Minggu, April 12, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 54

Peringati 10 Muharram PR NU Desa Denasri Kulon Santuni Yatim Piatu

0
foto: kegiatan santunan anak yatim piatu

Batang – nubatang.or.id || Pimpinan  Ranting Nahdhatul Ulama’ (PR NU) Desa Denasri Kulon Kecamatan Batang Kabupaten Batang mengadakan kegiatan santunan anak yatim piatu yang bertepatan pada tanggal 10 Muharram di Masjid At Taqwa Denasri Kulon (18/8).

Kegiatan santunan ini merupakan kegiatan tahunan yang biasa diselenggarakan oleh PR NU Denasri Kulon di setiap tanggal 10 muharram di mana tempatnya 10 muharram merupakan lebarannya bagi anak-anak yatim, moment ini tepat untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan termasuk menyantuni anak yatim piatu.

Bersama dengan seluruh Badan Otonom (Banom) PR NU Denasri Kulon dan bantuan dari seluruh warga Desa Denasri Kulon berhasil mendapatkan dana sejumlah 81 juta. Dengan jumlah tersebut dibagikan kepada 123 anak yatim di Desa Denasri kulon sehingga setiap anak mendapatkan uang sejumlah Rp 670.000.

Mislailatul Nikmah selaku ketua panitia mengatakan sangat berterima kasih kepada seluruh pihak donatur yang bersedia membantu khususnya warga Desa Denasri Kulon.

Alhamdulillah dana yang terkumpul tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin saya berharap agar anak-anak yatim piatu bisa memanfaatkan bantuan tersebut untuk biaya belajar,” katanya.

Ia juga menegaskan kepada anak-anak yatim piatu supaya dapat memanfaatkan ilmu teknologi yang ada dengan hal positif dan terus belajar tentang teknologi informatika.

Hal serupa juga disampaikan oleh Anik Wahyuningsih selaku kepala Desa Denasri Kulon Batang.

“Uang yang didapat bisa digunakan dengan baik atau dimanfaatkan untuk membeli kuota untuk kegiatan belajar daring,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kepada seluruh panitia dan warga yang telah membantu kegiatan ini.

Tujuan diadakannya kegiatan santunan anak yatim piatu agar memotivasi masyarakat untuk melakukan sedekah dan lebih peduli kepada anak yatim piatu. Semoga masyarakat lebih memperhatikan bentuk keikhlasanya yang telah diberikan baik dari pengorbanan tenaga waktu dan pikiran untuk bersedekah kepada anak yatim piatu.

Pewarta: Ayu Kartika  

Editor: Muhammad Asrofi

Geliat KopsimNU Batang di Tengah Pandemi

0

Hebat! Itu kata yang layak disampaikan bila kita memperhatikan perkembangan Koperasi miliknya NU (KOPSIMNU) di Batang. Bagaimana tidak? Di tengah Pandemi Covid 19 yang mana banyak usaha termasuk sektor keuangan mengalami kelesuan, justru KopsimNU bisa membuka cabang Baru di Kecamatan Limpung. Ini merupakan pembukaan cabang KopsimNU yang kelima (V).


“Alhamdulillah atas permintaan umat KopsimNU bisa membuka kantor Baru di Kecamatan Limpung, semoga semakin bisa meningkatkan pelayanan kepada Umat khususnya warga Nahdliyyin”, demikian sambutan yang disampaikan oleh ketua KopsiNU Batang Bapak H.M. Abdurrahman, SH,MM.


Acara yang digelar di Kantor KopsimNU baru yang beralamat di JL Limpung-Tersono itu dihadiri oleh para pengurus NU, Pengurus Koperasi, mitra Kopsim, kepala Dinas Koperasi, pihak pemerintah dan para Karyawan. Dari jajaran Syuriah hadir Rois Syuriah KH.Abdul Manab Syair, KH Ansori Naim, Ketua PCNU dan Sekretaris. Dari pemerintah diwakili oleh bapak Wakil Bupati (H.Suyono, SHI, MSI).


Ketua tanfidziysh NU mewanti wanti agar managemen KopsimNU Batang terus bisa menjaga amanah, profesional dan jangan mudah puas. Sebab kita berharap ke depan lembaga keuangan ini lebih maju lagi.


” Kita jangan puas dulu. Kita harus bersyukur tapi jangan berpuas diri atas apa yang sudah dicapai”, ucap H.Ahmad Taufiq dalam sambutannya.
Sejalan pula dengan apa yang disampaikan oleh wakil Bupati bahwa kalau ingin berhasil di bidang usaha keuangan, para pengelola dan karyawan harus memiliki integritas dan siap mengikuti proses sebab tidak bisa berhasil secara instan.


“Memiliki integritas dan siap berproses merupakan hal utama dalam mengelola keuangan. Pinter dan terampil itu nomer berikutnya”, tegas wakil bupati sebelum membuka acara tersebut.


Kegiatan pembukaan cabang baru KopsimNU ini diakhiri dengan pemotongan Vita yang dipimpin oleh Rois Syuriah dan disaksikan dari pengurus koperasi, pengurus NU, wakil bupati dan Mitra koperasi dan kepala Dinas Koperasi.

Pewarta: Jabir al-Faruqi

Silaturrahmi PCNU, Sosialisasikan Pembangunan RSNU Batang

0

Bawang – nubatang.or.id || Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang, mengajak seluruh warga Nahdatul Ulama (NU) di Kabupaten Batang mulai dari Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU dan IPPNU, untuk bersama-sama mensukseskan program pembangunan Rumah Sakit NU di Batang. Hal tersebut disampaikan oleh ketua Fatayat NU Batang, Erna Dewi Palupi, dalam menghadiri acara silaturrahmi keluarga besar Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Bawang bersama Pengurus Cabang Nahdatul Ulama Kabupaten Batang, di Aula Gedung Aswaja Center Kecamatan Bawang, Ahad, (20/6).

“Rumah Sakit NU itu menjadi tujuan kita bersama, menjadi cita-cita keluarga besar kita, yang mau tidak mau harus terwujud. Dan itu bisa terjadi, manakala ada kerjasama yang baik, antara seluruh warga Nahdliyin di Kabupaten Batang, sehingga program tersebut dapat terlaksana dengan baik,” kata Erna Dewi Palupi, dalam sambutannya.

Menurut Erna, sejarah kenapa rumah sakit itu menjadi sebuah program besar keluarga Nahdlatul Ulama, secara garis besar, bahwa dari amanah muktamar NU untuk pemberdayaan umat, salah satu bentuk pelayanan terhadap umat itu bisa dilihat dari beberapa hal, mulai dari pendidikannya, kesehatannya, dan lain sebagainya.

“Dan dalam pelayanan terhadap umat, di Kabupaten Batang itu mengambil dari pelayanan kesehatan, bagi masyarakat Batang, khususnya warga NU. Di Kabupaten Batang, warga NU jumlahnya sangat banyak, bahkan mendominasi, hampir seluruh wilayah semuanya berisi warga Nahdliyin, jadi, pelayanan yang sangat mengakar adalah dari segi kesehatan, sehingga itu menjadi tujuan yang mana rumah sakit itu merupakan program unggulan dari NU dan keluarga besarnya termasuk di dalamnya banom dan lembaga-lembaganya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Apresiasi setinggi-tingginya untuk kerja keras fatayat dan muslimat NU, yang sudah melaksanakan program gerakan infaq semen, yang langsung disampaikan ke panitia pembangunan, kemudian ada pengonsumsian garam beryodium, garam dengan kemanfaatan bagus, karena sudah diuji dari kesehatan, dan juga adanya program gotong royong bambu, yang sudah mencapai target, demi mensukseskan program pembangunan Rumah Sakit NU Batang,” tambahnya.

KH Masrur Fahrudin, selaku ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Bawang juga menyampaikan, “Lewat perjuangan kita semua membantu MWC, mengurusi cabang, saya hanya bisa mendoakan semoga diberikan umur yang panjang, diberikan keberkahan, dan semoga perjuangan tersebut menjadikan sebab kita menjadi orang sholeh,” ujarnya.

Acara dihadiri oleh PCNU Kabupaten Batang, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Bawang, PAC Fatayat, Muslimat, GP. Anshor, serta PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Bawang. Acara berlangsung dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Pewarta : Solekha

LULUS 100%: Siswa SMK Al-Sya’iriyah Limpung Lakukan Bakti Sosial

0

Limpung – Meluapkan rasa syukur atas kelulusan, siswa SMK Al-Sya’iriyah melakukannya dengan sujud syukur serentak dan aksi simpatik dalam bingkai Forum Siswa Bermartabat (FORSIBAT), (3/6/21).

Momen kelulusan merupakan hal yang dinantikan oleh siswa di masing-masing tingkatan, mulai dari SD, SLTP hingga SLTA. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merayakan momen ini, tak terkecuali siswa-siswi SMK Al-Sya’iriyah Limpung yang mengekspresikan kebahagiaannya dengan melakukan kegiatan yang positif dan inspiratif.

Rangkaian aksi simpatik pengabdian masyarakat dimulai dari hari kelulusan. Siswa sujud syukur serentak setelah menerima pengumuman lulus dari Ujian Sekolah (US) dan Uji Praktik Kompetensi (UPK) yang di selenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan dilanjutkan sungkem dengan orang tua dirumah masing-masing karena pengumuman kelulusan dilakukan secara online. Sorenya, Forsibat SMK Al-Sya’iriyah Limpung menyambangi Desa Ngroto kecamatan Reban untuk berbagi sembako kepada Yatim, Janda dan Duafa yang sebelumnya sudah koordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.

Pada kesempatan ini, sumbangsih dari generasi muda sangat dinantikan. “Budaya berkreasi dan menginovasi kegiatan pasca hasil belajar selama tiga tahun menjadi menu wajib bagi seluruh civitas akademik SMK Al-Sya’iriyah Limpung yang harus selalu dilestarikan,” ujar Hamam Nasrudin selaku kepala sekolah.

“Kami berinisiatif melakukan kegiatan yang berbeda dari kebanyakan siswa, Pandemi tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap bisa bermanfaat bagi masyarakat, karena itu bentuk rasa syukur kami,” jelas Turyono Pawit, koordinator aksi.

Sementara itu di hari berikutnya donor darah sukarela menjadi lanjutan aksi simpatik yang melibatkan guru, siswa dan masyarakat umum dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Selain SMK Al-Sya’iriyah Limpung adalah sekolah kesehatan yang berintegrasi dengan pentingnya donor darah bagi kesehatan tubuh, juga sangat bermanfaat bagi masyarakat yang sedang membutuhkan. Aksi di akhiri dengan bakti sosial bersih tempat ibadah sekaligus pembagian alat kebersihan dan bagi sembako di Desa Branti Jurangagung, Plantungan, Kendal.

KH Agus Musyafak Syair ketua Yayasan Islam Al-Sya’iriyah Limpung mendukung terlaksananya aksi kelulusan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi atas apa yang dilaksanakan oleh para siswa-siswi kami karena dari rangkaian kegiatan Ini mengajarkan kepada kita bahwa berbagi kepada sesama tidak hanya berupa materi saja akan tetapi apapun yang mampu kita berikan dan bernilai manfaat bagi masyarakat tetap bernilai ibadah,” tuturnya.

Pewarta : A Subhan

Siswa SMK Al-Sya’iriyah Limpung Rayakan Kelulusan Tiga Hari Berturut-turut dengan Cara Unik

0

Kamis (3/6) merupakan hari pengumuman hasil kelulusan untuk siswa kelas XII SMA/SMK sederajat, pengumuman dilakukan secara daring karena situasi masih berada dalam masa pandemi Covid-19.

Sebanyak 98 siswa SMK Al-Sya’iriyah Limpung, Batang yang dinyatakan lulus mewujudkan rasa syukurnya dengan melakukan aksi sujud syukur serta menggelar aksi simpatik berupa kegiatan sosial pengabdian masyarakat.

Sujud syukur dilakukan serentak di rumah masing-masing setelah siswa-siswi menerima pengumuman secara daring pada pukul 15.00 WIB. Kemudian perwakilan siswa melakukan aksi simpatik pengabdian masyarakat dengan membagikan bahan makanan berupa sembako kepada para anak yatim, janda dan duafa di dua Kabupaten berbeda yaitu Desa Ngroto Kecamatan Reban Kabupaten Batang dan Desa Branti Jurangagung Kecamatan Plantungan Kabupaten Kendal.

Dipilihnya Desa Ngroto dan Desa Branti Jurangagung sebagai tempat pembagian sembako karena dua dukuh tersebut merupakan dukuh terluar yang jauh dari pusat kota. Kegiatan pembagian sembako ini juga berkoordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) dan tokoh masyarakat setempat.

“Kegiatan bakti sosial pembagian sembako semacam ini patut dicontoh oleh pelajar dari sekolah lain, karena sangat membantu masyarakat yang kurang mampu. Hal ini jauh lebih bermanfaat dari pada perayaan kelulusan dengan konvoi dan corat-coret baju” ujar Suwandi, tokoh masyarakat Desa Ngroto.

Senada dengan Suwandi, Mulyo selaku tokoh masyarakat Desa Branti juga mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh para siswa SMK Al-Sya’iriyah Limpung. Dia berharap kegiatan ini terus dilakukan setiap tahun untuk mengganti perayaan kelulusan yang bersifat hura-hura.

Menurut Azizah, salah satu perwakilan siswa yang ikut serta membagikan sembako menjelaskan bahwa uang untuk membeli sembako berasal dari patungan siswa kelas XII satu angkatan.  “Sebelum pengumuman kelulusan, kami telah membahas kegiatan untuk merayakan kelulusan. Dari pada konvoi, corat-coret baju dan hura-hura di jalan, kami lebih memilih aksi sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Akhirnya kami patungan mengumpulkan uang untuk membeli sembako” ujarnya.

Masih dalam rangkaian kegiatan sosial dalam rangka merayakan kelulusan, siswa-siswi SMK Al-Sya’iriyah bekerja sama dengan PMI Kabupaten Batang melakukan kegiatan donor darah pada Sabtu (5/6) di Gedung SMK Al-Sya’iriyah Limpung. Sebagian besar pendonor merupakan siswa-siswi dan dewan guru SMK Al-Sya’iriyah Limpung, tetapi ada juga masyarakat sekitar yang ikut serta donor darah dalam kegiatan tersebut.

Tak hanya membagikan sembako dan donor darah, siswa-siswi SMK Al-Sya’iriyah Limpung juga mengadakan aksi bersih-bersih tempat ibadah di Mushola At-Taqwa Wonokerso, Kandeman, Batang sekaligus memberikan sumbangan alat kebersihan pada Minggu (6/6). Kegiatan diawali dengan menyapu seluruh mushola, dilanjutkan mencuci sajadah dan mengepel lantai hingga bersih. Terakhir siswa-siswi menyerahkan alat kebersihan kepada Takmir Mushola yang diwakili oleh Sodikin.

Hamam Nasrudin selaku kepala SMK Al-Sya’iriyah Limpung mengungkapkan, bahwa dari tahun ke tahun siswa SMK Al-Sya’iriyah selalu mewujudkan rasa syukur atas kelulusan dengan cara mengadakan kegiatan yang bermartabat. Hal ini sejalan dengan komitmen SMK Al-Sya’iriyah Limpung untuk memberikan pendidikan karakter kepada siswa yang selalu diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari dengan suri tauladan dan pembiasaan. “Kami selalu mewanti-wanti kepada siswa kelas XII yang akan merayakan kelulusan, jangan melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat seperti corat-coret baju dan konvoi di jalanan. Karena hal itu akan mengganggu ketenangan masyarakat dan membahayakan pengguna jalan. Perayaan kelulusan harus dilakukan dengan cara-cara yang beradab dan bermartabat” ujarnya.

Pewarta : A Jazuli

Hukum Berguru Pada Internet

0
Ilustrasi (Foto : Google)

Zaman globalisasi sudah tidak terhindari lagi. Globalisasi seolah meruntuhkan tembok pemisah ruang dan waktu. Sehingga kejadian di belahan bumi utara bisa diterima beberpa detik di belahan bumi selatan. Begitulah karakter globalisasi yang cenderung melampaui batas-batas, termasuk untuk akses informasi keagamaan. Sehingga di zaman globalisasi ini susah sekali membedakan antara alim (orang yang mengerti) dan jahil (orang yang tidak mengerti), antara faqih dan bukan faqih, antara mufassir (ahli tafsir) dan mengaku-ngaku ahli tafsir.

Demikianlah keadaannya, berbagai informasi dan pengetahuan dengan mudah dapat diakses di dunia siber (internet). Bahkan yang memperparah keadaan adalah banyaknya orang yang menjadikan dunia maya (internet) sebagai seorang guru tempat bertanya dan mencari tahu. Dan celakanya dari guru (dunia maya) inilah mereka lalu menyebarkan apa yang di dapatnya kepada murid-muridnya.

emang, tidak semua yang ada di internet adalah tidak benar. Banyak sekali kebenaran yang terserak di sana, akan tetapi kebenaran itu belum teruji dan masih perlu diverifikasi lebih lanjut. Karena bagaimanapun internet bukanlah guru yang memiliki sanad yang jelas, bahkan internet sering menjadi penyebar hal-hal negatif. Selain membawa berkah, internet juga tak jarang mendatangkan musibah. Oleh karena itu, globalisasi dan fenomena internet yang tidak dapat dihindarkan harus diposisikan yang benar dan memberi manfaat. Sebagaimana pisau ditangan tukang masak bukan di tangan preman. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yang berguru langsung kepada Jibril. Demikianlah tuntunan agama yang baik sebagaimana dilantunkan dalam sya’ir:

من يأخذ العلم من شيخ مشافهة   #     يكن عن الزيغ والتصحيف فى حرم
ومن يكن أخذا للعلم من صحف    #     فعلمـــه عند أهــــــــل العلم كالعدم

Barangsiapa yang mengambil ilmu dari seorang guru dengan musyafahah (berhadap-hadapan langsung), niscaya terpeliharalah ia dari tergelincir dan keliru. Dan barangsiapa mengambil ilmu dari buku-buku (apalagi internet, red), maka pengetahuannya menurut penilaian ahli ilmu adalah nihil semata.

Demikianlah seharusnya memposisikan internet sebagai media yang harus dikonfirmasi kembali berbagi informasi di dalamnya. Tidaklah layak langsung ditelan, tetapi harus dimasak lebih dahulu.

Sayang sekali, banyak sekali orang terlalu tinggi ego dalam dirinya sehingga malu bertanya dan enggan mengakui orang lain sebagai gurunya yang lebih tahu. Jika sudah demikian maka percuma berbagai nasihat, karena keingkarannya lebih kuat dari pada keinginan untuk belajar.

المنكر لايفيده التطويل ولو تليت عليه التوراة والانجيل

Tidaklah berguna berpanjang kalam (keterangan) bagi orang yang telah ingkar, walaupun dibacakan untuknya taurat dan inji.

Bagaimanapun, internet adalah sarana atau alat saja. Ia berpotensi baik tapi juga berpotensi buruk. Tidak ada yang salah mencari informasi di internet. Ia cukup membantu kita untuk belajar banyak hal. Namun, khusus untuk persoalan agama, sikap ekstra hati-hati penting dijaga. Kredibilitas sumber perlu ditekankan, konfirmasi perlu diupayakan, dan tentu saja tanpa meremehkan pentingnya berguru langsung pada ulama yang kompeten di bidangnya. Wallahu a’lam.

Di tulis oleh Ulil Hadrawy (Tulisan ini di ambil dari NU Online pekerjaan-insinyur-cIsNp

Pelajar NU Metro Dan Risma Baiturahman Adakan Bukber & Khotmil Qur’an

0
Dok. Istimewa

PELAJAR METRO.ID | Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan RISMA Masjid Baiturahman II Mulyojati Kota Metro mengadakan buka bersama dan Khataman Al qur’an bersamawarga setempat, Selasa (20/6) di masjid Baiturahman II Mulyojati Metro Barat.

Dalam acara tersebut dihadiri pengurus masjid, alumni RISMA, anak-anak TPQ AL-HIKMAH serta jama’ah masjid Baiturahman II.

Acara ini dimulai pukul 17.00 wibyang diawali dengan istighotsah dipimpin oleh bpk KH Zaenal Abidin selaku imam masjid jg Rois syuriah, usai istighotsahbuka bersama dan solat magrib bersama anak-anak yang menjadi pembeda dari biasanya.

Selanjutnya solat tarawih berjamaah sebelum acara Khataman Al qur’an RISMA masjid Baiturahman II dan IPNU-IPPNU dilaksanakan.

Sementara itu, dalam sambutanyaBpk KH Zaenal Abidin menyampaikan “ini adalah bentuk kecintaan kita kepada Al qur’an dan sebagai pembelajaran anak-anak kita supaya terbiasa membaca Al qur’an dan tampil di depan jama’ah, semoga kegiatan ini bisa istiqomah karena sudah berjalan dari tahun-tahun sebelumnya”, jelas Beliau kepada jama’ah.

Acara tersebut ditutup Do’a dan santap malam bersama berupa takit atau nasi bungkus yang menjadi ciri khas warga Nahdliyin sebagai bentuk syukur atas rizki yang diterima dari Alloh SWT.

Kontributor : Dedek Riwanto JS

Peran IPNU & IPPNU Sebagai Pelajar Pancasila

0
Ilustrasi (Foto : Dok.Google)

Di era millenial ini kedigdayaan Pancasila sebagai ideologi Negara Republik Indonesia sedang diuji, eksistensi ideologi Pancasila yang bertahan sejak tanggal 1 Juni 1945 sampai sekarang ini mendapatkan serangan dari berbagai kelompok radikal yang mengusung konsep ideologi bernama khilafah seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Organisasi terlarang yakni, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kelompok Islam yang sering menyebut warga negara Indonesia (WNI) non muslim dengan sebutan kafir ini beranggapan bahwa Pancasila yang menyebabkan carut marut yang terjadi saat ini, mereka juga beranggapan bahwa Pancasila sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan di Indonesia, karena itu mereka ingin menggantinya dengan sistem khilafah.

Penyebaran virus khilafah dikemas dengan gaya yang kekinian, sehingga dengan bantuan media digital khilafah dengan jargon hijrah nya menjadi tren anak muda terutama pelajar yang saat ini disebut sebagai generasi milenial karena mereka sangat akrab dengan konten-konten media sosial. Dan strategi mereka ini cukup sukses mempengaruhi sebagian masyarakat terutama pelajar di daerah perkotaan.

Ketika orang-orang yang menyerukan khilafah itu ditanya, apakah mereka ingin mengganti Pancasila? Mungkin mereka bisa mengelak dengan beralasan kalau sistem khilafah hanyalah sebuah gagasan pendapat atau ide, dan setiap Warga Negara Indonesia (WNI) punya hak dan kebebasan untuk menyuarakan ide tersebut. Namun, jika ideologi khilafah tersebut telah mengakar di hati dan fikiran masyarakat Indonesia akan memicu tindakan makar terhadap pemerintahan Indonesia yang sah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, karena mereka sangat terobsesi untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Fakta di lapangan kelompok ini selalu membuat kericuhan, memecah belah masyarakat, senang mengkritik pemerintah dengan kalimat-kalimat rasis dan perilaku yang tidak santun seperti mengancam, meneror, bahkan secara terang-terangan ingin melawan pemerintah. Menurut Wiranto , menteri koordinator politik, hukum dan HAM (Menkopolhukam) Republik Indonesia 2014-2019, ideologi khilafah itu bersifat transnasional. Artinya berorientasi meniadakan nation state, untuk mendirikan Negara Islam dalam konteks luas (kompas.com). Dalam hal ini berarti sudah jelas, bahwa HTI wa akhwatuha berniat untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.

Jika pelajar generasi millenial terpengaruh ideologi khilafah, apa bahayanya?

Generasi millenial adalah generasi yang masih labil, mudah tersulut emosi, mudah terpengaruh, dan gampang terobsesi dengan sesuatu yang menurut mereka cocok. Hal ini terjadi karena masa muda adalah masa pencarian jati diri. Apabila yang merasuk ke dalam jiwa muda mereka adalah ideologi khilafah, sedangkan generasi millenial saat ini adalah generasi emas bangsa Indonesia yang akan datang, lalu siapa lagi yang mempertahankan keberadaan Pancasila di bumi Nusantara? Ini jelas menjadi ancaman NKRI, karena Pancasila adalah ideologi yang selama ini telah mempersatukan bangsa, dengan Pancasila masyarakat Indonesia yang berbeda ras, suku, dan agama ini berhasil bersatu padu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari para penjajah.

Karena itulah sekolah menjadi sasaran utama kelompok radikal saat ini, karena pelajar merupakan pondasi masa depan, jika pondasi tersebut telah terpapar ideologi khilafah, maka bukan tidak mungkin dalam 20 tahun kedepan Pancasila musnah. Dilansir dari kompas.com, gubernur provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menemukan tujuh kepala sekolah yang sudah terpapar paham radikalisme. Ia mengaku sudah mendapat laporan dari banyak tokoh agama dan masyarakat mengenai penanaman paham radikalisme di sekolah yang dilakukan sangat masif. Paham radikalisme ini ditularkan melalui mata pelajaran dan juga kegiatan ekstrakurikuler.

Pemerintah memang harus segera membersihkan sekolah dari ideologi radikal yang mengancam keutuhan negara kesatuan republik Indonesia. Tapi alangkah baiknya masyarakat pun harus turut berkontribusi untuk menyelesaikan masalah ini, karena Pancasila dan NKRI bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik setiap warga negara Indonesia.

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang mengedepankan politik kebangsaan, politik kerakyatan dan etika berpolitik. Artinya, NU senantiasa terus berkomitmen membantu pemerintah untuk menjaga keutuhan bangsa, senantiasa berperan aktif dalam membentuk kader yang militan kepada Indonesia. Serta turut berusaha menanamkan ke dalam diri warga NU secara khusus dan  masyarakat secara umum untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang beraneka ragam suku dan budaya.
 
Di dalam tubuh NU, terdapat badan otonom (Banom) yang berfungsi menggerakkan kebijakan NU di berbagai tingkatan. Di antaranya adalah organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPNU), sebuah organisasi kaderisasi keterpelajaran, kebangsaan, dan kemasyarakatan. IPNU-IPPNU merupakan organisasi pelaksana kebijakan NU di lingkungan pelajar. Sebagai panjang NU, IPNU-IPPNU juga memiliki tugas untuk menanamkan jiwa Patriotisme dan Nasionalisme di dalam diri para pelajar. Mengingat pelajar merupakan pondasi dan aset yang sangat berharga bagi negara.

Bagaimana cara IPNU-IPPNU menanamkan jiwa patriotisme dan nasionalisme kepada para pelajar?

Pertama, di setiap tahapan kaderisasi yang dijalankan seperti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), dan Latihan Kader Utama (Lakut), IPNU-IPPNU selalu menggembleng pelajar untuk tidak lali wethon. Penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tidak lali wethon adalah tidak melupakan asal muasal Indonesia bisa merdeka seperti sekarang, sejarah lahirnya Pancasila, penjelasan mengapa Indonesia tidak dibuat menjadi negara Islam, dan yang paling utama adalah sejarah tentang perjuangan ulama NU dalam resolusi jihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari para penjajah.

Wawasan Kebangsaan sangat penting disampaikan kepada para pelajar, karena pelajar harus sadar dan benar-benar mempunyai keyakinan akan kesaktian Pancasila yang mampu menyatukan jutaan masyarakat yang berasal dari suku, agama, dan ras yang berbeda. Mengingat radikalisme yang saat ini masif merongrong ideologi pelajar di sekolah, dengan virus khilafah.

Kedua, IPNU-IPPNU selalu mendorong kepada pelajar untuk lebih dekat dengan ulama NU. Karena jiwa Nasionalisme dan Patriotisme ulama NU kepada Indonesia dari dulu sampai sekarang sangat besar. Contohnya seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wakhid Hasyim, KH. Abdurrahman Wakhid, KH. Maimoen Zubair, Maulana Habib Luhfi bin Yahya Pekalongan, KH. Mushtofa Bisri, KH. Ma’ruf Amin, KH. Ahmad Muwafiq dan masih banyak ulama yang lainnya. Penulis beranggapan apabila ada kelompok yang ingin menghancurkan Indonesia, mereka akan lebih dulu menyerang NU. Faktanya sekarang, NU sedang di cecar berbagai macam serangan dari kelompok-kelompok radikal.

IPNU-IPPNU adalah Pelajar Pancasila yang tak hanya melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, akan tetapi juga mencetak kader Pelajar Pancasila. Mengapa harus IPNU-IPPNU? Karena hanya melalui IPNU-IPPNU lah Aswaja dan Ke NU an yang di wariskan oleh pendiri NU bisa masuk ke SMP, SMA, dan SMK. Sehingga tidak akan ada lagi sekolah atau siswa yang terpapar aliran radikalisme seperti khilafah. Jika KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa orang yang memperjuangkan NU akan diakui sebagai santrinya dan di doakan masuk surga. Penulis mengatakan jika seorang pelajar berkhidmah di organisasi IPNU-IPPNU, maka ia sama dengan mengobarkan semangat resolusi Jihad jilid dua, jihad yang dimaksud bukan dengan senjata, tetapi jihad bil ilmi dan jihad bi ta’allum agar ideologi Pancasila yang tertanam kokoh di benak pelajar tidak tergoyahkan dan tidak oleng akibat terserang virus radikal. Dan setiap orang yang mati dalam keadaan jihad, dijamin Allah masuk surga.

Di tulis Ahmad Syarif, Mahasiswa Program Studi Ilmu Falak, UIN Walisongo Semarang

Sumber : https://pelajarkudus.com/peran-ipnu-ippnu-sebagai-pelajar-pancasila-1992

Ber-IPNU & IPPNU Jaminan Terbaik bagi Masa Depan NU

0
Ilustrasi (Foto : Dok.Google)

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi yang mengedepankan politik kebangsaan, politik kerakyatan dan etika berpolitik. Artinya, NU senantiasa terus berkomitmen menjaga keutuhan bangsa, senantiasa berperan aktif dalam percaturan poltik nasional dalam Pemilu maupun Pilkada.

Karena itu, kader NU harus proakif dan istiqomah mempertahankan NKRI sebagai wujud final bagi bangsa Indonesia, harus berperan aktif memberikan hak-hak dan kewajiban rakyat dan membela mereka dari perlakuan sewenang-sewenang dari pihak mana pun, serta harus menanamkan warga NU secara khusus dan masyarakat secara umum untuk menjalankan kehidupan berpolitik yang santun dan bermoral yang tidak menghalalkan segala cara.

Di dalam tubuh NU, terdapat badan otonom (Banom) yang berfungsi menggerakkan kebijakan NU di berbagai tingkatan. Di antaranya adalah organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPNU), sebuah organisasi yang bersifatat keterpelajaran, kekaderan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. IPNU sebagai pondasi awal dan pusat embrio memahami ke-NU-an, sudah semestinya belajar menerapkan komitmen politik yang dikedepankan NU semenjak dini mungkin.

Kaderisasi, Ruh Organisasi IPNU & IPPNU

Sebagai organisasi pengkaderan, tentunya IPNU dan IPPNU mempunyai jenjang atau fase pengkaderan bagi anggota-anggotanya. Fase pertama adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Makesta adalah rekruitmen awal orang-orang akan dibaiat menjadi anggota IPNU. Orang-orang ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pesantren, pemuda desa, Ikatan Remaja Masjid (Irmas) dan mahasiswa. Pada fase ini, anggota mulai belajar memahami akidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah NU dan lain-lainnya.

Fase kedua adalah Latihan Kader Muda (Lakmud). Fase ini merupakan tahap pengkaderan seorang anggota IPNU yang telah mengikuti Makesta. Apabila di Makesta calon anggota belajar mengenal Aqidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah NU dan lain-lainnya, maka di Lakmud seorang calon kader mempunyai tugas untuk mengejawentahkannya dalam kehidupan sehari-hari, menopang tanggung jawab dalam roda organisasi, serta menjadi bandul penentu dari maju mundurnya suatu pimpinan di berbagai tingkatan.

Fase ketiga adalah Latihan Kader Utama (Lakut). Fase ini merupakan tahap pengkaderan setelah Lakmud. Pada fase ini seorang kader menuju seorang pemimpin. Seorang calon pemimpin yang mengikuti proses pengkaderan Lakut dituntut untuk membentuk idealisme dirinya dan anggotanya sehingga mampu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan skill organisatoris secara maksimal. Tujuannya adalah agar calon pemimpin yang telah mengikuti Lakmud mampu mengelola organisasi secara profesional, memecahkan permasalahan keorganisasian dan permasalahan-permasalahan sosial kemasyarakatan.

Oleh karena itu, ber-IPNU-IPPNU ialah membentuk segala macam kerangka NU itu dengan mematangkan Aqidah, Fikrah, Amaliah, Syiasyah ala Nahdlatul Ulama.

Memasuki gelanggang NU semenjak dini tidak lain kita beranjak dari kesadaran kuktural menjadi kesadaran sturtural, dari jamaah ke jamiyah, dari individu menjadi kolektif.

Intinya ber-IPNU-IPPNU itu mengidentitaskan diri semenjak dini, memperluas jejaring kekuatan sesama warga NU, menempa kedewasaan dalam mengembangkan talenta, belajar mengorganisir potensi, memetakan jejaring warga NU, membiasakan dalam melakukan khidmah bagi masyarakat sampai pada menentukan keberpihakan pada nasib dan keadaan yang dialami oleh warga NU.

Apa yang dialami kita dalam traktat tradisionalime, turast, khazanah keilmuan dan amaliah, tidaklah cukup tanpa bisa diorganisir dengan baik. Selain menakar integritas, akhlak dan kepribadian, kader itu personality branding atas organisasi, apabila kader itu baik, maka citra organisasi juga baik begitu pun sebaliknya.

Personalitas kader akan menetukan maju-mundurnya, progresif tidaknya, konsisten inkonsistenya, dinamis-statisnya, berkembang atau jumudnya suatu Ikatan. Personalitas ini tidak hanya didasari oleh basis pengetahuan yang matang, penguasaan atas kitab kuning atau kajian kontemporer, senantiasa memantik semangat literasi, atau memiliki kecakapan dalam memenejemen pembagian peran dan distribusi potensi, mengikat emosional sebagai penggalangan solidaritas dan kebersamaan.

Kader juga mesti bisa memetakan jejaring, menguasi medan dan teritorial, agar mampu berkomunikasi baik dengan beragam karakter serta mengatur ritme kepentingan. Sehingga potensi unsur produktif itu bisa mengarah dari kepentingan personal menjadi komunal.

Setiap kader dituntut bisa menghadapi situasi apapun, agar tidak terjadi dinamika yang mengarah pada pembusukan dari dalam atau membenturkan dengan unsur lain yang arahnya melemahkan komponen inti dari organisasi atau suatu kepempinan.

Pengalaman dalam mengatasi dan mengelola konflik serta kedalaman dalam membaca situasi dan reaksi yang berkembang inilah yang nantinya akan menentukan suatu keputusan yang arahnya berakibat pada dua hal, apakah maju dan berkembang atau malah terpelosok munduk dan terbelakang.

Kiranya jelas, bahwa kaderisasi adalah ruh dari IPNU-IPPNU. Apabila kita tidak berada dalam ruang-ruang pengkaderan, mengawal dan mempersiapkan tentu kita tidak bisa memastikan apakah organisasi ini akan lebih baik kedepanya. Sebab, di dalam pedoman pengkaderan kita, tidak bisa memperlakukan secara instans atau bergaya parlente dan elit. Semisal, kaderisasi kita sebatas manggung, menyampaikan materi tidak ada pengawal, pengawasan, perawatan.

Menjadi wajar kalau kualitas kader kita tidak terdidik-terorganisir-terpimpin. Sekali kita menanggalkan kaderisasi sebagai ikhwal seremonial, seketika itu juga kita memutus unsur-unsur maju dan produktif didalam organisasi. Apabila ini terjadi, akan sangat memungkinkan kalau sistem dan keberhasilan pengkaderan kita hanya menghasilkan kader-kader reaksioner tanpa prespektif, melakukan kerja-kerja pengorganisiran secara serampangan, senang mengklaim dan sebatas menjadi kepanjangan tangan dari suatu kepentingan. Mereka terbentuk karena siklus yang rapuh serta tidak ditempa dengan baik, sedikit pendekatan keilmuan sebagai dasar, minim pandangan maju yang mengkreasikan potensi produktif menjadi suatu kekuatan.

NU boleh dikatakan sebagai kegiatan yang berkahi lagi penuh lapisan manfaat. NU juga boleh dikatakan sebagai penjaga gawang Aswaja Annahdliyah yang mengantar kemaslahatan dunia dan akhirat. Tetapi, unsur-unsur doktrinasi tidak begitu saja menjadikan seseorang yang bergerak di dalamnya menjadi sosok yang militan dan progresif tanpa pergolakan dan benturan yang dialami dalam beragam dinamika selama berproses yang dijalaninya.

Membentuk seseorang yang punya loyalitas dan keterampilan dalam memimpin serta kedewasaan ketika dipimpin tidak turun begitu saja dari langit, tapi butuh ikhtiar, ketelatenan kedispilinan yang mesti dilaluinya dalam satu tarikan nafas yang panjang. Mau apa kalangan muda NU yang notabane-nya palajar, pemuda desa, mahasiswa maupun santri jika ber-NU hanya karna kebesaran, glorifikasi tanpa mau membesarkan tanpa mau menggelorakan?

Kita pantas menengok ke belakang, bahwa Buya Said Aqil (KH Said Aqil Siroj, kini Ketu PBNU) dulunya aktif di IPNU. Demikian juga dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hampir semua tokoh besar NU pernah aktif, menghidupi dan berkontribusi bagi organisasi pengkaderan NU paling bawah ini.

Tidak ber-IPNU-IPPNU oleh gengsi karena putra kiai; minder karena IPNU isinya kalangan bawah, apalagi karna IPNU tidak punya daya Jual? Atau karena alasan yang ditumpuk sebab ber-IPNU itu buang-buang waktu? Bahkan yang lebih parahnya, malas ber-IPNU karena minim relasi elit yang bisa menopang karir?

Yaa ayyuhal muddatstsir—Qum fa andzir. Hai Orang-orang yang berselimut, ayo bangunlah, beri peringatan. Hai kaum muda NU yang bermalas-malasan, segera bangkit menggerakan persatuan.

Sebab jika putera kiai, semestinya lebih giat lagi. Kenikmatan punya nasab itu mesti sepunggung dengan tanggung jawab. Zaman sudah banyak berubah, yang ngaristokrat dan tak mau bergumul, malah memilih berleha-leha di kerajaan kecil. Perlu diingat, NU besar karena menjaga sanad, menjaga silsilah perjuangan. Apabila leluhur kita berjuang dengan darah, kita berjuang mesti melebihi dengan daging pula.

Atau tidak ber-IPNU-IPPNU karena minder? Karena watak kita sudah terbentuk eksklusif Zaman Now yang katanya mesti trendy, mengikuti pasar model, sehingga kalau berkawan orang desa seolah menurunkan muru’ah, tak sederajat? Justru dengan kita terus berdekatan dengan pemuda desa, kita akan tahu akar permasalahan yang sebenarnya, kita akan ditempa kesabaran dan ketelatenan bagaimana bisa kaum muda NU itu terdidik, terpimpin dan terorganisir.

Ber-IPNU itu akan memberi kepahaman bahwa banyak kompleksnya persoalan warga NU. Dari yang berada di bawah garis kemiskinan yang ‘wong NU’, keterbelakangan yang banyak ‘wong NU’, sampai krisis aqidah dan ideologi juga banyak dari kalangan NU.

Ber-IPNU itu mendekatkan kita pada ulama, menyelaraskan khidmah kita semenjak dini. Kita ditempa dengan pengetahuan, membangun akses dan jaringan sesama orang NU dari berbagai latar belakang. Kita mengetahui akar dan identitas, mana yang kita perjuangkan dan untuk apa kita memperjuangkanya.

Mari Ber-IPNU dengan riang gembira, menjaga tradisi Ahlussunnah waljamaah (Aswaja) Annahdliyah.

Penulis Hasan Malawi Wakil Ketua II Kaderisasi PW IPNU Jawa Barat 2018. (Tulisan ini di ambil dari NU Online untuk kebutuhan isi postingan dalam masa pembuatan website baru pelajarmetro.id)

Kembali Mengingat Cita-cita KH Tolchah Mansoer Dirikan IPNU

0
KH. Tolchah Mansoer (Foto : Dok.Istimewa)

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) lahir pada 24 Februari 1954, menjelang Pemilu 1955. Keberadaannya merupakan bagian dari Keluarga Besar Partai Nahdlatul Ulama. Ketika itu, IPNU menjadi underbow NU yang sedang berstatus sebagai partai politik.

Namun, Pendiri IPNU KH Tolchah Mansoer berkomitmen bahwa IPNU dilahirkan bukan untuk kepentingan politik. Ia tetap memandang bahwa IPNU tetap memiliki independensi sebagai organisasi pelajar.

Di sinilah tantangan Kiai Tolchah muncul. Ia harus mampu memposisikan IPNU sebagai organisasi penyatuan sekaligus sebagai ruang kaderisasi pelajar NU tanpa harus terintervensi oleh berbagai kegiatan politik. Jelasnya, NU menjadi besar bukan karena IPNU. Sebab basis NU memang sudah kuat, terutama di wilayah Jawa.

Meski demikian, IPNU tetap memiliki peran dan andil besar dalam membesarkan NU dari sisi kaderisasinya. Tidak mudah untuk mengembangkan organisasi kader non-politik di saat induknya menjadi partai politik. Pendirian IPNU merupakan usaha untuk membuat rumah sendiri, agar para santri dan pelajar NU dapat lebih berkreasi. Bahkan sebagai ruang untuk berjuang dalam memperjuangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Hal tersebut dipahami Tolchah karena saat itu, ia melihat banyak anak muda NU dari Jawa Timur yang mengenyam kuliah di Yogyakarta. Mereka membutuhkan tempat untuk berorganisasi dan wadah yang paling tepat adalah IPNU.

Sekilas perjalanan KH Tolchah Mansoer dalam merintis IPNU

IPNU dirintis oleh tokoh penting bernama KH Tolchah Mansoer. Tokoh ini tidak terlalu populer di mata masyarakat umum. Berbagai dugaan muncul, tenggelamnya tokoh penting ini terjadi karena ia lebih memilih tinggal di Yogyakarta ketimbang di Jakarta sebagai pusat kekuasaan.

Ketidakhadirannya dalam berbagai literatur sejarah NU tidak berarti Kiai Tolchah tidak memiliki peran penting. Bahkan justru, peran yang dilakukan Kiai Tolchah tidak kalah penting dengan tokoh-tokoh NU yang lain.

Sejak kecil, Tolchah pernah mengikuti organisasi Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama (IMNO) dan Barisan Sabilillah. Keduanya merupakan perkumpulan yang dibentuk untuk mengadakan perlawanan terhadap kolonialisme.

Kiai Tolchah juga pernah aktif di dua organisasi non-NU. Di Pelajar Islam Indonesia (PII), ia menjabat sebagai Ketua Departemen Penerangan dan Ketua I Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta.

Ketika aktif di dalam organisasi itu, ia merasa bahwa aspirasi pelajar dan santri NU mulai tidak digubris. Dari situlah kemudian, Tolchah bersama rekan-rekannya mulai memikirkan untuk membuat perkumpulan yang bisa menampung aspirasi santri dan pelajar NU. Beberapa temannya itu adalah Ismail Makki, Mohammad Sufyan Kholil, Mustafa, dan Abdul Ghani Farida.

Mereka kemudian aktif melakukan konsolidasi gerakan kaum muda NU. Biasanya, mereka berkonsolidasi di sebuah rumah kos-kosan di daerah Bumijo, Yogyakarta. Langkah tersebut dilakukan untuk membahas lebih lanjut tentang apa saja yang perlu mereka lakukan untuk membuat suatu organisasi pelajar yang sesuai dengan latar belakang NU.

Setelah melalui berbagai diskusi dan dianggap telah matang, gagasan perintisan itu kemudian dibawa pada Konferensi Besar Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU di Semarang, pada Februari 1954. Gagasan Tolchah dan rekan-rekannya itu akhirnya disambut positif. Konferensi tersebut mengesahkan berdirinya IPNU pada 24 Februari 1954. Tolchah dipilih sebagai Ketua Umum IPNU, sekalipun ia sendiri berhalangan hadir. Ketika dipilih, ia berusia 24 tahun.

Tolchah juga dinilai sebagai mahasiswa yang paling cerdas dan menonjol di antara rekan-rekan yang lain, saat itu. Tolchah juga dinilai sebagai tokoh pelajar yang memiliki gagasan dan pemikiran untuk menggabungkan kaum santri dan pelajar umum.

Di tulis oleh Aru Lego Triono, Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (Tulisan ini di ambil dari NU Online untuk kebutuhan isi postingan pembuatan website baru pelajarmetro.id)

Disadur dari buku “KH Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan” karya Caswiyono Rusydi Cakrawangsa, Zainul Arifin, dan Fahsin M. Fa’al (2009)