepengurusan sahabat Romli bisa berjalan dengan baik. Hamam juga berpesan kepada pengurus baru agar tidak sekedar nama yang tertera, tapi kontribusi juga ada.

Sementara itu, mandataris ketua PAC GP Ansor Limpung Romli menjelaskan dihadapan peserta rapat koordinasi akan melangsungkan pelantikan pada Sabtu (28/1/2023). Rencanannya pelantikan akan dilakukan di Zieda Resto Bandungan Sukorejo Limpung.

“Kepengurusan baru harus memiliki semangat yang baru. Terkait program kerja dalam dua tahun ke depan tidak harus muluk-muluk, cukup satu atau dua program kerja pada masing-masing bidang yang penting kelakon,” jelas Romli.

H Indiharto selaku pembina yang turut hadir mengatakan pengurus PAC GP Ansor Limpung perlu pengembangan bidang ekonomi agar dalam kegiatan bisa lebih mandiri.
“Kita harus tingkatkan semangat dalam berkhidmat,” katanya dihadapan 31 peserta rapat koordinasi.

Kontributor: Asrofi

LAZISNU Limpung Salurkan Program Pendidikan Total Rp 29 Juta

0
Petugas LAZISNU MWC NU Limpung sedang menyalurkan program pendidikan di salah satu sekolah

Limpung, NU Batang
Memberikan layanan pendidikan kepada pelajar yang berhak menerimanya merupakan harapan bagi banyak orang. Hal ini dilakukan oleh NU Care-Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kecamatan Limpung dengan menyalurkan program pendidikan kepada pelajar-pelajar di sekolah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kecamatan Limpung.

Penyaluran tersebut dilakukan sejak Senin hingga Rabu 9 – 11 Januari 2023 dengan mendatangi masing-masing sekolah. Menurut keterangan Lembaga Amil dibawah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Limpung ini, terdapat 79 penerima bantuan dari 23 sekolah. Penerimanya yaitu MA NU 01 Limpung, MA Takhasus Al-Syairiyah, SMK Farmasi Al-Syairiyah, SMK Ma’arif NU 01 Limpung, MTs NU Al-Syairiyah, MII Babadan, MII Amongrogo, MII Rowosari, MII Sukorejo, MII Donorejo, MII Dlisen, MII Kalisalak, MI Asy-Syairiyah Plumbon, RA Sukorejo, RA Kalisalak, RA Dlisen, RA Sidomulyo, RA Rowosari, RA Babadan, RA Amongrogo, RA Plumbon, TK Dewi Masyitoh Sikebo Limpung, dan TK Dewi Masyitoh Sukorejo.

Direktur LAZISNU MWC NU Limpung Muhamad Sofa mengatakan penyaluran bantuan pendidikan sudah beberapa kali terealisasi. Kali ini penyaluran bantuan pendidikan untuk semester genap tahun pelajaran 2022-2023. Ia juga menegaskan bahwa penerima bantuan ialah bagi yang sangat membutuhkan bantuan.

“Jadi jumlah dana yang dikeluarkan untuk program pendidikan sebanyak Rp 29.580.000,” katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan bantuan yang diterima diharapkan dapat membatu anak-anak dalam melanjutkan pendidikan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang sangat dirasakan oleh anak-anak didik di sekolah serta bantuan dapat dipergunakan sesuai dengan peruntukanya.

“Informasi-informasi dari bapak ibu kepala sekolah sangat kami harapkan dalam kepentingan bantuan pendidikan LAZISNU Limpung untuk menyalurkan bantuan, agar bantuan dari LAZISNU Limpung tidak hanya menyentuh bidang pendidikan tapi dapat menyentuh dibidang dukungan-dukungan yang lain,” pungkasnya.

Pewarta : Yayuk Farida
Editor : Muhammad Asrofi

Sejarah Islam Nusantara

0
Foto : Ilustrasi (Ist)

NU Batang
Islam dibawa oleh Rasulullah SAW sejak abad ke-14 di Arab dengan sumber ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits). Perkembangan Islam ke penjuru dunia tidak dapat dilepaskan dengan dakwah, yaitu mengajak masyarakat untuk mengenal dan memahami ajaran Islam yang mulia.

Model dakwah ini berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat. Sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkan Islam ke masyarakat Arab jahiliyah, sebelumnya masyarakat itu sudah memiliki tradisi atau budaya sebagai norma atau adat istiadat sehari-hari. Ada budaya yang baik, sesuai dengan agama Islam. Ada juga budaya yang kurang atau tidak sesuai dengan Islam.

Misalnya cara berpakaian, Rasulullah SAW tidak menolak cara berpakaian masyarakat Arab waktu itu. Islam memberikan rambu-rambu tentang fungsi pakaian Islam adalah menutup aurat dan tidak dipakai dengan tujuan untuk menyombongkan diri. Mengenai bentuk pakaian bisa berbeda-beda, tergantung kebiasaan di masyarakat.

Menurut KH Afifuddin Muhajir, Islam Nusantara adalah pemahaman, pengalaman, dan penerapan Islam dalam segmen Fiqih muamalah sebagai hasil dialektika antara nash, syariat, urf, budaya dan realita di Nusantara.

Islam disebarkan ke Nusantara melalui berbagai cara dan budaya. Para Walisongo banyak menyebarkan Islam dengan kesenian, misalnya tembang, wayang. Harapannya agar masyarakat Jawa pada saat itu lebih mudah memahami Islam karena disampaikan dengan bahasa dan budaya masyarakat setempat.

Islam hadir di Nusantara sebagai tamu yang pada gilirannya menjadi bagian keluarga. Menurut KH Abdurrahman Wahid, kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hidup di Indonesia. Dengan demikian, ada karakter ke-Indonesiaan atau kenusantaraan dalam diri kita.

Islam Nusantara menunjukkan karakter yang berbeda, tidak seperti Islam yang muncul di wilayah dunia muslim lainnya. Penyebaran Islam di Nusantara melalui proses yang adaptif, menghindari penaklukan secara militer. Islam menyatu dan secara bertahap diserap menjadi budaya lokal yang unggul di Nusantara.

Para penyebar Islam di Nusantara pada zaman dahulu berdakwah dengan memasukkan Islam ke ranah budaya/bahasa lokal. Contohnya adalah model dakwah Sunan Kalijaga yang menjelmakan istilah-istilah kejawen, tetapi sebenarnya berisi Islam. Misalnya Jimat Kalimosodo, Sekaten, Dalang, dan lain sebagainya.

Dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya masyarakat, menjadikan Islam mudah diterima oleh masyarakat yang beragam agama dan kepercayaan. Dalam rentang abad 15-16, Islamisasi di Nusantara telah berhasil mengislamkan masyarakat di wilayah Nusantara, kecuali sebagaian kecil.

Apa yang dilakukan oleh para Walisongo dan para ulama yang menyebarkan Islam di Nusantara sesungguhnya adalah meniru dakwah Rasulullah SAW di masyarakat Arab jahiliyah. Para wali tidak menabrak budaya masyarakat Nusantara, melainkan mengisinya agar sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian Islam mudah diterima oleh masyarakat karena tidak menyerang budaya lokal masyarakat.

Sumber : Buku ke-NU-an MA/SMA/SMK Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Tahun 2022

Perdalam Seni Peran, IPNU dan IPPNU Ranting Pretek Adakan Workshop Teater.

0
Kegiatan Workshop Teater. (Foto: Slamet)

Blado, NU Batang
Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengadakan workshop teater yang dilaksanakan di Dukuh Sangiran Desa Keputon, Blado selama tiga hari, 27 hingga 29 Desember 2022.

Workshop teater merupakan program kerja departemen seni dan budaya untuk memperdalam pengetahuan tentang dunia teater khususnya untuk anggota IPNU dan IPPNU Pretek, Pecalungan. Hal tersebut disampaikan rekanita Hopi selaku Ketua IPPNU dalam sambutannya.

“Alhamdulillah, progam kerja ini bisa terlaksana berkat dukungan dari berbagai pihak dan semangat rekan rekanita yang luar biasa. Harapannya setelah mengikuti kegiatan workshop ini bisa menjadi wadah sekaligus penyalur bakat minat rekan rekanita semua khususnya dalam seni berteater,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kedepan akan muncul aktor-aktor hebat dari rekan rekanita IPNU IPPNU Pretek.

“Setelah mengadakan workshop ini harapannya akan muncul pemain pemain teater hebat dari Desa Pretek dan yang paling penting setelah ini kita akan mengadakan teater keliling lagi,” tambahnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari anggota Lesbumi yang hadir dalam kesempatan itu.
“Saya sangat mengapresiasi yang sebesar-besarnya kepada PR. IPNU IPPNU Pretek yang sudah mengadakan workshop teater, ini bisa menjadi pemantik pegiat seni teater di kabupaten Batang lebih hidup lagi dan menjadi contoh yang lainnya,” kata Muluk Keliq.

Kegiatan workshop ini bekerjasama dengan pegiat seni komunitas 7 pemuda desa dan mengundang Lukman dari anggota Dewan Kesenian Batang. Materi yang diberikan kepada para peserta tentang manajemen tetaer, keaktoran dan artistik.

Pewarta : Dewi
Editor : Asrofi

75 Calon Pengurus PAC IPNU dan IPPNU Limpung Dilatih Manajemen Organisasi

0
Calon pengurus PAC IPNU dan IPPNU Limpung pose bersama usai pelatihan. (Foto: Huda)

Limpung, NU Batang
Sebanyak 75 calon pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Limpung digembleng untuk mengikuti pelatihan manajemen organisasi pada Sabtu (31/12/2022).

Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Limpung merupakan kegiatan keberlanjutan organisasi setelah Konferensi XV pada (27/11) terpilihnya Susilo sebagai ketua IPNU dan Iqlimatul Azka sebagai ketua IPPNU Kecamatan Limpung.

Sebelum dilantik dengan menyiapkan sumber daya manusia dahulu atau calon pengurus harapan ke depannya dapat memajukan organisasi. Hal tersebut diungkapkan mandataris Ketua PAC IPPNU Limpung periode 2022 – 2024, Iqlimatul Azka saat diwawancara.

Menurut Azka, pelatihan ini dilakukan untuk menyiapkan calon pengurus yang berkompeten dalam mengelola organisasi pelajar NU Limpung selama satu periode atau dua tahun kedepan. Calon pengurus PAC IPNU dan IPPNU Limpung diambil dari unsur orang-orang yang ada di ranting atau desa dan komisariat atau sekolah naungan ma’arif.
“Harapan saya semoga calon pengurus PAC IPNU dan IPPNU Limpung dapat menambah semangat dan termotivasi dengan yang disampaikan oleh pemateri,” kata Azka.

Dalam pelatihan itu menghadirkan dua narasumber yaitu Akhmad Jazuli Ketua PAC IPNU Limpung periode 2016 – 2018. Ia memberikan materi Manajemen Organisasi. Narasumber kedua yaitu Candra Yudha pengurus Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Batang yang menyalurkan materi Strategi Planning.

“Saya merasa sangat senang dan bangga karena IPNU dan IPPNU Limpung masih ada dan jumlahnya meningkat. Insya Allah ke depan PAC IPNU dan IPPNU Limpung akan meroket dibanding pengurus sebelumnya apabila memliki semangat yang tinggi, konsistensi dan kerjasama yang baik,” ungkap Jazuli selaku pembina.

Dalam kesempatan itu Ketua PC IPNU Batang Shaiful Bahri, Ketua PC IPPNU Batang Lies Naeni dan para pembina PAC IPNU dan IPPNU Limpung turut hadir dan mendampingi selama acara.

Kontributor : Asrofi

Jaga Eksistensi, PAC IPNU dan IPPNU Bawang Gelar Pelajar NU Cup 3

0
Pembukaan Pelajar NU Cup 3 PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Bawang

Bawang, NU Batang
Perhelatan Pelajar NU Cup kembali digelar oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Perhelatan Pelajar NU Cup 3 ini diselenggarakan di Gor Triumphant Futsal Bawang, yang beralamat di Jl.Walisongo, Bantir, Bawang, Batang. Berlangsung selama 2 hari, Selasa hingga Rabu, (27-28/12/2022).

Diketahui, event Pelajar NU Cup dalam bentuk turnamen futsal ini merupakan event tahunan dan program unggulan yang diselenggarakan oleh PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Bawang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada event kali ini peserta tidak hanya berasal dari kalangan pelajar NU, namun juga diikuti oleh pelajar umum se-Kabupaten Batang.

“Ajang perhelatan Pelajar NU Cup 3 ini tidak hanya untuk kalangan IPNU & IPPNU saja, namun untuk usia pelajar umum se-Kabupaten Batang, tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada mereka bahwa IPNU dan IPPNU itu eksis,” tutur Ulinuha Ketua PAC IPNU Kecamatan Bawang.

Menurutnya, tujuan adanya kegiatan ini selain sebagai ajang silaturrahmi, juga sebagai wadah kegiatan positif di kalangan pelajar masa kini. “Tujuan lainnya kita juga mewadahi para pelajar untuk mengembangkan bakat dan minatnya dengan cara mengikuti kegiatan positif dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang baik di kalangan pelajar itu sendiri,” lanjutya.

Ketua Panitia Adi Pujianto mengemukakan, “Turnamen Futsal diikuti oleh 23 tim, dengan total hadiah 2.500.000 dan trofi, dengan perolehan juara yaitu juara 1 Losskita, juara 2 SMK Marif NU Limpung, juara 3 bersama PSB Kandeman dan PP Darussalam Bawang,” ucapnya.

Ia juga turut berterimakasih kepada semua peserta yang sangat antusias mengikuti kegiatan ini, dan kepada segenap donatur, sponsor, dan semua pihak yang telah mensukseskan acara. Dan harapannya kedepan, seluruh panitia dapat mempertahankan kerjasama yang baik ini.

Pewarta : Solekha
Editor : Asrofi

Inilah Juara Umum 5 Besar Porsema VIII Jenjang SLTP dan SLTA Tingkat Kabupaten Batang

0
Penjabat (Pj) Bupati Batang Lani Dwi Rejeki (kiri), mengalungkan tanda kartu peserta saat pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) Ke-8 di Alun-Alun Kabupaten Batang, Selasa (20/12/2022). (Foto: InfoPublik)

Batang, NU Batang
Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) VIII Tingkat Kabupaten Batang yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang selesai dilaksanakan pada 21-22 Desember.

Porsema untuk jenjang Mts/SMP dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussalam Subah, Batang. Sedangkan jenjang MA/SMA/SMK dipusatkan di Bandar.

Kegiatan dua tahunan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjaring bakat atlet-atlet dari sekolah di naungan Ma’arif. Porsema VIII ini mempertandingkan 18 Cabang Olahraga yang terdiri dari olahraga umum, seni dan lomba dakwah Islam.

Pada jenjang Mts/SMP juara lima besar urutan pertama diraih oleh Mts Al Syairiyah Limpung dengan mendapatkan 6 emas, 6 perak, dan 5 perunggu dengan hasil tersebut kemudian Mts Al Syairiyah mendapat predikat juara umum Prosema VIII tingkat Kabupaten Batang Tahun 2022.

Juara umum urutan kedua yaitu Mts Nurussalam Tersono mendapatkan 4 emas, 4 perak, dan 8 perunggu. Urutan ketiga Mts Darussalam Subah mendapatkan 3 emas, 7 perak, dan 5 perunggu. Urutan keempat Mts Darul Ishlah Bandar mendapatkan 3 emas, 5 perak, dan 1 perunggu. Urutan kelima yaitu Mts Nurul Huda Banyuputih mendapatkan 3 emas, 2 perak dan 7 perunggu.

Sementara itu, untuk jenjang MA/SMA/SMK predikat juara umum diraih oleh SMA Wahid Hasyim Tersono dengan meraih 5 emas, 3 perak dan 1 perunggu. Urutan kedua SMK Ma’arif NU 01 Limpung yang meraih 4 emas, 3 perak dan 4 perunggu.

Urutan juara umum ketiga diraih MA NU 01 Banyuputih dengan hasil 3 emas, 6 perak dan 1 perunggu. Urutan keempat MA Sunan Kalijaga Bawang dengan hasil 3 emas, 4 perak dan 3 perunggu. Urutan kelima SMK NU Bandar 3 emas dan 2 perak.

Atlet yang meraih emas atau juara 1 akan lanjut berkompetisi pada Prosema tingkat Provinsi Jawa Tengah mendatang.

Kontributor : Asrofi

Porsema Jadikan Wadah Pencarian Atlet Berbakat di Batang

0
Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki di dampingi Muspida, Ketua Tanfidziyah PCNU Batang H Achmad Taufiq, Ketua LP Ma'arif Batang H Ali Sodiqin dan Kiai H Abdul Syakur membuka kegiatan Porsema ke-8. (foto: InfoPublik)

Batang, NU Batang
Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Batang menggelar Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) Ke-8 di Alun-Alun Batang, Kabupaten Batang, Selasa (20/12/2022).

Kegiatan dibuka secara langsung oleh Penjabat (Pj) Bupati Batang Lani Dwi Rejeki. Porsema diikuti jenjang pendidikan MTs/SMP dan MA/SMA/SMK naungan LP Ma’arif NU Kabupaten Batang.

Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki mengatakan, proses pencarian bakat dan kreativitas siswa melalui Porsema ini, merupakan bagian dari upaya menumbuhkan iklim kompetitif di kalangan siswa, disamping mengukur capaian prestasi belajar.

“Kegiatan Porsema ini diselenggarakan dalam 2 tahun sekali dari tingkat Kecamatan sampai Pusat yang membentuk siswa untuk wahana penyaluran bakat dan minat kemampuannya,” jelasnya.

Melalui seleksi Porsema ini, bertujuan mencari bakat atlet-atlet yang berprestasi supaya bisa menjadikan kebanggaan kita bersama.

Jika, lanjut dia, nantinya banyak atlet yang bermunculan dari Porsema, maka bisa menjadi acuan Pemkab Batang memilih atlet untuk dikirimkan ke tingkat nasional hingga internasional.

“Momentum ini juga bagian dari meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Batang di bidang non akademik yang memang sekarang juga sudah menjadi prioritas utama,” ujar dia.

Porsema kali ini terdapat 18 Cabang Olahraga yang terdiri dari olahraga umum, seni dan lomba dakwah Islam. Selain itu, dari ajang ini diharapkan lahir para atlet-atlet baru di lingkungan Ma’arif yang akan berjuang mengharumkam bangsa. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)

sumber : InfoPublik