Sabtu, April 11, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 65

Peduli Guru Ngaji yang Terdampak COVID 19, RMI NU dan Para Ulama Beri Kado Lebaran

0

Program Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji Tercinta ini ditargetkan mencapai 5.000 paket yang akan didistribusikan kepada guru-guru ngaji, marbot masjid, dan ustadz pesantren se Indonesia, terutama daerah-daerah Zona Merah.

Jakarta 2020 – Di masa saat ini dunia tengah dihadapkan dengan masalah yang serius akibat dari serangan virus SARS-CoV-2 atau yang lebih dikenal dengan Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19). Bukan hanya kesehatan dan nyawa manusia yang diperjuangkan, namun juga ekonomi negara yang melambat akibat serangan virus yang diduga berasal dari China tersebut. Dan Indonesia juga merupakan salah satu negara yang terdampak.

Menurut ketua umum Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-NU Pusat) Abdul Ghaffar Rozin belakangan ini banyak sekali seruan untuk peduli sesama, salah satu contohnya ialah peduli Ojek Online (ojol). Namun beliau rasa masih kurang karena masih banyak lapisan masyarakat yang lebih terdampak karena adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, seperti Guru Ngaji.

“Tempo hari, banyak orang yang menyerukan peduli Ojek Online (ojol) dengan memberikan bantuan. ini bagus. Namun tidak cukup di situ. Sebab, banyak komponen bangsa yang terdampak lebih serius. Salah satunya adalah para guru ngaji di langar-langgar, musholla, dan pesantren. Kelompok ini kurang mendapatkan perhatian dan sering terlupakan” ujar Beliau.

Melihat Guru Ngaji yang terdampak cukup serius RMI-NU dan Para Ulama membuat program peduli Guru Ngaji yang diberi nama Kado Lebaran untuk Guru Ngaji Tercinta, dengan target 5000 paket kado yang nantinya diberikan  kepada guru-guru ngaji, marbot masjid, dan ustadz pesantren se Indonesia, terutama daerah-daerah Zona Merah.

Adapun kriteria yang  mendapatkan bingkisan lebaran untuk guru ngaji tersebut menurutnya adalah Guru Ngaji, Bukan PNS, dan belum menerima bantuan dari manapun.

“RMI NU membuat Program Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji Tercinta ini ingin menjangkau para guru Ngaji yang terdampak namun sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun. Jadi kriteria yang mendapatkan bantuan ini tiga; 1) guru ngaji 2) bukan PNS, 3) belum mendapatkan bantuan” lanjut Gus Rozin sapaan akrab beliau.

“RMI NU bersama dengan para kiai, pengasuh pesantren dan bu Nyai Nusantara terus menggaungkan dan menyukseskan program ini. Kita bersyukur, program Bingkisan Lebaran Untuk Guru Ngaji ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari publik, dari para kiai, pengasuh pesantren dan influencer. Bahkan, KH. Musthofa Bisri atau yang dikenal dengan Gus Mus juga turut berkontribusi dalam gerakan ini, serta mengajak kita semua untuk turut berdonasi untuk Guru Ngaji melalui RMI NU” tambah Gus Rozin.

Dari pantauan akun Instagram RMI NU, terdapat sejumlah tokoh yang turut serta terlibat dalam program Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji Tercinta ini. Beberapa di antaranya adalah Gus Mus, Gus Miftah, Gus Rozin, Gus Lukman Haris Dimyati, Gus Hilmi Muhammad, Ajengan  Amin Maulana, Gus Mahrus Iskandar, Gus Zaki Hadzik, Nyai Maslachatul Ammah Sholeh, serta sejumlah Kiai dan Bu nyai lainnya. Bahkan video yang diposting oleh dai kondang Gus Miftah telah ditonton lebih dari 150 ribu, juga direpost oleh Inul Daratista.

Menurut Gus Rozin Sampai hari ini, (Selasa, 12/5) donasi dalam bentuk uang yang sudah terkumpul oleh RMI, sebagaimana yang dilaporkan dalam website https://rmi-nu.or.id telah mencapai 100an juta. Dari dana yang terkumpul tersebut, RMI telah mendistribusikan ratusan paket di sejumlah daerah, seperti di Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Solo, Garut, Lebak, Cirebok, Depok, Bogor dan lain sebagainya. Dan distribusi ini akan terus berjalan parallel dengan penggalangan dana.

Dana yang terkumpul tersebut akan dibelanjakan dalam bentuk barang dan sebagian berupa uang, yang akan sampaikan kepada guru ngaji. Selain berupa uang, RMI juga menerima bantuan dalam bentuk barang. Semua donasi ini akan dilaporkan kepada publik secara transparan dan akuntabel melalui website https://rmi-nu.or.id serta akun media sosial RMI NU, imbuh Gus Rozin.

Beliau berharap banyak orang yang terlibat dalam gerakan ini dengan memberikan donasi melalui Rekening BNI 0860332209 atas nama RMI NU, mengingat para guru ngaji ini sering terlewat dalam pendataan sebagai orang yang berhak mendapatkan bantuan.

Kampanyekan Pakai Masker, Pelajar NU di Limpung bagikan 500 Masker gratis ke Masyarakat

0

“Karena masih ada yang belum pakai masker maka kami beri mereka masker gratis agar mereka sadar dan senantiasa pakai masker saat keluar rumah” Ujar Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) desa Limpung.

Kegiatan dengan nama Gerakan Sejuta Masker ini digelar dalam rangka mengkampanyekan kepada masyarakat supaya selalu memakai masker saat keluar rumah guna menekan angka penularan virus corona yang berada di wilayah Kecamatan Limpung.

Sebanyak  500 masker dibagikan secara gratis oleh Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) desa Limpung, Kecamatan Limpung Kabupaten Batang pada Minggu sore (10/5).

Ada dua titik lokasi pembagian masker gratis, yang pertama di Kawasan Alun-Alun Limpung, dan yang kedua berada di Jalan Diponegoro depan Sekolah Dasar Negeri (SD N) 01 Limpung yang dibagikan selama kurang lebih satu jam dari pukul 16.15 sampai 17.15 WIB.

Sasaran utama yang mendapatkan masker gratis adalah warga yang kurang mampu dan profesi yang rentan kontak fisik seperti Tukang Ojek, Tukang Parkir, Tukang Becak, dan Pedakagang Kaki Lima (PKL) yang berada di piggir jalan dari Alun-alun hingga Terminal Limpung.

Dengan mengusung tema Saling Jaga dan Saling Bantu Ketua IPPNU Ranting Limpung Najunda berpesan kepada masyarakat untuk senantiasa menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan lingkungan masing-masing dan kepada yang terpaksa keluar rumah karena hendak membeli barang barang pokok seperti makanan lainnya agar tidak lupa memakai masker dan tetap  menerapkan Physical Distancing atau jaga jarak seperti anjuran pemerintah.

“Kepada semua masyarakat untuk tetap di rumah saja dan apabila terpaksa keluar selalu terapkan jaga jarak aman, dan hindari kerumunan” ujar Junda sapaan akrab beliau.

Ia juga berharap dengan acara bagi bagi masker gratis agar digunakan sebaik-baiknya

“Semoga dengan adanya kegiatan ini masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga diri agar terhindar dari virus corona, dengan salah satunya ialah memakai masker saat keluar rumah” lanjut beliau.

Sejauh ini tercatat ada 3 warga di Kecamatan Limpung yang positif terkena virus SARS-CoV-2 ini, dan ada 4 warga yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan ada 9 warga yang masuk kategori Orang Dalam Pengawasan (ODP).

Masing-masing desa di kecamatan Limpung pun sudah mulai melakukan langkah preventif dengan membuat pintu masuk yang dijaga oleh tim relawan desa agar memperkecil akses keluar masuk masyarakat luar ke desa tersebut.

Oleh : Hafedz Maschun

Kembali adakan Talk Show Online, PAC IPNU IPPNU Limpung membahas aspek Ekonomi di tengah Pandemi

0

Ahad, 10 Mei 2020 Pimpinan Anak Cabang IPNU IPPNU gelar talk show online edisi kedua. Di edisi kedua ini, tema yang diambil yaitu “Langkah Pemerintah dalam Menjalankan Perekonomian Masyarakat di Masa Pandemi” dengan menghadirkan secara langsung Rekan Ahwan Sholih sebagai narasumber di MWC NU kecamatan Limpung. Ditemani Rekan Zaenul Mustofa selaku moderator, talk show yang berdurasi 20 menit ini berjalan dengan lancar mulai dari pengambilan gambar, hingga penyambungan gambar ke media sosial PAC IPNU IPPNU kecamatan Limpung.

Setelah di Minggu kemarin sukses membahas dari segi kesehatan, Minggu ini mengangkat topik lain dari aspek perekonomian. Hal ini direncanakan akan dibahas satu persatu dari segala aspek nantinya. Seperti yang diungkapkan oleh Rekanita Wardah Minatillah (Ketua PAC IPPNU kecamatan Limpung) saat ditemui.

“Rencananya ini nanti akan dibahas satu persatu dari berbagai aspek. Insyaallah semoga lancar, ini akan jadi salah satu kegiatan kami di tengah Pandemi. Karena sebenarnya bulan Mei banyak sekali agenda PAC Limpung. Akan tetapi, kami tetap himbau seluruh kader di Limpung supaya patuh atas kebijakan pemerintah”.

Dalam pembahasan talk show kali ini, bahwa kita tahu perekonomian Indonesia menghadapi kemerosotan. Tidak hanya negara, pemasukan masyarakat menjadi berkurang dengan adanya kebijakan pemerintah untuk tetap diam di rumah. Hal ini dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Tidak hanya masyarakat menengah bawah, tetapi juga masyarakat menengah atas pun terkena dampaknya. Dari peristiwa ini PAC IPNU IPPNU kecamatan Limpung mencoba mengulik peran pemerintah terkait langkah tepat yang dikeluarkan pemerintah di tengah Pandemi untuk masalah perekonomian ini.

Di dalam penjelasan materi Rekan Ahwan Sholih menjabarkan bahwa,
“Pandemi covid-19 ini cukup memberikan dampak yang sangat luar biasa terutama perekonomian Indonesia. Apalagi dengan diterapkannya Physical Distancing atau dilarangnya kerumunan. Kita ambil satu contoh orang yang usahanya seperti Wedding Organizer, atau jasa dokumentasi ini menurun secara drastis karena banyak jadwal resepsi yang ditunda sebab pandemi ini. Hal ini yang kemudian disebut perekonomian terkena dampak. Kemudian, kalau dilihat secara skala besar, sebenarnya Indonesia ekonominya sudah bagus, walaupun dikatakan negara berkembang. Namun Indonesia diproyeksikan menjadi negara maju atau Indonesia emas pada tahun 2045, di tahun 2030, kita akan merasakan yang namanya bonus demografi.
Dilihat dari proyeksi ini, keadaan perekonomian Indonesia sangatlah bagus. Namun perlu diketahui, sejak datangnya pandemi covid-19 menjadikan GDP menurun. Nah GDP ini diproyeksikan dengan angka 5%,, namun karena pandemi ini menurun menjadi 2,5% saja.
Kemudian untuk langkah pemerintah sendiri, dalam mengatasi Corona, itu ada banyak sekali sektornya, misal dari ekonomi UMKM itu diberikan solusi dengan penundaan pembayaran pajak, UMKM yang modalnya dari kredit mendapatkan subsidi bunga, kemudian pemerintah juga membantu menyediakan untuk masyarakat, seperti BLT dan bansos lain dari potongan dana desa. Bagi perusahaan besar juga ada stimulus modal kerja. Dalam hal ini saya rasa langkah pemerintah sudah tepat, meski dalam pelaksanaan masih banyak evaluasi”.

Kebijakan pemerintah sudah tepat dalam menjalankan roda perekonomian di tengah Pandemi. Masyarakat sudah sepatutnya mematuhi kebijakan pemerintah agar Corona cepat berlalu dan Indonesia kembali normal.

Penulis : Nur Fuadah

Kiai Anwar Batang dan Kitab Fikih Kuliner (Aisyul Bahri)

0

Kitab Aisyul Bahri karya Kiai Anwar Batang ini menjelaskan tentang hewan-hewan yang hanya hidup di laut (air), dan hewan yang hidup di laut dan darat, beserta status hukum mengonsumsinya.

Penulis pertama kali mendengarnya dari Kiai Dimyati Rois Kaliwungu. Kiai yang juga petani sekaligus politisi ini, dalam beberapa kali ceramahnya, mengisahkan, bahwa Kiai Anwar Batang itu satu masa dengan Kiai Nawawi Banten dan Kiai Kholil Bangkalan. Bahkan, menurut Abah Dem (panggilan santri dan masyarakat kepada beliau) pernah terjadi pertemuan para ulama di rumah Kiai Anwar Batang di Alas Roban, yang dihadiri oleh Kiai Nawawi Banten beserta ulama Banten, Kiai Kholil Bangkalan beserta ulama Bangkalan dan Kiai Anwar Batang beserta ulama Batang. Pertemuan itu terjadi kira-kira lima puluh tahun sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kitab ini, kata Kiai Ubaid Sodaqoh Bugen Semarang di Acara Konfercab NU Batang 2018, juga pernah menjadi rujukan dalam menentukan status hukum kepiting, dalam bahsul masail di Pondok Ploso Kediri, beberapa tahun silam. Status hukum hewan kepiting menjadi awal pembahasan kitab yang halamannya tak mencapai seratus. Kiai Dimyati, dalam ceramahnya, sering bercerita bahwa kepiting menurut Kiai Anwar Batang itu halal.

Bersandar pada Data Empiris

Kiai Anwar, dalam karyanya ini, tak langsung memberikan status hukum, apakah ini halal atau haram, tapi beliau terlebih dahulu, menjelaskan bentuk fisik, dan cara hewan-hewan tersebut hidup. Apakah termasuk katagori hewan yang hanya hidup di laut (air) atau hidup di laut dan sekaligus di darat.

Saat menjelaskan kepiting, Kiai Anwar menggunakan redaksi “al-kepitingu”, dan menerangkan, bahwa kepiting itu adalah hewan yang hanya hidup di laut. Bentuknya mirip dengan hewan rajungan. Memiliki enam kaki dan dua capit. Punya beberapa kuku tapi tanpa cakar (tidak tajam). Memiliki alat untuk mengambang atau berenang di beberapa kaki bagian belakang, dan mampu mengambang atau berenang.

Kiai Anwar juga menjelaskan, dinamakan kepiting karena hewan tersebut diikat setelah ditangkap, supaya tidak mencapit penangkapnya. Salah satu polah kepiting adalah mencapit penangkapnya secara spontan dan kuat. Kepiting bisa bertempat di air laut yang asin dan air tawar. Terkadang kepiting bisa didapatkan di laut atau di leng (lubang) pinggiran telaga atau sungai. Di dalam leng yang ditempati kepiting terdapat air. Kepiting menempatinya baik malam atau siang hari—menurut salah satu teman yang bekerja di tambak, kepiting biasanya bisa ditemukan di semak-semak tetumbuhan mangrove di tambak.

Ketika ada makanan di depannya, kepiting menangkapnya dengan capit dan menarik makanan itu ke dalam mulutnya. Kepiting tidak muncul ke darat, kecuali untuk sebuah tujuan seperti berputar-putar untuk lewat saja, dan itu pun hanya terjadi dalam waktu yang sebentar.

“Aku telah menyaksikannya berkali-kali. Kepiting merupakan hewan yang menetap di air, tempat makan dan mencari makannya (mar’a) juga di air,” tulis Kiai Anwar.

Menurut Kiai Anwar, kepiting tak bisa hidup di darat, kalau pun hidup di darat, itu pun tak lama. Maka dengan penelitiannya itu, Kiai Anwar tak ragu sama sekali, mengategorikan kepiting sebagai hewan yang hanya hidup di air. Karena itu halal hukumnya.

Cara Kiai Anwar di atas bisa dikatakan sebagai metode empiris yang bersandar pada data lapangan. Ia menolak pendapat yang mengatakan haramnya kepiting. Pendapat yang demikian itu, menurutnya tak memiliki dasar. Dengan bersandar pada pendapat Imam Syafi’i yang berpandangan bawah hewan yang hanya hidup di air itu boleh di makan, Kiai Anwar dengan hasil penelitiannya, menyimpulkan bahwa kepiting boleh dimakan, karena hanya bisa hidup di air.

Kritik Kiai Anwar ini bukanlah kritik atas pemahaman teks saja, melainkan kritik atas klasifikasi atau kategorisasi hewan-hewan laut atau darat sekaligus laut berdasarkan data lapangan. Kiai Anwar tak setuju dengan pendapat yang menyamakan kepiting dengan hewan sarathan (bahasa Arab), yang dalam kitab kuning diberi label hukum haram.

Menurutnya, sarathan memiliki delapan kaki, tapi tak memiliki alat berenang seperti kepiting. Terdapat cakar pada kukunya (kuku tajam), sedangkan kepiting tidak. Sarathan bisa hidup di darat secara langgeng (hayyun daimun), berbeda dengan kepiting yang hidupnya di darat tidak langgeng atau seperti hidupnya hewan setelah disembelih (hanyyun la yadum atau hayyun mazbuhun).

Metode seperti di atas diterapkannya pula dalam pembahasan hewan-hewan seperti bulus, timsah (buaya), sulahfah (dalam kamus al-Munawir bermakna kura-kura dan penyu. Kiai Anwar membedakan bulus dengan sulahfah, jirits (menurut Kiai Anwar bahasa Jawanya itu welut, bahasa Melayunya belut), hayya (ular) dan lain sebagainya.

Respons atas Wacana yang Beredar

Tampaknya kitab ini ditulis sebagai respons atau kritik atas wacana yang beredar perihal haramnya hewan-hewan seperti kepiting, karena dianggap hewan yang hidup di dua alam atau dianggap sebagai sarathan—kalau kita melihat kamus al-Munawir dan beberapa makna kitab kuning, sarathan dimaknai kepiting.

Hal itu tercermin dari cara Kiai Anwar menyampaikan pendapatnya dalam kitabnya. Sebagaimana telah disinggung di atas, Kiai Anwar berusaha membuktikan bahwa kepiting ini hanya hidup air, juga menjelaskan secara detail bahwa kepiting itu beda dengan sarathan.

Kiai Anwar juga menulis, sebab meluasnya kabar hukum haramnya kepiting sampai ke tempat-tempat jauh sana, lantaran ada penjelasan perihal itu dalam kita Majmu’ul Jawi. Lalu sebab ada yang mengatakan bahwa kepiting itu sarathan, tanpa disertai dalil atau bukti dan memberi label haram, yang akhirnya membuat orang-orang awam mengikuti pendapat itu. Padahal itu hanya rumor belaka, yang tak bisa dibuat pegangan.

Orang yang berpendapat bahwa kepiting termasuk kategori hewan yang hidup di darat, itu timbul dari sangkaan (wahm) belaka, sebagaimana sebuah cerita, ada seorang guru (syekh) dan murid-muridnya suatu ketika berjalan di pinggiran sungai atau telaga, lalu terlihat seekor kepiting berputar-putar di pinggiran sungai itu dalam waktu yang sebentar.
Kemudian guru itu menyangka bahwa kepiting termasuk hewan yang bisa hidup di darat, yang hukumnya haram, kemudian disampaikan kepada murid-muridnya. Yang demikian, menurut Kiai Anwar tak bisa dijadikan pijakan, karena tak ada dalil atau bukti yang kuat. “Dia (syaikh/guru dalam cerita di atas) tak mengetahui macam-macam hewan laut” jelas Kiai Anwar.

Perdebatan tentang halal atau haramnya kepiting kelihatannya mencapai taraf yang sangat sengit pada waktu itu. Kiai Anwar menyebutkan sesuatu, yang mengindikasikan ada yang sampai menilai murtad bagi yang menghalalkan kepiting.

Begitulah sekilas tentang Kiai Anwar dan kitabnya yang telah lama hilang dari dunia pesantren. Naskah paling lama yang penulis temukan adalah scan dari kitab Asyul Bahri milik Kiai Basyir Jekulo Kudus. Di sampul depan kitab Aisyul Bahri tertulis, bahwa penerbitan kitab ini sudah mendapatkan ijin dari Kiai Kholil Bangkalan dan Kiai Muhammad Faqih al-Kumambani—kemungkinan yang dimaksud adalah Kiai Muhammad Faqih Maskumambang, sebagaimana keterangan dari Kiai Dimyati Rois. Menurut Kiai Dimyati, pada sampul kitab yang dulu tertulis disampulnya “sudah di tashih” oleh Kiai Kholil Bangkalan dan Kiai Fakih Maskumambang yang juga akrab dengan kehidupan tambak.

Di halaman terakhir, Kiai Anwar menjelaskan, risalah ini selesai ditulis pada malam Ahad bulan Sofar 1339 H. (bertepatan dengan 1920 M). Pada bagian sebelum akhir kitab ini, Kiai Anwar mencantumkan bab berjudul faidah-faidah agung nan berkah, yang berisi tentang doa-doa seperti doa supaya hajat terkabul dan hilangnya kesusahan.

Sekarang kitab ini dicetak ulang oleh Pesantren Darul Ulum Tragung Kandeman Batang. Untuk membaca kitab ini penulis minta bantuan teman yang rumahnya dekat dengan pesisir dan akrab dengan dunia tambak. Penulis yang tanpa pengetahuan tentang hewan-hewan yang hidup di laut (air) atau di laut dan di darat ini merasa kesulitan membayangkan bentuk hewan-hewan tersebut.

Keterangan detail ciri-ciri fisik dan polah kebiasaan hewan-hewan dalam kitab ini mengindikasikan, selain ulama, Kiai Anwar adalah seorang yang paham betul dengan kehidupan pesisir. Mungkin juga beliau itu nelayan, atau petani?

*Artikel ini pernah di muat di alif.id dengan judul Fikih Kuliner: Aisyul Bahri, Kitab Ulama Batang yang Hilang

Zaim Ahya, Founder takselesai.com

Talk Show Online Trobosan Baru PAC IPNU IPPNU Kecamatan Limpung di Tengah Pandemi

0

Di tengah pandemi covid-19, Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU kecamatan Limpung mengadakan talk show online dengan tajuk “perkembangan vaksin dan obat covid-19”. Acara yang digelar melalui live Instagram dan Chanel YouTube Pelajar NU Limpung ini menghadirkan rekan Ahmad Jazuli, S. Farm dan Adinda F. M sebagai moderator.

Tim Jurnalistik, menghadirkan narasumber lengkap dengan moderatornya di MTs NU Al-Syairiyah Limpung untuk proses pengambilan gambar, lalu kemudian disambungkan ke media sosial PAC IPNU IPPNU kecamatan Limpung.

Sejak diterapkannya Physical Distancing, pelajar NU berusaha mematuhi kebijakan pemerintah. Menunda segala bentuk kegiatan hingga corona sirna.

Pertanggal 3 Mei 2020, Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU kecamatan Limpung mengajak seluruh kader untuk tetap produktif dengan belajar bersama rekan Ahmad Jazuli, S. Farm, secara daring.

“Walaupun di rumah saja, harapannya temen-temen masih bisa belajar bersama melalui talk show online ini” ujar rekan Asrofi (Ketua IPNU PAC kecamatan Limpung) saat ditemui.

Di dalam penyampaian materinya, rekan Ahmad Jazuli mengatakan bahwa,
“Akhir-akhir ini memang ya beberapa obat itu dicoba untuk covid-19. Kenapa? Karena masih coba-coba dan virus ini tergolong virus baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan akan ada covid-19 ini, sehingga tenaga medis di rumah sakit pun masih coba-coba mana yang baik dan bagus untuk pengobatan. Seperti Remdisivir misalnya, ini digadang-gadang mampu menyembuhkan Corona padahal sebenarnya obat ini bukan spesifik untuk covid-19. Untuk vaksin covid-19 sendiri sepertinya akan menjadi penangkal virus covid-19 yang diidamkan. Bahwa vaksin ini yang ditunggu-tunggu oleh kita semua. Dengan mudahnya penyebaran virus ini, nampaknya akan susah sekali untuk menghilangkannya sampai pada tahap 0%, misal sudah sembuh memungkinkan nanti akan terpapar kembali. Kalau sudah ada vaksin, orang yang sudah divaksinasi kalaupun mereka terpapar virus tidak akan terkena penyakitnya. Lalu bagaimana perkembangan vaksin sampai detik ini? Di berbagai belahan dunia, kini tengah berlomba-lomba menemukan vaksin tersebut. Beberapa negara yang sudah menemukan kandidat vaksin diantaranya China, Amerika, Jerman dan Inggris”

Hal ini yang kemudian memberi tugas baru bagi kita pelajar NU Indonesia agar tetap update perkembangan covid-19 sembari belajar. Tetap semangat dan tetap jaga kesehatan, patuhi anjuran pemerintah dan laksanakan dengan sepenuh hati.

Penulis : Nur Fuadah

Gugah semangat ditengah Pandemi, PC IPNU & IPPNU Batang gelar lomba Video Instagram

0

Sembari memperingati hari Kartini saat karantina mandiri, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menggelar lomba video instagram (vidgram).

Lomba yang digelar di bulan April 2020 ini mengambil tema “Kartini Masa Kini, Inspirasi Bagi Negeri” diharapkan dapat memacu kreativitas dikalangan pelajar Batang supaya tergugah untuk berkarya dan berpartisipasi dalam acara ini.

Ketua PC IPNU Batang Rekan Syarifudin mengatakan selama masa pengiriman video dari tanggal 17-30 April 2020 sudah ada 25 video masuk, dan dari ke 25 video tersebut akan dilakukan penilaian oleh tim juri pada tanggal 1-2 Mei 2020. Setelah melewati tahap penilai diumumkan tiga juara pada 4 Mei 2020 lewat akun instagram @pelajarnubatang.

 “Pemenang lomba Vidgram ini atau yang meraih juara pertama adalah Chindy Utami Lindia Wati (@cndyul), pelajar Desa Sendang, Kecamatan Wonotunggal, Batang, disusul dari Pimpinan  Ranting Banjiran (@pripnuippnubanjiran) sebagai juara kedua, dan Khoirin Vangkek Lung (@koirin_2570) sebagai juara ketiga ” ujar Rekan Syarif.

“Acara ini sekaligus meningkatkan kreativitas serta merespon pelajar NU menghadapi Society 5.0 atau Masyarakat 5.0, di mana era disrupsi semuanya akan mengalami perubahan, termasuk dalam memberikan pesan terhadap sesama pelajar yaitu melalui vidgram ini,” lanjut beliau.

Hal senada dikatakan Ketua PC IPPNU Batang Rekanita Maulinatus Sholikhah, bahwa lomba Vidgram tersebut untuk meningkatkan daya kreativitas pelajar di era digitalisasi, juga sebagai refleksi perjuangan RA Kartini yang sangat menginspirasi kaum muda, khususnya kalangan perempuan.

“Di masa RA Kartini saja, beliau bisa menghasilkan banyak karya dan gagasan yang cemerlang. Padahal belum memiliki kemerdekaan dalam  berfikir, bertindak maupun belajar. Sedangkan kita yang sudah memiliki kemerdekaan seharusnya mampu mencontoh. Bahkan, harus lebih dari apa yang telah beliau lakukan,” ujar Lina sapaan akrab beliau

Ia berharap, masa pandemi ini tidak hanya digunakan untuk bermalas-malasan dan rebahan saja. Akan tetapi, sebagai seorang terpelajar harus tetap produktif. “dengan diadakannya lomba ini diharapkan mampu menggugah pelajar perempuan khususnya untuk dapat menginspirasi sesamanya,” tambahnya.

Sebagai panitia penanggung jawab, Roni Ainun Najib menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada segenap pelajar NU Batang yang telah berpartisipasi dalam lomba ini. Untuk para pemenang hadiah akan segera dikirimkan ke rumah masing-masing, ia juga berpesan kepada yang belum beruntung untuk tetap bersemangat dan diharapkan dapat berpartisipasi dalam acara serupa yang akan diadakaan di waktu mendatang.  

“Lomba ini tetap memperhatikan Protokol kesehatan yang dihimbau oleh pemerintah dengan  mengganti media tatap muka dengan menggunakan daring. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga  keamanan dan kesehatan di tengah merebaknya pandemi Corona,” tutupnya.

Sulfiana

Batang dalam Sejarah Sultan Agung dan Kitab Aisyul Bahri

1

Beberapa hari ini berseliweran di beberapa media sosial status teman-teman perihal hari jadi Kabupaten Batang. “Selamat Hari Jadi Kabupaten Batang ke 54, Batang 1966-2020” begitu kira-kira teman-teman mengekspresikan atas peringatan hari jadi Kabupaten tercintanya ini.

Walaupun begitu, beberapa teman mempertanyakan tahun yang dijadikan sebagai pijakan hari jadi tersebut. Kata salah satu teman dalam status media sosial, Kabupaten Batang berdiri jauh sebelum tahun 1966 yang sekarang dijadikan sebagai hari jadi Batang.

Perdebatan tentang tahun pijakan tersebut sudah penulis lihat di media sosial tahun lalu. Namun sepertinya perdebatan tersebut tidak berkembang, dalam arti masih sekedar status media sosial yang tidak diiringi dengan data atau referensi yang cukup.

Mencari data atau referensi perihal Batang seperti memang cukup sulit. Di hasil pencarian Google, situs atau web yang menyajikan sejarah Batang sangat terbatas. Salah satu situs yang cukup banyak mengulas sejarah Batang adalah Wikipedia, tentu dengan perbandingan situs-situs yang lain yang belum penulis temukan.

Kalau kita mengacu kepada data Wikipedia, tentu ini harus diteliti lebih lanjut, sejarah Batang dibagi menjadi tiga periode.

Dalam situs tersebut dijelaskan, Kabupaten Batang sudah berdiri sejak abad ke 17. Tepatnya pada tahun 1614, jika mengacu pada status Sodikin Rusydi di akun Facebooknya (07/04/2020). Kedudukan Batang sebagai Kabupaten mandiri ini bertahan sampai 31 Desember 1935, dan sejak 1 Januari 1936, Batang fusion atau masuk di bawah pemerintahan Kabupaten Pekalongan. Lalu pada 8 April 1966, setelah melalui proses yang cukup panjang dari mulai berbentuk gagasan sampai diresmikan jika mengacu data di Wikipedia, Batang resmi memisahkan diri dari Pekalongan. Peresmian ini bertepatan dengan Jum’at Kliwon saat itu.

Kalau kita membaca riwayat hidup Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang hidup pada tahun 1593 sampai 1645, ada satu fragmen yang menyatakan bahwa salah satu dari dua istrinya berasal dari Kabupaten Batang. Istrinya yang dipanggil dengan Ratu Wetan Putri tersebut merupakan anak dari Adipati Batang. Dari istrinya, lahir Raden Sayidin yang nantinya menjadi Amangkurat I (Krisna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad dalam Sultan Agung: 2019).

Dengan data ini, pendapat yang menyatakan Kabupaten Batang sudah lahir sejak abad 17 semakin kuat, karena Sultan Agung yang hidup adi akhir abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 17 ini tercatat mempersunting seorang perempuan yang merupakan putri Adipati Batang.

Data yang menyatakan Kabupaten Batang sudah ada sebelum tahun 1966 juga bisa sandarkan kepada kitab Aisyul Bahri karya Kiai Anwar Batang yang selesai ditulis pada tahun 1920. Pada sampul kitab yang menjelaskan tentang klasifikasi hewan yang hidup di laut dan hewan yang hidup di laut dan darat beserta justifikasi hukumnya, tertulis kalimat “Muhammad Anwar al-Batangi al-Kaumani”.

Penyebutan Batang dan Kauman tanpa penyebutan Pekalongan atau daerah lain sebagai identitas daerah Kiai Anwar ini mengindikasikan bahwa saat itu (tahun 1920) Batang sudah berdiri sendiri, dalam arti mandiri sebagai Kabupaten.

Begitu kira-kira sedikit tentang sejarah Kabupaten Batang yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Namun melihat data yang ada, adalah pilihan bagi kita (warga Batang), perihal tahun pijakan hari jadi Batang. Apakah saat Batang resmi memisahkan diri dari Pekalongan atau pada abad ke 17 yang disinyalir menjadi awal lahirnya Kabupaten yang punya slogan “Berkembang” ini, tentu masih perlu kita kaji bersama. Bukankah begitu?

Zaim Ahya, Plumbon 08 April 2020

Sumber Gambar: https://berita.batangkab.go.id/?p=1&id=4629

Mengenal KH Bakir, Ketua Tanfidziyah PCNU Batang Pertama

1
KH. Bakir Batang

Oleh: Ma’rifatul Ulum (Cicit KH Bakir)

Nahdlatul Ulama merupakan salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Dalam struktur organisasinya terdiri dari Pengurus Besar yang berkedudukan di Ibukota Negara, Pengurus Wilayah yang berkedudukan di Provinsi, Pengurus Cabang yang berkedudukan di Kabupaten/kota, Pengurus Cabang Istimewa yang berkedudukan di luar negeri, Pengurus Majelis Wakil Cabang yang berkedudukan di kecamatan, dan Pengurus Ranting yang berkedudukan di kelurahan. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan sedikit informasi tentang ketua pertama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di Kabupaten Batang, yaitu KH. Bakir.

Proses pendirian Nahdlatul Ulama di Batang

Cikal-bakal keberadaan NU di Batang bermula dari sebuah perkumpulan (organisasi) yang bernama Jam’iyyatun Nasikhin. Perkumpulan tersebut didirikan oleh KH. Shiddiq Ismail untuk mewadahi para kiai/ulama/dai di Batang. Aktivitas perkumpulan ini tidak jauh dari kegiatan-kegiatan dakwah. Diperkirakan perkumpulan ini beraktivitas antara tahun 1930 – 1940-an. Misi perkumpulan Jam’iyyatun Nasikhin sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Nahdlatul Ulama yaitu sebagai sebuah organisasi yang mewadahi para ulama/kiai.

Akses informasi pada masa itu masih sangat sulit sehingga dapat dipahami jika baru pada tahun 1949 secara resmi dibentuk kepengurusan NU di Batang. Rois Syuriyah yang pertama adalah KH. Shiddiq Ismail sedangkan jabatan Ketua PCNU yang pertama dipegang oleh KH. Bakir.

Sekilas tentang KH. Bakir

KH. Bakir lahir di Batang, Jawa Tengah pada ahad pon tanggal 3 Maret 1899 dan merupakan putra dari KH. Abdurrahman dan Mar’atun. Ia be tempat tinggal di Desa Pesalakan Kecamatan Batang. Pendidikannya di mulai di SR ( Sekolah Rakyat) di Batang, setelah lulus dari Sekolah Rakyat KH. Bakir mondok di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di Ponpes Tebuireng ia kenal dan berteman baik dengan KH. Idham Chalid (mantan Ketua Umum PBNU sebelum Gus Dur).

KH. Bakir merupakan pejuang pada masa kemerdekaan dan merupakan tokoh yang memperjuangkan Nahdlatul Ulama di Batang. KH. Bakir merupakan ulama lokal yang menjadi penggerak Nahdlatul Ulama (NU) di Batang bersama KH. Shiddiq Ismail. Pada tahun 1948-1952 ia menjabat sebagai ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  di Batang. Ia merupakan ketua PCNU pertama di Batang, dan pada tahun 1952-1956 ia menjabat sebagai Rois Syuriah yang menggantikan KH. Shiddiq Ismail sebagai Rois Syuriah pertama. Selain aktif di NU, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Batang pada 1959, mewakili partai Nahdlatul Ulama.

Menurut cerita KH. Ahmad Ali Dufri, dulu KH. Bakir pernah akan di serang oleh preman-preman, tetapi ada satu mantan preman yang tunduk kepada KH. Bakir, namanya Santoso, dan pada akhirnya Santoso menjadi tangan kanan dari KH. Bakir.  KH. Bakir juga pernah jadi pimpinan Laskar Hizbullah dibawah komando langsung dari  KH. Abdul Wahab Hasbullah yang telah mengijazahi Lembu Sekilan dan Qulhu Sungsang. Pernah suatu ketika setelah mulang ngaji dan jamaah sholat isya bersama KH. Bakir, cucunya mendapatkan cerita yang menarik, KH. Bakir matur kepada cucunya “sebenarnya kalau saya mau jadi jenderal bisa saja karena pernah menjadi pimpinan laskar hizbullah, tetapi saya lebih senang mengamalkan ilmunya mulang ngaji kepada santri-santri saya.” Dari cerita tersebut bisa disimpulkan KH. Bakir adalah kiai yang  zuhud dan ikhlas dalam mengamalkan ilmunya kepada santri-santrinya di majlis taklim. Ada cerita lagi dari anak putri KH. Bakir, Muawanah, tentang keistimewaan Keris Pedut yang dimiliki KH. Bakir yaitu saat tentara Belanda dan pasukannya berusaha akan mengejar dan menangkap KH. Bakir dan pasukannya, ia membawa keris pedut dan mengeluarkan  dari sarangnya (wadah keris) seraya mengucapkan kalimat-kalimat thayibah dan surat yasin ayat 9 seketika pasukan Belanda pergi dan secara kasat mata tidak melihat KH Bakir, keluarga, dan pasukannya.

Selain menjadi pengurus di Nahdlatul Ulama ia juga mendirikan sebuah majelis taklim  yang digunakan untuk memberikan pengetahuan ilmu agama kepada santrinya yang masih berasal dari sekitar Kabupaten Batang. Majelis taklim tersebut didirikan pada tahun 1940-an, dan sampai sekarang majelis taklim tersebut masih digunakan untuk mengaji kajian kitab ibris bersama ibu-ibu di desa Pesalakan dan sekitarnya pada pagi hari. Sedangkan pada malam harinya untuk mengaji alqur’an dengan anak-anak dan para remaja di desa Pesalakan dan sekitarnya yang pengajarnya adalah cucu dari KH. Bakir. Sampai sekarang santri dari KH. Bakir yang masih sehat yaitu Ahmad Syaefudin dan KH. Mahbub. Ahmad Syaefuddin merupakan santri KH. Bakir yang dekat dengannya dan sekarang Ahmad Syaefuddin menjadi anggota tarekat Naqsabandiyah di kecamatan Bandar kabupaten Batang. KH. Mahbub juga merupakan santri yang dekat dan takzim dengan KH. Bakir yang sekarang  menjadi  imam besar Masjid Agung Darul Muttaqin Kauman Batang.

KH. Bakir meninggal pada tanggal 29 Juli 1985 dan dimakamkan di pemakaman umum Pesalakan.

Sumber:  -wawancara dengan putra KH. Bakir yaitu KH. Ali Dufri.

Tiba di Batang, Para Santri Lirboyo Asal Batang Diterima Sesuai dengan Protokol Kesehatan

0
Tentang Jodoh

Tim posko NU Batang Peduli Convid 19 bergerak cepat dan penuh kehati-hatian saat menyambut kepulangan 70 santri Ponpes Lirboyo Kediri asal Batang di halaman masjid Hasyim Asy’ari (31/03/2020). Rombongan santri Lirboyo yang dipimpin KH.Miftah Ridlo dan beberapa alumni senior seperti Muslih Fadhil tiba di masjid milik warga Nahdiyyin Batang ini pukul 14.45.

Koordinator tim, Dokter Slamet Sholihin bersama dengan divisi-divisinya menerima santri dengan menggunakan standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui dinas kesehatan.

“Semua santri disambut dengan standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah”, demikian kata Munir Malik sekretaris PCNU Batang dalam sambutannya.

Munir Malik menambahkan, saat penyambutan, semua mobil yang masuk di halaman masjid Hasyim Asy’ari, baik pembawa maupun penjemput santri, harus disemprot beserta barang bawaannya. Pakaian yang dipakai juga harus dilepas dan diganti dengan yang baru setelah mandi di bak pemandian yg disiapkan tim posko.

Sebelum para santri menuju ke rumah masing-masing, Dokter Slamet Sholihin menghimbau agar para santri mentaati protokol kesehatan, yakni berdiam diri di rumah selama 14 hari, jaga kebersihan dan banyak berdoa dengan mengamalkan ijazah para kiai Lirboyo agar tidak tekena wabah Corona.

“Santri harus memberi contoh ketaatan terhadap protokol kesehatan dan juga tidak lupa membaca doa-doa dari kiainya”, tegas Dokter Selamat Sholihin menutup pengarahannya. [Red]