Rabu, April 8, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 10

Satu Tahun Kepengurusan, PAC GP Ansor Bawang Gelar Refleksi

0

Bawang, NU Batang
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bawang menggelar kegiatan refleksi satu tahun kepengurusan sebagai bentuk evaluasi, konsolidasi, dan muhasabah atas perjalanan organisasi selama setahun terakhir. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (13/6/2025) di Gedung MWCNU Bawang, dihadiri oleh jajaran pengurus PAC, Pimpinan Ranting, serta Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Batang.

Ketua PAC GP Ansor Bawang, Sahabat Asep Awaludin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa refleksi ini penting sebagai sarana evaluasi kinerja, memperkuat komitmen kader, dan menyusun arah langkah ke depan agar organisasi semakin bermanfaat bagi umat dan masyarakat.

“Kita hadir malam ini bukan hanya untuk mengenang apa yang sudah kita lakukan, tetapi untuk memperbaiki apa yang masih kurang, dan memperkuat komitmen kita dalam berkhidmat di Ansor. Setahun sudah berjalan, walaupun belum menggelar Rapat Kerja, namun program-program kerja dari masing-masing Departemen sudah 30% berhasil dilaksanakan dan perjuangan kita masih panjang,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi ajang penyampaian laporan capaian program kerja selama satu tahun, seperti penguatan kaderisasi melalui pelatihan dan diklatsar, pengaktifan kegiatan keagamaan di tingkat ranting, serta keterlibatan aktif dalam aksi sosial dan tanggap bencana.

Dalam kesempatan itu, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Batang, yang diwakili oleh Sekretaris Sahabat Suwandi, hadir langsung memberikan arahan dan dukungan moril kepada seluruh kader.

“PAC Bawang menunjukkan semangat organisasi yang sehat dan progresif. Jangan pernah lelah untuk mengabdi. Khidmat di Ansor jangan ada tendensi apapun. Luruskan niat, satukan langkah, dan jaga marwah organisasi,” tegas Suwandi di hadapan peserta.

Acara refleksi ditutup dengan diskusi terbuka, pemaparan rencana kerja semester ke depan, dan peneguhan kembali semangat ke-Ansoran untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan dan penjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kontributor : Irfan

Kelas NextGen Entrepreneur 2025 Dimulai, Ketua PCNU Batang: Kita Harus Bangun Pengusaha Lokal

0
Peserta Kelas NextGen Entrepreneur 2025 saat pembukaan kelas perdana. Foto: istimewa.

Gringsing, NU Batang
Kelas NextGen Entrepreneur 2025 resmi dimulai dengan semangat membangun kemandirian ekonomi umat melalui pemberdayaan wirausaha muda. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang Kiai Ahmad Munir Malik menegaskan pentingnya mencetak pengusaha-pengusaha lokal yang mampu menciptakan lapangan kerja di wilayahnya.

“Jangan hanya berharap pada lowongan. Kita harus bangun pengusaha lokal yang bisa menyerap tenaga kerja di lingkungannya sendiri,” tegasnya dalam sambutan pembukaan kelas perdana digelar pada Ahad (8/6/2025) di Kiyana Premier Hotel, Jl. Jend. Sudirman, Batang.

Kiai Munir sapaannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PCNU Batang dan Yayasan Darul Falah Ketanggan, Gringsing.

“Kita ubah mindset dari pencari kerja menjadi pencipta kerja,” tegas Kiai Munir, menyoroti masih rendahnya minat berwirausaha di kalangan generasi muda Batang.

Ia juga menyoroti realitas bahwa meskipun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang terus berkembang dan banyak pabrik berdiri, belum semua angkatan kerja dapat terserap.

Setelah menjalani proses seleksi selama kurang lebih dua bulan, program pelatihan dan kompetisi wirausaha NextGen Entrepreneur 2025 menghadirkan Om Chandra dari Entrepreneur University sebagai mentor pembuka.

Sebanyak 7 kelompok yang terdiri dari 21 peserta berhasil lolos dan mengikuti program ini. Para peserta sebelumnya telah melalui tahapan seleksi ketat, mulai dari penyusunan ide bisnis menggunakan metode Business Model Canvas, hingga sesi pitching pada 11 Mei 2025 di Kantor PT. BMJ Banyuputih.

Sementara itu, perwakilan dari Yayasan Darul Falah Ketanggan, Wahyu Wulandari, mengungkapkan bahwa yayasan yang bergerak di bidang sosial tersebut telah membangun sebuah masjid di Desa Ketanggan di atas lahan seluas 1,3 hektare, yang nantinya juga akan difungsikan sebagai pusat pelatihan kewirausahaan dan pendidikan masyarakat.

“Selain untuk tempat ibadah, lahan ini kami dedikasikan untuk kegiatan sosial, pendidikan, dan pelatihan wirausaha,” jelas Wahyu.

Program NextGen Entrepreneur 2025 akan berlangsung dari 8 Juni hingga 20 Juli, terdiri dari 7 sesi pelatihan yang menghadirkan 7 mentor berbeda. Beberapa mentor yang telah dijadwalkan hadir antara lain: Om Chandra, Among Kurnia Ebo, Rama Sahid, dan Radinka, serta nama-nama inspiratif lainnya.

Pada sesi perdana ini, Om Chandra mengangkat tema “Mindset, Intuisi, dan Kreativitas dalam Berbisnis”, membekali para peserta dengan dasar berpikir dan kepekaan yang dibutuhkan dalam dunia kewirausahaan.

Optimalisasi Program Donasi NU Online, PCNU Batang Laksanakan Rapat Koordinasi

0
Kiai Ahmad Munir Malik Ketua Tanfidziyah PCNU Batang saat sambutan Rapat Koordinasi Penguatan Program Donasi Koin NU Digital pada Ahad (8/6/2025). Foto: LTNU NU Batang.

Subah, NU Batang
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang melaksanakan rapat koordinasi penguatan pelaksanaan program Donasi NU Online yang telah diluncurkan sejak Januari 2025 lalu. Rapat tersebut berlangsung bertempat di Masjid KH Hasyim Asy’ari Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Kabupaten Batang, Ahad (8/6/2025).

Ketua Tanfidzyah PCNU Batang, Kiai Ahmad Munir Malik mengungkapkan PCNU Batang sudah difasilitasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait pengembangan penggalangan donasi, yakni melalui Aplikasi NU Online. Akan tetapi, sejak peluncuran program pada Januari 2025, penggalangan donasi di aplikasi NU Online belum terlaksana secara optimal.

“Kita ini sudah dibantu difasilitasi oleh PBNU terkait dengan pengembangan donasi, selama ini kita sudah punya program penggalangan donasi di NU Online SuperApp. Akan tetapi, memang kondisinya belum optimal bahkan mengalami penurunan setiap bulan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kiai Munir mengatakan bahwa penggalangan donasi NU Online perlu terbentuk tim khusus guna memanajemen operasional program. Maka dari itu, pada rapat koordinasi kali ini mengundang seluruh pengurus dan Badan Otonom (Banom) untuk membahas manajerial operasional program Donasi NU Online supaya dapat terlaksana secara optimal.

“Kita membuat tim khusus supaya penggalangan donasi melalui aplikasi NU Online berjalan secara optimal. Kami mengucapkan terimakasih telah mendukung program ini dan insyaallah dari seluruh usulan akan segera dilaksanakan,” ujarnya.

Senada dengan Ketua Tanfidzyah, Ketua Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZIS NU), Supriyadi menyampaikan perolehan donasi melalui aplikasi NU Online sejak peluncuran program pada Januari 2025 mencapai empat juta lima puluh lima ribu rupiah Rp. 4.055.000,-. Kemudian, bulan-bulan berikutnya mengalami penurunan hingga mencapai setengah dari penggalangan donasi awal.

“Kami sampaikan juga terkait perolehan sejak launching kita pada bulan Januari, yaitu mencapai 4 juta 55 ribu rupiah dengan total donatur 117 orang. Kami mohon arahan dari seluruh pengurus yang membidangi langsung tentang koin digital,” jelasnya.

Kontributor: Septy Aisah

Bolehkah Menyembelih Hewan Kurban Sebelum Sholat Ied? Begini Keputusan Bahtsul Masa’il PCNU Batang

0
Ilustrasi Kurban (sumber : IDN times Sumut)

Memasuki hari ke delapan bulan Dzulhijjah 1446 H ini, Umat muslim di Indonesia dan dunia mulai melaksanakan puasa sunnah tarwiyah dan arafah menjelang perayaan Hari Besar Islam Idul Adha, hari dimana umat muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, mensyukuri segala nikmat-Nya, dan bentuk kepedulian terhadap sesama.

Umumnya hewan kurban disembelih sesudah melaksanakan sholat ied, pada tahun ini jatuh pada hari Jum’at tanggal 6 Juni 2025, yang dalam hari tersebut ada ibadah sholat jum’at yang dilaksanakan pada tengah hari, dan dapat memberi waktu jeda kepada panitia kurban dalam proses pemotongan maupun pembagian daging kurban. Lantas muncul pertanyaan, apakah boleh jika penyembelihan hewan kurban dilakukan sebelum sholat ied, bagaimana hukumnya?

Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang dalam kegiatan Bahtsul Masail putaran kedua sempat mengangkat isu ini karena menjadi salah satu keresahan di masyarakat, kegiatan yang berlangsung di gedung Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Tersono pada pekan lalu (25/05/2025) berhasil merumuskan jawaban atas pertanyaan “Apa hukumnya jika penyembelihan dilakukan  sebelum shalat Idul Adha ?”.

Dalam forum tersebut terdapat jawaban dengan berbagai sumber yang diambil dari beberapa referensi kitab ulama, antara lain; menurut sumber kitab Al Majmu` Syarah Al Muhadzab menyatakan bahwa Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah terbit matahari dan setelah berlalunya waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat Idul Adha beserta khutbahnya yang ringkas sekalipun shalat Ied itu sendiri belum dikerjakan maka hukumnya sah. Dan jika tidak maka tidak sah. Status dagingnya hanya sebagai daging yang dihidangkan untuk jamuan biasa.

(المجموع شرح المهذب الجزء 8 ص 389 )

 في مذاهب العلماء في وقتِ الأضحية . مذهبنا انه يدخلُ وقتها (فرع)

اذا طلعت الشمس يوم النحر ثم مضى قدر صلاة العيد وخطبتين كما

سبق. فاذا ذبح بعد هذا الوقت اجزأه سواء صلى الامام أم لا وسواء

صلى المضحى أم لا سواءً كان من اهل الامصار أو من اهل القرى أو

البَوادِي أو المسافرين وسواء ذبح الامام ضحية ام لا. هذا مذهبنا وبه

.قال داود وابن منذر وغيرهما

Jika penyembelihan dikerjakan setelah waktu ini maka dianggap cukup (sah) baik imam sudah melaksankan shalat Ied atau tidak, baik orang yang berkurban sudah melaksanakan shalat Ied atau tidak, baik ia tinggal di perkotaan atau tinggal di pedesanan atau tinggal di pedalaman, atau musafir, baik imam sudah menyembelih hewan kurban atau tidak. Ini adalah madzhab kita (Syafi`iyah) dan menjadi pendapat Dawud dan Ibnu Mundzir dan ulama` yang lain.

Menurut Madzhab Syafi’iyah; waktu penyembelihan dimulai dari terbitnya matahari  pada hari raya kurban kemudian berlalunya waktu yang cukup untuk mengerjakan shat Idul Adha beserta dua khutbah sebagaimana telah disebutkan diatas.

(مغني المحتاج الجزء 18 ص 119)

(ویدخُلُ وقتها) اى التضحية اذا ارتفعت الشمس كرمح يوم النحر)

وهو العاشر من ذي الحجة ( ثم مضى قدْرُ رَكعتين خفيفتين (وخُطبتَينِ

خفيفتين) فاذا ذبح قبل ذلك لم تقع أضحية لخبر الصحيحين “أول ما

نبدأ به في يومنا هذا نُصلّى ثم نرجع فنُنحِرُ. فَمَنْ فَعَل ذلك فَقَدْ أَصَابَ

سنتنا. ومن ذبح قبل ذلك فإنَّما هو لحم قدَّمه لأهله ليسَ مِن النسُكِ في شيء

Pertama kali yang kita kerjakan di hari ini adalah menunaikan shalat kemudian kita pulang  lantas menyembelih kurban. Barang siapa melaksanakan hal tersebut maka ia sudah melaksanakan sunahku. Barang siapa menyembelih sebelum itu maka sembelihannya hanya daging (biasa) yang dihidangkan untuk keluarga, sedikitpun tidak termasuk ibadah nusuk. (Mughni Al Muhtaj: Juz 18 Hal. 119).

Dalam kitab Mughni Al Muhtaj Waktu penyembelihan hewan kurban sudah masuk apabila matahari sudah setinggi satu tombak pada hari raya kurban, yakni tanggal 10 Dzulhijjah, kemudian berlalunya waktu yang cukup untuk shalat dua rakaat beserta hutbah yang singkat. Jika menyembelih sebelum waktu itu maka bukan menyembelih kurban berdasarkan, hal ini merujuk pada Hadis:

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini adalah menunaikan shalat (idul Adha), kemudian pulang lalu menyembelih hewan kurban”. (HR. Bukhari).

 Menurut kitab Al Khawi Al Kabir :

(الحاوى الكبير الجزء 15 ص 85 )

قال الماوردي: اختلف الفقهاء فى أوّل وقت الأضحية على أربعة

مذاهب. أحدها وهو مذهب الشافعي ان أول وقتها في الأمصار والقرى

للحاضر والمسافر واحد وهو معتبر بوقتِ الصلاة لا بفعلها. فاذا طلعت

الشمس وارتفعت حتى خرجَتْ عن كراهة التنفل بالصلاة ومضى بعد

ذلك قدر ركعتين وخُطبتين دخل وقتُ النحر وجاز ذبح الأضحية فيهِ

.سواء صلى الامام المصر أو لمْ يُصلِّ

Al Mawardi berkata: Ulama` berbeda pendapat tentang awal waktu penyembelihan kurban kedalam empat pendapat: Pertama madzhab Syafi’i. Awal waktu di kota dan desa untuk orang yang mukim dan musafir waktunya satu yakni waktunya shalat bukan mengerjakan shalat. Jika matahari sudah terbit dan tinggi sehingga keluar dari dari kemakruhan melaksanakan shalat sunah dan berlalunya waktu yang cukup untuk shalat dua rakat dan dua hutbah maka waktu penyembelihan sudah masuk dan diperbolehkan menyembelih baik imam imam yang di kota sudah melaksankan shalat Idul Adha atau belum. ( Al Khawi Al Kabir: Juz 15 Hal. 85)

 (الحاوى الكبير الجز 15 ص 85)

.واختلف أصحابنا في تقدير زمان الركعتين والخُطبتين على وَجْهين

احدهما ان الركعتين من صلاة النبى صلى الله عليه وسلم في العيد

وخُطبتَيهِ فإنه كان يقرأُ في الأولى بعد الفاتحة بسورة “ق” وفي الثانية

بسورة “اقتربت”. وكان يخطب خُطبتين يستوفي فيها التحميد

.والمواعظ وبيان الأضاحى والوصية بتقوى الله تعالى وقراءة أية

.فيكون اعتبار وقت صلاته وخُطبتيه هو المشروط في دخول الوقت

والوجه الثانى أن يُعتبر بأقل ما يُجزئ في صلاة ركعتين وأقل ما يُجزئ

في خطبتين ولا اعتبار بما كانت عليه صلاة رسول الله صلى الله عليه

.وسلم فانه كان يُطيلُ مرَّةً ويُخفِّفُ أُخرى ويُقدم تارةٌ ويؤخرُ أُخرى

.وانما الاعتبار بتحديدٍ مشروعٍ لا يختلفُ

Ashab Syafi’iyah berbeda pendapat tentang batas waktu mengerjakan shalat dua rakaat dan dua khutbah kedalam dua pendapat. Pendapat pertama menegaskan bahwa ukuran dua rakat dan dua hutbah adalah apa yang dikerjakan Rasululloh SAW pada hari Raya dimana beliau pada rakaat pertama setelah membaca surat Fatihah membaca surat “Qaf”, dan pada rakaat kedua setelah membaca surat Al Fatihah membaca surat “Iqtarabat” Dan pada saat hutbah beliau menyempurnakan pujian (tahmid), nasihat dan menjelaskan kurban, wasiat bertakwa dan membaca ayat Al Qur`an.

Pendapat kedua menegaskan yang menjadi standar ukuran kadar waktu adalah sedikit-sedikitnya waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat dua rakat dan dua hutbah bukan shalat yang dikerjakan Rasulullah SAW, sebab terkadang beliau memanjangkan shalat dan terkadang mempercepat shalat dan terkadang beliau maju dan beliau terkadang beliau mundur. Parameter dengan batasan yang telah dikerjakan bukanlah sebuah perbedaan. (Al Hawi Al Kabir: Juz 15 Hal. 85).

(8/387) المجموع شرح المهذب

(واما) الاحكام فقال أصحابنا يدخُلُ وقتُ التضحية اذا طلعت الشمس

يوم النحر ومضى بعد طلوعِها قدْرُ ركعتين وخُطبتَينِ خَفِيفَتَينِ. هذا هو

المذهب. وفيه وجه أخرُ ذكره المصنف والأصحاب انه يعتبر بعد

طلوع الشمس قدر صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم وخُطبتيه وقرأ

صلى الله عليه وسلم بعد الفاتحة “ق” وفى الثانية “اقتربت” وخطب

.خطبة متوسطة

Ashab Syafi’iyah berpendapat; Waktu penyembelihan sudah masuk seiring terbitnya matahari pada hari Raya Kurban dan berlalunya waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat dua rakaat dan dua khutbah yang singkat. Ini adalah madzhab (Syafi`iyah).

Dalam madzhab Syafi`iyah terdapat wajah lain yang disebutkan mushonif dan Ashab Syafi’iyah bahwasannya setelah terbit matahari harus ada ada kadar waktu shalatnya Rasululloh SAW dimana setelah membaca Fatihah pada rakaat pertaama beliau membaca surat “Qafdan pada rakaat kedua setelah membaca Fatihah beliau membaca surat Iqtarabat dan beliau hutbah dengan waktu yang tidak lama dan tidak singkat. (Al Majmu` sarah Al Muhadzab: Juz 8 Hal387).

Merujuk pada dua kitab tersebut dapat diambil kesimpulan bahwasanya hukum penyembelih hewan kurban sebelum sholat idul adha hukumnya sah, jika disembelih setelah matahari terbit dan setelah berlalunya waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat Idul Adha beserta khutbahnya yang ringkas, meskipun shalat Ied itu sendiri belum dikerjakan.

Namun, jika penyembelihan dilakukan sebelum waktu tersebut, maka tidak sah. Daging sembelihan tersebut hanya berstatus sebagai daging biasa yang dihidangkan untuk jamuan, bukan sebagai daging kurban.

Menurut Madzhab Syafi’iyah, waktu penyembelihan kurban dimulai dari terbitnya matahari pada hari raya kurban (10 Dzulhijjah) kemudian berlalunya waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat Idul Adha beserta dua khutbah. Jika penyembelihan dilakukan setelah waktu ini, maka dianggap cukup (sah), baik imam sudah melaksanakan shalat Id atau belum, dan baik orang yang berkurban sudah melaksanakan shalat Ied atau belum.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyah mengenai estimasi waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat dua rakaat dan dua khutbah:

  • Pendapat pertama: Ukuran waktu dua rakaat dan dua khutbah adalah berdasarkan apa yang dikerjakan Rasulullah SAW pada hari raya, di mana beliau membaca surat “Qaf” pada rakaat pertama dan surat “Iqtarabat” pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah, serta khutbah yang menyempurnakan pujian, nasihat, penjelasan kurban, wasiat takwa, dan pembacaan ayat Al-Qur’an.
  • Pendapat kedua: Standar ukuran waktu adalah seminimal mungkin waktu yang cukup untuk mengerjakan shalat dua rakaat dan dua khutbah, tidak terpaku pada shalat yang dikerjakan Rasulullah SAW, karena beliau terkadang memanjangkan dan terkadang mempercepat shalatnya.

Dalam Bahtsul Masail putaran kedua tersebut yang menjadi Musahih antara lain; KH. Muhammad Luthfi, KH. Abdul Malik Ruba’I, dan Kiai Amir Mahmud. Dengan di moderatori oleh KH. Sochibul Anwar, pembahasan Bahtsul Masail diusulkan Kyai Ali Mas’ud Noer, Kyai Moh Matin, Kyai Teguh Raharjo, dan Kyai Ahmad Mua’fa Nasyi’in sebagai perumus.

 

Penulis  : LTN PCNU Batang
Sumber : Keputusan Bahtsul Masail LBM PCNU Batang

Semarakkan Harlah Ke-75, PAC Fatayat Bawang Gelar Festival Sholawat

0

Bawang, NU BATANG

Dalam rangka memperingati hari lahir ke-75, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Bawang adakan Festifal Sholawat pada Kamis pagi (29/5).

Kegiatan yang bertempat di Gedung Aswaja Center Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Bawang itu diikuti oleh 33 Pimpinan Ranting Fatayat NU Se-Kecamatan Bawang.

Diawali dengan pembacaan maulid dan acara pembukaan, Masing-masing kontingen mempersembahkan seni sholawat dengan sangat meriah

Ketua PAC Fatayat NU Bawang Sahabat Nur Hidayah dalam sambutannya mengatakan bahwa, kegiatan ini dibuat sebagai wadah silaturahmi antar kader Fatayat NU dan ajang pencarian bakat khususnya di bidang seni rebana, “Kegiatan ini dilaksanakan sebagai ajang silaturahmi kader-kader Fatayat NU se-Kecamatan Bawang dan menggali potensi kader lewat seni rebana kemudian saya berharap kepada seluruh ranting agar bisa menghidupkan grup rebana di masing-masing desanya” katanya.

Senada dengannya, Panitia Pelaksana kegiatan Sahabat Arja Aniswaturrosidah menjelaskan dengan adanya kegiatan seperti ini, dapat menghidupkan semangat bagi kader-kader Fatayat di bidang seni rebana.

“Acara Festival ini kami selenggarakan untuk menghidupkan semangat Sahabat-sahabat Fatayat dalam berkreasi dengan musik rebana” katanya.

Ia mengatakan selama festival berlangsung terdapat berbagai jenis aliran rebana yang ditampilkan, yang membuat pertunjukkan tampak ramai dan beragam, “Ada beberapa aliran rebana seperti duror, salaf dan banjari” katanya.

Dirinya berharap setelah kegiatan ini seluruh grup rebana yang ada di Kecamatan Bawang dapat aktif dan berkelanjutan, “Semoga setelah ini semua grup rebana (Fatayat NU) di Kecamatan Bawang bisa aktif semua” tutup Anis.

Acara tersebut mendapat respon positif termasuk dari pihak MWCNU Bawang, Bapak Aminudin dalam sambutannya mengatakan bahwa Pengurus MWCNU Bawang mengapresiasi acara Festival Rebana dan berharap kegiatan ini daoat menjadi kegiatan tahunan.

“Kami Dari MWCNU Bawang mengapresiasi yang sebesar-besarnya kepada Fatayat NU Bawang yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, semoga setiap tahun kegiatan ini bisa digelar walaupun tidak dilombakan yang penting Fatayat NU Bawang bisa berkumpul dan bersilaturahmi antar kader-kader Fatayat dan bisa menggali potensi kader-kader di masing-masing ranting” ujarnya.

Salah satu perwakilan peserta, Grup Rebana An-Nahdhoh dari Ranting Bakalan menuturkan sangat kagum terhadap kegiatan yang diikutinya, baginya kegiatan ini dapat memberikan inspirasi bagi para kader.

“Acara Festival Rebana ini adalah kegiatan yang luar biasa, acaranya sangat meriah dan bisa memberikan inspirasi bagi kader fatayat untuk bisa terus berkreasi dalam bidang seni. Acara ini juga dapat membangkitkan rasa bangga terhadap budaya lokal khususnya seni rebana” ujar salah satu anggota Grup yang berasal dari Desa Sidoharjo itu.

Hadir dalam kegiatan Festival Sholawat ini Bapak Aminudin Nursyam Perwakilan MWCNU Bawang, PAC Muslimat NU Bawang, Dewan Pembina PAC Fatayat NU Bawang, PAC Gerakan Pemuda Ansor Bawang, PAC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan PAC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Bawang.

Pewarta : Arum Ratnasari

Kelulusan Penuh Makna: Ketua NU Bawang Ajak Purnasiswa SMK Ma’arif Berbakti pada Orang Tua

0

Bawang, NU Batang.

Bawang, (24/5)— Suasana haru dan khidmat mewarnai acara purnasiswa SMK Ma’arif NU Bawang yang digelar pada Sabtu pagi. Ratusan siswa kelas XII resmi dilepas dalam sebuah prosesi sakral yang menjadi momen bersejarah dalam perjalanan pendidikan mereka.

Acara yang berlangsung di aula utama sekolah tersebut dihadiri oleh orang tua siswa, dewan guru, tokoh masyarakat, serta para tamu undangan, termasuk Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Bawang, Kiai Abdul Haris Chamdan.

Dalam sambutannya, Kiai Abdul Haris memberikan pesan mendalam kepada para purnasiswa mengenai pentingnya menjaga akhlak dan adab, terutama dalam hal berbakti kepada kedua orang tua. Menurut beliau, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kepandaian atau ijazah semata, tetapi sangat ditentukan oleh seberapa besar ia menghormati dan memuliakan orang tuanya.

“Anak-anakku sekalian, kelulusan ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang kalian menuju masa depan. Jangan pernah lupakan jasa orang tua yang telah membesarkan dan menyekolahkan kalian. Berbaktilah, karena ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua,” tutur beliau dengan suara lantang namun penuh kelembutan.

Kiai Abdul Haris juga menekankan bahwa nilai-nilai keislaman yang diajarkan di sekolah dan di lingkungan NU harus menjadi pedoman hidup. Dalam kondisi apa pun, menurut beliau, karakter seorang pelajar NU harus mencerminkan sikap tawadhu’, santun, dan cinta terhadap ilmu serta ulama.

Sementara itu, Kepala SMK Ma’arif NU Bawang, Aris Wahidin S.Pd.I, dalam pidatonya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan orang tua siswa yang telah memilih sekolah tersebut sebagai tempat menimba ilmu anak-anak mereka. Ia juga menyampaikan rasa bangga atas perjuangan para siswa yang telah melewati berbagai tantangan selama tiga tahun terakhir.

“Hari ini adalah bukti bahwa perjuangan kalian tidak sia-sia. Kami bangga melihat kalian tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional. Jadilah duta Ma’arif NU yang membanggakan di mana pun kalian berada,” ujar beliau.

Acara purnasiswa ini juga diisi dengan berbagai penampilan dari siswa-siswi kelas XII, termasuk persembahan puisi, musik islami, dan penayangan kilas balik perjalanan belajar mereka selama di sekolah. Momen paling menyentuh adalah saat para siswa memberikan bunga dan sungkem kepada orang tua mereka sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih. Tangis haru pun pecah di seluruh penjuru ruangan.

Sebagai penutup, dilakukan prosesi pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi dalam bidang akademik, keagamaan, serta ekstrakurikuler. Para wali kelas kemudian memanggil satu per satu nama siswa untuk menerima kenang-kenangan dan ucapan perpisahan.

Purnasiswa tahun ini bukan hanya menjadi ajang perpisahan, tetapi juga momentum refleksi bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga soal adab dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui kegiatan ini, SMK Ma’arif NU Bawang menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga berakhlak mulia dan siap menjadi bagian dari generasi emas Indonesia.

Pewarta: Irfan

Menjadi Benteng Akidah dan Peradaban: Forum Penguatan Takmir Masjid Darul Falah Sidosari Ketanggan

0
Saiful Huda Shodiq, Wakabid PPPSDM PCNU Batang, menjadi fasilitator penyusunan program kerja kegiatan Masjid Darul Falah.

Gringsing, NU Batang.

Masjid Darul Falah menggelar forum penguatan takmir dan penyusunan rencana strategis, Jum’at, 23 Mei 2025, bertempat di serambi masjid.

Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 19.45 hingga 22.30 diikuti oleh anggota takmir masjid, ketua RT-RT dan Lurah lingkungan masjid, perwakilan pemuda, pengurus NU, unsur Kiai dan juga Yayasan Darul Falah sekaligus mewakili keluarga wakif.

Forum diawali pembacaan tahlil. Dilanjutkan paparan dan penjelasan seluk beluk masjid dan ketakmiran yang disampaikan oleh Ustadz Farihin dari Lembaga Takmir Masjid PCNU Batang.

“Saya memaparkan gambaran bagi kerja-kerja ketakmiran, merujuk pada pedoman yang sudah disusun di Kementerian Agama. Selain itu, karena masjid Darul Falah telah diwakafkan kepada NU, maka juga perlu merujuk pada panduan pengelolaan masjid sesuai visi misi Perkumpulan NU”, demikian paparnya.

Bagi Ustadz Farihin, Masjid Darul Falah yang berdekatan sekali dengan KEK Batang akan menjadi benteng akidah dan budaya ahlussunah wal jamaah an nahdliyyah.

“Di arus perubahan menuju industrialisasi di Kabupaten Batang, Masjid Darul Falah dapat diimpikan sebagai pusat peradaban untuk mengembangkan masyarakat, khususnya bagi kalangan muda”, demikian disampaikan Ust. Farihin.

Program Next-G Enterpreneur yang merupakan satu kegiatan masjid untuk penguatan ekonomi pemuda juga telah dilaunching dan rencananya 8 Juni 2025 akan dimulai kelas mentoring bagi 7 kelompok entrepreneur muda Batang.

Sesi penguatan visi-misi dan perumusan program kerja masjid tahun 2025 difasilitasi oleh Saiful Huda Shodiq, Wakabid PPPSDM PCNU Batang. Dimulai paparan dari Bagus Samudro, Ketua Yayasan Darul Falah, tentang harapan dari wakif yang telah menyerahkan sepenuhnya kepada warga, takmir dan juga dalam bimbingan NU agar masjid Darul Falah betul-betul memberikan kemanfaatan yang maksimal.

“Masjid ini telah sepenuhnya diwakafkan dan dipasrahke kepada warga melalui takmir untuk dikelola yang baik. Dan ini bukan berarti wakif lalu putus sama sekali dengan masjid. Dukungan tetap akan diberikan untuk mensukseskan program kerja masjid”, demikian papar Bagus.

Saiful sebagai fasilitator forum mengungkap kembali catatan-catatan penting dari paparan Ustadz Farihin dan Bagus kepada forum dan melanjutkan proses dengan pertanyaan siapa saja sih orang/kelompok/pihak yang memiliki hubungan kebutuhan/kepentingan terhadap Masjid Darul Falah. Terungkap semua stakeholder masjid beserta penilaiannya bagaimana masjid akan dianggap baik. Berdasarkan pada harapan masjid Darul Falah yang baik bagi stakeholder itulah disusun program kerja dan kegiatan yang menyasar pada semua kelompok jamaah masjid.

Diantara rumusan kegiatan adalah kebutuhan melanjutkan dan melestarikan perkumpulan manaqib yang sempat terhenti sejak Pak Lebe meninggal. Selain itu direncanakan ada forum kajian fiqh perempuan khusus bagi jamaah perempuan.

Rumusan program dan kegiatan masjid Darul Falah yang telah disusun selanjutnya dibahas sumber-sumber pembiayaannya dan kemudian dimasukkan ke dalam timeline pelaksanaan terhitung Mei 2025 hingga April 2026.

Sesi penutupan kegiatan diisi oleh Nor Tofan, Sekretaris PCNU Batang untuk mengkonfirmasi kepastian struktur takmir dan memastikan kebenaran penulisan nama-nama takmir. Rencananya takmir masjid Darul Falah akan dilantik dan diberikan syahadah bersamaan dengan pengajian akbar dalam rangka peresmian masjid dengan Gus Muwafiq dari Yogyakarta, 15 Juni 2025.

RMI PCNU Batang Lakukan Visitasi ke Dua Pesantren di Gringsing

0

Gringsing, NU Batang.

Pesantren sebagai sub kultur memiliki peran penting di Indonesia. Pertama, pesantren menjadi tempat untuk mendalami ilmu agama. Kedua menjadi pilar dakwah Islam. Dan ketiga memiliki tugas pemberdayaan masyarakat.

“Ujungnya pesantren memiliki fungsi vital bagi penjagaan agama, negara dan bangsa”, demikian disampaikan Gus Miftah, Ketua RMI PCNU Kab. Batang dalam lanjutan visitasi di Ponpes Ponpes Muslichul Anam Gringsing, Selasa, 20 Mei 2025.

Pagi hari, tim visitasi PCNU, RMI PCNU, MWC NU Gringsing bersilaturahim di Ponpes Tahfidzil Qur’an An Nur Surodadi. Ikut serta dalam Tim Visitasi Wakabid dan Wasekbid P3SDM PCNU, Ketua, Bendahara dan Sekretaris RMI PCNU Batang. Dari unsur MWC NU Gringsing ikut serta Waka MWC, Ketua RMI MWC dan Ranting NU Gringsing.

Ponpes Tahfidzil Qur’an An Nur Surodadi berdiri tahun 2020. Sedang Ponpes Muslichul Anam Gringsing berdiri sejak 2009. Keduanya mengkhususkan pada pembelajaran Al Qur’an, meskipun ada juga pengkajian kitab-kitab nahwu, fiqh dan akhlak.

Saiful Huda Shodiq, Wakabid PPPSDM PCNU Batang menyampaikan bahwa visitasi yang dilaksanakan oleh tim dikarenakan ada surat permohonan rekomendasi dari ponpes terkait Ijin Operasional Pesantren (Ijop). “Tetapi kehadiran tim utamanya diniati sebagai silaturahmi agar hubungan antara PCNU, MWC, RMI dan Ranting NU semakin kuat”, papar Saiful.

Sementara Kiai Nur Kholis, Pengasuh Ponpes Tahfidzil Qur’an An Nur Surodadi menambahkan bahwa silaturahmi akan membuat kita panjang umur. “Artinya, kita bisa sharing perkembangan jaman sekaligus mengasah gagasan atas misi kita sebagai orang pesantren”, ungkap Kiai Nur Kholis.

MWCNU Bawang Dorong PRNU Maksimalkan SISNU Jelang Visitasi PCNU

0
Rapat koordinasi MWCNU Bawang dan PRNU se-Kecamatan Bawang bahas akreditasi dan pendataan SISNU, Sabtu (17/5/2025).

 

Bawang, NU Batang

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bawang menggelar rapat koordinasi bersama seluruh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Bawang, pada Ahad, (18/05/2025) di Gedung Aswaja Center Kecamatan Bawang. Rapat ini membahas kesiapan menjelang visitasi dan akreditasi yang akan dilakukan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang.

Acara yang berlangsung pada Sabtu ini dihadiri oleh Wakil Ketua PCNU Batang, Masykur, serta jajaran Pengurus Harian MWCNU Bawang dari unsur Syuriyah dan Tanfidziyah. Turut hadir pula Ketua dan Sekretaris PRNU, serta para operator Sistem Informasi Strategis Nahdlatul Ulama (SISNU) dari masing-masing ranting.

Dalam kesempatan tersebut, MWCNU Bawang menegaskan pentingnya mempercepat dan memaksimalkan pendataan warga melalui SISNU sebagai salah satu indikator utama dalam proses akreditasi. Ketua MWCNU Bawang, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa pendataan melalui SISNU bukan hanya kebutuhan administratif, tetapi juga menjadi dasar penting dalam merancang program yang tepat sasaran.

“Pendataan warga NU melalui SISNU adalah fondasi bagi kekuatan organisasi. Data yang valid akan menjadi pijakan dalam pengambilan kebijakan dan pelayanan terhadap warga Nahdliyin. Maka, seluruh ranting harus serius dan bergerak cepat,” ujar Ketua MWCNU Bawang.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Batang, Masykur, turut mengapresiasi langkah MWCNU Bawang dalam memperkuat koordinasi dan kesiapan akreditasi. Ia menegaskan bahwa akreditasi bukan sekadar penilaian administratif, namun menjadi tolok ukur kinerja struktural NU di tingkat bawah.

“Akreditasi ini menjadi momentum untuk menilai sejauh mana NU di tingkat MWC dan ranting bekerja sesuai khidmah jam’iyah. Kunci utamanya adalah sinergi, pendataan yang baik, dan pelaporan program yang jelas,” ungkap Masykur.

Selain rapat koordinasi, kegiatan hari ini juga dirangkai dengan pembagian buku hasil Bahtsul Masail yang diterbitkan oleh PCNU Batang. Buku tersebut diterima langsung oleh masing-masing perwakilan ranting se-Kecamatan Bawang sebagai bagian dari penguatan kapasitas keilmuan dan keorganisasian.

Pewarta : LTN WCNU Bawang

 

Ikhtiar Bergerak Memuliakan Umat, Lakpesdam PCNU Samakan Persepsi dan Perkuat Sinergi dengan Lakpesdam MWC Se-kabupaten Batang

0
Dok. Rapat kerja LAKPESDAM PCNU Batang bersama LAKPESDAM MWC se-Kabupaten Batang, Minggu 18 Mei 2025, dalam rangka konsolidasi dan penyamaan persepsi pengembangan SDM Nahdliyin.

Batang, NU Batang

Dalam rangka menyatukan persepsi terhadap visi besar “Bergerak Memuliakan Umat”, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PCNU Kabupaten Batang menggelar rapat kerja (raker) bersama pengurus LAKPESDAM MWC se-Kabupaten Batang, pada Ahad, (18/5/2025) bertempat di Gedung PCNU Batang.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran LAKPESDAM sebagai instrumen strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) Nahdliyin, yang relevan dan adaptif terhadap tantangan zaman. Dalam sambutannya, Ketua LAKPESDAM PCNU Batang, M. Aminudin menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk menyatukan persepsi, memantapkan program kerja, serta memperkuat sinergi antar-MWC sebagai bagian dari ikhtiar memuliakan umat.

“Raker ini merupakan upaya bersama untuk menyamakan visi dan tujuan, serta menyusun langkah-langkah strategis yang berdampak nyata dalam memberdayakan umat di Kabupaten Batang,” tegasnya.

Rapat kerja ini dihadiri oleh sembilan perwakilan pengurus LAKPESDAM MWC se-Kabupaten Batang. Dalam forum tersebut, muncul berbagai gagasan dan pemantikan program yang dinilai relevan dan berdaya guna, sebagai jawaban atas isu-isu yang berkembang di masyarakat. Berbagai tantangan seperti sektor industri, pendidikan, lingkungan, serta penguatan masyarakat sipil menjadi perhatian serius bagi LAKPESDAM di semua tingkatan.

Wakil Ketua PCNU bidang Pendidikan, Pelatihan, dan SDM, Syaiful Huda Shodiq, turut menegaskan pentingnya komitmen dalam pengembangan SDM di lingkungan NU. “Pengembangan SDM adalah tugas yang berat sekaligus mulia. Dibutuhkan pengurus yang memiliki mentalitas kuat, komitmen tinggi, serta kapasitas keilmuan dan keterampilan sosial yang memadai. Forum seperti ini penting untuk memperkuat kapasitas diri, mengevaluasi capaian program, serta membangun koordinasi yang solid antar-MWC,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi aktif antara LAKPESDAM MWC dengan pengurus MWC setempat.

Raker ini menjadi momentum awal dari rangkaian upaya berkelanjutan untuk mengoptimalkan potensi dan kapasitas SDM Nahdliyin. Harapannya, hasil dari konsolidasi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menguatkan NU dari akar rumput (grassroots).

Pewarta : LAKPESDAM PCNU Kabupaten Batang