Jumat, April 10, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 47

Syarat Kelulusan Siswa Kelas 12 di MA NU 01 Banyuputih Wajib Ikut Pendalaman Ke-NU-an

0
Pembekalan Materi ke-NU-an

Banyuputih, NU Batang
Selain melakasanakan Ujian Madrasah (UM) dan Ujian Praktik, Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) 01 Banyuputih Kabupaten Batang mewajibkan siswa dan siswi kelas dua belas untuk mengikuti pendalaman materi Ke-NU-an. Hal ini disampaikan oleh kepala madrasah saat pembukaan di Halaman MA NU 01 Banyuputih, Sabtu (16/4).

“Kalian kelas dua belas wajib mengikuti pendalaman materi Ke-NU-an sebagai salah satu syarat kelulusan,” kata Mukhsin Kepala MA NU 01 Banyuputih.

Selain itu kepala madrasah berharap dengan adanya pendalaman materi ke-NU-an akan menjadi bekal aqidah dikehidupan selepas dari MA NU 01 Banyuputih. Kegiatan tersebut dipimpin oleh M Miftahul Atiq selaku Wakil Kepala Bidang Kesiswaan bekerjasama dengan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Batang.

Kegiatan Pendalaman Materi ke-nu-an ini di awali dengan pembukaan secara formal oleh kepala madrasah. Dilanjutkan buka bersama, salat maghrib, salat isya’, tarawih bersama, materi, istighotsah, sahur bersama, pembacaan ikrar janji setia terhadap NKRI dan NU.

Pada saat materi, peserta yang jumlahnya 215 dibagi menjadi empat ruangan, putra dan putri masing-masing dua ruangan. Meskipun berbeda ruangan mereka tetap diberi materi yang sama.

“Dari kegiatan ini diharapkan para siswa kelas dua belas bisa mendalami, mematangkan dan memantapkan materi ke-NU-an. Jadi, sebelum lulus mereka sudah matang materi tersebut dan supaya ketika terjun ke masyarakat umum dapat memegang teguh aqidah Aswaja,” ujar Mustofa PC GP Ansor Batang.

“Karena banyak kasus terjadi setelah keluar dari dari MA NU, kuliah kemudian kerja atau di masyarakat nanti masuk bergabung dengan organisasi-organisasi yang lain yang bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah Annahdliyah yang agak-agak radikal. Ini yang di antisipasi mulai dari sekarang, maka dari itu diadakannya acara ini bertujuan untuk pendalaman materi ke-NU-an. Sehingga anak-anak ketika keluar dari madrasah mau kuliah atau apa saja  NU-nya tidak hilang,” pungkasnya.

Pewarta : Rahma Dewi Fatimatus Sholikhah dan Alya Rosadiana
Editor : Muhammad Asrofi

PK IPNU dan IPPNU SMK Al Syairiyah Limpung, Siap Lanjutkan Estafet Kepengurusan

0

Limpung, NU Batang
Ratusan siswa antusias mengikuti materi Keorganisasian dan Tausiyah Ramadhan yang diselenggarakan Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al Syairiyah Kecamatan Limpung, kabupaten Batang, pada Sabtu (15/04) kemarin.

Kegiatan yang sematkan di gedung Serbaguna SMK Al Syairiyah Limpung tersebut, dihadiri siswa kelas X dan XI, juga beberapa tamu undangan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan IPPNU Limpung, PK IPNU dan IPPNU Madrasah Tsanawiyah (MTS) NU Al Syairiyah dan  PK Madrasah Aliyah (MA) Takhassus Al syairiyah Limpung.

Bapak Hamam Nasrudin selaku Kepala Sekolah  memberikan selamat kepada pengurus PK IPNU dan IPPNU SMK Al-Syairiyah Limpung periode 2022-2023, dengan harapan memantapkan niat dan hirroh rekan rekanita dalam berhidmat di Jam’iyah Nahdlatul Ulama melalui Badan Otonomnya.

“Bahwa iktiar senantiasa harus dilakukan untuk manjadi pengurus yang baik agar tidak hanya sebatas seremonial tanpa eksistensi kegiatan”, ungkapnya.

Menurutnya untuk memeiliki jiwa organisatoris seseorang harus mulai belajar menata dirinya sendiri kearah yang lebih baik, lebih disiplin dan lebih bertanggung jawab, sebelum menjadi pemimpin pemimpin masa depan.

“Dengan demikian nantinya dalam mengemban amanah ini akan memunculkan dampak positif bagi dirinya sendiri, almamater dan organisasi”, terang bapak Hamam.

Lebih lanjut Bapak Hamam mengatakan, roda organisasi akan terus berjalan apabila para pengurus mampu berjalan berdampingan dengan seluruh organisasi sebagai bentuk kerjasama dan ajang belajar untuk saling  memberikan virus positif pada siswa siswi SMK hususnya dan remaja sebayanya secara umum.

“Saya tidak ingin mendengar para pengurus merosot secara akademik dengan alasan sibuk mengurusi organisasi, justru dengan menjadi pengurus seyogyanya menambah motivasi, kemampuan dan prestasi yang lebih baik serta dapat menjadi teladan bagi siswa yang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, pengasuh Pondok Pesantren TPI Al Hidayah Plumbon Limpung Gus H. Zaimudin Ahya’ sebagai narasumber siraman rohani menjelaskan tentang Wahyu pertama Rosulullah setelah menyendiri di Gua hira’ adalah turunnya Al Quran dibulan Ramadhan dengan perintah untuk membaca.

“Sebagai ummat Nabi kita harus berusaha untuk senantiasa meneladani Ahlak Rosulullah dan selalu menambah amalan baik dibulan Ramadhan ini karena Bulan Ramadhan merupakan bulan spesial yang dilipat gandakannya pahala dan tetap menjadi manusia yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT”, tambahnya.

Kontributor : Al-Chan
Editor : Rokhman Jaya

Semarakan Bulan Ramadhan, Pelajar NU Desa Kluwih Bagi-Bagi Takjil

0
Pelajar NU Desa Kluwih Berbagi takjil kepada masyarakat di depan balai desa

Bandar, NU Batang
Dalam rangka menyemarakan bulan ramadhan, Pengurus Ranting Ikatan Pelajar Putra dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama ( PR. IPNU IPPNU) desa kluwih berbagi takjil kepada masyarakat di depan balai desa pada Sabtu ( 16/22).

Rekan Dani selaku penanggung jawab kegiatan saat di temui mengatakan bahwa kegiatan ini diinisiasi oleh rekan IPNU IPPNU untuk ikut menyemarakkan dibulan ramadhan.

“Kegiatan ini termasuk dalam program kerja kami di bulan Ramadhan, selain untuk memeriahkan juga melatih para anggota agar terbiasa berbagi kepada sesama” ujarnya

Lebih lanjut ia mengatakan sumber dana tersebut berasal dari para donatur dan juga dari anggota sendiri.

“Saya juga ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada para donatur baik dari masyarakat maupun anggota yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk mensukseskan bagi bagi takjil ini.” . Lanjutnya.

Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat Desa Kluwih dan para pengguna jalan pada umumnya. Salah satu warga, Dewi Sulis mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Saya sebagai warga sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan tersebut, masyarakat juga langsung merasakan manfaatnya dan saya berharap ini menjadi agenda rutin setiap bulan ramadhan”. Katanya.

Selain IPNU IPPNU ada juga ansor, Banser, fatayat dan muslimat yang terlibat dalam kegiatan bagi bagi takjil dengan jumlah 500 labih paket yang diberikan kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan diakhir dengan acara buka bersama yang dilaksanakan di balai desa.

Pewarta : Slamet Nurohim
Editor : M. Asrofi

Tarawih Keliling Sebagai Media Edukatif Pelajar NU Limpung

0

Limpung, NU Batang
Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Limpung Kabupaten Batang melaksanakan kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) putaran kedua di Masjid Jami’ Nurul Huda Dukuh Babadan Desa Babadan, Sabtu (16/4).

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pengurus IPNU dan IPPNU dari jajaran Pimpinan Ranting dan Komisariat yang ada di Kecamatan Limpung.

“Kegiatan Tarawih Keliling ini merupakan sebuah bentuk silaturrahmi antara pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) dengan Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Komisariat (PK),” ujar Ali Mas’ud selaku Wakil Ketua Bidang Dakwah PAC IPNU Limpung.

Ali menambahkan, Tarling ini juga bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara pelajar IPNU dan IPPNU dengan masyarakat, salah satunya sebagai bentuk syiar kepada remaja-remaja agar lebih mengenal IPNU & PPNU.

Pada kesempatan tersebut, PAC IPNU dan IPPNU Limpung menghadirkan pembicara ustaz Muh. Abdul Mughni. Beliau memberikan pesan kepada pelajar NU agar lebih edukatif.

“Pelajar NU itu harus edukatif artinya harus ada keinginan untuk mau belajar terutama dasar-dasar keislaman. Banyak hal yang harus dipelajari tentang keagamaan di IPNU dan IPPNU, karena itu merupakan pondasi awal untuk menghadapi radikalisme di kalangan para pelajar masa depan. Dan tidak lupa, pola pikir harus disikapi dengan ta’lim muta’alim, antara lahiriah dan batiniah harus seimbang,” tutur Mughni.

Disisi lain, beliau juga menuturkan hikmah puasa, bahwasanya puasa itu dapat melatih kesabaran karena dilakukan dengan menahan lapar ataupun menahan hawa nafsu sampai menunggu waktu maghrib. Kemudian dalam hubungan sosial dapat membangun rasa kasih sayang antar sesama diwujudkan dalam contoh kegiatan, menyempatkan buka bersama dengan orang-orang disekitar kita. Dampak puasa juga bermanfaat untuk kesehatan.

“Sebagai pelajar Islam khususnya Nahdlatul Ulama sebagai wujud dari kutipan mars IPNU (ilmu kucari amal kuberi) itu harus istiqomah dilakukan. Jangan jadi pelajar yang hanya ikut kesana kesini, tetapi isinya kosong. Karena yang terpenting pondasi dasar adalah ilmu terutama akhlak. Jangan salahkan jika adik-adik kita kelak akhlaknya buruk, jika kamu tidak begitu peduli tentang akhlak,” pesan Mughni.

“Sebagai generasi Nahdlatul Ulama, IPNU dan IPPNU harus semangat serta jangan takut dan minder untuk berproses. Karena maju mundurnya  bangsa yang akan datang  itu tergantung pemuda,” kata ustaz Fahruri Wakil Tanfidziyah NU Desa Babadan dalam sambutannya.

Masruri selaku Ketua Pimpinan Ranting IPNU Desa Babadan menanggapi kegiatan tersebut, “semoga dengan kegiatan Tarling ini dapat meningkatkan semangat berIPNU dan IPPNU di tingkat desa sebagai upaya peningkatan kuantitas maupun kualitas di tingkat ranting,” ujarnya.

Pewarta : Zaenal Mustofa
Editor : Muhammad Asrofi

Syiar Nahdlatul Ulama Kecamatan Limpung Melalui Ta’jil On The Road

0
Seorang relawan LAZISNU sedang memberikan ta'jil kepada pengguna jalan di depan Kantor Kecamatan Limpung

Limpung, NU Batang
Pembagian Ta’jil On The Road dilakukan oleh NU Care Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) MWC NU Kecamatan Limpung Kabupaten Batang pada tahap satu dengan jumlah 750 bungkus ta’jil. Pembagian ta’jil tersebut diberikan kepada para pengguna jalan yang melintas di depan Kantor Kecamatan Limpung, Senin (11/4).

Koordinator Ta’jil On The Road Amin Subkhan mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk syiar Nahdlatul Ulama dalam bentuk pembagian makanan pembuka (ta’jil) bagi orang yang sedang dalam perjalanan. Kegiatan ini juga merupakan bentuk pentasyarufan dari koin yang disedekahkan oleh warga jam’iyyah NU se-Kecamatan Limpung.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai salah satu cara kita mensyiarkan NU kepada masyarakat dan juga sekaligus pentasyarufan koin LAZISNU yang disedekahkan oleh warga jam’iyyah NU se-Kecamatan Limpung,” ujarnya.

“Rencananya kegiatan Ta’jil On The Road ini akan dilaksanakan dua tahap dalam bulan Ramadhan 1443 H tahun ini, sehingga peran NU sebagai bentuk syiar agama Islam ditengah-tengah masyarakat akan lebih terasa,” tambahnya.

Pembagian ta’jil tersebut berjalan dengan tertib dan lancar oleh Relawan LAZISNU serta PAC IPNU & IPPNU Kecamatan Limpung dan mendapat apresiasi dari masyarakat.

“Sebagai masyarakat saya merasa sangat senang dengan kegiatan ini, karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya yang sering di jalan ketika maghrib dan tidak sempat untuk buka di rumah, harapannya setiap tahun selalu diadakan dan banyak pihak yang mengadakan,” ujar Ali Mas’ud salah satu warga Limpung.


Pewarta: Zaenal Mustofa
Editor : Slemz. Sp

Giatkan Tradisi, Pelajar NU Menguneng Adakan Ngaji Pasaran Ramadhan

0
Aktivitas Pelajar NU Desa Menguneng sedang ngaji pasaran

Warungasem, NU Batang
Salah satu tradisi Nahdlatul Ulama (NU) yang banyak dijumpai pada saat bulan Ramadhan adalah “ngaji pasaran”, yakni mengkaji kitab tertentu untuk dikhatamkan dalam tempo yang cukup singkat. Begitu juga yang terjadi di Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tepatnya direalisasikan oleh Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Ranting Desa Menguneng.

Ngaji pasaran sendiri merupakan tradisi terdahulu pesantren salaf, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama. Namun, kegiatan keagamaan ini sudah mulai ditanyakan keberadaannya karena tak menampik sebagai tradisi yang kini mulai tergerus oleh perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat.

“Sebelum adanya pendidikan formal, pendidikan pondok pesantren telah ada terlebih dahulu dengan sistem kegiatan belajar mengajar serupa  dengan ngaji pasaran ini,” ungkap ustaz M Lizamuddin, selaku narasumber kegiatan ngaji pasaran pelajar NU Desa Menguneng, pada Kamis (7/04).

Beliau menambahkan, kegiatan ini sangat bagus dan layak untuk agenda bulan Ramadhan bagi pelajar NU sebagai kiat untuk menggiatkan kembali tradisi ke-NU-an.

Kajian Kitab yang dimulai dari tanggal 3 April 2022 atau 2 Ramadhan ini memilih kitab fiqih dengan matan Safinatunnajah sebagai kitab yang ditargetkan khatam pada bulan Ramadhan tahun ini. Kitab karangan Syaikh Salim bin Abdullah bin Sa’ad bin Sumair Al-Hadhrami ini merupakan kitab kuning klasik yang berisi dasar ilmu fiqih dengan Mazhab Imam Syafi’i.

“Kitab fiqih dengan matan Safinatunnajah ini memiliki bentuk fisik yang tergolong kecil juga ringkas, dan isinya mencakup dasar ilmu fiqih. Kitab ini sangat cocok untuk pelajar dan pemula yang ingin belajar agama bidang ilmu fiqih,” ujar Nabila Azizah, salah satu anggota IPPNU Ranting Desa Menguneng.

Sementara itu, Evi Shoviana selaku Ketua IPPNU Ranting Desa Menguneng mengungkapkan tujuan ngaji pasaran sendiri selain untuk mengisi waktu luang di bulan Ramadhan, juga untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang keagamaan terutama bidang ilmu fiqih.

“Suatu hal yang positif terutama bagi remaja IPNU dan IPPNU yang mayoritas bersekolah di pendidikan formal negeri, dan diharapkan sebagai ajang untuk silaturahmi dan melestarikan tradisi ke-NU-an di lingkungan sendiri,” pungkasnya.

Sebagai hal barunya dalam pemanfaatan teknologi untuk mengikuti perkembangan digitalisasi, ngaji pasaran ini juga dikemas dengan adanya siaran langsung YouTube yang bisa disaksikan di channel Majlis Babul Wasilah dan siaran langsung akun Instagram, yakni @ipnuippnu_rantingmenguneng, sehingga mudah diakses oleh kalangan luas tanpa harus datang langsung ke tempat kegiatan.

Pewarta : Lili Rohmawati
Editor : Muhammad Asrofi

Tarawih Keliling, Ketua PAC GP Ansor Limpung: Jamaah Saja Tidak Cukup, Perlu Jam’iyyah

0
Ketua PAC GP Ansor Limpung yang memakai jas sedang sambutan

Limpung, NU Batang
Dalam melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadhan jamaah saja tidak cukup, perlu adanya jam’iyyah. Hal itu ditegaskan oleh Hamam Nasrudin Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Limpung Kabupaten Batang saat kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) di Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Pagotan Desa Kalisalak, Sabtu (9/4).

Pria yang akrab dipanggil Hamam mengungkapkan bahwa melaksanakan ajaran agama Islam yang diajarakan Rasulullah SAW  dan para sahabatnya saja tidaklah cukup. Menurutnya perlu adanya penguatan organisasi khususnya di Ansor untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat.

“Jamaah saja tidak cukup, perlu adanya Jam’iyyah melalui penguatan keorganisasian agar mampu menghasilkan harokah atau pergerakan yang bisa memberikan kemanfaatan untuk anggota atau masyarakat,” ungkapnya.

Ia mengatakan kegiatan tarling merupakan salah satu hal yang menjadi penguat di organisasi Ansor. Tarling ini merupakan program kerja Bidang Dakwah PAC GP Ansor Limpung yang sudah direncanakan sebelumnya. Tarling Ramdhan kali ini hanya dilaksanakan dua kali pertemuan. Kegiatan tarling diikuti oleh pengurus dan anggota dari Pimpinan Ranting (PR) Ansor se-Kecamatan Limpung.

“Program kerja selama Ramadhan yaitu tarling dan kegiatan Ansor Menjawab masalah ubudiyah,” kata Hamam.

Lebih lanjut, Hamam menjelaskan kegiatan Ansor Menjawab yaitu program menjawab persoalan-persoalan ubudiyah di masyarakat. Persoalan tersebut akan dijawab oleh Bidang Dakwah dan ditayangkan pada channel Youtube PAC GP Ansor Limpung.

Tausiyah pada kegiatan tersebut diisi oleh ustaz Irfan ‘A’yun selaku Ketua Rijalul Ansor Limpung.

Pewarta : Muhammad Asrofi
Editor : Rahman Jaya

Plumbon dan Tiga Makam Kramat

0
Makam di Plumbon

Menjelang Ramadhan, masyarakat dukuh Plumbon secara bersama menggelar ziarah ke tiga makam kramat yang diyakini sebagai wali dan sesepuh dukuh.

Letak ketiga makam itu tidak satu lokasi. Yang dua dipojokan dukuh, dan yang satunya di tengah dukuh.

Yang pertama adalah makam Kiai Lumbu, atau Mbah Lumbu. Letaknya di pinggir sawah dan dekat sungai yang bernama Kali Sodo, perbatasan dengan dukuh Kemuning. Konon, Kiai Lumbu ini adalah pendiri dukuh Plumbon. Dan nama Plumbon tak lain adalah derivasi dari kata Lumbu.

Kata Lumbu di dukuh Plumbon juga menjadi sebutan bagi tumbuhan yang banyak tumbuh di dukuh Plumbon, seperti di pinggir sawah, wangan (sungai kecil), sungai dan kebun.

Makam yang kedua adalah makam Syaikh Kendil Wesi. Letaknya juga di perbatasan dukuh Plumbon dan dukuh Kemuning. Hanya saja, kalau makam Kiai Lumbu terletak di bagian timur tengah dukuh, makam Syaikh Kendil Wesi ini terletak di timur utara dukuh.

Orang-orang di era saya kecil, menyebut makam Syaikh Kendil Wesi dengan makam kramat.

Makam Syaikh Kendil Wesi ini, selain berada di tengah persawahan juga terletak di tengah-tengah antara dua sungai: kali Sente dan Kali Petung.

Kali Sente dibanding kali Petung lebih kecil, baik aliran sungai maupun ukurannya. Kali Petung aliran sungainya lebih besar, dan ukurannya juga besar. Bahkan dulu ketika saya masih kecil sangat terlihat indah, banyak batu-batu, dan airnya jernih. Saya masih ingat, dulu kalau pagi mandi di pinggiran sungai.

Dulu, konon, ketika banjir besar, makam Syaikh Kendil Wesi ini tetap aman.

Yang ketiga adalah Makam Kiai atau Mbah Sutoguno. Letaknya di tengah-tengah dukuh. Masuknya kawasan RT 2. Terletak di dekat Musala dan Madrasah Diniyah dukuh.

Menurut beberapa cerita, dulu tempat makam Mbah Sutoguno ini adalah pemakaman umum dukuh Plumbon, sebelum pindah ke pojok dukuh bagian barat arah Desa Tembok.

Belum lama ini, ketika saya membuka naskah tua, yang menurut cerita di wariskan dari Mbah Wangsodani ke Kiai Syair, tertara nama Mbah Sutoguno Plumbon di keterangan seperti silsilah guru-guru tarekat.

Tentu hal ini perlu penelitian lebib lanjut. Apalagi nama Plumbon sendiri punya kesamaan dengan beberapa dareah lain, tidak hanya sebagai nama dukuh yang termasuk kawasan Desa Plumbon Kecamatan Limpung Kabupaten Batang.

Di Cirebon ada nama Plumbon, begitu juga di Temanggung. Bahkan dulu ketika saya KKN di Temanggung, ada Makam Sunan Plumbon dan Pesantren Sunan Plumbon.

Begitu kira-kira kegiatan masyarakat Plumbon menjelang Ramadhan.

Dan setelah ziarah bersama itu, masyarakat Plumbon bersama-sama selamatan dengan bucu-bucu yang dibuat bersama oleh masyarakat.

Penulis : Zaim Ahya

Tulisan ini pernah tayang di alif.id

https://alif.id/read/zaim-ahya/plumblon-dan-tiga-makam-kramat-b242754p/

Pelajar NU Sidorejo Kembali Rutinkan Tadarus Keliling di Dusun

0
Kegiatan Tadarus Keliling oleh Pelajar NU Sidorejo

Warungasem, NU Batang
Setelah tahun 2020 lalu terdampak pandemi Covid-19, kini Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Sidorejo kembali mengadakan Tadarusan Keliling (Darling). Sama seperti tahun sebelum-sebelumnya, Darling dilaksanakan secara bergilir bertempat di masjid dan mushala se-Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 5-23 April 2022.

Darling merupakan program kerja rutin tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Ramadhan, dengan pelaksanaan di 3 masjid dan 15 mushala se-Desa Sidorejo. Kegiatan ini sudah berjalan selama empat tahun berturut-turut. Akan tetapi, pada tahun 2020 Darling terhambat pandemi covid-19, sehingga dilaksanakan secara online.

Ketua IPPNU Desa Sidorejo, Dwi Listiyani menuturkan bahwa di era gempuran transformasi digital sudah sering ditemui pelajar yang acuh tak acuh terhadap pentingnya menjaga silaturahmi. Mereka telah terkontaminasi oleh pengaruh buruk globalisasi yang dipicu oleh perkembangan teknologi, terlebih bidang komunikasi dan ilmu pengetahuan.

“Darling itu salah satu solusi alternatif untuk menjaga marwah pemikiran pelajar,” ujar Guru Rudhah Athfal (RA) Masyitoh Sidorejo tersebut kepada Media di Masjid At-Taqwa, Dukuh Cluluk Desa Sidorejo, pada Selasa (5/04).

Tiya menambahkan, masyarakat sangat antusias dalam menyambut kegiatan Darling, bahkan mereka menyuguhkan makanan untuk buka puasa. Ia berharap, Darling sebagai sarana memuliakan dan meramaikan bulan suci yang penuh berkah ini.

Sementara itu, Ketua IPNU Desa Sidorejo, Aditya Irfani mengatakan Darling tahun ini terdapat agenda baru yaitu kultum selepas tadarusan yang diisi oleh tokoh agama wilayah masjid atau mushala setempat. Kultum menjadi serangkaian agenda baru yang dianggap penting karena pelajar NU harus memahami ilmu keagamaan, bukan sekadar mendalami ilmu pengetahuan umum.

“Insya Allah Darling bisa membawa keberkahan baik untuk masyarakat desa maupun pelajar NU Sidorejo sendiri,” harapnya.

Pria yang sering disapa Aditya tersebut menyampaikan, Darling dilaksanakan secara silih berganti bertujuan berinteraksi sekaligus menjaga ikatan persaudaraan masyarakat. Bukan hanya pelajar NU Desa Sidorejo, kegiatan ini terbuka luang untuk masyarakat umum.

“Khataman tadarus akan dilaksanakan bersamaan acara santunan anak yatim dan piatu NU Desa Sidorejo,” pungkasnya.

Kontributor: Septy Aisah
Editor: Intan Khumairo

Tiga Pilar Penyemai SDM NU

0

Oleh : Jabir Alfaruqi

Bagi Nahdlatul Ulama setidaknya ada tiga sumber pencetak sumber daya manusia (SDM), atau tiga pilar penghasil SDM NU yang mulai mendapat perhatian. Yakni Lembaga Pesantren, Lembaga Pendidikan Ma’arif dan Lembaga Masjid.

Untuk Pesantren dan Ma’arif dalam segala levelnya sudah dikelola secara serius, berkelanjutan dan inovatif. Untuk yang ketiga yakni Lembaga Masjid hingga saat ini masih sekedar diperhatikan belum dikelola secara serius.
Masih sebatas mendata, meregistrasi dan melebeli musala atau masjid dengan lebel NU. Itu sebagai pertanda bahwa masjid bersangkutan dibawah naungan NU. Lebih dari itu masih belum banyak digagas.


Bila dikaji secara seksama, setelah pesantren dan Ma’arif, masjid memiliki fungsi dan peran strategis dalam mendidik dan menyebarkan paham ahlussunah wal Jama’ah. Di masjid yang semakin lama semakin mendapat tempat di hati masyarakat itu menjadi tempat pendidikan di luar pesantren dan Ma’arif. Daya dukung masjid yang semakin baik karena adanya infak dan sedekah rutin para jamaahnya semakin memantapkan kemandiriannya. Di sinilah kelompok kelompok yang belum memiliki majelis taklim, belum punya akar kuat, lembaga pendidikan yang cukup berikhtiar merebut dan menguasai masjid. Karena setidaknya masjid itu punya jamaah dan sumber dana. Tinggal numpang dan sedikit memperbaiki managemen, sudah jalan.


Masjid selama ini masih bersifat seadanya dan belum menjadi media yang efektif untuk mengembangkan paham ahlussunah wal jama’ah ala nahdliyah karena selama ini belum disentuh, dikelola, dan managemen dengan baik. Banyak pengajian diadakan tetapi belum ada standar dan kurikulum yang dibikin bersama untuk mengukur dan meningkatkan kualitas jama’ah. Banyak materi yang terus menerus diulang ulang baik oleh para khotib, para penceramah Ramadan, peringatan hari hari besar Islam dan lainnya. Masjid yang maju, pengajiannya berkualitas, sumber dayanya melimpah, sumber dananya lebih dari cukup tidak bisa ditiru yang lain karena pengelolaan masjid masih bersifat sendiri sendiri. Belum ada saling belajar dan saling mengajar diantara para takmir masjid.


Alangkah indahnya bila NU bersama lembaga takmir masjid dan lembaga terkait seperti lembaga dakwah NU terus menerus meningkatkan kualitas pengajian pengajian, buku-buku bacaan, managemen ketakmiran, dan lain-lain. Ini akan menjadi salah satu sumber dari banyak sumber penghasil SDM NU. Hal ini sebenarnya tidak terlalu sulit karena kebanyakan masjid-masjid yang ada, dikelola orang-orang NU bahkan ustad-ustad, imam, khotib-khotibnya banyak lulusan pondok pesantren. Lalu mengapa tidak segera dibenahi. Ini sekedar renungan yang barangkali ada manfaatnya, aamiin.