Jumat, April 10, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 41

Resmi Terpilih, Komandan CBP dan KPP Banyuputih Ajak Anggotanya Jadi Kader Militan

0
Alif Alfian komandan CBP terpilih sedang memberikan sambutan. (foto: Bagas)

Banyuputih, NU Batang
Alif Alfian dan Azimatun Nafiah resmi terpilih menjadi komandan Dewan Koordinasi Anak Cabang (DKAC) Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) Kecamatan Banyuputih masa khidmat 2022 – 2024.

Hasil suara dari pemilihan komandan yang diselenggarakan pada Selasa (15/11) bertempat di Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Banyuputih. Rekan Alif mendapatkan 13 suara dari 20 suara. Pada tempat yang sama, rekanita Azim mendapatkan 15 suara dari 19 suara.

Pemilihan komandan ini diikuti oleh seluruh pengurus DKAC CBP dan KPP Kecamatan Banyuputih, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Banyuputih serta Alumni Pendidikan dan Pelatihan Pertama (Diklatama) VI Banyuputih.

Komandan CBP terpilih Alif Alfian mengajak kepada anggotanya agar bisa mengembalikan marwah CBP dan KPP menjadi kader yang militan, serta memajukan DKAC CBP dan KPP Kecamatan Banyuputih lebih baik lagi.

“Marilah kita kembalikan marwah CBP dan KPP agar menjadi kader yang militan serta memajukan DKAC CBP dan KPP menjadi lebih baik lagi,” ujar Ndan Alif anggota Dewan Koordinasi Cabang (DKC) CBP Kabupaten Batang.

Hal itu senada dengan yang disampaikan oleh Azimatun Nafiah Komandan KPP terpilih dalam sambutannya memohon kepada seluruh pengurus DKAC CBP dan KPP Kecamatan Banyuputih untuk bekerja sama dalam memajukan DKAC CBP dan KPP Kecamatan Banyuputih.

“Saya meminta kepada seluruh pengurus DKAC CBP dan KPP Kecamatan Banyuputih agar bekerja sama dalam memajukan DKAC CBP dan KPP Kecamatan Banyuputih,” ujar Ndan Azim kader asal Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Desa Luwung.

Pewarta : Bagas Adiakso
Editor : Asrofi

MA NU 01 Banyuputih Raih Juara Umum ke-3 GTPP VI UIN Gus Dur Pekalongan

0
Kontingen MA NU 01 Banyuputih

NU Batang
Setelah kurang lebih dua tahun tidak mengikuti kompetisi bidang kepramukaan karena adanya pandemi, Pramuka Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) 01 Banyuputih Kabupaten Batang mengeluarkan kemampuannya dengan mengikuti lomba Pramuka di kampus II (dua) Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan selama dua hari, sejak Sabtu hingga Ahad (5-6/11/2022).

Lomba yang dikemas dengan tajuk Gladi Tangguh Pramuka Penegak (GTPP) ini merupakan kegiatan ke VI yang dilaksanakan dua tahun sekali oleh Pramuka Racana UIN K.H. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan UIN Gus Dur. Menurut keterangan dari panitia pelaksana, perlombaan ini diikuti oleh 11 kontingen dari sekolahan SLTA yang berada di wilayah Kabupaten/Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang. Terdapat 6 cabang lomba yang dipertandingkan yaitu lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB), lomba Smart Scout Competition (SSC), lomba Pionering, lomba Reportase, lomba Maket Bumi Perkemahan dan lomba Semaphore Dance.

Dari 11 kontingen yang turut berkompetisi, MA NU 01 Banyuputih sukses berhasil mendapatkan prestasi. Pradana putra, Hisyam Naufan Maulana mengungkapkan persiapan yang dilakukan untuk mengikuti lomba tersebut sekitar satu bulan lebih. Pramuka MA NU 01 Banyuputih berhasil meraih juara 2 lomba Pionering, juara 2 lomba Reportase, juara 3 lomba PBB dan mendapat predikat juara umum ke-3 GTPP.

Mengetahui hal itu, kepala MA NU 01 Banyuputih, Mukhsin, S.Ag., M.Pd.I mengucapkan selamat kepada anak-anak Pramuka Dewan Ambalan Hasyim Asy’ari Rasuna Said MA NU 01 Banyuputih, yang pada kegiatan GTPP VI sudah mengikuti lomba Pramuka dan mendapatkan prestasi.

“Selamat atas prestasi yang sudah diraih, walaupun mungkin belum mendapat juara yang maksimal atau juara satu. Namun kami berikan apresiasi yang setinggi tingginya-tingginya karena sudah berhasil meraih juara di ketegori juara 2 lomba Pionering, juara 2 lomba Reportase, juara 3 lomba PBB dan mendapat predikat juara umum ke-3 GTPP. Artinya itu sudah membanggakan,” kata Mukhsin.

“Saya selaku kepala MA NU 01 Banyuputih mengucapkan banyak terima kasih, mudah mudahan prestasi itu menjadi pemicu kita untuk lebih baik lagi kedepan. Semangat untuk lebih baik lagi,” sambungnya.

Mukhsin berharap, lebih semangat lagi untuk berkarya meraih prestasi karena di Pramuka itu bisa sebagai bekal untuk anak-anak dalam kedisiplinan, kemudian melatih jiwa patriotisme, nasionalisme.

“Jadi harapan kedepan Pramuka di MA NU 01 Banyuputih semakin baik dan harapannya dapat meraih juara yang lebih baik lagi,” harapnya.

Sementara itu, Pembina putri, Maghfirotul Hardikaningrum, S.Pd mengatakan akan memberikan apresiasi kepada anak-anak yang sudah berjuang dari tenaga dan pikirannya, sehingga bisa membuahkan hasil juara.
“Kedepannya untuk latihan Pramuka di MA NU 01 Banyuputih selain pendidikan karakter juga akan diarahkan latihan untuk menghadapi lomba-lomba berikutnya,” katanya.

Siswa MA NU 01 Banyuputih yang mengikuti lomba GTPP VI yaitu Hisyam Naufan Maulana, Ahda Fatan Zidni, Muhammad Zulfikar, Farid Fatkhammubina, Ali Listiawan, Faldy Cahya An Nizam, M Agung Tri P, Bima Al Farizi, Adkhan Zahriyan, Andina Lia Rasti, Hana Durotun Naseha, Arifa Nur Maida, Fasilatur Rohimah, Wiwit, Alviana Nurul Rachmatika, Nazwa Kaila Anindia, Anggita Intan Aulia Putri, Silva.

Editor : Asrofi

Gelar Silatnas 3, Para Bu Nyai Bahas Aneka Masalah di Pondok Pesantren Putri

0

NU Batang
Akhir-akhir ini dinamika persoalan mencuat mengitari Pondok Pesantren. Diantara persolan bullying dan perilaku asusial. Pilihan model pengasuhan positif bagi santri yang lebih manusiawi perlu disuarakan Bu Nyai sebagai ibu santri di Pondok Pesantren. Kekerasan sebagai persoalan, seringkali muncul karena pilihan model pengasuhan yang kurang tepat. Padahal pengasuhan menjadi ciri Pondok Pesantren, bahkan hanya Pondok Pesantren yang menyebut pemimpinnya sebagai Pengasuh.

Selain itu, persoalan perilaku asusila pada santri putri. Bu Nyai melihat perhatian publik cenderung kepada pelaku. Pelaku dihujat, pemerintah turun tangan, norma hukum ditegakkan. Ketika pelaku dijatuhi hukuman berat, masyarakat merasa sudah puas.

Padahal yang harus lebih diperhatikan adalah korbannya. Si korban sudah pasti menjadi terganggu kegiatan belajarnya, kacau jadwal ngajinya. Juga menderita tekanan batin alias trauma kejiwaan yang sangat berat.

Pemerintah maupun LSM, sangat terbatas aksesnya memberi advokasi. Satu-satunya pihak yang paling dekat pada masalah tersebut dalam lingkungan tinggal korban yakni pondok pesantren adalah Ibu Nyai.  Pengasuh pesantren putri inilah yang kemudian hadir untuk berusaha mengatasi masalah tersebut sebagai seorang ibu yang berjuang selama dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu untuk anak-anaknya dalam hal ini santri-santri putrinya.

Para pengasuh pesantren putri disebut Bu Nyai dalam naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), yaitu lembaga NU yang mengurusi Asosisasi Pondok Pesantren, akan membahas segala persoalan pesantren putri dan peran Bu Nyai sebagai ulama perempuan dalam acara Silaturahim Nasional Ketiga (Silatnas 3) Bu Nyai Nusantara, di Hotel Patra Semarang, Senin hingga Selasa (7-8/11/2022).

KH. Nor Machin Chudlori selaku Ketua RMI PWNU Jateng merasa senang dan terhormat bisa menjadi bagian penyelenggara kegiatan ini.

“Kami mengucapkan selamat datang Bu Nyai dari berbagai daerah se-Nusantara di Semarang. Ahlan wasahlan atas kerawuhan Bu Nyai yang telah mau meluangkan waktu untuk bersilaturahim,” papar Gus Machin sapaan akrab.

Tentu tidak hanya sekadar bertemu. Selanjutnya harus ada rumusan pemikiran yang memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pondok pesantren khususnya dibawah naungan Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Silatnas Bu Nyai Nusantara Pertama (2019) di Surabaya yang dilaksanakan oleh RMI PWNU Jawa Timur dan Silatnas Bu Nyai Nusantara Kedua (2021) di Lampung.

Wakil Ketua Panitia Silatnas 3 Bu Nyai Nusantara, Nyai Hajjah Royannach Ahal mengatakan, tanggungjawab mengasuh santri putri jauh lebih berat dari santri putra.
“Santri putri punya masalah lebih banyak, dan penanganannya lebih sulit daripada santri putra,” ujar Pengasuh Ponpes Putri Permata, Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah ini.

Bu Nyai asal pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Jawa Barat yang yang akrab dipanggil ning Yannah ini memberi contoh. Ketika terkena perundungan, butuh waktu lama menyembuhkan trauma korbannya.

“Kalo santri putra, ada yang diejek sampai berkelahi, mudah selesai rukun kembali. Sedangkan santri putri, diejek temannya, bisa ngambek tak mau mengaji berhari-hari bahkan memutuskan keluar dari pondok pesantren,” tutur istri Kiai Mujibur Rachman Ma’mun Kajen, Pati ini.

Ia lanjutkan, terkadang ditemukan santri putri melanggar aturan atau nakal misalnya, mengatasinya tidaklah mudah. Bisa tidak mempan ditakzir (diberi sanksi oleh pengurus). Harus memakai pendekatan khusus yang hanya bisa dilakukan oleh wanita kepada wanita, ibu kepada putrinya.

“Santri putri bermasalah di pondok, kerapkali setelah ditelusuri sumber masalah awalnya dari rumah,  karena bapak dan ibunya tidak rukun atau broken home begitu, disitulah kemudian bu nyai ikut serta berperan mengisi kekosongan tsb untuk santri putri yang merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya” tutur Yannah usai rapat panitia panitia Silatnas 3 Bu Nyai Nusantara di hotel Pandanaran di Semarang, Jum’at, (4/11/2022).

Dia beberkan, Silatnas 3 ini juga akan dimeriahkan pameran produk usaha kecil baik berupa makanan, minuman , desain pakaian muslimah dan jilbab hasil karya para pengasih perempuan pesantren atau para Ibu Nyai.

Dari bazar dan exhibition perempuan pesantren tersebut diharapkan akan menjadi awal yang baik sehingga terjalin program berkelanjutan bagi ekonomi kreatif mandiri perempuan pesantren dibawah naungan RMI NU, sehingga itu dianggap bagian penting untuk penguatan ekonomi kreatif yang perlu dibahas dalam salah satu Halaqoh yang ada dalam rangkaian acara Silatnas 3 Bu Nyai Nusantara.

Editor : Asrofi

NU Batang Siap Membina Kader di Sektor Media

0
Kegiatan Pelatihan Desain Grafis LTN PCNU Batang (foto: Irvan)

NU Batang
Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang bersama-sama menggerakan pengkaderan di bidang media. Hal tersebut dibuktikan telah terselenggaranya Pelatihan Desain Grafis yang bertajuk, “Mengembangkan Skill Design Nahdliyin di Era Masyarakat 5.0”, bertempat di SMK Al-Syairiyah, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Pelatihan ini dilaksanakan  selama dua hari, pada Sabtu sampai Minggu (29-30/10).

Pada pelatihan tersebut mendatangkan dua narasumber yang berkompeten di bidang desain grafis, yakni Sofyan Ari Setiawan, founder Sinau Desain Community dan Wijayanto, Multimedia Content Stategist dan Blogger Since 2009 sekaligus pengurus Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah. Pelatihan desain grafis yang diselenggarakan LTN NU Batang ini berlangsung tertib dengan diikuti sebanyak 32 peserta delegasi dari masing-masing Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) se-Kabupaten Batang.

Pelatihan desain grafis merupakan wadah kaderisasi supaya LTN NU Batang semakin berkembang, bersinergi dengan seluruh Badan Otonom (Banom) NU diantaranya Lembaga Pers dan Penerbitan (LPP) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Batang, GP Ansor, Fatayat NU, dan Muslimat NU. Hal tersebut disampaikan oleh Ahmad Munir Malik, Sekretaris PCNU Kabupaten Batang.

“Masing-masing kader mempunyai potensi di media, termasuk bidang desain grafis. Tapi memang membutuhkan keyakinan dengan meluangkan waktu untuk belajar,” jelasnya pada sela-sela sambutan.

Ahmad Munir Malik menambahkan, peserta desain grafis harus antusias berproses. Dunia digital tidak mungkin bergerak sendiri tanpa orang yang mengoprasikan media tersebut. Pelatihan desain grafis ini wujud upaya mencari kader yang berkompeten mengoprasikan media NU Batang di masa yang akan datang.

Sementara itu, Jabir Al-Faruqi, Ketua LTN PCNU Kabupaten Batang mengatakan bahwa pelatihan desain grafis tidak sesederhana melaksanakan pelatihan selama dua hari secara berturut-turut. Terdapat rencana tindak lanjut dengan pembinaan secara berkala sebagai pelopor di bidang media di daerahnya masing-masing.

Lebih lanjut, LTN PCNU akan mengadakan up grade dan konsolidasi setiap tahun untuk mengawal proses supaya kualitas semakin meningkat.
“Aktivis NU perlu membangun kesadaran bersama bahwa kualitas dapat meningkat apabila berproses dengan telaten, meskipun harus merintis dari awal,” ucap Jabir.

Jabir mengungkapkan, pelatihan ini sebelumnya pernah terlaksana pada dua tahun lalu tetapi dalam bentuk pelatihan jurnalistik. Memiliki tujuan serupa, yakni membekali kemampuan kader-kader NU di sektor media di era masyarakat 5.0.
“Kalau ingin jadi desainer harus siap berproses tidak instan,” pungkasnya.

Kontributor : Septy Aisah
Editor : Asrofi

Pelatihan Desain, LTN NU Batang Cetak 32 Pejuang Sektor Media

0
Peserta Pelatihan Desain Grafis (foto: Anif)

NU Batang
Salah satu lembaga NU yang bertugas di bidang kepenulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab atau buku serta media informasi menurut faham Ahlussunnah wal Jamaah yakni Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang, menyelenggarakan Pelatihan Desain Grafis selama dua hari yang diikuti sebanyak 32 peserta.

Pelatihan dengan mengangkat tema “Mengembangkan Skill Design Nahdliyin di Era Masyarakat 5.0” dilaksanakan pada Sabtu – Ahad (29-30/10/2022) yang terpusat di SMK Al Syairiyah Limpung, Batang. Pada kegiatan tersebut panitia mendatangkan dua narasumber yang berkompeten dalam bidang Desain Grafis, yaitu Wijayanto pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah dan Sofyan Ari Setiawan pengurus PAC GP Ansor Banyuputih sekaligus Founder Sinau Desain Community.

Ketua LTN PCNU Batang, Jabir Al Faruqi mengungkapkan pelatihan desain ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membekali kemampuan digital kader-kader Nahdlatul Ulama di Kabupaten Batang. Peserta selain mendapatkan materi juga melakukan praktik membuat karya desain. Peserta pelatihan ini merupakan perwakilan delegasi dari Majelis Wakil Cabang NU se-Kabupaten Batang.

“Kalau anda ingin menjadi sesuatu maka anda harus bersungguh-sungguh dan harus mencatatkan sesuatu itu. Kalau anda ingin menjadi jurnalis maka anda harus dikenal dengan jurnalis. Kalau anda ingin menjadi desainer maka anda harus dikenal sebagai desainer. Orang bisa disebut desainer, karena orang itu benar-benar tekun dan ahli dalam bidang tersebut. Ini yang perlu kita tanamkan,” ujar Jabir saat memberikan motivasi dihadapan para peserta.

Mantan Ketua PW Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah juga memberikan pesan kepada peserta pelatihan agar terus berkarya.
“Harapannya walaupun ini pendek, selalu bisa berproses. Anda bisa berkarya kapanpun dan lewat manapun. Syaratnya istiqomah, dilakukan secara terus menurus. Sehingga karyamu terus meluas. Dibiasakan setiap minggu membuat karya desain,” tutur Jabir.

Lebih lanjut, ia menekankan kepada para peserta setelah pelatihan ini, peserta akan menjadi pejuang sektor media di wilayahnya masing-masing.

Pengurus LTN PCNU Batang, Gus H Zaimuddin Ahya turut mendampingi peserta Pelatihan Desain Grafis dari awal sampai selesai. Ia mengatakan setelah pelatihan ini kita belum selesai. Peserta yang sudah dilatih pada kegiatan ini tetap berlanjut di forum grub WhatsApp.

“Perlu kolaborasi antara berita dengan desain, karyanya nanti bisa dikirim ke grub lalu mas Wish (sapaan akrab Wijayanto) dan mas Sofyan selaku pemateri nanti bisa mengoreksi dan memberikan komentar agar menjadi lebih baik,” kata Gus Zaim.

“Setelah ini teman-teman bisa membantu publikasi media MWC NU nya masing-masing. Harapannya kita membantu publikasi, mempromosikan tokoh-tokoh lokal, seperti Tanfidziyah ranting, Suriyah ranting,” pungkasnya.

Editor : Asrofi

Penguatan Madin Sebagai Basis Ideologi Aswaja

0

NU Batang
Kegiatan rutin Naharul Ijtima’ digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Selasa (25/10). Bertempat di komplek pondok pesantren salaf APIK Kauman Kaliwungu Kendal mengangkat tema “Penguatan Ideologi Aswaja Melalui Madin NU”. Kaderisasi aswaja dimulai dari Madrasah Diniyyah (Madin) sebagai gerbang masuk pondok pesantren.

KH. Abdul Ghoffar Rozin, M.Ed menyatakan bahwa pesantren harus mandiri dalam tradisi, politik dan ekonomi. Tentu dalam hal keilmuan sudah tidak diragukan lagi kapasitas alumni pesantren. Sekarang ini sedang berkhidmah menjadi ketua Majelis Masyayikh.

“Melayani pesantren-pesantren NU. Semoga ke depan alumni pesantren tambah baik, pesantrennya juga tambah bagus serta semuanya tambah baik,” papar Gus Rozin sapaan akrab beliau.

Madin ini didirikan dan diinisiasi masyarakat. Alumni Madin disiapkan untuk masuk ke jenjang selanjutnya yaitu pesantren. RMI PWNU Jateng telah menyosialisasikan Pedoman Madin NU dan Buku Aswaja untuk tingkat ula/awwaliyyah dalam 4 jilid. Untuk jenjang 6 tahun dimulai kelas 3 sedangkan untuk jenjang 4 tahun mulai kelas 1. Sebanyak 36 cabang sudah memahami arah gerak untuk bersama-sama memajukan pendidikan diniyah ini. Buku ini memiliki pendekatan fikrah, amaliah, dan harakah yang telah disesuaikan dengan perkembangan zaman.

KH. Miftahul Akhyar menyebut ahlus sunnah wal jama’ah ini memang untuk dunia. Ajaran yang fleksibel terhadap perkembangan masa. Sehingga dimasa mendatang mampu melahirkan pemimpin dunia.

“PBNU sedang memfokuskan pada kiprah NU di mata dunia. Untuk menyongsong masa depan. Maka pesantren dan Madrasah Diniyah jangan sampai ketinggalan,” tegas Rais Amm PBNU.

Tradisi dan ideologi aswaja harus tertanam sejak dini. Ini dimulai dengan kemampuan menulis arab pegon dan membaca kitab kuning mulai ditumbuhkan sejak masuk bangku Madin.

Ketua RMI PWNU kali ini menghadirkan rois syuriyah, ketua tanfidziyah, ketua RMI PCNU dan koordinator bidang Madin serta guru madin sekitar Kendal untuk bersama-sama menguatkan persepsi agar memiliki perspektif sama dalam pengelolaan Madin NU.

Prof. Dr. Abdul Ghafur, M.Ag selaku Direktur Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren Kemenag menyampaikan NU harus terus menguatkan tradisi keilmuan dan teknologi. Karena kedua hal ini sekarang sudah menjadi dhoruriyyat (primer). Kalau pendidiakan dasar yaitu Madin sudah kuat maka perlu dilanjutkan ke jenjang berikutnya bisa ke Pendidikan Diniyah Formal hingga ke Ma’had Aly.

Kegiatan ini ditutup doa oleh KH. Ubaidullah Shodaqoh.

Pewarta : Zulfa
Editor : Asrofi

Majelis Masyayikh Sosialisasikan Undang-Undang Pesantren

0

NU Batang
Majelis Masyayikh (MM) merupakan lembaga mandiri dan independen sebagai perwakilan Dewan Masyayikh dalam merumuskan dan menetapkan sistem penjaminan mutu Pendidikan Pesantren. Layanan MM diantaranya Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ula, Wustha dan Ulya, Pendidikan Muadalah Ula, Wustha dan Ulya, Ma’had Aly dan Pengkajian Kitab Kuning. Kali ini hadir Ketua MM KH. Abdul Ghoffar Rozin, M. Ed menyampaikan amanat Undang-Undang Pesantren nomor 18 tahun 2019 di komplek Pondok Pesantren APIK Kaliwungu Kendal, Selasa (25/10).

“Keberhasilan dari mutu pesantren harus muncul dengan hadirnya Majelis Masyayikh, bukan berarti ada akreditasi tapi ada kesamaan nilai bersama yang disepakati. Selain itu, penguatan lulusan pesantren menjadi fokus MM,” terang Gus Rozin sapaan akrab beliau.

Lebih lanjut Gus Rozin mengatakan beberapa tahun belakangan ini fungsi pesantren fokus pada pendidikan saja, bahwa sebenarnya ada fungsi dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Alhamdulillah ada rumah baru UUP setelah sekian lama pesatren tumbuh sebelum kemerdekaan. MM ini mulai bergerak setelah setelah dilantik Menteri Agama (30/12/21).

Tugas lain dari MM adalah merumuskan kompetensi dan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan, melakukan penilaian dan evaluasi serta pemenuhan mutu dan memeriksa keabsahan setiap syahadah atau ijazah santri yang dikeluarkan pesantren.

KH. Fadhlullah Turmudzi sebagai ketua Asosiasi Pendidikan Diniyah Formal (Aspendif) menyatakan bahwa pendidikan pesantren memiliki kesejajaran dengan lembaga pendidikan yang lain.

“Hadirnya UUP ini harus lebih menguatkan tradisi ngaji yang sudah berjalan selama ini berjalan,” ungkap Gus Fadh panggilan beliau.

Jangan sampai hanya karena UUP ini malah menjadikan kendor dalam tafaqquh fiddin. Dalam 5 tahun ke depan mulai menguatkan basis yang kuat berupa penguatan kesekretariatan, rencana induk dan profiling santri. Tahun kedua merancang standar minimal berupa kurikulum, mutu lulusan dan lembaga serta pendidik. Pada 2024 implementasi dari 2 tahun berjalan. Sedangkan pada 2025 menjadi bagian dari sisdiknas, branding dan produksi kitab kuning. Pada akhir periode mulai menjadi pendidikan dunia dengan melakukan dialog internasional, piloting pesantren dunia dan branding.

Pada sosialisasi kali ini hadir pula KH. Jam’an Nur Khotib anggota MM. Hadirnya UUP beserta turunannya harus memiliki manfaat untuk keberlangsungan pesantren.

Pewarta : Zulfa
Editor : Asrofi

KBNU Desa Sidorejo Batang Tampilkan Replika Nadhom Alfiyah di Hari Santri 2022

0

Warungasem, NU Batang
Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Desa Sidorejo turut memeriahkan Karnaval Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2022, yang diselenggarakan Pengurus Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, pada Jum’at (21/10/2022).

Pada kesempatan ini, KBNU Sidorejo menampilkan maskot Replika Kitab Nadhom Al-Fiyah dengan ukuran besar, walaupun dalam perjalananya Replika tersebut rusak akibat turunnya hujan yang begitu deras.

Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Sidorejo H.Arifin menyampaikan replika berukuran 2×3 tersebut telah disiapkan selama satu pekan oleh kader-kader Desa Sidorejo dengan pengerjaan secara manual, bahan yang dipakai juga sederhana.

“Kader-kader NU dari Desa Sidorejo sangat antusias menyambut peringatan Hari Santri yang adakan MWC-NU,” ungkapnya.

Memilih miniatur nadhom Alfiyah karena kitab tersebut menjadi primadona berbagai pesantren di Indonesia. Kitab yang sangat luar biasa dengan bait-baitnya yang memukau, dengan segala keberkahan yang menyertai juga menjadi sebuah pencapaian dan impian setiap santri.

“Dalam bait muqodimah Nadhom Alfiyah juga mengandung pesan tentang adab kita kepada seorang guru,” imbuhnya.

Mengkrucut pada cerita Syaikh Ibnu Malik pengarang kitab Al-Fiyah dan Syaikh Ibnu Mu’thiy gurunya, dalam cerita tersebut memberikan pesan sehebat apapun murid, adab kepada guru harus tetap dilakukan.

“Meski kemampuan kita telah melebihi sang guru, adab itu utama, walaupun guru kita telah meninggal dunia,” terangnya.

Kordinator Pelaksanaan dari NU Sidorejo Hamdan Zulfa mengatakan seluruh kader dari Badan Otonom (Banom) dan lembaga NU didesanya ikut serta dalam mengikuti peringatan hari santri kali ini.

“Sekitar ada 150 anggota yang ikut dalam karnaval, terdiri dari anggota Banom dan Lembaga LP Ma’arif NU,” katanya.

Selain miniatur Nadhom Al-Fiyah, KBNU Desa Sidorejo juga menampilkan berbagai costum cosplay Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Ibu Nyai Hj Masruroh Istri Hadratussyaikh, santriwan santriwati zaman dulu dan zaman now.

“Ada juga yang menyita perhatian, yaitu costum cosplay Joko Kendil yang sedang viral dimedia sosial,” tambahnya.

Hujan lebat tidak menyurutkan anggota, mereka semua tetap berjalan dalam guyuran hujan dan genangan air dijalan, mesti ada rasa sedikit kecewa minatur Nadhom Alfiyah belum sempat ditampilkan sampai finish sudah rusak.

“Tetapi hujan adalah keberkahan, untuk kedepannya bahan-bahan untuk miniatur yang kita buat bisa tahan air, mengantisipasi hujan seperti ini,” tutupnya.

Kontributor : Septy Aisah
Editor : Asrofi

Gelar Rakorwil Pekalongan Raya, PW GP Ansor Jateng Tekankan Pentingnya Akreditasi

0

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah H Sholahuddin Aly menegaskan bahwa GP Ansor adalah organisasi terukur. Yang ukurannya adalah akreditasi. Hal ini disampaikannya pada Rapat Koordinasi Wliayah (Rakorwil) Pekalongan Raya, yang digelar di Batang, pada Ahad (2/10/2022) .

“Di Wilayah Jawa Tengah, ada 550 Pengurus Anak Cabang (PAC) yang sudah melaksanakan akreditasi, dari 573 kecamatan yang ada. Artinya, di Jawa Tengah hampir di seluruh kecamatan di Jawa Tengah sudah mengikuti prosedur penilaian Organisasi,” lanjut pria yang akrab dipanggil Gus Sholah ini.

Gus Sholah juga menjelaskan, bahwa Rakorwil Pekalongan Raya merupakan Rakorwil yang ke lima, dari rangkaian Rakorwil yang telah dilaksanakan.

“Kita roadshow dari mulai Eks Karesidenan Banyumas,Solo Raya, Pati, Semarang, dan terakhir nanti malam adalah Kedu. Ini dikebut, sebelum dilaksanakan kongres. Pimpinan pusat menginstruksikan agar segera melaksanakan Rakerwil, Rakorwil, dan Konferwil,” ungkapnya.

Rakorwil Pekalongan Raya ini dihadiri oleh Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjend) Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor sekaligus Sekretaris Koordinator Wilayah (Korwi)l DIY – Jateng H. Ulil Arham Wasekjend, Ketua PW GP Ansor Jateng H. Sholahuddin Aly, Kasatkorwil Banser Jateng H. Muchtar Makmun, Sekretaris PW GP Ansor Jateng Fahsin M Fa’al, Wakasatkorwil Banser Jateng, Shidqon Prabowo, Ketua PC. GP Ansor se- Pekalongan Raya, Kasatkorcab Banser se- Pekalongan Raya, dan Ketua Rijalul Ansor se- Pekalongan Raya.

Di Rakorwil Pekalongan Raya ini juga dibacakan tahlil dan do’a untuk penasehat PW GP Ansor Jawa Tengah KH. Dian Nafi’ yang wafat pada hari Sabtu kemarin (01/10/22), dan juga untuk para supporter Aremania yang meninggal saat terjadinya tragedi di Stadion Kanjuruhan kemarin.

Pewarta: Ali Rochman
Editor: Zaim Ahya

Lakpesdam PCNU Batang Gelar Sekolah Demokrasi dan Kepemiluan

0

Lembaga Kajian dan Pegembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang mengadakan Sekolah Demokrasi dan Kepemiluan, pada Rabu (21/09/2022).

Bertempat di Gedung PCNU Kabupaten Batang, sekolah ini diikuti oleh sekitar 150 peserta dari warga nahdliyin di Kabupaten Batang, yang punya ketertarikan di bidang politik, khususnya terkait penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) dan pengawasannya.

“Pesertanya dari kalangan aktivis muda NU Batang yang peduli akan perjalanan proses demokrasi di negara Indonesia,” tutur Ketua Lakpesdam PCNU Batang Miqdam Yusria Ahmad.

Menurut Miqdam, tujuan dari sekolah ini adalah untuk meningkatkan literasi politik, khususnya tentang demokarasi dan kepemiluan.

“Dengan sekolah ini, kami berharap masyarakat, khususnya warga nahdliyin Batang tidak apatis dengan proses politik, sehingga turut aktif menentukan siapa yang akan memimpin negara ini,” jelas Miqdam.

Senada, Wakil Ketua PCNU Batang Umar Abdul Jabar, dalam sambutannya, mengatakan bahwa dengan adanya sekolah ini, literasi politik warga nahdliyin Batang tentang proses demokrasi semakin meningkat.

“Semoga lantaran sekolah yang diinisiasi Lakpesdam, kegiatan Pemilu depan lancar damai. Dan tentu masyarakat lebih cerdas dalam memilih,” lanjut Umar.

Dalam menyelenggarakan sekolah ini, Lakpesdam PCNU Batang menggandeng Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Batang dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Batang.

Dalam paparannya, Ketua KPU Batang Nur Topan mengatakan bahwa proses dan tujuan Pemilu bisa terealisasi dengan baik jika minimal tiga unsur terpenuhi.

“Tujuan pemilu tak lain adalah meneguhkan kedaulatan rakyat, dan hal itu bisa teralisasi jika minimal tiga unsur terpenuhi, yakni, partai yang baik, pemilih yang baik dan penyelenggaran sekaligus pengawasan yang baik,” tutur Nur Topan.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Batang Mabrur menjelaskan terkait proses-proes pengawasan, mulai dari pencegahan sampai langkah-langkah yang harus ditempuh ketika terjadi pelanggaran.

Pewarta: Zaim Ahya